When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it
(The Alchemist, Paulo Coelho)

Kali pertama membaca The Alchemist, aku sontak seolah merasa tersengat petir ketika mendapati kalimat di atas: ketika engkau menginginkan sesuatu, seluruh semesta raya akan bahu-membahu membantumu untuk meraihnya! Sederhana, tidak dengan metafora terlampau muluk, tidak kurang, tidak lebih, tapi pas!

Meski demikian aku kadang tak menyadari: bahwa kalimat itu sesungguhnya betul bekerja dan benar adanya. Ya, ketika kita menginginkan sesuatu, seluruh semesta raya memang seolah akan membantu kita untuk meraihnya. Kalian percaya hal itu?

Ada semacam jalan, begitu banyak jalan, yang tiba-tiba terbentang di depan kita ketika kita memiliki keinginan kuat untuk meraih sesuatu. Soal sulit atau mudah, di situlah kualitas kegigihan kita ditimbang-timbang kadarnya. Namun yang pasti, ketika kita menginginkan sesuatu, selalu ada jalan yang menyokong keinginan kita itu.

Kali ini izinkan aku berbicara soal Epitaph dan ingin berterima kasih pada orang-orang yang telah membuat Epitaph menjadi kenyataan. Karena tanpa orang-orang itu, meminjam istilah Mas Melvi Yendra yang sangat kusuka:

manuskrip novel yang mulai ditulis (dua tahun lalu itu), yang tak kunjung tuntas ditulis itu, yang kata orang-orang bagus itu, kini sudah tampak renta, tua, kotor, dan berdebu, bahkan beberapa bagiannya sudah dijalari akar dan dirimbuni dedaunan, seperti rumah tua yang sudah lama ditinggalkan penghuninya, dan ditakuti anak-anak karena dikira berhantu…

mungkin begitulah keadaan Epitaph. Aku suka sekali pengandaian Mas Melvi tersebut soal naskah yang terlunta-lunta keadaannya.

Ya. Epitaph pertama kali kutulis sebagai cerpen pada September 1996, yang saat itu berjudul Peristirahatan Abadi. Dimuat di majalah Suara Mahasiswa pada bulan dan tahun yang sama. Lima tahun kemudian, cerpen Peristirahatan Abadi kuubah judulnya menjadi Epitaph. Ada beberapa perubahan pada alur cerita dan kumasukan ke dalam buku kumpulan cerpen Selamat Datang di Pengadilan yang terbit pada September 2001.

Sudah sejak saat itu aku meniatkan untuk menjadikan cerita Epitaph terbit sebagai novel kelak. Tetapi nyatanya niat itu tetap tak kunjung kulakukan. Naskah Epitaph masih terus kerasan menari-nari di kepalaku tanpa pengejawantahan yang nyata. Hingga pada awal Desember 2006 aku betul-betul mulai menulis Epitaph sebagai naskah novel.

Memerlukan waktu 10 tahun (Sepuluh tahun! Ngapain saja aku ini?) sejak 1996 hingga 2006 untuk bisa menjadikan Epitaph sebagai naskah novel. Entah mengapa, sepanjang sepuluh tahun itu aku memang belum lagi mendapatkan soul-nya. Cerita itu terus kuendapkan dan kubawa-bawa kemana pun aku pergi di kepala. Aku ingin meminjam kata-kata Mas Gola Gong di buku Joe dalam seri Balada Si Roy untuk menggambarkan bagaimana aku menunda-nunda dan akhirnya serius menulis Epitaph sebagai novel:

Tadinya kisah ini tidak akan aku tulis. Jangankan untuk mengulanginya, mengenangnya pun aku takut. Tapi akhirnya dengan pertimbangan dan kemungkinan, ternyata sesuatu yang sia-sia itu masih bisa ada harganya. Ini tidak lain agar orang yang mencintai kehidupan bisa bercermin lewat kisah ini.

Hingga selama bulan Desember 2006, aku menulis Epitaph sebulan penuh. Selama 30 hari tanpa henti. Aku menyewa sebuah kamar kos di daerah Bandung utara, di mana tak seorang pun tahu keberadaanku dan semata untuk menulis Epitaph. Sepanjang hari, sepanjang dini hari, aku hanya menulis Epitaph.

