How To Be A Humble Person? (2)
Mbak Surip sudah meninggal. Kemunculan bagaikan komet yang membelah keheningan langit malam: indah, bercahaya, mystery, memberi kesan, namun cepat sekali. Sebelum betul-betul meledak dengan albumnya yang melejit, siapa yang mengenal Mbah Surip? Mungkin kawan-kawan dekatnya semata, atau para teman seniman di Pasar Seni Ancol, TIM, atau Bulungan, Jakarta.
Ya, sulit dipungkiri, kita jarang melihat proses hidup seseorang. Yang dilihat tentu masa suksesnya. Masa ketika seseorang berada di puncak keemasan. Soichiro Honda, pendiri kerajaan otomotif Honda, pernah berkata: “Lihat kegagalan saya.” Kalau kita melintasi jalan raya, sulit untuk tak mendapati mobil merk Honda yang telah mendunia. Padahal kisah hidup pendirinya sungguh penuh kegagalan.
Honda bukan siswa yang memiliki otak cemerlang, nilainya jelek, berasal dari keluarga miskin, sering kelaparan, jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah, dan pabrik yang ia dirikan terbakar sampai dua kali. “Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya.” tukas Honda. Dan Honda terus bermimpi, bermimpi, dan bermimpi.
Siapa yang mengenal Mbah Surip? Hidupnya nyaris tak mulus. Miskin, kelaparan, tak punya uang, nekat mengendarai sepeda onthel dari Mojokerto ke Jakarta, numpang tinggal di sana-sini, tak mulus seperti apa yang kita lihat kemarin-kemarin ini. Baru pada album terakhir lagunya tiba-tiba meledak dan disukai. Lirik lagunya sederhana. Musiknya ringan dicerna. Penjualan kaset dan cakram padatnya mungkin tak seberapa. Namun dari nada dering dan nada panggil telepon genggam ia memperoleh Rp4,6 miliar. Belum dari honor manggung, mengisi acara di TV, juga iklan. Namun apakah Mbah Surip lantas bergelimang kekayaan? Nyatanya tidak.
Ia tetap berpenampilan nyentrik, apa adanya, serta bersahaja. Kemana-mana masih diantar pakai motor (yang cicilannya masih menunggak 14 bulan). Seorang kawan pernah melontarkan kelakar: “Mau gajimu di atas lima puluh juta sebulan, mau jungkir balik kerja semaleman lima hari dalam seminggu, dan ditabung tanpa dibelanjakan apa-apa selama setahun, tetap saja nggak akan terkumpul sebanyak empat miliar. Tapi Mbah Surip, hanya beberapa bulan boleh mengantongi uang sebesar itu.”
Aku tak setuju dengan kelakarnya. Karena aku percaya: apa yang Mbah Surip dapatkan justru adalah hasil dari perjuangan hidupnya selama ini. Tidak sekonyong-konyong. Sama halnya ketika ada seseorang yang berkata: andai kita bertemu lima atau sepuluh tahun yang lalu, adakah kita bakal tetap jatuh cinta? Jawabku tetap: tidak. Karena kita yang sekarang adalah apa yang kita jalani selama ini. Belum tentu (kualitas) kita saat itu seperti kita sekarang ini bukan?
How to be a humble person? Aku belum lagi tahu bagaimana caranya. Tapi aku kerap sekali bertemu dengan orang-orang seperti itu. Seperti Mbah Surip. Suatu hari tiba-tiba aku bertemu dengan lelaki berumur 60 tahunan. Ia santun, murah senyum, dan sangat simpatik. Penampilannya sederhana, sikapnya bersahaja, bahkan mobilnya sekadar Honda CRV. Tetapi siapa nyana, ternyata ia seorang pemilik studio foto terbesar dan terkenal di Bandung. Aku diajak keliling studionya dan terbelalak. Sebelumnya ia sama sekali tak pernah mengumbar siapa dirinya. Betul-betul sosok yang mengagumkan.
