Suksma
When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it
(The Alchemist, Paulo Coelho)
Kali pertama membaca The Alchemist, aku sontak seolah merasa tersengat petir ketika mendapati kalimat di atas: ketika engkau menginginkan sesuatu, seluruh semesta raya akan bahu-membahu membantumu untuk meraihnya! Sederhana, tidak dengan metafora terlampau muluk, tidak kurang, tidak lebih, tapi pas!
Meski demikian aku kadang tak menyadari: bahwa kalimat itu sesungguhnya betul bekerja dan benar adanya. Ya, ketika kita menginginkan sesuatu, seluruh semesta raya memang seolah akan membantu kita untuk meraihnya. Kalian percaya hal itu?
Ada semacam jalan, begitu banyak jalan, yang tiba-tiba terbentang di depan kita ketika kita memiliki keinginan kuat untuk meraih sesuatu. Soal sulit atau mudah, di situlah kualitas kegigihan kita ditimbang-timbang kadarnya. Namun yang pasti, ketika kita menginginkan sesuatu, selalu ada jalan yang menyokong keinginan kita itu.
Kali ini izinkan aku berbicara soal Epitaph dan ingin berterima kasih pada orang-orang yang telah membuat Epitaph menjadi kenyataan. Karena tanpa orang-orang itu, meminjam istilah Mas Melvi Yendra yang sangat kusuka:
manuskrip novel yang mulai ditulis (dua tahun lalu itu), yang tak kunjung tuntas ditulis itu, yang kata orang-orang bagus itu, kini sudah tampak renta, tua, kotor, dan berdebu, bahkan beberapa bagiannya sudah dijalari akar dan dirimbuni dedaunan, seperti rumah tua yang sudah lama ditinggalkan penghuninya, dan ditakuti anak-anak karena dikira berhantu…
mungkin begitulah keadaan Epitaph. Aku suka sekali pengandaian Mas Melvi tersebut soal naskah yang terlunta-lunta keadaannya.
Ya. Epitaph pertama kali kutulis sebagai cerpen pada September 1996, yang saat itu berjudul Peristirahatan Abadi. Dimuat di majalah Suara Mahasiswa pada bulan dan tahun yang sama. Lima tahun kemudian, cerpen Peristirahatan Abadi kuubah judulnya menjadi Epitaph. Ada beberapa perubahan pada alur cerita dan kumasukan ke dalam buku kumpulan cerpen Selamat Datang di Pengadilan yang terbit pada September 2001.
Sudah sejak saat itu aku meniatkan untuk menjadikan cerita Epitaph terbit sebagai novel kelak. Tetapi nyatanya niat itu tetap tak kunjung kulakukan. Naskah Epitaph masih terus kerasan menari-nari di kepalaku tanpa pengejawantahan yang nyata. Hingga pada awal Desember 2006 aku betul-betul mulai menulis Epitaph sebagai naskah novel.
Memerlukan waktu 10 tahun (Sepuluh tahun! Ngapain saja aku ini?) sejak 1996 hingga 2006 untuk bisa menjadikan Epitaph sebagai naskah novel. Entah mengapa, sepanjang sepuluh tahun itu aku memang belum lagi mendapatkan soul-nya. Cerita itu terus kuendapkan dan kubawa-bawa kemana pun aku pergi di kepala. Aku ingin meminjam kata-kata Mas Gola Gong di buku Joe dalam seri Balada Si Roy untuk menggambarkan bagaimana aku menunda-nunda dan akhirnya serius menulis Epitaph sebagai novel:
Tadinya kisah ini tidak akan aku tulis. Jangankan untuk mengulanginya, mengenangnya pun aku takut. Tapi akhirnya dengan pertimbangan dan kemungkinan, ternyata sesuatu yang sia-sia itu masih bisa ada harganya. Ini tidak lain agar orang yang mencintai kehidupan bisa bercermin lewat kisah ini.
Hingga selama bulan Desember 2006, aku menulis Epitaph sebulan penuh. Selama 30 hari tanpa henti. Aku menyewa sebuah kamar kos di daerah Bandung utara, di mana tak seorang pun tahu keberadaanku dan semata untuk menulis Epitaph. Sepanjang hari, sepanjang dini hari, aku hanya menulis Epitaph.
Kubongkar data, riset dokumentasi, wawancara sana-sini, menyibak puluhan buku dan memutar film pendukung. Kuanyam huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, halaman demi halaman, hingga akhirnya aku terhenyak sendiri: aku bisa menuntaskan Epitaph sebanyak sekian ratus halaman A4.