Kubongkar data, riset dokumentasi, wawancara sana-sini, menyibak puluhan buku dan memutar film pendukung. Kuanyam huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, halaman demi halaman, hingga akhirnya aku terhenyak sendiri: aku bisa menuntaskan Epitaph sebanyak sekian ratus halaman A4.

Akhir Desember 2006 hingga awal Januari 2007 aku menyusuri pulau Jawa. Kutinggalkan naskah Epitaph. Naskah itu sudah selesai. Namun biarlah kuendapkan dulu. Yang pasti bangunan dari naskah tersebut sudah rampung kuanyam. Namun apa yang terjadi?

Sepulang dari perjalanan aku terlena lagi dengan kesibukan pekerjaan. Dalam keseharian aku banyak berhubungan dan bekerjasama dengan begitu banyak penerbit. Bertemu dengan editor hingga direktur utama banyak penerbit. Namun naskah Epitaph tak kunjung kutawarkan pada penerbit manapun. Heran juga.

Lantas aku ingin sedikit melakukan tes. Bangunan naskah novel tersebut kucoba publish di blog (saat itu danielmahendra.com), mulai dari 16 Mei 2008 hingga 8 Agustus 2008 sebanyak 45 postingan. Responnya cukup menggembirakan kukira. Paling tidak menurutku. Aku semakin yakin, bahwa naskah tersebut memang harus terbit sebagai novel.

Ada kejadian pada bulan Maret 2007 yang membuatku memutuskan untuk menjadikan Epitaph terbit sebagai novel trilogi (Epitaph, Epigraf, Epilog). Aku jadi semakin bersemangat meski tak kunjung jua menawarkan naskah tersebut pada penerbit manapun. Naskah Epitaph tetap masih menjadi “rumah berhantu”.

Hingga pada awal bulan Juli 2009 aku diajak Lisa Febriyanti untuk bertemu dengan Editor Senior sebuah penerbit, Mas Syafruddin Azhar, di radio DFM di bilangan Warung Buncit, Jakarta Selatan. Dari sana kami nongkrong ke Pejaten Village. Di sana kami duduk bersama dan mendiskusikan konsep novel Epitaph. Siapa nyana, gayung pun bersambut. Mas Din, panggilan akrab Syafruddin Azhar, suka dengan konsep Epitaph (Heran juga, kenapa ada orang bisa suka dengan cerita seperti itu. Hehe!).

Ketika dihitung-hitung jumlah halaman A4 Epitaph masih kurang dari halaman buku yang biasa diterbitkan penerbit, maka aku mesti merampungkan Epitaph menjadi naskah novel yang sesungguhnya. Malam itu juga aku diberi deadline untuk menuntaskan Epitaph sampai dengan akhir bulan Juli 2009.

Sungguh tak mudah membongkar konsep novel yang sudah jadi untuk mencapai halaman yang disyaratkan. Namun di sisi lain aku jadi punya kesempatan untuk memperluas konflik, memperdalam karakter penokohan, dan membuat alur cerita lebih manusiawi lagi, karena novel ini memang sarat dengan data ketat yang bertebaran di mana-mana.

Maka Juli 2009 aku bergelimang lagi dengan Epitaph. Rupanya hasil dari melongok Epitaph lagi membuatku jauh lebih mengenal tokoh-tokoh yang kuciptakan sendiri ketimbang sebelumnya. Aku seolah merasa bahwa tokoh-tokoh tersebut memang benar ada dan hidup di alam nyata. Juli 2009 adalah neraka sekaligus surga bagiku untuk menganyam Epitaph lebih serius lagi.

Ada begitu banyak kesulitan yang kutemui ketika harus menggarap Epitaph kembali. Aku merasa saat itu adalah masa-masa yang teramat melelahkan. Beban psikologi yang mesti kutanggung tak pernah bisa kuungkapkan baik secara lisan maupun tulisan. Hingga akhir Juli 2009 yang merupakan deadline “gertak sambal” terlewati, aku terus ngebut merawi Epitaph hingga Agustus 2009. Bolak-balik Bandung-Jakarta sampai merasa enek dengan seruas jalan tol bernama Cipularang. Sakit, berdarah-darah, kurang tidur, kurang minum, lupa makan, miskin hubungan sosial, dan waktu lebih banyak kuhabiskan dengan semata duduk menghadapi laptop. Ya. Pengarang adalah pekerjaan paling gila (sekaligus mengasyikan) yang pernah ada di dunia ini!

