Epitaph: Kisah Berbingkai dalam Balutan Misteri
Sebuah Ulasan oleh Sawali Tuhusetya
Versi lengkap: http://sawali.info/
Satu lagi, sebuah buku lahir dari tangan seorang Daniel Mahendra (DM). Rencananya, Epitaph bergenre novel ini akan menjadi buku pertama dari trilogi Epitaph (Epitaph, Epigraf, dan Epilog). Sebuah kisah yang menarik. Berbeda dengan novel kebanyakan yang digarap dengan alur konvensional, Epitaph dirangkai dengan menggunakan kisah berbingkai dengan pola sudut pandang “aku” yang variatif. Dalam kisah ini, tokoh “aku” setidaknya terejawantahkan melalui tokoh Langsi, Laras, dan Haikal. Ketiga-tiganya bisa menjadi tokoh sentral, tergantung pada konteks peristiwa yang diusungnya. Maka, menikmati Epitaph tak bisa dilakukan dengan “main penggal di tengah”, tetapi harus utuh dan dimulai dari awal sebagai “starting point”-nya.
Dalam pandangan awam saya, Epitaph setidaknya mewakili world-view sang penulis dalam menafsirkan berbagai fenomena hidup dan peristiwa-peristiwa keseharian yang berlangsung di sekitarnya. Dalam teks ini, kita bisa memahami bagaimana pandangan sang penulis tentang cinta dan dinamikanya, kepekaannya terhadap nilai-nilai kemanusiaan, dan sentuhan-sentuhan psikologis, bahkan juga filosofis seorang DM ketika menghadapi persoalan-persoalan hidup yang menelikung tokoh-tokohnya. Ya, ya, teks sastra memang tak pernah tercipta dalam situasi yang kosong, demikian kata Prof. A. Teeuw. Melalui perilaku para tokoh, tanpa bermaksud menggurui, sang pengarang berupaya “menggiring” pembaca untuk memasuki sebuah situasi rumit dan kompleks, sekaligus bagaimana sang tokoh menafsirkan dan mengatasi persoalan hidupnya.