Akhir Desember 2006 hingga awal Januari 2007 aku menyusuri pulau Jawa. Kutinggalkan naskah Epitaph. Naskah itu sudah selesai. Namun biarlah kuendapkan dulu. Yang pasti bangunan dari naskah tersebut sudah rampung kuanyam. Namun apa yang terjadi?
Sepulang dari perjalanan aku terlena lagi dengan kesibukan pekerjaan. Dalam keseharian aku banyak berhubungan dan bekerjasama dengan begitu banyak penerbit. Bertemu dengan editor hingga direktur utama banyak penerbit. Namun naskah Epitaph tak kunjung kutawarkan pada penerbit manapun. Heran juga.
Lantas aku ingin sedikit melakukan tes. Bangunan naskah novel tersebut kucoba publish di blog (saat itu danielmahendra.com), mulai dari 16 Mei 2008 hingga 8 Agustus 2008 sebanyak 45 postingan. Responnya cukup menggembirakan kukira. Paling tidak menurutku. Aku semakin yakin, bahwa naskah tersebut memang harus terbit sebagai novel.
Ada kejadian pada bulan Maret 2007 yang membuatku memutuskan untuk menjadikan Epitaph terbit sebagai novel trilogi (Epitaph, Epigraf, Epilog). Aku jadi semakin bersemangat meski tak kunjung jua menawarkan naskah tersebut pada penerbit manapun. Naskah Epitaph tetap masih menjadi “rumah berhantu”.
Hingga pada awal bulan Juli 2009 aku diajak Lisa Febriyanti untuk bertemu dengan Editor Senior sebuah penerbit, Mas Syafruddin Azhar, di radio DFM di bilangan Warung Buncit, Jakarta Selatan. Dari sana kami nongkrong ke Pejaten Village. Di sana kami duduk bersama dan mendiskusikan konsep novel Epitaph. Siapa nyana, gayung pun bersambut. Mas Din, panggilan akrab Syafruddin Azhar, suka dengan konsep Epitaph (Heran juga, kenapa ada orang bisa suka dengan cerita seperti itu. Hehe!).
Ketika dihitung-hitung jumlah halaman A4 Epitaph masih kurang dari halaman buku yang biasa diterbitkan penerbit, maka aku mesti merampungkan Epitaph menjadi naskah novel yang sesungguhnya. Malam itu juga aku diberi deadline untuk menuntaskan Epitaph sampai dengan akhir bulan Juli 2009.
Sungguh tak mudah membongkar konsep novel yang sudah jadi untuk mencapai halaman yang disyaratkan. Namun di sisi lain aku jadi punya kesempatan untuk memperluas konflik, memperdalam karakter penokohan, dan membuat alur cerita lebih manusiawi lagi, karena novel ini memang sarat dengan data ketat yang bertebaran di mana-mana.
Maka Juli 2009 aku bergelimang lagi dengan Epitaph. Rupanya hasil dari melongok Epitaph lagi membuatku jauh lebih mengenal tokoh-tokoh yang kuciptakan sendiri ketimbang sebelumnya. Aku seolah merasa bahwa tokoh-tokoh tersebut memang benar ada dan hidup di alam nyata. Juli 2009 adalah neraka sekaligus surga bagiku untuk menganyam Epitaph lebih serius lagi.
Ada begitu banyak kesulitan yang kutemui ketika harus menggarap Epitaph kembali. Aku merasa saat itu adalah masa-masa yang teramat melelahkan. Beban psikologi yang mesti kutanggung tak pernah bisa kuungkapkan baik secara lisan maupun tulisan. Hingga akhir Juli 2009 yang merupakan deadline “gertak sambal” terlewati, aku terus ngebut merawi Epitaph hingga Agustus 2009. Bolak-balik Bandung-Jakarta sampai merasa enek dengan seruas jalan tol bernama Cipularang. Sakit, berdarah-darah, kurang tidur, kurang minum, lupa makan, miskin hubungan sosial, dan waktu lebih banyak kuhabiskan dengan semata duduk menghadapi laptop. Ya. Pengarang adalah pekerjaan paling gila (sekaligus mengasyikan) yang pernah ada di dunia ini!
Sejak itu aku lebih banyak di Jakarta. Menghabiskan malam-malam bertiga di kantor penerbit di daerah Rawamangun bersama Lisa dan Mas Din. Meramu naskah, mengolah cover, memperbincangkan konsep promosi, dan mematangkan strategi. Lambat laun, dari waktu yang terus tercipta, hubungan kami sudah lebih dari sekadar konteks kerja, namun lebih pada makna persahabatan itu sendiri.