Sejak itu aku lebih banyak di Jakarta. Menghabiskan malam-malam bertiga di kantor penerbit di daerah Rawamangun bersama Lisa dan Mas Din. Meramu naskah, mengolah cover, memperbincangkan konsep promosi, dan mematangkan strategi. Lambat laun, dari waktu yang terus tercipta, hubungan kami sudah lebih dari sekadar konteks kerja, namun lebih pada makna persahabatan itu sendiri.

Sepanjang bulan-bulan itu naskah Epitaph terus mengalami bongkar pasang. Aku tak pernah bisa puas dengan rawian yang telah kuayaman. Bahkan satu kata pun, kalau kurang sreg, aku bisa memikirkannya berjam-jam, berhari-hari, sepanjang waktu hanya untuk menentukan: dipakai tidaknya satu kata tersebut (satu kebiasaan buruk yang tak patut untuk ditiru sama sekali!).

Deadline makin mepet. Penerbit mewanti-wanti: Epitaph mesti terbit dan di-launching pada 24 Oktober 2009 di acara Indonesia Library and Publishing Expo 2009 di Istora Senayan Jakarta. Naskah Epitaph mesti segera rampung. Aku pun makin ngebut lagi. Seperti pembalab yang melesat di sikuit Sentul.

Namun di tengah jalan rencana launching tersebut sempat diurungkan oleh penerbit, dengan pertimbangan waktu serta distribusi yang mepet. Mendapati kabar seperti itu, suka tak suka, penggarapan Epitaph mendadak sontak terhenti di tengah jalan. Momentum tak jadi launching pada bulan Oktober sangat memengaruhiku dan membuatku mengendurkan kecepatan yang telah stabil. Laju langkah seolah mengendur.

Namun pada bulan September 2009 pihak penerbit tiba-tiba kembali menantang: bagaimana kalau dijadikan saja launching tanggal 24 Oktober tersebut? Tentu saja tantangan tersebut kujawab dengan semangat membabi buta (jelek sekali istilah ini!). Laju kecepatan penyelesaian Epitaph digenjot lipat kali dari sebelumnya. Aku betul-betul kalap menggarap Epitaph. Seperti kesetanan, jari ini seolah sudah bergerak sendiri merawi naskah tanpa memedulikan tuannya si pemilik semesta tubuh.

Hingga Selasa 15 September 2009, pukul 18.43 wib naskah Epitaph betul-betul rampung di Jakarta. Senja itu juga kusalami Mas Din, Lisa, dan Mas Heru S. Soedjarwo, seorang sutradara yang kerap berdiskusi soal film denganku yang kebetulan hadir di kantor penerbit, atas selesainya naskah Epitaph. The waiting is over!

Sejak itu fokus kami sudah tidak lagi ke naskah, namun lebih pada rencana pergi ke acara Ubud Writers and Readers Festival di Bali. Kami berangkat ke Bali dengan ongkos pemikiran: sepulang dari Bali kami siap launching! Namun siapa nyana, seminggu setelah kepulangan dari Bali, atau seminggu sebelum acara launching bakal digelar, penerbit tiba-tiba mengabari jika launching tersebut mesti betul-betul dibatalkan dengan pertimbangan yang sama seperti pertama kali dibatalkan.

Kali ini akibatnya bukan lagi pada mandeknya kerja naskah, namun sudah pada pikiran dan hati. Kabar tidak jadinya launching seminggu sebelum acara launching digelar sungguh mengagetkan. Informasi bakal adanya launching sudah tersebar kemana-mana. Banyak kawan sudah memastikan hendak hadir (bahkan hingga saat aku menuliskan catatan ini pun). Suka tak suka, mau tak mau, kabar tersebut mesti kutelan dengan masam. Aku merasa seperti tentara yang kalah sebelum berperang…

Hanya saja bedanya kini aku sudah bisa menerima hal-hal seperti itu dengan senyuman saja. Dengan tenang. Dengan hati damai. Tak ada sesuatu yang begitu mengagetkanku di dunia ini. Aku hanya nyaris ogah berbicara soal Epitaph lagi. Sudah ratusan kali naskah itu kubaca dan aku sudah letih. Aku biarkan semesta berbicara sesuai kehendaknya.