Pada hari lain aku berkenalan dekat dengan seseorang yang memiliki penghasilan Rp1 miliar per bulan (entah bagaimana cara menyimpan uang sebanyak itu di setiap bulan). Sehabis santap siang, tiba-tiba aku terkelu tak bisa bicara apa-apa ketika hendak naik ke mobil. Aku membuang rokokku yang baru kuhisap seperempat batang. Artinya aku membuang tiga perempat batang sisa rokokku. Yang membuatku terkelu, ia, seseorang yang berpenghasilan Rp1 Miliar per bulan itu, tidak melakukan seperti apa yang kulakukan. Ia mematikan rokoknya yang mungkin sama seperti rokokku: baru seperempat hisapan, lalu memasukannya kembali ke dalam kotak rokok. Aku mengernyit dengan apa yang ia lakukan. Seolah mengerti keherananku, ia berkata: “Rokok ini dibeli dengan uang. Kenapa baru seperempat hisapan sudah dibuang? Nanti masih bisa dilanjutkan toh setelah turun dari mobil? Jangan buang-buang uang.” Setelah ia berkata seperti itu, aku masygul bukan main. How to be a humble person?
Seorang Pramoedya Ananta Toer tetap hidup sederhana, ogah pakai sepatu, dan pakaiannya itu-itu juga. Lebih suka meladang dengan kaus bolong serta celana robek-robek. Orang yang tak mengenalnya, jika bertemu di jalanan akan menyangka ia seperti orang kampung pada umumnya. Penampilannya memang teramat bersahaja. Namun siapa yang mengira: Pram sungguh kaya.
Rumahnya tingkat enam, halamannya maha lega, lengkap dengan kolam renang, serta ladang yang sungguh luas. Mobilnya lebih dari satu, dan perabotan rumahnya mutakhir. Royalti dari buku-bukunya yang diterjemahkan di luar negeri sungguh tak terkira. Apalagi hitungannya dolar. Kalau bukunya masuk best seller, ia berhak mendapakan sekian dolar dari setiap kata dari buku tersebut. Barangkali itu bonus penerbit.
Apakah lantas Pram jumawa? Nyatanya tidak. Ia tetap lelaki kampung yang hidup sederhana, meladang, dan bakar sampah di setiap senja. Gelar sastrawan dunia dan berulang kali diganjar nominasi Nobel Sastra tidak membuat lelaki itu bergelimang harta hingga tutup usianya. Barangkali karena ia tahu betul bagaimana hidup sengsara di masa lampau. Kelaparan, tak punya beras, tak punya uang, sulit kerjaan, dan keluar masuk penjara karena difitnah macam-macam oleh tiga pemerintahan (Hindia Belanda, Orde Lama, Orde Baru). How to be a humble person?
Ada begitu banyak tokoh, kisah, cerita, bahkan orang-orang di sekitar kita yang menginspirasi hidup kita dengan perjalanan hidupnya. Tapi kenapa kita hanya melihat seseorang di masa gemilangnya belaka?
How to be a humble person?
5 Agustus 2009 | 23.19 wib




“I fix my gaze upon You Lord You make me humble
You have handed me Your precepts, and I won’t fumble
For I know that even in the moments I stumble
With You holdin my hand, my world can’t crumble”
EM
how to be a humble person?
you tell me!
banyak contoh yang disajikan, semuanya menunjukkan betapa kehebatan tak mesti diumbar. orang bisa menilai tanpa harus pelakonnya sendiri yang melakukan manajemen kesan.
kan, kan begitu?
but sometimes bluffing is needed, though. especially when we need to impress someone, e.g. in job review.
kan, kan begitu?
entahlah soal penghematan, tapi kupikir justru baggoooss kalau kau membuang rokokmu, goniel.
sekalian aja nggak usah beli lagi.
kaya atau nggak, rokok itu dibeli dengan duit toh?
sayang amat dibakar.