Sepanjang bulan-bulan itu naskah Epitaph terus mengalami bongkar pasang. Aku tak pernah bisa puas dengan rawian yang telah kuayaman. Bahkan satu kata pun, kalau kurang sreg, aku bisa memikirkannya berjam-jam, berhari-hari, sepanjang waktu hanya untuk menentukan: dipakai tidaknya satu kata tersebut (satu kebiasaan buruk yang tak patut untuk ditiru sama sekali!).
Deadline makin mepet. Penerbit mewanti-wanti: Epitaph mesti terbit dan di-launching pada 24 Oktober 2009 di acara Indonesia Library and Publishing Expo 2009 di Istora Senayan Jakarta. Naskah Epitaph mesti segera rampung. Aku pun makin ngebut lagi. Seperti pembalab yang melesat di sikuit Sentul.
Namun di tengah jalan rencana launching tersebut sempat diurungkan oleh penerbit, dengan pertimbangan waktu serta distribusi yang mepet. Mendapati kabar seperti itu, suka tak suka, penggarapan Epitaph mendadak sontak terhenti di tengah jalan. Momentum tak jadi launching pada bulan Oktober sangat memengaruhiku dan membuatku mengendurkan kecepatan yang telah stabil. Laju langkah seolah mengendur.
Namun pada bulan September 2009 pihak penerbit tiba-tiba kembali menantang: bagaimana kalau dijadikan saja launching tanggal 24 Oktober tersebut? Tentu saja tantangan tersebut kujawab dengan semangat membabi buta (jelek sekali istilah ini!). Laju kecepatan penyelesaian Epitaph digenjot lipat kali dari sebelumnya. Aku betul-betul kalap menggarap Epitaph. Seperti kesetanan, jari ini seolah sudah bergerak sendiri merawi naskah tanpa memedulikan tuannya si pemilik semesta tubuh.
Hingga Selasa 15 September 2009, pukul 18.43 wib naskah Epitaph betul-betul rampung di Jakarta. Senja itu juga kusalami Mas Din, Lisa, dan Mas Heru S. Soedjarwo, seorang sutradara yang kerap berdiskusi soal film denganku yang kebetulan hadir di kantor penerbit, atas selesainya naskah Epitaph. The waiting is over!
Sejak itu fokus kami sudah tidak lagi ke naskah, namun lebih pada rencana pergi ke acara Ubud Writers and Readers Festival di Bali. Kami berangkat ke Bali dengan ongkos pemikiran: sepulang dari Bali kami siap launching! Namun siapa nyana, seminggu setelah kepulangan dari Bali, atau seminggu sebelum acara launching bakal digelar, penerbit tiba-tiba mengabari jika launching tersebut mesti betul-betul dibatalkan dengan pertimbangan yang sama seperti pertama kali dibatalkan.
Kali ini akibatnya bukan lagi pada mandeknya kerja naskah, namun sudah pada pikiran dan hati. Kabar tidak jadinya launching seminggu sebelum acara launching digelar sungguh mengagetkan. Informasi bakal adanya launching sudah tersebar kemana-mana. Banyak kawan sudah memastikan hendak hadir (bahkan hingga saat aku menuliskan catatan ini pun). Suka tak suka, mau tak mau, kabar tersebut mesti kutelan dengan masam. Aku merasa seperti tentara yang kalah sebelum berperang…
Hanya saja bedanya kini aku sudah bisa menerima hal-hal seperti itu dengan senyuman saja. Dengan tenang. Dengan hati damai. Tak ada sesuatu yang begitu mengagetkanku di dunia ini. Aku hanya nyaris ogah berbicara soal Epitaph lagi. Sudah ratusan kali naskah itu kubaca dan aku sudah letih. Aku biarkan semesta berbicara sesuai kehendaknya.
Ya. Sudah sejak awal aku merasakan: semesta memang sedang berbicara kepadaku. Bagaimana tidak, aku menggarap naskah Epitaph pada bulan Juli, Agustus, dan September 2009. Bulan di mana merupakan alasan titik awal kejadian mengapa aku menulis Epitaph. Tepat 15 tahun lalu. Baik tanggal dan bulan yang sama persis. Itu mengapa, semua itu kerap membuatku terhenyak dan bergetar ketika sedang merawi naskah Epitaph pada bulan-bulan tersebut. Tak jarang di malam-malam yang sunyi mataku sebak berkaca-kaca hanya karena harus menuliskan rawian Epitaph yang sungguh-sungguh menyiksa batin.
