Adakah Hidup Semata Penungguan?

Apa yang ada dalam benak kita seandainya kekasih kita, pasangan hidup kita, anak kita, atau orangtua kita hilang dan tak tahu berada di mana? Siapa yang mesti disalahkan? Siapa yang mesti bertanggung jawab? Dan siapa yang mesti mencari yang bertanggung jawab?

Apakah hidup memang sekadar penungguan? Benarkah hidup adalah penungguan? Kalau kita duduk menunggu di sebuah ruang praktek dokter, meski barangkali lama, berapa pun nomor yang tertera di tangan kita, tapi kita memiliki kejelasan bahwa nanti bakal dipanggil juga. Menunggu sebuah antrian, meski kerap menjengkelkan, tapi kita tahu, di depan sana ada suatu kejelasan tentang posisi kita. Tetapi menunggu sesuatu yang tak jelas? Apa jadinya?

Novel Epitaph bercerita tentang secuil sejarah dunia perfilman di Indonesia yang dibalut dengan sebuah kejadian pelik berupa hilang dan jatuhnya helikopter di daerah Gunung Sibayak, Sumatera Utara, yang dinaiki oleh kru film dari sebuah Production House Jakarta ketika sedang melakukan pengambilan gambar dari udara.

Kru film yang terdiri dari dua mahasiswa IKJ (Institut Kesenian Jakarta) serta seorang wartawan yang menjadi sutradara menggunakan sebuah helikopter milik TNI Angkatan Darat. Persoalan terjadi ketika helikopter tersebut putus kontak dan hilang secara mendadak saat mulai terbang dari Bandara Polonia Medan. TNI AD lantas tidak mengakui kepada pers bahwa helikopter tersebut membawa serta kru film. Mereka memang mengakui bahwa helikopternya hilang, namun tidak berisi penumpang, melainkan semata pilot dan kopilot anggota TNI AD.

Dari sinilah semua kejadian bermula. TNI AD menyisir lereng-lereng Gunung Sibayak, berpatokan pada jadwal rutin terbang mereka. Sementara tim SAR swasta melakukan penyisiran Gunung Sibayak, berpatokan pada denah kru film mengambil gambar dari udara. TNI AD tetap bersikeras: helikopternya tidak berisi penumpang. Tim SAR swasta tidak bisa melawan. Media massa menunggu peran. Dan dunia film geger.

Hingga sebulan masa pencarian, helikopter tetap tidak ditemukan. Tim SAR swasta memutuskan untuk menghentikan pencarian. Pencarian dianggap selesai. Helikopter dinyatakan hilang. Persoalan dianggap mengambang. Adakah hidup semata penungguan?

Nantikan novel Epitaph pada bulan Desember 2009.

This entry was posted in Epitaph Serba Serbi. Bookmark the permalink.

16 Responses to Adakah Hidup Semata Penungguan?

  1. vizon says:

    yang pasti, penungguanku akan novel ini akan segera berakhir, ia telah ada dan siap kucari jejaknya agar dapat kulahap segala isinya, sehingga dapat kutahu “isi benak” penulisnya… ;)

    selamat Dan, akhirnya penungguan panjangmu berakhir juga. semoga perjuanganmu untuk “melahirkannya” berakhir dengan bahagia. aku doakan…

  2. Ria says:

    hidup adalah menjalani yg terbaik mas…seperti commetku di FB mu apabila seorang yg kita sayangi menghilang tak tahu rimbanya. Diriku pasti akan berusaha mencari walaupun memakan waktu bertahun2 tetapi ketika kenyataan sudah di depan mata diriku harus mampu menerima apapun yg terjadi. Sulit? pastinya tapi hidup memang tidak mudah kan?

    Gak sabar pengen baca buku ini, jangan lupa ya kunjungan buku ini ke duri tolong di masukkan list :D

  3. edratna says:

    Berharap segera membaca bukunya.
    Sudah adakah di toko buku?