*teteup manas-manasin goniel supaya brenti merokok*
kekekekek…
honda CRV itu sekadar, ya? hiks. maksud sampeyan opo tho? ngenyek tenan kuwi.
ntar deh tak beli harrier kalau gitu… *example of a not-humble person*
Senang sekali membaca tulisan kakak yang ini.., keteladanan yang patut kita tiru, kesederhanaan tidak akan mengubah kualitas diri kita kan?
@kak Hema
setujuuuu… ma kak Hema, iya seharusnya rokok dibuang saja, buat apa buang” uang untuk dibakar, kan dah ada peringatan tuh dibungkusnya…
Kak Daniel bisa mengeja tulisan besar di bungkus rokok kan?
*kabur sebelum dipentung*
Tertampar bolak - balik.
Tertohok. (apa lagi?)
Humble atau gue maknai kerendahan hati adalah suatu proses diri. ANd I’m still learning on it.
Anyway somehow I do believe that humbleness is related to how a person value his life.
Ada seorang sahabat berkata, menjadi seseorang yang rendah hati (kenapa pilih kata humble siy mas Niel?) itu bukan sesuatu yang mudah. Karena menjadi seseorang yang rendah hati berarti mau menerima semua masukan konstruktif, dan mau mengakui kelebihan orang lain atas dirinya….
Modernisasi kadang dapat membawa orang jauh dari sikap rendah hati ini….
*thanks mengingatkan satu sikap baik yang kadang terlupa*
iya, kadang orang di sekitar kita ternyata ‘lebih’ dari apa yang kita duga.
IMHO…
Pertama, aku rasa mesti lebih hati-hati membatasi definisi “humble”, sederhana, irit, dan pelit. Kalau menurut kamus Oxford, humble lebih kepada sikap yang merasa tidak lebih penting dari orang lain, posisi yang rendah dalam masyarakat, tidak istimewa sama sekali. Rasanya ada perbedaan dengan sikap sederhana ya? Tolong betulkan pendapatku bila salah.
Kedua, situasi yang terdeskripsikan dengan kurang sempurna, bisa menjebak pembaca untuk berpikir, bahwasanya Bapak yang mengendarai sekadar CRV itu pelit atau perhitungan.
Ketiga, contoh yang paling pas kupikir tentang Pak Pram, kalau ada contoh yang menarik lainnya tentang “humble”, menurutku adalah cerita tentang orang yang sudah dari “asalnya” kaya raya, sukses, mapan, seluruh keluarganya dalam beberapa generasi termasuk golongan di atas rata-rata, berpengaruh dst, tapi masih bisa bersikap humble.
Sekali lagi IMHO lho ya…
Aku suka sekali tulisan ini! Komentarku? Umm… udah diwakilin sama Mbak Yoga..
jika semua seniman/ artis/ politisi / negarawan de el el as humble as mbah Sirup ..eh mbah surip …. betapa Endonesa raya ini ketika dilirik oleh mata dunia dan mulut dunia maka dunia akan berkata; Endonesa. we love you full!!!!
selamat jalan mbah… jangan lupa disana nanti setiap pagi senam pagi! kalu lupa tidur lagi aja….
i love you full
baru saja mendapatkan kabar bahwa WS Rendra telah meninggal dunia hari kamis pukul 20.30 WIB….
Selamat jalan Sang Burung Merak… bulu-bulu indahmu telah kami nikmati..
semoga Sang Maha di sana juga mengagumi bulu-bulu indahmu…
masih ku pegang sabdamu; “…dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”…
selamat jalan om willy..bernyanyilah dg mbah Surip
sumber info; http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/08/06/22313978/WS.Rendra.Tutup.Usia
Baca tulisanmu ini jadi ingat tulisan di Kontan beberapa minggu lalu, apa beda orang yang “kaya” dan orang “sangat kaya”. Orang kaya (karena penulisnya tak mau mengatakan orang yang kurang kaya atau pas2an…selalu ingin melihat orang melihatnya sukses, baik, berhasil dsb nya. Dia berpenampilan necis, sepatu mengkilap, tas branded ….