Dan Oktober adalah bulan di mana aku menciptakan tokoh utama dalam Epitaph berulang tahun. Andai Epitaph memang betul-betul launching pada bulan Oktober, semua cerita ini klop seperti apa yang kuinginkan: Juli, Agustus, September, dan Oktober. Bagiku itu merupakan momentum yang tak bisa ditukar dengan apa pun. Tetapi rupanya semesta berbicara lain. Aku hanya berusaha mengikuti apa yang sedang direncanakan semesta di atas. Aku tak boleh menyesali.
Satu hal pasti, darmaku sebagai penulis sudah selesai. Memang, di sisi lain penulis pun mesti bisa menjadi promotor bagi karyanya. Penganjur agar orang tertarik pada hasil pikirannya. Itu memang hal lain di ranah yang berbeda. Namun aku mencoba menenangkan diriku bahwa darmaku sudah selesai. Bahwa naskah itu akan terbit cepat sebagai buku, mau mati muda, mau berusia panjang, mau dipuji, mau dikritik, hal itu sudah di luar teritoriku sebagai penulis.
Dengan demikian, dari semua kejadian yang begitu ragam lika-likunya, tetap tak mengurungkanku untuk berterima kasih pada orang-orang yang membuat semua ini menjadi kenyataan. Merekalah orang-orang yang ikut tersenyum denganku ketika aku merasa senang. Ikut menangis ketika aku sedang berduka. Memapahku ketika aku merasa letih dan putus asa. Mencari dan menemukanku ketika aku hilang arah di tengah jalan. Menegurku ketika aku berbuat salah. Serta memelukku untuk mengatakan bahwa aku bisa dan akan baik-baik saja. Mereka, orang-orang yang selalu ada di sana untukku.
Untuk itu aku berterima kasih kepada: Lisa Febriyanti. Orang yang setiap hari selalu bertanya: “Bagaimana naskahmu?” Orang yang selama beberapa bulan terakhir ini banyak menghabiskan waktu denganku untuk kerja naskah hingga terbit sebagai buku. Ada begitu banyak diskusi ketat yang kulakukan dengannya mengenai konsep kerja Epitaph. Dari a sampai z. Hingga tak pernah merasa sulit berkomunikasi dengannya. Karena ia tahu betul cara berpikirku, seperti halnya aku tahu betul cara berpikirnya. Sehingga jika aku baru berbicara a, ia sudah lagi tahu dan menyimpulkan sampai ke z. Ribuan terima kasih, Lis. Kau adalah sahabat dalam arti sebenarnya. I love you!
Mas Syafruddin Azhar, sang editor. Orang yang percaya bahwa Epitaph layak terbit sebagai buku. Bahkan orang yang percaya bahwa Epitaph mesti terbit sebagai novel trilogi. Tak pernah menggurui dan memberikan kebebasan sepenuhnya kepadaku sebagai penulis dalam merawi Epitaph. Bekerja dengannya sudah tak terasa lagi mana editor mana penulis. Ia sudah menempatkan diri sebagai sahabat yang terus mengiringi proses kerja Epitaph. We love you, Mas Din. Always!
Mas Gola Gong. Orang yang sangat antusias ketika kali pertama mengetahui aku merawi Epitaph. Guru dalam arti sesungguhnya. Padanya lah aku belajar menulis ketika masih lagi mengunyah bangku SMP. Inspirasi besar yang tak pernah surut. Semangat yang tak pernah kering. Padanya lah aku sering berkaca soal kehidupan. Terima kasih untuk endorsment-nya, Mas Gong. Kau telah mengajarkan aku banyak hal. I love you. Very!
Terima kasih khusus pada Pak Gerson Poyk, Mas Kurnia Effendi, Kang Soni Farid Maulana, dan Sihar Ramses Simatupang. Especially Sihar: terkadang hidup tak melulu seperti apa yang kita bayangkan, Har. Tapi itu juga yang membuat manusia jauh lebih kuat dari kenyataan itu sendiri. Thanx atas apresiasimu selama ini. Love you!
Imelda Emma Veronica Coutrier. Orang yang selalu memberi semangat tanpa habis-habisnya. Baik di kala suka maupun duka. Bahagia maupun nestapa. Keriangan maupun kesepian. Ribuan terima kasih. Aku bisa kuat menghadapi berbagai hal karena kau jua. I do love you…
HY. Orang yang sampai lupa ada kelas ketika kali pertama membaca Epitaph di blog saat masih kuliah di Usyd. Namun justru bisa memberikan penilaian objektif atas Epitaph karena belum lagi mengenal siapa penulisnya. Your being provides the star that brightens my galaxy and the force that strengthens me. I love you, Ayang. Berlimpah-limpah. Tak terperikan.
