Archive for August, 2009

Pulang…

Petualang mana yang tak rindu pulang? Induk lebah mana yang tak kembali ke sarang? Mereka mendifinisikan rumah dalam ragam pemaknaan yang berlipat macam. Karena di sanalah sesungguhnya cinta bersemayam. Kasih tak berkesudahan yang menjelma dalam ragam pengejawantahan.

Bukankah para avatar telah mengajarkan kita arti dari dialektika hidup di dunia. Kita tau betul arti merindu ketika pernah pergi melangkah. Kita memahami arti dari memiliki ketika pernah merasa kehilangan. Kita begitu menghargai sehat ketika pernah merasakan sakit. Bukankah semesta tercipta dari ketiadaan. Begitu pun masa dianggap ada ketika kita tau ada yang tak bermasa.

Terkadang kita kerap tersedu ketika terantuk batu di jalan yang berdebu. Namun bukankah kita bisa belajar arti kesetiaan dari sejumput pengkhianatan. Kita pun dapat belajar berbuat benar dari sederet kesalahan. Karena setiap jengkal yang terjadi pada apa yang dapat disebut hidup selalu mengajarkan secupuk makna yang mendalam.

Entah apa pun sebutanmu. Entah itu Allah, Bapa, Brahman, Buddha, Widhi, Tao, Yehovah, Satnaam, atau Ahura-Mazda, pulang adalah satu-satunya cara kita memandang hidup dalam alam kesadaran. Bukankah ia yang tak sadar sesungguhnya masih tersesat dan belum lagi tau jalan pulang?

Dari tanah kembali ke tanah. Setiap bilangan selalu berpulang pada nol. Karena kosong adalah kesempurnaan. Di sanalah pucuk ekstasi dari meditasi hidup kita yang terdalam. Dalam alam keheningan kita tau: hidup ini tak lebih dari sebatas pengelanaan untuk kembali mencari jalan pulang…

How To Be A Humble Person? (2)

Mbak Surip sudah meninggal. Kemunculan bagaikan komet yang membelah keheningan langit malam: indah, bercahaya, mystery, memberi kesan, namun cepat sekali. Sebelum betul-betul meledak dengan albumnya yang melejit, siapa yang mengenal Mbah Surip? Mungkin kawan-kawan dekatnya semata, atau para teman seniman di Pasar Seni Ancol, TIM, atau Bulungan, Jakarta.

Ya, sulit dipungkiri, kita jarang melihat proses hidup seseorang. Yang dilihat tentu masa suksesnya. Masa ketika seseorang berada di puncak keemasan. Soichiro Honda, pendiri kerajaan otomotif Honda, pernah berkata: “Lihat kegagalan saya.” Kalau kita melintasi jalan raya, sulit untuk tak mendapati mobil merk Honda yang telah mendunia. Padahal kisah hidup pendirinya sungguh penuh kegagalan.

Honda bukan siswa yang memiliki otak cemerlang, nilainya jelek, berasal dari keluarga miskin, sering kelaparan, jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah, dan pabrik yang ia dirikan terbakar sampai dua kali. “Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya.” tukas Honda. Dan Honda terus bermimpi, bermimpi, dan bermimpi.

Siapa yang mengenal Mbah Surip? Hidupnya nyaris tak mulus. Miskin, kelaparan, tak punya uang, nekat mengendarai sepeda onthel dari Mojokerto ke Jakarta, numpang tinggal di sana-sini, tak mulus seperti apa yang kita lihat kemarin-kemarin ini. Baru pada album terakhir lagunya tiba-tiba meledak dan disukai. Lirik lagunya sederhana. Musiknya ringan dicerna. Penjualan kaset dan cakram padatnya mungkin tak seberapa. Namun dari nada dering dan nada panggil telepon genggam ia memperoleh Rp4,6 miliar. Belum dari honor manggung, mengisi acara di TV, juga iklan. Namun apakah Mbah Surip lantas bergelimang kekayaan? Nyatanya tidak.

Continue Reading »

Kiriman Buku Bulan Ini

Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan Anda di lima tahun mendatang, kecuali dua hal: orang-orang di sekeliling Anda dan buku-buku yang Anda baca
(Charles Jones)

Kalau ada yang bertanya: mau dikasih apa sebagai hadiah, kira-kira apa jawaban kalian? Pasti selera setiap individu bakal berbeda-beda. Ketika berulang kali mendapat pertanyaan yang sama, jawabanku pun tak pernah berubah: tak ingin apa-apa. Apa boleh buat, aku selalu sulit untuk meminta. Kalau pun dipaksa, semua kuserahkan pada yang memberi saja.

Nah-nah, bulan ini aku mendapatkan kiriman buku lagi. Pengirimnya? Dari negeri antah berantah. Dari berbagai sumber. Dari berbagai negara. Semua kuterima dengan senang. Sangat senang sekali malah. Karena berupa buku. Selain buku-buku itu sangat kuperlukan, kiriman itu makin menambah koleksi perpustakaan pribadi di rumah. Menjadi warga baru di kamar studi.

Selain buku, ada beberapa kiriman dalam bentuk lain yang tak mungkin kusebutkan di sini. Namun tetap kuhaturkan ribuan terima kasih atas hal tersebut. Semua tetap bermanfaat. Namun karena tema kali ini adalah buku (serta majalah), maka yang kutampilkan tentu hanya seputar hal itu.

Sekali lagi terima kasih atas bingkisannya. Sangat-sangat bermanfaat.
Jadi kalau ditanya: mau dikasih apa sebagai hadiah, kira-kira apa jawaban kalian?

Continue Reading »