Epitaph dan Sebuah Persembahan
Sebuah Ulasan oleh Marshmallow
http://hemmayulfi.blogspot.com/
Tidak mudah menulis resensi untuk karya seseorang yang kau kenal dekat, seseorang yang kau ketahui dengan baik karakter serta isi kepalanya, terlebih lagi proses kreatifnya. Penilaianmu terhadap karyanya bertendensi menjadi bias dan kurang obyektif. Namun aku ingin menyingkir dari kotak dan menjadi orang lain saat mencoba menulis resensi Epitaph, karya seorang sahabat baik bernama Daniel Mahendra atau yang lebih populer dengan sebutan DM.
Sebuah paket kuterima beberapa hari yang lalu, yang dari alamat pengirimnya aku langsung dapat menebak isinya. Ada tiga buah buku yang sama di dalamnya. Pesan pengirimnya, masing-masing dari ketiganya adalah untuk disimpan di kantor, di dalam kendaraan, dan di rumah. Agar tak pernah merasa kehilangan, katanya.
Obyektivitasku kembali tertantang saat membaca kalimat persembahan yang sangat kuhapal di lembar ketiga yang sontak membuat mataku merebak. “Untuk bintang paling terang yang pernah ada dalam galaksiku…” Duh, terharu banget… Thanks, DM.
Oke, keluar kotak lagi. Aku ingat dulu, lebih setahun yang lalu aku pertama kali membaca nukilan Epitaph melalui internet. Kala itu aku membaca Epitaph dengan kapasitas sebagai orang yang tidak mengenal baik sang penulis. Apa yang terjadi?
Saat itu sore awal musim dingin di Sydney. Persiapanku sudah sempurna untuk menikmati bacaan: pemanas ruangan yang diset optimal, kaus kaki yang lembut dan hangat, serta secangkir kopi yang wangi dan mengepul. Memulai dengan membaca surat Haikal kepada Laras, aku pun tak bisa berhenti membaca. Emosiku diaduk-aduk saat membaca kisah Haikal dan Laras yang dirawi oleh tokoh utama, Langi.
Hari itu Epitaph sukses membuatku ketinggalan satu kelas presentasi di kampus. Blas lupa! Dan itu adalah pengalamanku membaca Epitaph secara obyektif.
Epitaph adalah sebuah karya yang diinspirasi oleh kisah nyata yang dialami penulis. Novel ini tergolong berat ditinjau dari segi tema, yakni melibatkan berbagai institusi resmi di Indonesia dengan beragam kontroversinya. Intriknya tetap kisah cinta, namun kemasannya jauh dari kesan cengeng dan picisan. Satu hal yang paling kusuka dari sebuah novel adalah bila ia bisa membuka wawasan pembaca. Epitaph mampu berbuat itu. Proses penulisannya jelas dilandasi oleh riset yang mendalam dan panjang, sehingga banyak hal baru yang dapat diperoleh pembaca dari membaca kisahnya.
Adalah Laras Sarasvati, mahasiswi IKJ yang memiliki cita-cita panjang, terlibat dalam sebuah proyek pembuatan film dokumenter yang disponsori oleh sebuah BUMN. Masalah timbul saat helikopter yang disewa oleh kru film dari TNI AD jatuh di lereng Gunung Sibayak Sumatera Utara dan dinyatakan hilang, sedangkan TNI AD kemudian menampik keterlibatan mereka dalam kejadian ini sehingga menimbulkan kontroversi.
Narasi dilakukan oleh ketiga tokoh utama secara bergantian: Langi sang penulis yang dipercaya untuk meramu berbagai catatan pribadi menjadi novel, Haikal sang kekasih yang ditinggalkan dengan rasa penasaran, serta Laras yang secara ajaib mampu meninggalkan catatan segar mengenai kejadian naasnya. Catatan Laras ini menarik, karena tokoh yang dinyatakan hilang (bahkan sangat mungkin telah meninggal dunia) turut bercerita secara gamblang berupa catatan yang ditinggalkan kepada Haikal. Bagaimana mungkin? Tentu saja semuanya mungkin di dalam fiksi, namun inilah uniknya. Penulis tidak ingin terjebak dalam kesan mistis, namun mau tidak mau pembaca jadi tergoda oleh kemungkinan tersebut.