Namun orang sangat kaya, tak butuh atribut2 tsb, karena memang dia sudah sangat kaya, berpenampilan jelekpun dia sebetulnya sangat kaya…dan dia bisa seperti itu karena tetap sederhana, selalu menyimpan kembali uang kembalian walau berupa Rp.100,- dsb nya. Terus terang saya tersindir baca tulisan itu….hmm mungkin juga tulisanmu ini.
Sayapun masih belajar untuk menjadi orang sederhana, walau terkadang orang suka menyepelekan orang yang berpenampilan sederhana. Artinya, apakah saya tak termasuk dalam kategori “orang sangat kaya” dalam tulisan Kontan tsb?
jadi bukan ngenyek, tho?
sek, kalau gitu nggak jadi ganti harrier.
(ya iyalah, lagian mana gue mampu!)
.
aku tau rumus itu…
gak usah diingatkan.
*menghela napas*
*tertunduk merasa bersalah*
*balik kanan, meninggalkan ruangan*
pertama, dari semula tulisan ini turun, aku sudah mau membacanya, tapi sungguh malang nian, tak bisa kubuka, entah kenapa…
kedua, untuk jadi humble person, aku sudah sangat melihat dari diri seorang sahabatku, yang telah merawikan tulisan ini. jadi, aku cukup belajar darinya
ketiga, rumusmu meninggalkan rokok ada pada diri si Mas di atas ya? Hmmm…. *segera meneleponnya, tapi aku tak punya nomernya*
Datang mampir setelah mendengar berita rendra. Langsung teringat paklik.
-
Setuju paklik!
Seseorang pernah mengatakan hal yang mirip, “andai kita bertemu lima atau sepuluh tahun yang lalu, adakah kita bakal tetap jatuh cinta?”
Menurut aku sih ya belum tentu.. Kedekatan yang terbangun bisa sangat berbeda. Timing itu kan penting sekali.
-
Ah, aku suka postingan ini. Mengena sekali. Tentang humble dan kerja keras. Tentang Mbah Surip dan Honda.
Ngomong2 kok contohnya rokok, paklik? *langsung kebawa sentimen nih*
Bukan humble ah menurut aku..
“Rokok ini dibeli dengan uang. blabla… Jangan buang-buang uang.”
Wah ya klo begitu mah lebih tepat lagi klo sejak awal ga usah dibeli. Hehehe..
Peace ya..
-
Ps: Aku klo dikasih CRV juga ga nolak lho, paklik..
Bertahun-tahun yang lalu, aku pernah baca sebuah cerpen mengenai uang 25 perak yang terabaikan di got dan di sudut-sudut pasar. Sayang sekali aku lupa taruh di mana file atau hardcopynya. Dan cerpen itu mengingatkanku untuk selalu menghargai uang kecil. Itu salah satu cerpen yang terus kuingat sampai sekarang.
Soal ucapan Soekarno itu, memang selalu menjadi mottoku. Tapi sepertinya tidak bisa bagi seseorang yang bekerja sebagai sales dan marketing kan? Mereka harus “menjual” keharuman yang mungkin sebetulnya tidaklah harum. Di Jepang juga ada yang dinamakan Jiko pi-ar (menjual/memamerkan kehebatan diri sendiri) waktu melamar pekerjaan, dan aku tahu…aku tidak bisa…..
EM
Kang, siapa gerangan penghasil 1 milyar per bulan itu?
saya bisa tertunduk malu kalau bertemu.
menjadi humble? … bagaimana yaa? …
saya masih berkutat untuk belajar ikhlas, mudah-mudahan bisa juga sekalian belajar jadi humble.
*nerima telepon uda vizon*
iya nih, da. mosok demi kesehatan sendiri minta syarat.
pake ngancam pulak.
memangnya saya dukun pake disyaratin?
…
kenapa? uda mau tau rumusnya?
catat ya, da. rumusnya adalah…
…
halo? halo? yah, putus…
*malu-malu*
*telat*
*terpaksa nanya*
How To Be a Humble Person (1) ada ya? dimana?
