Yesterday is a memory. Tomorrow is a mystery. Today is a gift. That’s why they call it the present (Kung Fu Panda)

Pernahkan kalian membeli buku namun belum sempat membacanya? Aku sering kali mengalami hal seperti itu. Membeli setumpuk buku, dan dari yang setumpuk itu ada saja yang terselip belum terbaca. Entah masih enggan, belum tergerak untuk membacanya, atau memang belum butuh. Waktu membeli, yang terbersit dalam pikiran hanyalah: suatu saat aku pasti memerlukannya (Kebiasaan buruk memang. Jangan kalian tiru. Beli lah sesuatu yang kita butuhkan saja).

Beberapa hari lalu, tanpa sengaja aku melihat punggung sepucuk buku yang masih nongkrong di tumpukan yang masuk dalam daftar antrian baca. Terbaca olehku judulnya yang besar-besar: HARI INI PENTING. Judul aslinya Today Matters, karya John C. Maxwell, yang diterjemahkan oleh penerbitnya menjadi Hari Ini Penting.

Hari ini penting? tanyaku dalam hati. Tiba-tiba ada keinginan untuk menarik buku itu lantas membacanya. Tapi waktu sedang tak memungkinkan. Mesti buru-buru pergi. Jadinya sepanjang jalan aku terngiang-ngiang judul buku itu. Hari ini penting! Memang, konsep dari buku itu sudah lagi kupelajari. Tapi tetap belum membacanya toh. Betapa pun demikian, konsep dari HARI INI PENTING membuatku tertarik dan memikirkannya.

Hari ini penting! Seberapa pentingkah hari ini sehingga seakan tak ada waktu yang sebegitu pentingnya selain hari ini? Sebagai seorang yang tumbuh dengan karakter Melankolis yang Sempurna, yang kerap kali menunda-nunda banyak hal, konsep dari HARI INI PENTING selalu menarik perhatianku (namun tak pernah lulus untuk mempraktekannya!). Ya, aku kerap kali menunda pekerjaan, sampai sesuatu kurasa tepat untuk dikerjakan (alasan halus untuk tidak menyebutkan: baru tergerak kalau sudah didesak deadline!).

Kebiasaan buruk atau sisi negatif dari orang dengan karakter Melankolis yang Sempurna memang kerap begitu. Ia seolah selalu merasa mempunyai waktu yang betul-betul tepat untuk melakukan sesuatu. Ironisnya, hal itu justru akan merugikan orang lain jika pekerjaan yang hendak ia lakukan berhubungan dengan banyak pihak. Orang tidak bisa menunggu seseorang mengerjakan sesuatu hanya karena mood atau suasana hatinya belum pas toh?

Memang tidak semua hal mesti dilakukan hari ini atau saat ini juga demi mengingat kondisi serta berbagai pertimbangan. Kita kan tidak bisa dengan tiba-tiba pergi ke bandara hanya karena mendadak kangen dengan pacar yang kebetulan tinggal di kota lain, misalnya. Atau nekat menembus hujan hanya karena mendadak ngiler kepingin manyantap martabak keju di tempat langganan. Semua tetap ada pertimbangan yang disesuaikan dengan kondisi. Namun jika bicara soal pekerjaan, bisa lain sudut pandangnya.

Hari ini penting! Aku teringat dengan cerita Imelda tentang kebiasaan orang Jepang yang selalu menganggap pertemuan pertama dengan seseorang mesti dianggap pertemuan yang paling penting di sepanjang hidupnya. Karena belum tentu ada pertemuan-pertemuan berikutnya (betul juga: siapa bisa menduga!). Sehingga berikanlah yang terbaik yang bisa kita tunjukkan di pertemuan tersebut.

Aku termasuk orang yang paling enggan bertemu orang baru untuk kali pertama. Karena aku pikir, nanti saja di pertemuan-pertemuan berikutnya sembari menunggu waktu yang lebih tepat (Sifat introvert-ku yang kerap membuatku seperti itu. Menyebalkan memang!). Padahal bagaimana bisa ada sebutan pertemuan berikutnya kalau pertemuan pertama saja sudah enggan. Ini memang karakter dan kebiasaan buruk. Meski tak jarang aku mesti memaksakan diri jika pertemuan tersebut begitu pentingnya sehingga aku harus mendesak diriku sendiri.

Hari ini penting! Ya, mestinya kita bisa mengerjakan sesuatu jika pekerjaan tersebut memang bisa dan layak dikerjakan hari ini juga. Mengapa menunggu besok? Mengapa menunggu waktu yang tepat? Seperti apakah waktu yang tepat itu? Orang berkata: sesuatu akan indah pada saatnya. Itu betul. Aku setuju. Tapi kalau kita sudah bicara konteks pekerjaan, rasa-rasanya konsep HARI INI PENTING bisa juga dijadikan pegangan.

Dulu, dulu sekali aku penah berpikir: kalau ada mesin waktu yang bisa mengembalikan hidupku ke belakang, aku ingin kembali ke masa-masa SMA. Dan di masa itu akan kubuat cerpen banyak-banyak, novel banyak-banyak, dan cerita banyak-banyak. Kukirim ke berbagai media dan penerbit. Lantas dengan mesin waktu aku kembali lagi ke masa present. Dengan demikian, di masa present, aku sudah jadi pengarang yang hebat bukan?

Tapi buru-buru kuralat pikiran konyol seperti itu. Kenapa mesti menggunakan mesin waktu dan kembali ke masa lalu kalau ingin jadi pengarang hebat. Kenapa tidak mulai lakukan saja semua itu hari ini. Kalau dikerjakan dengan tekun dan terus-menerus, toh akan membuahkan hasil juga kan? Bukankah apa yang terjadi hari ini tak lain merupakan hasil dari tabungan kita di masa lalu, eh? Dan apa yang terjadi di hari depan merupakan investasi kita di hari ini. Kalian setuju dengan logika itu? Past, present, and future!

Maka, ya, HARI INI PENTING! Tak ada waktu yang lebih tepat selain hari ini jika sesuatu itu memang layak dikerjakan hari ini juga. Karena menunda hanyalah apologi kita dalam membuat alasan. Percayalah, sebuah novel tak akan pernah mencapai halaman 100, bahkan halaman 10 jika kita tak pernah betul-betul memulainya dengan kata pertama yang bisa kita tuliskan. Seperti halnya jika kalian mencintai seseorang, nyatakan hari ini juga. Soal diterima atau ditolak, itu persoalan lain bukan. Sehingga tak ada waktu yang lebih tepat selain hari ini jika sesuatu itu memang layak dilakukan hari ini.

Tulisan ini tak lebih sekadar caraku untuk berwasiat pada diriku sendiri. Syukur-syukur ada manfaatnya juga bagi yang membaca. So, masihkan kita menunda melakukan sesuatu? This is the moment. This is it! Yup! Inilah saatnya!

29 Oktober 2009 | 06.51 wib

Every day create your history!