Sebagai orang yang mengenal dekat penulisnya, aku tak bisa menampik kenyataan bahwa ego sang penulis kental terasa pada ketiga tokoh utamanya: Langi, Laras, dan terutama Haikal. Membaca Epitaph saat ini terasa seperti membaca diri Daniel Mahendra dan isi kepalanya yang “dia banget”. Ini kuanggap sebagai salah satu sisi kelemahan Epitaph, karena penulis tidak berusaha menciptakan tokoh yang bukan dirinya atau tokoh yang tidak memiliki karakter penulisnya. Tapi bisa jadi penulis lain juga berbuat demikian, toh aku tidak mengenal penulis-penulis lain seperti aku mengenal yang satu ini. Who knows?
Gaya penulisan DM terasa dipengaruhi oleh gaya penulisan tokoh sastra idolanya, Pramoedya Ananta Toer. Ini lumrah, mengingat tendensi manusia untuk berguru kepada tokoh yang diidolakan. Dari segi penampilan Epitaph cukup handy karena tergolong paperback sehingga relatif ringan dibawa. Menjadi lebih menarik dengan model sampul yang berbeda dan tambahan gambar ikon dogtag di halaman awal setiap bab. Mungkin bila ada bonus bookmark (pembatas buku) akan memberikan nilai tambah yang sangat berarti. Sangat disayangkan, dari segi editing Epitaph mengalami beberapa kekeliruan penulisan dan EYD. (Ini kutandai dengan beberapa coretan pensil di dalam novelnya) Mungkin karena prosesnya yang mengejar deadline (atau penulisnya yang suka procrastinating? Hihi!).
Hm… banyak yang ingin dikomentari, namun sejauh ini kupikir sudah cukup mewakili pemikiranku. Sekali lagi, tidak mudah menilai sebuah karya bila kau mengenal dengan baik senimannya secara personal. Mudah-mudahan apa yang kutuliskan tidak terlalu melenceng obyektivitasnya. Bagaimana pendapat teman-teman? Aku tau banyak yang sudah baca, walaupun grand launching buku ini sendiri baru akan digelar Maret mendatang.***
Catatan:
Terima kasih pada Marshmallow yang berkenan mengulas novel Epitaph. Tetap ditunggu kritik-kritik mantapnya… D.M.


resensi pertama dari seorang sahabat terbaikmu Dan… mantap
aku sedang mengumpulkan segala keberanian mereview epitaph, karena levelku dalam meramu kata, sangatlah jauh darimu. tapi, lihat sajalah nanti…
rresensi pertama dari sahabat terbaikmu Dan… mantap!

semoga aku dapat melakukan hal yang sama dengan hemma
semoga aku punya kemampuan untuk itu…
duh, nggak nyangka kalau resensi tak seberapa ini dimuat di blog keren ini, goniel.
berasa nggak pantes banget. (jangan balas mendingan daripada fotoku yang dipampangin sehingga bikin malu kamu! dasar! udah kebayang deh bakal kau jawab apa)
sukses buat epitaph, cibe. sukses buatmu.
always
@uda vizon:
ayo, uda! masak nggak percaya diri? i know you can, even better than this lousy review.
Makasiy Mas Niel, sebelas novelnya sudah sampai dengan selamat di Surabaya (fotonya dah De kirim lewat BB kan…), dengan kalimat persembahan yang sangat manis juga…..makasiy mas Niel………. dan sudah tamat De baca (gak semua buku De perlakukan seperti ini mas, mas tahu itu)…….(mas ikutin kan perjalanan bacanya…)
Iya, benar, Membaca sebuah novel karya seseorang yang kita kenal dekat yang sudah sejak lama dan secara personal serta mengerti kesehariannya sulit untuk mencari obyektivitas. Dari tokoh-tokoh Langi, Haikal, dan Laras tergambar karakter yang terjiwai dari sang Penulis.
