Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.
(Rumah Kaca, Pramoedya Ananta Toer)

Ketika mengikuti acara Ubud Writers and Readers Festival 2009 di Bali, mobil yang kami tumpangi beberapa kali melewati sebuah art galeri bernama Taksu. Saking seringnya melewati tempat itu membuat kami bertanya pada Pak Putu, sopir kami: apa arti taksu.

Taksu menurut Pak Putu yang asli desa Pajeng, Ubud, bisa diartikan semacam aura atau karisma yang dimiliki seseorang. Hal itu bisa mengejawantah pada diri seseorang ketika ia melakukan sesuatu. Seperti penari Bali misalnya.

Ada penari yang latihan begitu disiplin. Memeragakan gerakan tari tanpa cacat. Namun ketika tampil di atas pentas malah terasa biasa saja. Ada pula penari yang saat latihan justru biasa-biasa saja. Kedisiplinannya tak semahir penari pertama. Namun begitu tampil, penonton seperti terbius oleh gemulainya. Mata penonton seperti tersihir oleh penampilannya. Si penari kedua memancarkan aura atau karisma yang membuat penonton berdecak kagum. Menurut Pak Putu, si penari kedua bisa jadi telah memiliki taksu. Orang Bali menyebutnya telah mengalami mataksu-taksu.

Dengan ongkos penjelasan dari Pak Putu itu, kami menemui seseorang di sebuah hotel. Ia seorang sastrawan, penari, pemain musik, dan banyak profesi kerja seni lainnya. Sejak kali pertama mobil kami parkir di halaman hotel, aku sudah membayangkan bakal bertemu dengan orang besar. Namun begitu sampai di teras kamar, aku sedikit tercenung: ia tampak biasa-biasa saja!

Kalau ditaksir barangkali umurnya di atas 40 tahun. Penampilannya sederhana. Jauh dari kemewahan. Bicaranya tenang, kadang lantang, namun berisi. Cara bicaranya sungguh memukau dan membuatku kagum: ia selalu menatap mata lawan bicaranya. Satu per satu! Sesuatu yang belum tentu dilakukan oleh semua orang. Segera ia suguhkan semua buah-buahan yang ada di dalam kamarnya. Lantas berkata:

“Ke sini diantar siapa?” dengan logat Bali yang kental.
“Ada sopir di depan.” jawab kami.
“Kasih buah-buahan. Kasihan.” tukasnya kemudian.

Aku terkaget mendengar penuturannya. Ia yang kubayangkan begitu besar, begitu terkenal, masih memikirkan seorang sopir di parkiran depan yang mengantarkan kami. Ya, nyatanya dugaanku meleset. Ia begitu low profile. Dalam. Merendah. Perkataannya penuh makna. Berisi. Berbicara dengannya membuat kerasan lawan bicara. Sejak itu kusadari: tak semua orang memiliki karisma seperti itu.

Beberapa saat kemudian kami sama-sama meluncur ke acara launching bukunya. Kupikir ia bakal tampil serba wah. Maklum, karena peluncuran bukunya digelar di event internasional. Banyak orang dari berbagai negara yang datang. Lagi-lagi tebakanku meleset. Ia sekadar bercelana gunung warna hijau lumut. Berkaus lengan pendek yang dipadu jaket abu-abu. Dibahunya tergendong ransel kusam. “Hanya begini?!” batinku dalam hati. Ia sungguh sederhana namun memikat!

Ketika kami hadir pada acara pementasan tarinya, ia tak jauh beda. Ia mengenakan kebaya khas Bali, namun tetap terasa bersahaja. Ia mengatur para penari dan penambuh gamelan. Namun begitu tampil di atas pentas, ia membuat penonton tercekat. Ia penuh karisma. Ada aura yang terpancar dari mata serta gerak tubuhnya. Ia memikat banyak orang. Ia menjadi bintang. Dan pada malam harinya, ia ikut merapat ke tempat kami menginap. Dan ngobrol apa saja hingga pagi menjelang.

Penilaianku di atas coba kusodorkan pada beberapa kawan yang ikut ke Bali. Dan mereka tersentak karena apa yang kurasakan ternyata juga mereka tangkap. Ya, ia yang berpenampilan sederhana dan cenderung low profile itu ternyata justru memiliki karisma. Ada aura yang luar biasa yang sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata namun sungguh sangat bisa dirasakan. Ia memiliki taksu!

Dalam sebuah esai yang dimuat di majalah Gatra, Kafi Kurnia pernah begitu bagus mendiskripsikan seperti apa pengertian taksu. Ketika Kafi berkunjung ke Bali, kebetulan sedang musim layang-layang. Ketika itu digelar lomba layang-layang antar-banjar se-Bali, di Padang Galah. Lomba itu dipelopori Si Nyoman Adyana, yang menggelar festival layang-layang di Tanjungbungkak, Sanur, puluhan tahun silam. Acara ini merupakan bagian dari syukuran setelah panen padi.

Yang membuat Kafi kagum adalah semangat masyarakat Bali. Tiap banjar menghabiskan biaya jutaan rupiah untuk membuat layang-layang berukuran lebih dari tiga meter. Padahal, hadiah yang disediakan bagi pemenang seringkali tak sebanding dengan ongkos produksinya. Mengapa mereka bersusah payah mengeluarkan energi yang sedemikian dahsyat untuk menang?

Masih di esai Kafi, secara sederhana taksu dapat berarti energi. Namun bukan sembarang energi. Dalam contoh ini, taksu merupakan energi terpadu dari bakat seseorang, dan juga anugerah Tuhan. Di Bali taksu memang begitu lengket dalam kehidupan sehari-hari. Dan dalam definisi Kafi, taksu bisa juga sebagai the new spirit of excellence bagi manusia. Motivasi dalam merevolusi diri.

Di bandara, sambil menunggu jadwal pulang pesawat ke Jakarta, pikiranku terngiang-ngiang soal taksu ini. Mengapa seseorang bisa memiliki taksu sementara lainnya tidak. Atau barangkali pada dasarnya setiap manusia punya energi yang luar biasa dalam dirinya. Hanya ada yang terpancar ada yang belum tampak.

Sampai dengan aku menuliskan catatan ini, aku masih belum lagi bisa mendeskripsikan dengan pasti apa pengertian dari taksu. Tapi aku bisa merasakannya. Dan kuyakin setiap orang pun pada dasarnya bisa menangkap maksud dari taksu itu sendiri. Sesuatu yang terpancar sebagai aura atau karisma yang mengejawantah dalam bentuk energi pada diri seseorang. Bahkan jauh lebih besar lagi: pada masyarakat atau negara. Namun sebelum kita bicara pada konteks yang lebih luas, bukankah segala sesuatu dimulai dari individu masing-masing, yaitu diri kita?

Maka: sudah adakah taksu dalam diri kita?

Swastiastu!

Bandara Ngurah Rai, Tuban-Kuta, Senin 12 Oktober 2009 | 15.00 wita

____________________
Foto oleh: Damuh Bening
Penari: Dayu Prihandari, saat tampil di Playreading ‘Bubat for Gusmiati Suid’, Ubud Bali, 9 Oktober 2009. (foto di atas hanyalah ilustrasi pendukung tulisan. Tidak berkorelasi dengan tema yang sedang dibahas).