Aku mengartikan humble person sebagai orang yang rendah hati, yang tidak menganggap dirinya lebih tinggi dibanding orang lain, yang tidak merasa bahwa orang lain harus melihat kelebihan yang dia miliki, yang tidak merasa bahwa orang lain harus memahami dirinya. Humble person adalah orang yang rendah hati (bukan rendah diri,) dia tidak meninggikan dirinya sendiri karena menganggap semua yang ada padanya itu bukan sesuatu yang patut disombongkan.
Ada orang yang bersahaja dalam penampilan dan sikap hidupnya, berdasarkan apa yang selama ini kuamati, sebagian diantara orang-orang itu adalah orang-orang yang rendah hati ……
Rumus tentang ‘berhenti rokok’ itu sebenarnya mudah saja kok Da cuman memang Uda tidak bisa melakukannya……….ehem
tinggal memilih kan mas Niel……… *kedip-kedip*
baiklah… jadi sekarang mari kita dengar kisah kegagalan seorang dm. sebelum seperti apa yg kita lihat sekarang sebagai seorang penulis sukses….
mas…dari semua tulisanmu entah mengapa aku sangat suka tulisan kali ini…
untuk jadi seseorang yang rendah hati memang susah mas, terlebih apabila di dera dengan lingkungan yg tidak memungkinkan. Aku punya seorang teman, katanya sih dia mengaku rendah hati tetapi ketika ngobrol dengan dia setiap kali dia selalu membicarakan apa yang sudah diberikannya ke pada orang lain, dia yang gak pernah pelit, dia yang begitu dan dia yang begini…jadi bagian mananya yg rendah hati kalau dia mengomongin dia..dia…dan dia lagi
Bener2 tulisan yang menarik mas!!! aku suka setiap detail pemaparanmu tentang orang2 yang rendah hati itu.
Saya mengucapkan SELAMAT menjalankan PUASA RAMADHAN.. sekaligus Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika ada kata kata maupun omongan dan pendapat yang telah menyinggung atau melukai perasaan para sahabat dan saudaraku yang kucinta dan kusayangi.. semoga bulan puasa ini menjadi momentum yang baik dalam melangkah dan menghampiriNYA.. dan menjadikan kita manusia seutuhnya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh.. meraih Fitrah Diri dalam Jiwa Jiwa yang Tenang
Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll
saya masih inget dengan mas Tukul mas.
Menarik sekali rasanya menghabiskan waktu satu jam ber-TATAP MUKA dengan Tukul di Cipete, di sebuah gang bernama Gang Sawo, lokasi rumah mas TUKUL ARWANA sambil menikmati kerupuk dan indomie.
Walaupun pernah mendengar dan membaca bahwa pendapatan Tukul sampai puluhan milyar tiap tahunnya, tapi tidak ada kesan glamour di kompleks seluas 1000-an meter itu. Rumah sederhana, plus kontrakan yang diberi nama acara-acaranya serta 25 orang yang bekerja untuknya yang sebagian berpotongan mirip Tukul, tidak menggambarkan gaya hidup seorang milyader. mungkin hanya sebuah Harley Davidson yang membedakannya dengan tetangga yang lain, tapi tetep ketika isrinya bepergian masih boncengan pake Mio ! walaupun ada 3 mobil nangkring di garasi, sebuah Honda Jazz & Nisssan X-trail terbaru plus Kijang Innova.
Saya jadi bertanya-tanya : Mas Tukul kok gak kelihatan gemerlap?
Jawaban Tukul jelas : SUKSES ITU DI LUAR PAKDE, BAHAGIA ITU DI DALEM !
Ini masuk kategori Humble person? aku pikir masuk.
Kebanyakan (mungkin semua) kita, dalam hati ingin menjadi orang sederhana atau istilah Bu Edratna “sangat kaya”.
Tapi dalam kenyataan, kita tidak melaksanakan keinginan itu. Kita ingin tampak gaya, ciamik dan dipuji orang…