    Biar penungguanku tak sia-sia

  4. denisa says:

    sudah lama tdk berkunjung ke blogmu Mas, rindu… menunggu memang menjemukan, tapi tdk utk org terkasih, seperti menanti-nanti tulisan terbarumu di blog, juga kelahiran novelmu :-D . Berjuta cara hrus ttp dilakukan agar kita tak hanya menanti, mski dgn segala keterbatasan yg kita miliki.

    sulit memang. tapi, itulah hidup! berharap, smga aku tak mengalami kondisi itu,hee…

    hmm, EPITAPH. aku akan memburumu!! sukses y Mas…

  5. Radesya says:

    Pada dasarnya kita ini emang sedang menunggu kak. Seperti aku yang menunggu membaca kisah selengkapnya :)

    menunggu tanpa kepastian itu menyiksa

  6. DV says:

    Dan, selamat ya! Akhirnya muncul juga.
    Beberapa waktu lalu aku membuat satu dokumen online di GoogleDocs dengan title “Buku yang harus kubeli”.

    Isinya adalah semua judul buku yang harus kubeli sekembalinya ke Indonesia nanti (yang paling cepat adalah akhir taon 2010 :P ) Dan bukumu sudah kumasukkan ke dalamnya… semoga hingga akhir taon 2010 buku ini masih ada atau setidaknya meski nanti barangkali sudah masuk cetakan yang kesekian kuharap aku masih kebagian :) )

    Plus tanda tangan tentunya… :) ) Nanti kita makan di Kingsley dan… AMPERAAA :) )

  7. De-eN says:

    Setiap orang di dunia punya dan memegang perannya sendiri-sendiri. Peran yang dimainkan berbeda oleh tiap-tiap orang. Apakah skenario, sutradara berperankah? tentu saja, namun yang bermain peran itulah yang berperan dalam mengukir filmnya sendiri-sendiri. Jadi tak semata penungguan skenario semata…..

    Novel yang mas De-eM tulis bisa menjadi membuka sejarah, yang tertutup dimasa lalu. Bisa jadi kunci pembuka jejak yang belum jelas, dan bisa obat bagi sebagian yang masih kecewa.
    Novel yang menarik buat dibaca keseluruhan, difilmkan….
    weee…..De doain sukses buat mas dan EPITAPHnya ya…….

  8. hatmi says:

    bukunya mana??

    DM: Mbak Hatmi, aku sudah mengirim email melalui
    epitaph@penganyamkata.net soal pemesanan novel epitaph. Bisa dicek di sana. Terima kasih ya…

  9. lilliperry says:

    woo.. sudah keluar tho mas.. *melirik celengan yang sebentar lagi akan dibelah…* hehehe

  10. meily says:

    Aha akhirnya bisa beli dan baca buku si Akang …. Selamat Congrats yah

  11. imoe says:

    Kirim ke

    “Rumah Semut”
    Lembaga Perlindungan Anak Sumbar
    Komp. Vila Melati Mas II D/6 RT 02 RW 09 Alai Timur, Kec. Alai Parak Kopi
    Kec. Padang Utara Padang

    Ditunggu ya, sekalian yang pake tanda tangan penulis ok wkwkwkwkwkw

    DM: Imoe yang baik, buku untukmu sudah kusiapkan. Tinggal menunggu konfirmasi transfer darimu saja. Hehehe. Thanx ya… Oya, terima kasih juga sudah mempromosikan pada teman-temanmu. Baik sekali engkau…

  12. masmelo says:

    goniel, makasih bukunya udah nyampe.
    dan makasih untuk ucapan persembahannya yang maniiiis banget.
    terharu… jadi lebay deh.
    abis nggak pernah nyangka bakal membaca persembahan semacam itu di halaman depan sebuah karya terpublikasi.
    makasih sekali lagi ya, goniel.
    you’ve made me speechless.

    sukses selalu untukmu… ;)

  13. cah ndeso says:

    Salam silaturahim dari Lereng Muria :lol:
    Sambil mengucapkan Selamat Hari Ibu tapi ndak mudeng yang keberapa ini yah? :roll:

    Semoga Ibu-ibu di Indonesia masih semangat buat ngeBlog :cool:

    DM: Salam silaturahim juga…

  14. boyin says:

    Selamat atas peluncuran bukunya, saya malah duluan baca di referensnya di blognya bu edratna

  15. racheedus says:

    Hidup memang penantian. Menanti ajal yang pasti tiba. Saat penantian memang menyebalkan jika tak diisi dengan hal-hal positif sebagai bekal menyambut ajal.

    Selamat, Mas, atas novelnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>