Ya. Sudah sejak awal aku merasakan: semesta memang sedang berbicara kepadaku. Bagaimana tidak, aku menggarap naskah Epitaph pada bulan Juli, Agustus, dan September 2009. Bulan di mana merupakan alasan titik awal kejadian mengapa aku menulis Epitaph. Tepat 15 tahun lalu. Baik tanggal dan bulan yang sama persis. Itu mengapa, semua itu kerap membuatku terhenyak dan bergetar ketika sedang merawi naskah Epitaph pada bulan-bulan tersebut. Tak jarang di malam-malam yang sunyi mataku sebak berkaca-kaca hanya karena harus menuliskan rawian Epitaph yang sungguh-sungguh menyiksa batin.

Dan Oktober adalah bulan di mana aku menciptakan tokoh utama dalam Epitaph berulang tahun. Andai Epitaph memang betul-betul launching pada bulan Oktober, semua cerita ini klop seperti apa yang kuinginkan: Juli, Agustus, September, dan Oktober. Bagiku itu merupakan momentum yang tak bisa ditukar dengan apa pun. Tetapi rupanya semesta berbicara lain. Aku hanya berusaha mengikuti apa yang sedang direncanakan semesta di atas. Aku tak boleh menyesali.

Satu hal pasti, darmaku sebagai penulis sudah selesai. Memang, di sisi lain penulis pun mesti bisa menjadi promotor bagi karyanya. Penganjur agar orang tertarik pada hasil pikirannya. Itu memang hal lain di ranah yang berbeda. Namun aku mencoba menenangkan diriku bahwa darmaku sudah selesai. Bahwa naskah itu akan terbit cepat sebagai buku, mau mati muda, mau berusia panjang, mau dipuji, mau dikritik, hal itu sudah di luar teritoriku sebagai penulis.

Dengan demikian, dari semua kejadian yang begitu ragam lika-likunya, tetap tak mengurungkanku untuk berterima kasih pada orang-orang yang membuat semua ini menjadi kenyataan. Merekalah orang-orang yang ikut tersenyum denganku ketika aku merasa senang. Ikut menangis ketika aku sedang berduka. Memapahku ketika aku merasa letih dan putus asa. Mencari dan menemukanku ketika aku hilang arah di tengah jalan. Menegurku ketika aku berbuat salah. Serta memelukku untuk mengatakan bahwa aku bisa dan akan baik-baik saja. Mereka, orang-orang yang selalu ada di sana untukku.

Untuk itu aku berterima kasih kepada: Lisa Febriyanti. Orang yang setiap hari selalu bertanya: “Bagaimana naskahmu?” Orang yang selama beberapa bulan terakhir ini banyak menghabiskan waktu denganku untuk kerja naskah hingga terbit sebagai buku. Ada begitu banyak diskusi ketat yang kulakukan dengannya mengenai konsep kerja Epitaph. Dari a sampai z. Hingga tak pernah merasa sulit berkomunikasi dengannya. Karena ia tahu betul cara berpikirku, seperti halnya aku tahu betul cara berpikirnya. Sehingga jika aku baru berbicara a, ia sudah lagi tahu dan menyimpulkan sampai ke z. Ribuan terima kasih, Lis. Kau adalah sahabat dalam arti sebenarnya. I love you!

Mas Syafruddin Azhar, sang editor. Orang yang percaya bahwa Epitaph layak terbit sebagai buku. Bahkan orang yang percaya bahwa Epitaph mesti terbit sebagai novel trilogi. Tak pernah menggurui dan memberikan kebebasan sepenuhnya kepadaku sebagai penulis dalam merawi Epitaph. Bekerja dengannya sudah tak terasa lagi mana editor mana penulis. Ia sudah menempatkan diri sebagai sahabat yang terus mengiringi proses kerja Epitaph. We love you, Mas Din. Always!

