Archive for October, 2009

This Is It!

Yesterday is a memory. Tomorrow is a mystery. Today is a gift. That’s why they call it the present (Kung Fu Panda)

Pernahkan kalian membeli buku namun belum sempat membacanya? Aku sering kali mengalami hal seperti itu. Membeli setumpuk buku, dan dari yang setumpuk itu ada saja yang terselip belum terbaca. Entah masih enggan, belum tergerak untuk membacanya, atau memang belum butuh. Waktu membeli, yang terbersit dalam pikiran hanyalah: suatu saat aku pasti memerlukannya (Kebiasaan buruk memang. Jangan kalian tiru. Beli lah sesuatu yang kita butuhkan saja).

Beberapa hari lalu, tanpa sengaja aku melihat punggung sepucuk buku yang masih nongkrong di tumpukan yang masuk dalam daftar antrian baca. Terbaca olehku judulnya yang besar-besar: HARI INI PENTING. Judul aslinya Today Matters, karya John C. Maxwell, yang diterjemahkan oleh penerbitnya menjadi Hari Ini Penting.

Hari ini penting? tanyaku dalam hati. Tiba-tiba ada keinginan untuk menarik buku itu lantas membacanya. Tapi waktu sedang tak memungkinkan. Mesti buru-buru pergi. Jadinya sepanjang jalan aku terngiang-ngiang judul buku itu. Hari ini penting! Memang, konsep dari buku itu sudah lagi kupelajari. Tapi tetap belum membacanya toh. Betapa pun demikian, konsep dari HARI INI PENTING membuatku tertarik dan memikirkannya.

Hari ini penting! Seberapa pentingkah hari ini sehingga seakan tak ada waktu yang sebegitu pentingnya selain hari ini? Sebagai seorang yang tumbuh dengan karakter Melankolis yang Sempurna, yang kerap kali menunda-nunda banyak hal, konsep dari HARI INI PENTING selalu menarik perhatianku (namun tak pernah lulus untuk mempraktekannya!). Ya, aku kerap kali menunda pekerjaan, sampai sesuatu kurasa tepat untuk dikerjakan (alasan halus untuk tidak menyebutkan: baru tergerak kalau sudah didesak deadline!).

Continue Reading »

Taksu

Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.
(Rumah Kaca, Pramoedya Ananta Toer)

Ketika mengikuti acara Ubud Writers and Readers Festival 2009 di Bali, mobil yang kami tumpangi beberapa kali melewati sebuah art galeri bernama Taksu. Saking seringnya melewati tempat itu membuat kami bertanya pada Pak Putu, sopir kami: apa arti taksu.

Taksu menurut Pak Putu yang asli desa Pajeng, Ubud, bisa diartikan semacam aura atau karisma yang dimiliki seseorang. Hal itu bisa mengejawantah pada diri seseorang ketika ia melakukan sesuatu. Seperti penari Bali misalnya.

Ada penari yang latihan begitu disiplin. Memeragakan gerakan tari tanpa cacat. Namun ketika tampil di atas pentas malah terasa biasa saja. Ada pula penari yang saat latihan justru biasa-biasa saja. Kedisiplinannya tak semahir penari pertama. Namun begitu tampil, penonton seperti terbius oleh gemulainya. Mata penonton seperti tersihir oleh penampilannya. Si penari kedua memancarkan aura atau karisma yang membuat penonton berdecak kagum. Menurut Pak Putu, si penari kedua bisa jadi telah memiliki taksu. Orang Bali menyebutnya telah mengalami mataksu-taksu.

Continue Reading »

Suksma

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it
(The Alchemist, Paulo Coelho)

Kali pertama membaca The Alchemist, aku sontak seolah merasa tersengat petir ketika mendapati kalimat di atas: ketika engkau menginginkan sesuatu, seluruh semesta raya akan bahu-membahu membantumu untuk meraihnya! Sederhana, tidak dengan metafora terlampau muluk, tidak kurang, tidak lebih, tapi pas!

Meski demikian aku kadang tak menyadari: bahwa kalimat itu sesungguhnya betul bekerja dan benar adanya. Ya, ketika kita menginginkan sesuatu, seluruh semesta raya memang seolah akan membantu kita untuk meraihnya. Kalian percaya hal itu?

Ada semacam jalan, begitu banyak jalan, yang tiba-tiba terbentang di depan kita ketika kita memiliki keinginan kuat untuk meraih sesuatu. Soal sulit atau mudah, di situlah kualitas kegigihan kita ditimbang-timbang kadarnya. Namun yang pasti, ketika kita menginginkan sesuatu, selalu ada jalan yang menyokong keinginan kita itu.

Kali ini izinkan aku berbicara soal Epitaph dan ingin berterima kasih pada orang-orang yang telah membuat Epitaph menjadi kenyataan. Karena tanpa orang-orang itu, meminjam istilah Mas Melvi Yendra yang sangat kusuka:

manuskrip novel yang mulai ditulis (dua tahun lalu itu), yang tak kunjung tuntas ditulis itu, yang kata orang-orang bagus itu, kini sudah tampak renta, tua, kotor, dan berdebu, bahkan beberapa bagiannya sudah dijalari akar dan dirimbuni dedaunan, seperti rumah tua yang sudah lama ditinggalkan penghuninya, dan ditakuti anak-anak karena dikira berhantu…

mungkin begitulah keadaan Epitaph. Aku suka sekali pengandaian Mas Melvi tersebut soal naskah yang terlunta-lunta keadaannya.

Continue Reading »