Mbak Surip sudah meninggal. Kemunculan bagaikan komet yang membelah keheningan langit malam: indah, bercahaya, mystery, memberi kesan, namun cepat sekali. Sebelum betul-betul meledak dengan albumnya yang melejit, siapa yang mengenal Mbah Surip? Mungkin kawan-kawan dekatnya semata, atau para teman seniman di Pasar Seni Ancol, TIM, atau Bulungan, Jakarta.

Ya, sulit dipungkiri, kita jarang melihat proses hidup seseorang. Yang dilihat tentu masa suksesnya. Masa ketika seseorang berada di puncak keemasan. Soichiro Honda, pendiri kerajaan otomotif Honda, pernah berkata: “Lihat kegagalan saya.” Kalau kita melintasi jalan raya, sulit untuk tak mendapati mobil merk Honda yang telah mendunia. Padahal kisah hidup pendirinya sungguh penuh kegagalan.

Honda bukan siswa yang memiliki otak cemerlang, nilainya jelek, berasal dari keluarga miskin, sering kelaparan, jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah, dan pabrik yang ia dirikan terbakar sampai dua kali. “Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya.” tukas Honda. Dan Honda terus bermimpi, bermimpi, dan bermimpi.

Siapa yang mengenal Mbah Surip? Hidupnya nyaris tak mulus. Miskin, kelaparan, tak punya uang, nekat mengendarai sepeda onthel dari Mojokerto ke Jakarta, numpang tinggal di sana-sini, tak mulus seperti apa yang kita lihat kemarin-kemarin ini. Baru pada album terakhir lagunya tiba-tiba meledak dan disukai. Lirik lagunya sederhana. Musiknya ringan dicerna. Penjualan kaset dan cakram padatnya mungkin tak seberapa. Namun dari nada dering dan nada panggil telepon genggam ia memperoleh Rp4,6 miliar. Belum dari honor manggung, mengisi acara di TV, juga iklan. Namun apakah Mbah Surip lantas bergelimang kekayaan? Nyatanya tidak.

Ia tetap berpenampilan nyentrik, apa adanya, serta bersahaja. Kemana-mana masih diantar pakai motor (yang cicilannya masih menunggak 14 bulan). Seorang kawan pernah melontarkan kelakar: “Mau gajimu di atas lima puluh juta sebulan, mau jungkir balik kerja semaleman lima hari dalam seminggu, dan ditabung tanpa dibelanjakan apa-apa selama setahun, tetap saja nggak akan terkumpul sebanyak empat miliar. Tapi Mbah Surip, hanya beberapa bulan boleh mengantongi uang sebesar itu.”

Aku tak setuju dengan kelakarnya. Karena aku percaya: apa yang Mbah Surip dapatkan justru adalah hasil dari perjuangan hidupnya selama ini. Tidak sekonyong-konyong. Sama halnya ketika ada seseorang yang berkata: andai kita bertemu lima atau sepuluh tahun yang lalu, adakah kita bakal tetap jatuh cinta? Jawabku tetap: tidak. Karena kita yang sekarang adalah apa yang kita jalani selama ini. Belum tentu (kualitas) kita saat itu seperti kita sekarang ini bukan?

How to be a humble person? Aku belum lagi tahu bagaimana caranya. Tapi aku kerap sekali bertemu dengan orang-orang seperti itu. Seperti Mbah Surip. Suatu hari tiba-tiba aku bertemu dengan lelaki berumur 60 tahunan. Ia santun, murah senyum, dan sangat simpatik. Penampilannya sederhana, sikapnya bersahaja, bahkan mobilnya sekadar Honda CRV. Tetapi siapa nyana, ternyata ia seorang pemilik studio foto terbesar dan terkenal di Bandung. Aku diajak keliling studionya dan terbelalak. Sebelumnya ia sama sekali tak pernah mengumbar siapa dirinya. Betul-betul sosok yang mengagumkan.

Pada hari lain aku berkenalan dekat dengan seseorang yang memiliki penghasilan Rp1 miliar per bulan (entah bagaimana cara menyimpan uang sebanyak itu di setiap bulan). Sehabis santap siang, tiba-tiba aku terkelu tak bisa bicara apa-apa ketika hendak naik ke mobil. Aku membuang rokokku yang baru kuhisap seperempat batang. Artinya aku membuang tiga perempat batang sisa rokokku. Yang membuatku terkelu, ia, seseorang yang berpenghasilan Rp1 Miliar per bulan itu, tidak melakukan seperti apa yang kulakukan. Ia mematikan rokoknya yang mungkin sama seperti rokokku: baru seperempat hisapan, lalu memasukannya kembali ke dalam kotak rokok. Aku mengernyit dengan apa yang ia lakukan. Seolah mengerti keherananku, ia berkata: “Rokok ini dibeli dengan uang. Kenapa baru seperempat hisapan sudah dibuang? Nanti masih bisa dilanjutkan toh setelah turun dari mobil? Jangan buang-buang uang.” Setelah ia berkata seperti itu, aku masygul bukan main. How to be a humble person?

Seorang Pramoedya Ananta Toer tetap hidup sederhana, ogah pakai sepatu, dan pakaiannya itu-itu juga. Lebih suka meladang dengan kaus bolong serta celana robek-robek. Orang yang tak mengenalnya, jika bertemu di jalanan akan menyangka ia seperti orang kampung pada umumnya. Penampilannya memang teramat bersahaja. Namun siapa yang mengira: Pram sungguh kaya.

Rumahnya tingkat enam, halamannya maha lega, lengkap dengan kolam renang, serta ladang yang sungguh luas. Mobilnya lebih dari satu, dan perabotan rumahnya mutakhir. Royalti dari buku-bukunya yang diterjemahkan di luar negeri sungguh tak terkira. Apalagi hitungannya dolar. Kalau bukunya masuk best seller, ia berhak mendapakan sekian dolar dari setiap kata dari buku tersebut. Barangkali itu bonus penerbit.

Apakah lantas Pram jumawa? Nyatanya tidak. Ia tetap lelaki kampung yang hidup sederhana, meladang, dan bakar sampah di setiap senja. Gelar sastrawan dunia dan berulang kali diganjar nominasi Nobel Sastra tidak membuat lelaki itu bergelimang harta hingga tutup usianya. Barangkali karena ia tahu betul bagaimana hidup sengsara di masa lampau. Kelaparan, tak punya beras, tak punya uang, sulit kerjaan, dan keluar masuk penjara karena difitnah macam-macam oleh tiga pemerintahan (Hindia Belanda, Orde Lama, Orde Baru). How to be a humble person?

Ada begitu banyak tokoh, kisah, cerita, bahkan orang-orang di sekitar kita yang menginspirasi hidup kita dengan perjalanan hidupnya. Tapi kenapa kita hanya melihat seseorang di masa gemilangnya belaka?

How to be a humble person?

5 Agustus 2009 | 23.19 wib