Kehormatan manusia adalah pengetahuannya. Orang-orang bijak adalah suluh yang menerangi jalan setapak kebenaran. Di dalam pengetahuan terletak kesempatan manusia untuk keabadian. Sementara manusia bisa mati, kebijakan hidup abadi.
(Khalifah Saidina Ali bin Abu Thalib)

Apa yang abadi di dunia ini? Pertanyaan itu nyaris sudah ribuan kali disodorkan pada manusia, dan tak seorang pun bisa benar-benar menjawab: apa yang abadi di dunia ini, selain perubahan. Ya, apa yang abadi? Hampir tak ada, kecuali perubahan itu sendiri. Dari zaman nabi hingga saat ini segala sesuatu senantiasa berubah. Dari gelap menjadi terang, dan dari terang kembali menjadi gelap. Terus seperti itu.

Tak ada kekuasaan yang langgeng seumur hidup bumi. Tak ada raja yang tak mangkat. Tak ada cinta yang seratus persen melekat. Tak ada manusia yang tak mati. Semua silih berganti mengalami perubahan demi perubahan. Kabar baiknya, tak ada kegagalan yang abadi. Kabar buruknya, tak selamanya sukses mampir bertubi-tubi. Semua ada masanya, dan senantiasa terus berubah.

Dulu waktu aku kecil, aku bisa mengayuh sepeda dengan bebas saat keluar komplek perumahan tanpa khawatir ada kendaraan lain yang melintas memotong jalan. Kini, setiap keluar komplek, minimal kendaraan harus berhenti, tengok kanan kiri, baru bisa melaju dengan aman, karena sekarang begitu ramainya jalan di depan perumahan. Semua serba berubah.

Lima sampai empat tahun lalu, mungkin tak banyak orang yang membuka laptopnya di ruang publik, karena penggunanya masih terbatas. Kini? Laptop, notebook, desktop dan yang terkini netbook banyak mewarnai ruang publik. Sembari menunggu jadwal keberangkatan (pesawat), membuka portable komputer bukanlah sesuatu yang dikategorikan unjuk kepemilikan. Sudah biasa.*

Continue Reading »