Noengki Prameswari. Your love is magical. That’s how I feel. But I have not the words here to explain. I’m speechless. Cause’ love will never do without you. I love you, De. Very!
Vivi Maghvie. Si peri kecil yang selalu menyemangati hidupku. Orang yang paling memahami diriku di seluruh jagat raya ini, dan selalu bersikeras bahwa Epitaph mesti terbit sebagai novel. I love you, V. Sangat!
Gusti Ayu Rella Mart Diana Dewi. Sahabat tak tergantikan sampai kapan pun jua. Kau adalah alasan mengapa aku terus menulis dan menulis. Matur suksma. I love you!
Arifin Ciptadi. Sahabat tanpa syarat. Orang yang padanya aku merasa pulang. I love you.
D.B. Kau adalah Epitaph itu sendiri. Kupersembahkan hasil kerja ini semata kepadamu. Kudedikasikan semua ini hanya untukmu. Baru kusadari: betapa aku sangat menyayangimu. I love you. Aku akan menyusulmu. Segera.
Terima kasih pada teman-teman di Suara Mahasiswa, teman-teman di Institut Kesenian Jakarta, serta teman-teman Gabungan Pecinta Alam Nasional: Sangkala Medan, IKJ, Ragg Life Indonesia Medan, Sabhagiri 6 Medan, Gemapala Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Medan, GMPA ITM Medan, Kompas USU Medan, Himalaya UISU Medan, Wanadri Bandung, STTL Yogya, Toba Aktivitas Alam Bebas Medan, Mapagratwa Politeknik USU Medan, Creeper Club, Mahatala Universitas Nomennsen Medan, Gemapakca Medan, Gempita Universitas Katholik Medan, serta Mediasi Medan.
Sahabat-sahabat blogger yang hubungan dengannya sudah layaknya saudara sendiri. Terima kasih atas semangat dan kasih yang manis selama ini. Kalianlah alasan terbesarku untuk tetap menganyam kata. I love you all. Very!!
Serta beberapa individu yang cemerlang, yang karena alasan privacy tak dapat kusebutkan namanya di sini. Namun justru merekalah yang sangat memengaruhiku untuk terus bergerak. Thank you and I love you.
Awalnya, bukan akhirnya, ini memang sekadar catatan sambil lalu sebagai ungkapan terima kasihku atas semangat, dorongan, cinta, kasih, dan dukungan yang membuatku merasa: ada di dunia ini. Matur suksma semua.
But it’s only a beginning…
22 Oktober 2009 | 12:11 wib
Ketika engkau menginginkan sesuatu, seluruh semesta raya akan bahu-membahu membantumu untuk meraihnya. Percayalah!




ungkapan suksma yang manis, Niel…kita memang bukan siapa-siapa tanpa orang-orang yang mendukung dan memotivasi. seperti kita juga belum jadi siapa-siapa tanpa buah karya untuk keabadian. bukankah yang ditinggalkan penulis adalah buah pemikirannya, buah lincah jemarinya di atas keyboard dan “buah semangka” menyegarkan yang dipersembahkan bagi pembacanya. penulis adalah bekerja untuk keabadian,,,:)
matur suksma juga atas segala persahabatan yang dalam, tanpa basa-basi, tanpa tendesi, kecuali persahabatan itu sendiri. yang menjadikan diri kita utuh dan ada tanpa topeng apapun. bertukar pikiran pada semua hal yang berkaitan dengan novel dan pemikiran-pemikiran di belakangnya. you are truly my best best friend, meskipun kamu sering kenthang wakakakakkaka….
yup, this is only the beginning..masih ada epigraf, epilog (dan epilepsi?)….segala penundaan, segala keterpurukan, segala aral tentu semua ada hikmahnya. seperti yang banyak orang bilang, semua indah pada waktunya….:)
senang sekali bisa “menyandingkan” ILUMINASI dengan EPITAPH…kutunggu hadirmu di panggung launching nanti. waktu cuma sebuah penanda, tetapi dharma telah terjawab. semoga karyamu memberikan satu warna bagi dunia literasi kita…
i love you full and matur suksma……………………….
swastiastu!
membaca postingan ini saja, saya sudah merasa harus membaca epithap…
ditunda..? saya masih sabar kok menunggunya.. hehehe
semangat mas…
Hei… kok aku seperti baca prolog sebuah buku sih hehehe
Yang pasti memang dunia tidak berhenti di 24 oktober kan?
(itu dulu komentarku sedang dikejar waktu sihhh)
EM
Ambil perspektif lain DM, setidaknya launching tidak di tanggal tua (seperti yang pernah kamu kelakarkan sebelum ini). Semua sahabatmu mendukungmu, Kawan.