Romantis ehem(banyak hal), Menutup diri, suka menyendiri dan selalu merasa kesepian (5,103, 105), Perhitungan yang sangat matang jika akan memutuskan sesuatu , keberanian (113), kepandaiannya memilih kata (semua hal), Menghargai kebebasan (72), Mengatur ritme (77, 91), Pikirannya tak mudah ditebak(99), Mudah tersentuh dan peka lingkungan sekitar (278,29) suka mengolok pada sesuatu yang diperhatikannya (50), Sableng? (52), penyemangat (75), tak genit? (72) Suka dodol? hihihi (banyak hal)
sampai-sampai Laras yang mas lukiskan diawal sebagai cewek tomboy, jadi terjiwai romantis karakter penulisnya juga…gak papa buat kritik kan mas Niel
Dari data-data yang tercatat disana, seperti juga yang De tulis di FB, sulit dipercaya bahwa itu bukan cerita nyata. Data-data yang runtut, jelas, membuat orang bertanya-tanya: jika bukan real, bagaimana data-data pada novel itu selengkap itu?……
Setting beberapa tempat pada kota yang De kenal, membuat angan melayang ke beberapa tahun yang lalu….
Novel ini menguras emosi, sedih, geram, dan sebel jadi satu deh. Terbayang pada saat keluarga Laras terlambat mendapatkan berita tentang hilangnya helikopter baru pada hari keempat. Hari keempat? padahal jika saja tahu lebih awal, betapa banyak yang bisa dilakukan keluarga Laras dan Haikal……
Satu lagi yang amat menguras emosi pada saat jenazah Laras sampai di keluarganya dengan jalan yang berliku dan beberapa syarat yang musti dipatuhi. Kalo mas Niel memang mengexplore emosi pembaca disitu, amat sangat berhasil menguras emosi….
Peristiwa yang tercatat di novel itu sampai sekarangpun masih menjadi kontroversi dan perlu ada suatu media yang mengungkap. Peristiwa jatuhnya pesawat militer yang menyisakan tanda tanya bukan hanya itu saja… Salut pada keberanian mas Niel yang mengangkat issue ini dalam novelnya
Dari baca novel-novel mas terdahulu (termasuk cerita bersambung saat SMP majalah Mini….remember?) karakter menulis mas semakin terasah, semakin matang. Pemilihan kata, cara penggambaran, dan runtutan cerita semakin nampak hidup.
Buat sarannya, kita dah diskusikan setelah Ade tamat bacanya kan mas Niel ……
Moga-moga cetakan berikutnya sudah bisa terperbaiki beberapa hal yang masih belum benar itu……
Moga-moga proyek besarnya yang sekarang sedang digarap, untuk bisa membuat orang terfokus pada masalah besar Riilnya bisa tercapai. Ditunggu safari bedah bukunya. …..start 12 Januari. Jakarta. Cu….
memang jadi aneh resensi orang yang sudah kenal penulisnya… hahahah
Ulasan Marsmallow indah…..
Saya belum sempat menuliskannya…karena baru selesai membaca tadi malam, dan bukunya sekarang dibawa si bungsu, akan dibaca di sela-sela sesi ngebut menyelesaikan thesisnya sebelum deadline.
Jika Marsmallow memberi komentar secara utuh, saya yang tertarik adalah:
betapa DM memahami tentang pertanian, lengkap dengan KUD, PPL…yang tentu memerlukan suatu penelitian atau DM pernah berbuat seperti yang dilakukan Haikal. Salut Niel, saya yang berlatar belakang pertanian pun tak bisa menuliskannya seindah dan sebagus itu…
Dan saya suka perenunganmu, rasanya saya seperti bicara dengan penulisnya sendiri, terasa saya terkadang menjadi Haikal yang banyak bertanya tentang kehidupan ini.
Niel, saya benar-benar suka sama novelmu…rasanya tak sabar menunggu terbitnya buku kedua.
Semoga pada edisi cetak kedua…semakin banyak pembetulan pada salah tik, yang memang ada, seperti telah diulas oleh Marsmallow.
walah, satu kata pun malah belum meluncur dari pikiran saya utk bisa melihat epitaph secara utuh, mas dan. saya masih butuh beberapa hari lagi utk bisa sedikit me-review-nya, hehe … mudah2an sebelum tutup tahun, saya sudah tamat membaca dan sekaligus mengapresiasinya. sukses selalu buat mas dan.
susah sih kalo harus seobjektif mungkin, yah, pake kata2 yang halus bisa sepertinya…
Epitaph ? buku barunya yah mas….jadi penasaran
*salam kenal mas*
Hey, uni mallow pintar ngulas juga ya….Saya masih menunggu kiriman niy hehehehe
Curang, paket untuk uni Mallow dikirim tiga….
haha
ingin rasanya membuat resensi buku’mu bro
TUNGGU TANGGAL MAINNYA !!!