Mas Gola Gong. Orang yang sangat antusias ketika kali pertama mengetahui aku merawi Epitaph. Guru dalam arti sesungguhnya. Padanya lah aku belajar menulis ketika masih lagi mengunyah bangku SMP. Inspirasi besar yang tak pernah surut. Semangat yang tak pernah kering. Padanya lah aku sering berkaca soal kehidupan. Terima kasih untuk endorsment-nya, Mas Gong. Kau telah mengajarkan aku banyak hal. I love you. Very!

Terima kasih khusus pada Pak Gerson Poyk, Mas Kurnia Effendi, Kang Soni Farid Maulana, dan Sihar Ramses Simatupang. Especially Sihar: terkadang hidup tak melulu seperti apa yang kita bayangkan, Har. Tapi itu juga yang membuat manusia jauh lebih kuat dari kenyataan itu sendiri. Thanx atas apresiasimu selama ini. Love you!

Imelda Emma Veronica Coutrier. Orang yang selalu memberi semangat tanpa habis-habisnya. Baik di kala suka maupun duka. Bahagia maupun nestapa. Keriangan maupun kesepian. Ribuan terima kasih. Aku bisa kuat menghadapi berbagai hal karena kau jua. I do love you…

HY. Orang yang sampai lupa ada kelas ketika kali pertama membaca Epitaph di blog saat masih kuliah di Usyd. Namun justru bisa memberikan penilaian objektif atas Epitaph karena belum lagi mengenal siapa penulisnya. Your being provides the star that brightens my galaxy and the force that strengthens me. I love you, Ayang. Berlimpah-limpah. Tak terperikan.

Noengki Prameswari. Your love is magical. That’s how I feel. But I have not the words here to explain. I’m speechless. Cause’ love will never do without you. I love you, De. Very!

Vivi Maghvie. Si peri kecil yang selalu menyemangati hidupku. Orang yang paling memahami diriku di seluruh jagat raya ini, dan selalu bersikeras bahwa Epitaph mesti terbit sebagai novel. I love you, V. Sangat!

Gusti Ayu Rella Mart Diana Dewi. Sahabat tak tergantikan sampai kapan pun jua. Kau adalah alasan mengapa aku terus menulis dan menulis. Matur suksma. I love you!

Arifin Ciptadi. Sahabat tanpa syarat. Orang yang padanya aku merasa pulang. I love you.

D.B. Kau adalah Epitaph itu sendiri. Kupersembahkan hasil kerja ini semata kepadamu. Kudedikasikan semua ini hanya untukmu. Baru kusadari: betapa aku sangat menyayangimu. I love you. Aku akan menyusulmu. Segera.

Terima kasih pada teman-teman di Suara Mahasiswa, teman-teman di Institut Kesenian Jakarta, serta teman-teman Gabungan Pecinta Alam Nasional: Sangkala Medan, IKJ, Ragg Life Indonesia Medan, Sabhagiri 6 Medan, Gemapala Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Medan, GMPA ITM Medan, Kompas USU Medan, Himalaya UISU Medan, Wanadri Bandung, STTL Yogya, Toba Aktivitas Alam Bebas Medan, Mapagratwa Politeknik USU Medan, Creeper Club, Mahatala Universitas Nomennsen Medan, Gemapakca Medan, Gempita Universitas Katholik Medan, serta Mediasi Medan.

Sahabat-sahabat blogger yang hubungan dengannya sudah layaknya saudara sendiri. Terima kasih atas semangat dan kasih yang manis selama ini. Kalianlah alasan terbesarku untuk tetap menganyam kata. I love you all. Very!!

Serta beberapa individu yang cemerlang, yang karena alasan privacy tak dapat kusebutkan namanya di sini. Namun justru merekalah yang sangat memengaruhiku untuk terus bergerak. Thank you and I love you.

Awalnya, bukan akhirnya, ini memang sekadar catatan sambil lalu sebagai ungkapan terima kasihku atas semangat, dorongan, cinta, kasih, dan dukungan yang membuatku merasa: ada di dunia ini. Matur suksma semua.

But it’s only a beginning…

22 Oktober 2009 | 12:11 wib

Ketika engkau menginginkan sesuatu, seluruh semesta raya akan bahu-membahu membantumu untuk meraihnya. Percayalah!