Mari bergerak maju, dan untuk itu kita harus mampu menguasai ketidakstabilan.
Cin,.. Love will do the best.
Masih setia menanti kok, malah ketika liat woro-woro urung launching di fb langsung tak liat epitaph dari postingan pertama. Padahal dah kpngn bngt punya novel epitaph plus tanda tangan nya DM. hehehehe…
De masiy ingat pada suatu ketika saat mas membacakan sepenggal naskah epitaph, dan dalam diam ade mendengar. Penghayatan mas pada tokoh2nya benar benar membuat De terhanyut dan merinding. Tokoh tokoh itu bagaikan ada di hadapan dan melakonkan kisahnya… De yakin org lain akan merasakan hal yg sama ..Membuat epitaph pantas ditunggu, kapanpun terbitnya… Ade bukan org yg mengerti sastra apalagi bisa berbicara pada ranahnya. Tak bisa memberi masukan mas dalam konteks materi. Hanya waktu yg bisa De beri kapanpun mas butuh suport dan dukungan. Doa ade selalu buat sukses mas dan triloginya. Cin, tetap menulis ya, terus menulis
Masih menunggu….
Masih menanti….
Hingga nanti….
Saatnya nanti…..
Sukses, Niel
Dan… setiap kita pasti memiliki persoalan dalam hidupnya. Sikap ketika menghadapi persoalan itulah yang bisa membedakan kualitas kita dengan orang lailn. Bila persoalan itu membuat kita berhenti dan tak melakukan apa-apa, maka kerugian berlipat akan kita rasakan… tapi, aku salut padamu… dikau telah mengambil sikap yang arif dan bijak. sebuah sikap yang menunjukkan kualitasmu… you are great my brother…
baru tahu aku kalau perjalanan epitaph sebegitu panjangnya… semoga itu sebagai pertanda kalau naskah ini dirancang dengan sangat matang… tapi, jangan terlalu matang ya, ntar bisa busuk, hehehe…
dan mustinya menjadi kado ulang tahun seperti yang kau janjikan.
tapi tak apa, goniel. jangan patah semangat. as you’ve said, this is only the beginning, the beginning of a great success, hopefully.
tetaplah bekarya hingga epigraf, epilog, dan god forbid (meminjam istilah icha) epilepsi. hihi. jangan dong, ya. nggak asyik dong kalau kamu epilepsi. ntar nggak bisa main bola lagi.
aku akan selalu ingat kata-kata ini: you are the greatest star in my galaxy…
thanks for the love.
Mas…akhirnya kembali…hihihihi…pertama2 aku mo ngaku kalo aku baru baca setengah dari postingan ini nanti di lanjutin ya…tapi dari setngah membaca postinganmu aku mo bilang bahwa proses yg kau jalanin gak gampang ya untuk mebuahkan hasil sebegitu cemerlang…dan aku jadi membayangkan dirimu sendirian menyewa kamar kost di bandung serta menulis…menulis…dan menulis…..hihihihi seru kali ya!! Sukses buat epithapnya
@Uni : lirik2 mas DM setelah baca comment uni…yg terakhir itu loh…hihihihihi…adakah kabar baik buat kita semua???
terutama untuk uda vizon dia pasti akan menyukai kabarnya hahahahaha *bikin gosip*
Penasaran saya jadinya
salam kenal kunjungan perdana nih
Love will never do! without you, too….
Selamat ya kak….
semga sukses…., yang penting tetap semangat!!!
Sungguh menggetarkan persembahan untuk D.B beserta ungkapan ’suksma’nya. Sungguhkah rasa memiliki itu ada saat diri telah kehilangannya?
Salam.
beauty of blogging « surauinyiak on 24 Oct 2009 at 8:16 am #
[…] Namun, rencana itu akhirnya gagal. Secara tiba-tiba DM mengumumkan kalau peluncuran novelnya itu ditunda oleh pihak penerbit. Aku kecewa. Tapi, aku tahu betul, DM jauh lebih kecewa. Ingin rasanya kusegera terbang ke Bandung dan bertemu dengannya, duduk di sampingnya, berbagi kekecewaan bersamanya. Namun, kutahu, itu tak perlu kulakukan. Karena, aku sangat yakin, bahwa DM bukanlah anak kemarin sore yang menangis meronta-ronta ketika diambil permennya. Dia adalah batu karang yang kokoh, yang tetap tegar berdiri, meski gelombang menghantam tubuhnya jutaan kali. Keyakinanku itupun terbukti. Coba saja baca postingannya yang berjudul SUKSMA. […]
@Ria… baca lagi secara lengkap postingan si DM ini. pasti dirimu bakal menemukan kenyataan yang jauh lebih dahsyat, huahahaha….
