Petualang mana yang tak rindu pulang? Induk lebah mana yang tak kembali ke sarang? Mereka mendifinisikan rumah dalam ragam pemaknaan yang berlipat macam. Karena di sanalah sesungguhnya cinta bersemayam. Kasih tak berkesudahan yang menjelma dalam ragam pengejawantahan.
Bukankah para avatar telah mengajarkan kita arti dari dialektika hidup di dunia. Kita tau betul arti merindu ketika pernah pergi melangkah. Kita memahami arti dari memiliki ketika pernah merasa kehilangan. Kita begitu menghargai sehat ketika pernah merasakan sakit. Bukankah semesta tercipta dari ketiadaan. Begitu pun masa dianggap ada ketika kita tau ada yang tak bermasa.
Terkadang kita kerap tersedu ketika terantuk batu di jalan yang berdebu. Namun bukankah kita bisa belajar arti kesetiaan dari sejumput pengkhianatan. Kita pun dapat belajar berbuat benar dari sederet kesalahan. Karena setiap jengkal yang terjadi pada apa yang dapat disebut hidup selalu mengajarkan secupuk makna yang mendalam.
Entah apa pun sebutanmu. Entah itu Allah, Bapa, Brahman, Buddha, Widhi, Tao, Yehovah, Satnaam, atau Ahura-Mazda, pulang adalah satu-satunya cara kita memandang hidup dalam alam kesadaran. Bukankah ia yang tak sadar sesungguhnya masih tersesat dan belum lagi tau jalan pulang?
Dari tanah kembali ke tanah. Setiap bilangan selalu berpulang pada nol. Karena kosong adalah kesempurnaan. Di sanalah pucuk ekstasi dari meditasi hidup kita yang terdalam. Dalam alam keheningan kita tau: hidup ini tak lebih dari sebatas pengelanaan untuk kembali mencari jalan pulang…




tapi jangan berpulang cepat-cepat ya, goniel?
mari tulisan ini kuartikan saja sebagai kembali kepada titik nadir setelah ramadhan.
selamat berpuasa…
Berpulang pada hakekat manusia ? atau karena kita sudah begitu jauh dari sifat kemanusiaan ?
pulang? aku sudah lama tidak lagi mengenal kata itu. karena bagiku setiap tempat yang kusinggahi sudah menjadi rumahku. sehingga, bila aku kembali ke sebuah tempat yang menjadi asalku, tidak lebih dari sekedar berpindah tempat…
kehidupan dan kematian, juga bukanlah kepulangan bagiku. itu hanyalah perpindahan tempat, dari satu kebajikan ke kebajikan lainnya…
aku tertarik dengan kata ini: “dari tanah kembali ke tanah”, bisakah itu dianalogikan begini? “dari penganyam kembali menganyam”
setuju, mas! kehidupan di dunia ini hanyalah sebuah persiapan untuk mencapai hidup dalam kekekalan.
sering berkunjung, baru pede meninggalkan pesan di sini. dan kali ini untuk kesekian kalinya saya terkagum-kagum dengan keindahan kata yang dianyam.
salam,
Riris
@uda vizon:
saya sedang ngebayangin adegan uda vizon bersiap-siap hendak pulang kerja.
teman uda: weh, udah mau pulang nih, fren?
uda vizon: ah nggak, cuman mau pindah aja ke rumah…
huihihihi… *dilempar kurma sekarung*
analogi tukang anyamnya keren juga tuh, da.
*sambil nunggu kiriman buku lima menara karya teman uda*
Petualangnya siapa niy mas Niel? kik kik kik….
mmm….konotasi kata pulang memang selalu pada kembali, pada cinta yang sesungguhnya, pada sesuatu dimana ketentraman, kenyamanan, keabadian berada…
Semua pasti akan pulang mas Niel….
tinggal kita milih lewat jalan mana, mau naik apa (becak? hihihi)
Pulang mulu mas Niel……
Nice, eh
Selamat berpuasa, Dan!
Semoga amal ibadahmu diterima Tuhan dan pahalaNya menyertaimu.. sepanjang umurmu…
@tukang kurma:
kalau dari kantor ke rumah itu memang bukan pulang, karena sering pekerjaan kampus dibawa pulang. artinya, ya mindahin kerjaan ke rumah, hehehe…
*melempar kurma sekarung yang tinggal bijinya*
*menunggu kiriman alamat uni di email*
pemaknaan pulangmu kok bikin pikiran terpelanting pelanting ya kang, sebuah jalan panjang di ujung jalan ada segepok gubuk kecil, entah nyaman atau tidak, suatu saat kita akan berbaring disana
pulang kemana mas?
emang ada rumah yg dituju…
karena dalam main setku…dirimu kan “ali topan” huhehehehe
*dilempar sama kolak*
selamat berpuasa mas…semoga puasa ini bisa melahirkan jiwa baru bagi kita setelah ied
Kata pulang memang akan selalu ada dihati kita masing-masing, betapapun indahnya tempat petualangan yang kita tuju. Pada akhirnya kita selalu menginginkan kembali pulang.
Semoga bulan ini kita bisa kembali ke titik nol, membersihkan diri, untuk nantinya kembali melangkah tanpa beban berat lagi, yang menghambat langkah kita
Pulang.. kata inikah yang membuatmu bersedih sepanjang hari ini kaaang??.. ayo curhat lagi.. :p
Pulang ke warung kopi
hihihi
Pada hakekatnya, semuanya akan kembali pulang, sebuah renungan yang indah, tak bosan aku baca tulisan ini, tentunya dengan merenungkannya…
kalo butuh tempat pulang…kos2′anku masih luas kok bro…
anytime
tulisan model ngene iki seng aku seneng mas… tapi iki bukan isyarat/pertanda kan?? hahahaha
hey kenapa harus kembali pulang jika berniat bertualang?
menyambung koelit ketjil:
“A good traveler has no fixed plans and is not intent on arriving.” — Laozi
apa kabar danny kunil…?
EM
Aku mau pulang dulu ah, soalnya ini lagi di warnet, hi..hi…
bawa bekal yang sebanyak mungkin
pulanglah…..
sebelum….
harga tuslah naik!
….
….
hati-hati dijalan… klo ngantuk istirahat dlu
;-D
“Kita pun dapat belajar berbuat benar dari sederet kesalahan.” tepat ini!! Setiap orang bisa!.
Jangan dulu berpulang deh. belum banyak bekal nih. Kalau sekedar mudik nanti ajah deh pas tahun baruan. Biarlah pulangnya nanti setelah bekal cukup.
tapi inget, sebelum pulang cari bekal yang cukup
aku masih malas ‘pulang’ mas dan… monggo nek sampean disikan.. kekekeke *dibalang buku*