Archive for December, 2009

Epitaph: Kisah Berbingkai dalam Balutan Misteri

Sebuah Ulasan oleh Sawali Tuhusetya
Versi lengkap: http://sawali.info/

Satu lagi, sebuah buku lahir dari tangan seorang Daniel Mahendra (DM). Rencananya, Epitaph bergenre novel ini akan menjadi buku pertama dari trilogi Epitaph (Epitaph, Epigraf, dan Epilog). Sebuah kisah yang menarik. Berbeda dengan novel kebanyakan yang digarap dengan alur konvensional, Epitaph dirangkai dengan menggunakan kisah berbingkai dengan pola sudut pandang “aku” yang variatif. Dalam kisah ini, tokoh “aku” setidaknya terejawantahkan melalui tokoh Langsi, Laras, dan Haikal. Ketiga-tiganya bisa menjadi tokoh sentral, tergantung pada konteks peristiwa yang diusungnya. Maka, menikmati Epitaph tak bisa dilakukan dengan “main penggal di tengah”, tetapi harus utuh dan dimulai dari awal sebagai “starting point”-nya.

Dalam pandangan awam saya, Epitaph setidaknya mewakili world-view sang penulis dalam menafsirkan berbagai fenomena hidup dan peristiwa-peristiwa keseharian yang berlangsung di sekitarnya. Dalam teks ini, kita bisa memahami bagaimana pandangan sang penulis tentang cinta dan dinamikanya, kepekaannya terhadap nilai-nilai kemanusiaan, dan sentuhan-sentuhan psikologis, bahkan juga filosofis seorang DM ketika menghadapi persoalan-persoalan hidup yang menelikung tokoh-tokohnya. Ya, ya, teks sastra memang tak pernah tercipta dalam situasi yang kosong, demikian kata Prof. A. Teeuw. Melalui perilaku para tokoh, tanpa bermaksud menggurui, sang pengarang berupaya “menggiring” pembaca untuk memasuki sebuah situasi rumit dan kompleks, sekaligus bagaimana sang tokoh menafsirkan dan mengatasi persoalan hidupnya.

Continue Reading »

Epitaph dan Sebuah Persembahan

Sebuah Ulasan oleh Marshmallow
http://hemmayulfi.blogspot.com/

Tidak mudah menulis resensi untuk karya seseorang yang kau kenal dekat, seseorang yang kau ketahui dengan baik karakter serta isi kepalanya, terlebih lagi proses kreatifnya. Penilaianmu terhadap karyanya bertendensi menjadi bias dan kurang obyektif. Namun aku ingin menyingkir dari kotak dan menjadi orang lain saat mencoba menulis resensi Epitaph, karya seorang sahabat baik bernama Daniel Mahendra atau yang lebih populer dengan sebutan DM.

Sebuah paket kuterima beberapa hari yang lalu, yang dari alamat pengirimnya aku langsung dapat menebak isinya. Ada tiga buah buku yang sama di dalamnya. Pesan pengirimnya, masing-masing dari ketiganya adalah untuk disimpan di kantor, di dalam kendaraan, dan di rumah. Agar tak pernah merasa kehilangan, katanya.

Obyektivitasku kembali tertantang saat membaca kalimat persembahan yang sangat kuhapal di lembar ketiga yang sontak membuat mataku merebak. “Untuk bintang paling terang yang pernah ada dalam galaksiku…” Duh, terharu banget… Thanks, DM.

Continue Reading »

Maka Lahirlah Ia

Setelah hamil tua, ia lahir pada Jum’at 4 Desember 2009, pukul 15.47 WIB, di Jakarta, berbintang Sagitarius, bershio Kerbau, dengan berat sekitar 324 gram. Maka sudah sejak semula, kuberi ia nama: Epitaph.

Bayi itu kutimang-timang, kubawa pulang, kupeluk, kugenggam, serta kuletakkan lagi. Ada ribuan rasa ketika memandangnya. Haru, memicingkan mata, mengernyitkan dahi, menggelengkan kepala, namun sekaligus gembira. Bagaimana pun ia anakku. Anak rohaniku.

Hendak jadi apa, sudah di luar teritoriku lagi. Ia akan tumbuh dan berkembang pada dunianya. Tergantung bagaimana ia bermasyarakat dengan habitatnya. Sudah bukan hakku lagi. Namun sebagai orangtua, barangkali masih menjadi kewajibanku untuk memperlakukan yang terbaik atasnya. Memberikan yang bisa kuberikan. Merawatnya sejauh yang bisa kusodorkan.

Maka lahirlah ia. Mulai mengerjapkan mata. Melirik siapa saja yang memandangnya. Juga tangisnya yang sayup-sayup mulai terdengar membahana untuk kemudian menapaki langkah-langkah pertamanya. Pijakan-pijakan kecilnya.

Tumbuh dan sehatlah, Nak…

Live talkshow di TVRI Stasiun Pusat Jakarta, dalam acara “Bicara Buku Bicara”, Senin, 14 Desember 2009, pukul 15.00-16.00 WIB, bersama Bapak Damas B. Mulyono [Pembawa Acara], Syafruddin Azhar [Senior Editor Penerbit Kakilangit Kencana], Lisa Febriyanti [Penulis Novel Iluminasi] dan D.M. [Penulis Novel Trilogi Epitaph].

Continue Reading »

Adakah Hidup Semata Penungguan?

Apa yang ada dalam benak kita seandainya kekasih kita, pasangan hidup kita, anak kita, atau orangtua kita hilang dan tak tahu berada di mana? Siapa yang mesti disalahkan? Siapa yang mesti bertanggung jawab? Dan siapa yang mesti mencari yang bertanggung jawab?

Apakah hidup memang sekadar penungguan? Benarkah hidup adalah penungguan? Kalau kita duduk menunggu di sebuah ruang praktek dokter, meski barangkali lama, berapa pun nomor yang tertera di tangan kita, tapi kita memiliki kejelasan bahwa nanti bakal dipanggil juga. Menunggu sebuah antrian, meski kerap menjengkelkan, tapi kita tahu, di depan sana ada suatu kejelasan tentang posisi kita. Tetapi menunggu sesuatu yang tak jelas? Apa jadinya?

Continue Reading »