(peace Dan)
OK sekarang aku sudah ada waktu untuk membuat komentar yang “sedikit” bermutu hehehe.
Memang apa yang dikatakan Paulo bahwa semesta akan membantu meraih keinginan kuat seseorang itu benar. Tapi aku rasa tanpa adanya aura/kharisma
yang keluar dari orang itu ke dunia luar, dan dimengerti oleh sekitarnya maka keinginan itu juga akan sulit juga terwujud.
Pernah ada seorang teman blogger lelaki yang bertanya padaku dengan nada iri, “Kenapa sih si DM itu banyak teman/fansnya” (moga-moga dia membaca ini hihihi). Dan aku jawab, “Ya tidak tahu, mungkin ada aura yang terpancar darinya, yang membuat banyak orang (baca wanita juga boleh
) sayang padanya. Banyak teman yang mau membantu dan mendukungnya. Itu semua kan rahasia alam.”
Jadi memang Danny, kamu harus bersyukur bahwa banyak temanmu di dunia ini, baik dunia maya maupun dunia nyata. (dunia akhirat belum ya…. jangan dulu! Meskipun si koyaz a.k.a D.B. panggil , jangan mau dulu. Bilang, tunggu launching… dan jadi best seller dan … dan …
) . Yang akhirnya akan membuktikan ucapan Paulo itu benar, sehingga kamu bisa mencapai keinginan dan mimpimu.
Manusia memang tidak bisa hidup sendiri, sehingga jagalah silaturahmi antar manusia. Dan aku tahu kamu tidak pernah melupakan silaturahmi itu. Terbukti juga dengan tulisanmu di atas itu kan (juga komentar dari teman-teman yang tertulis maupun tidak tertulis).
Terus terang aku iri pada HY karena katanya dia baca Epitaph dulu baru kenal kamu. Sedangkan aku sudah mengetahui latar belakang dulu (secara tidak sengaja), baru membaca Epitaph sehingga membacanya seperti, “Kok jadi gini ceritanya?”. Meskipun akhirnya aku bisa memaksa diri mengunyah jalan cerita sambil mengingat perkataan kamu, “Apa yang sudah tertuliskan adalah fiksi”. Padahal saat itu aku tidak mau cerita itu menjadi novel….maunya (oto)biografi. Aku mungkin memang lebih suka (oto) biografi dari pada fiksi ya? entahlah.
Soal penundaan launching itu kan hanya kesalahan teknis. Aku menunggu jadwal baru lagi, meskipun tetap tidak bisa hadir. Sambil nunggu buku dengan tanda tangan tinta emas sampai ke tangan hehehe.
Kuterima tanda terima kasihmu Danny (kamu perlu resi tanda terima ngga? :D). Tapi, aku juga mau berterima kasih karena kamu juga memberikan semangat untuk bisa “bermimpi” padaku. Kamu juga menularkan quotenya si Paulo pada aku dan teman-teman. Dan aku juga bisa merasakan kebahagiaan seorang kakak atas perwujudan cinta adiknya. He is proud of you. Always! Aku yakin.
I love you too Danny, Je t’aime, Ich liebe dich, Aishiteiru….
itu kan hanya sebutan untuk perasaan yang tidak bisa dimengerti orang lain, selain dari orang yang merasakannya.
Wah maaf kepanjangan …bisa jadi posting sendiri nih hehehe.
神の恵みがあなたとともにありますように.
kami no megumi ga anata totomoni arimasuyouni.
my studio, Tokyo, 12:34 - 12:57
EM
Mas Dan…kayaknya comment mbak Imel harus jadi postingan tersendiri loh…maknanya banyak banget tuh commentnya…
and aku setuju sama mbak Imel…kamu punya aura itu…makanya yg seperti aku sering ledekin kamu…fans kamu banyak banget…hihihihihi…
Jadi terharu, betapa berlika-likunya, proses kelahiran sebuah buku. Tak banyak yang bisa bersabar untuk nekad melahirkan sebuah buku, yang bukan asal buku.
Selamat, Mas. Saya kayaknya harus segera mencari di Gramedia.
