Petualang mana yang tak rindu pulang? Induk lebah mana yang tak kembali ke sarang? Mereka mendifinisikan rumah dalam ragam pemaknaan yang berlipat macam. Karena di sanalah sesungguhnya cinta bersemayam. Kasih tak berkesudahan yang menjelma dalam ragam pengejawantahan.

Bukankah para avatar telah mengajarkan kita arti dari dialektika hidup di dunia. Kita tau betul arti merindu ketika pernah pergi melangkah. Kita memahami arti dari memiliki ketika pernah merasa kehilangan. Kita begitu menghargai sehat ketika pernah merasakan sakit. Bukankah semesta tercipta dari ketiadaan. Begitu pun masa dianggap ada ketika kita tau ada yang tak bermasa.

Terkadang kita kerap tersedu ketika terantuk batu di jalan yang berdebu. Namun bukankah kita bisa belajar arti kesetiaan dari sejumput pengkhianatan. Kita pun dapat belajar berbuat benar dari sederet kesalahan. Karena setiap jengkal yang terjadi pada apa yang dapat disebut hidup selalu mengajarkan secupuk makna yang mendalam.

Entah apa pun sebutanmu. Entah itu Allah, Bapa, Brahman, Buddha, Widhi, Tao, Yehovah, Satnaam, atau Ahura-Mazda, pulang adalah satu-satunya cara kita memandang hidup dalam alam kesadaran. Bukankah ia yang tak sadar sesungguhnya masih tersesat dan belum lagi tau jalan pulang?

Dari tanah kembali ke tanah. Setiap bilangan selalu berpulang pada nol. Karena kosong adalah kesempurnaan. Di sanalah pucuk ekstasi dari meditasi hidup kita yang terdalam. Dalam alam keheningan kita tau: hidup ini tak lebih dari sebatas pengelanaan untuk kembali mencari jalan pulang…