…dengan semangat membabi buta… babi? wah, haroooom…
tidak setiap keinginan akan terpenuhi seperti mau kita, Dab.
setidaknya itu salah satu yang tertulis di dalam kamusku.
tambahan ide:
epidural : novel mengisahkan perjuangan seorang ibu melahirkan
epicentrum : novel berlatarbelakang gempa bumi
EM
aku tunggu aja epitaph di toko buku di padang, mudah-mudahan tidalk lelet sampainya di padang hehehe, syukurnya toko buku di padang tidak ikutan roboh akibat gempa hehehe
Pantas mas’e tersenyum membaca kutipan Paulo Ceolho di Rumah Tetirah…
Ternyata oh ternyata…
Yuks maz, kita nantikan apa kata semesta, dan bagaimana selanjutnya kisah ini
Mas Dan …
HHHmmmm …
Saya hanya diam saja …
Mendengar kabar bahwa launching itu tidak jadi dilaksanakan …
Kalau saya jadi Mas Dan … saya pasti sangat kecewa …
Tapi saya pikir …
It’s just an event …
Segera self recovery …
Yang jauh lebih penting saya kira adalah …
Bagaimana meniscayakan lebih banyak orang untuk juga bisa membaca dan menikmati karya Mas Dan ini …
Semoga “kata semesta” bergerak membantu kita semua …
Salam saya
NH18
Pernyataanmu sangat loveable di postingan ini!
Setuju dengan pendapat Imel, dunia tak kan berhenti berputar pada 24 Okt, dan terbukti tho?
Salam sayang
kok ada ucapan terima kasih special untukku sih
hmmm……
Don’t worry bro, ambil hikmahnya
Epitaph akan mengguncang dunia
u deserve it
karena kau telah bekerja secara pintar, bukan bekerja keras
*sambil bakar menyan*
Luar biasa, Mas!
Postingmu, semangat yang menyala-nyala, dan motivasi yang kamu sebarkan buat kami semua.. terutama orang-orang seperti aku yang ingin sekali menjadi seorang penulis yang baik…
I always love your writings…
Sangat jatuh cinta.
You are the greatest writer yang pernah aku temui, secara nyata! Bahkan bersalaman! How great is that?
Mas,
Kini aku menjadi semakin semangat. Aku ingat, dulu kamu pernah bilang, “Orang yang hebat itu orang yang bisa bangkit lagi setelah jatuh terpuruk” (ya kira2 begitu deh.. hehehe)
Dan kamu membuktikannya dengan tidak patah semangat sekalipun novelmu nggak jadi launching di arena yang sudah kamu nanti2kan…
The universe will conspire me to reach my dreams *terjemahan bebas ala Lala*
Dan part of the universe itu… untuk aku… adalah tulisanmu ini
Tenkyu!!
ambil tissue.. hiks…
ancen huebbat… huebbat.. sukses buat epitaph….
Dalam Bahasa tim olimpiade sains indonesia “mestakung” alias semesta mendukung. itu juga inti dari AL (attraction of law). ya mungkin juga sebenarnya itu adalah permohonan atau doa kepada tuhan yg tidak disadari.
Niel, siapa tahu ada hikmah dibalik itu…jadi jangan lah engkau berhenti untuk berharap.
Dan tentu saya berharap, kapan DM mau launching buku, saya bisa hadir.
Terus semangat ya, bukankah masih ada hari-hari lain?
subhanallah…luar biasa mas daniel…insyaAllah seluruh semesta raya bahu-membahu membantumu…
Sahabatku, DM…
Sungguh, kali pertama membaca draft novelmu, saya tidak hanya berpendapat bahwa “Epitaph” layak menjadi sebuah karya prosa yang unik dan penuh pesona, tetapi instingku (sebagai editor bahasa) justru memacu nalarku untuk meyakini bahwa novel “Epitaph” ini akan mendapat posisi dan tempat yang layak di hati pembacanya. Sungguh…
Dan, ketika kalian semua sahabatku, menyebut diriku (yang cenderung lebih bermakna mengejek) sebagai “editor bertangan dingin”, justru kusambut itu sebagai suatu “kamma pratoda cita”, suatu spirit dan motivasi bagi kalian semua penulis Kakilangit Kencana yang penuh letupan kreativitas, untuk lebih bangga dan berbesar hati; bahwa karya kreatif kalian semua memang layak diapresiasi secara total. Tak ada cerita yang lain…
Lantas, saya sungguh meyakini, karyamu ini akan dihargai dengan penuh kebanggaan, dan penuh suka cita. Mari kita baca “Epitaph” dengan cita rasa yang mendalam, dan penghargaan atas daya imajinasi yang berdarah-darah…
Saya yakin, nominee “10 Besar KLA 2010″ ada di tanganmu…
Rawamangun, 02.12.09 ++ 22:37 wib.
Tak sabar ingin membacanya.
Salam kenal,