Kalian tentu sudah tak asing dengan istilah ‘Pak Pos’. Seorang lelaki yang mengendarai motor berwarna oranye dengan dua buah kantung di sisi kanan dan kirinya. Mendatangi rumah demi rumah bertugas mengatarkan surat. Terkadang berteriak: “Pooosss…!!” di depan pagar. Sebuah profesi yang terhitung cukup tua di bumi ini.

Dulu aku selalu menunggu kedatangan si ‘Pak Pos’ itu. Karena hobiku memang berkoresponden. Entah dengan kawan, sahabat, atau pacar. Tapi begitu tekhnologi e-mail lahir, maka berguguran pulalah hobiku itu. Dunia serasa makin dilipat dengan perkembangan internet dan telepon selular dengan segala fasilitasnya.

Tapi ‘Mbak Pos’? Pernahkah kalian mendengar istilah itu? Tentu belum. Karena istilah ‘Mbak Pos’ memang karanganku belaka. Itu pun semata keisenganku karena bingung mesti menyebut dirinya dengan sebutan apa. Dirinya? Siapa? Baik. Begini ceritanya…

Hampir dua minggu terakhir ini aku jadi kerap mengunjungi kantor pos besar. Nyaris setiap hari. Dan selalu di saat senja menjelang pukul 6 sore. Aku selalu parkir di halaman belakang. Kenapa begitu? Karena di halaman belakang aku bisa melewati koridor di mana orang tampak sedang sibuk membongkar atau mengepak paket-paket.

Terkadang aku kerap terhenyak: rupanya masih begitu banyak orang menggunakan jasa pos. Bahkan di suatu sore aku sempat berhenti pada suatu jarak, tertegun dan tersenyum sendiri demi melihat beberapa orang sedang menyemangati seorang petugas yang sedang mengecap sampul surat dengan palu cap.

Palu cap itu dipukul bertalu-talu, menimbulkan irama tabuhan yang rancak, sementara orang-orang di sampingnya bertepuk tangan mengimbangi ketokan palu menciptakan nada yang ritmis diselingi tembang serta kelakar yang padu. Jadinya seperti sebuah ajang dangdutan versi tukang pos yang menggelikan di sore hari.

Okelah, itu soal ruang belakang. Sementara jika aku parkir di halaman depan, aku akan langsung bertemu dengan plaza kantor pos yang lantas dihadapkan pada loket demi loket. Terlampau biasa. Kegiatan di depan tak sesemarak kesibukan di ruang belakang. Tapi, ada yang tak biasa di loket depan. Apa? Apalagi kalau bukan si ‘Mbak Pos’ yang hendak kuceritakan ini.

Resam tubuhnya sedang kalau tak mau disebut mungil. Rambutnya diikat ke belakang dengan sebagian poni dibiarkan menutupi dahinya yang landai. Hidungnya bangir seperti perkedel yang baru saja diangkat dari wajan. Bibirnya tipis seperti salak pondoh dengan dua biji mata berwarna cokelat yang jika kebetulan beradu pandang bakal menimbulkan sensasi tersendiri. Dengan jas pos berwarna oranye, ia layak disebut manis. Tapi aku tak pernah mengungkapkannya. Meski konon perempuan paling suka dipuji, namun aku selalu merasa hal itu tetap tak sopan untuk diutarakan. Maka aku hanya membatin saja.

Aku tak tahu namanya. Dan tak berusaha ingin tahu. Tapi setiap ke kantor pos, herannya aku selalu kebagian loketnya. Padahal ada empat sampai lima loket untuk bagian kilat khusus. Entah kenapa. Kalau suatu hari loketnya sedang penuh oleh antrian dan aku kebagian di loket lain, ia hanya tersenyum ke arahku. Lama-lama aku jadi familiar, dan ia pun jadi hapal denganku. Maka untuk perkunjungan-perkujungan berikutnya kami sudah terbiasa untuk saling melempar senyum tanpa pernah tahu nama masing-masing dari kami.

“Tiap hari ngirim paket buku, Mas?” sapanya tersenyum seperti sudah hapal dengan isi paketku yang bertumpuk-tumpuk menggunung.
“Iya, Mbak.” jawabku sembari mengosongkan tas ranselku.
“Ngirim ke siapa aja sih?” tangannya dengan sigap memindahkan paket-paketku ke atas meja timbangan.
“Ya ke yang pesan buku…”
“Setiap hari? Banyak banget.”
“Ya selagi ada yang pesan.” jawabku tersenyum.
“Buku apa sih kok sampai tiap hari gini?” ia mulai mengetik alamat demi alamat bersampul cokelat itu.
“Novel.”
“Novel?”
“He-eh.”
“Ceritanya tentang apa…”
“Emh, tentang apa ya… Cinta mungkin.”
“Cinta?”
“Mungkin.”
“Kok mungkin?”
“Ya Mbak harus baca sendiri kalau mau tau ceritanya…”
“Karangan siapa emangnya?”
“Waduh, saya kurang tau tuh, Mbak. Saya kan cuma ngirim.”
“Menarik nggak?”
“Kan udah saya bilang, Mbak harus mbaca sendiri…” tukasku masih juga senyum-senyum. Dan ia masih melanjutkan ketikannya.
“Tapi kok terus-terusan ngirim gini. Bertumpuk-tumpuk. Hampir tiap hari lagi.”
“Berarti banyak yang pesen kan…” ujarku senang karena berhasil mengajaknya masuk ke pembicaraan yang lebih hangat.
“Ih, jadi penasaran.” kali ini geliginya mulai tampak tertawa. Geliginya rapi!
“Pesen dong, Mbak…”
“Boleh emang?”
“Ya bolehlah, Mbak… Saya ke sini tiap hari kan memang ngirim pesanan.”
“Tapi bagus nggak…”
“Mbak liat sendiri kan, hampir tiap hari saya ke sini bawa bertumpuk-tumpuk paket.”
“Wah, iya juga.”
“Nah, berarti Mbak bisa simpulkan sendiri…”
“Mau dong…”
“Boleh, besok saya bawakan.”
“Berapa harganya?”
Lantas aku pun menyebutkan harga.
“Besok bawain satu ya.” tukasnya girang.
“Siiippp…”
“Eh, bisa dapet tanda tangan pengarangnya nggak?”
“Mbak mau?”
“Kalau boleh…”
“Emh, gimana ya… Nanti saya usahakan deh.” ucapku mengulum senyum. “Tapi,”
“Kenapa?”
“Mesti ditulis untuk siapa nanti?”
Sampai kalimat terakhirku itu matanya tampak menyelidik ke arahku. Tapi tak lama.
“Tulis aja buat Dewi. Mahadewi.”
“Mahadewi?”
“He-eh.”
“Okay!”
“Jangan lupa besok ya.”
“Sip, Mbak…”
Ia pun menyodorkan berlembar-lembar bukti terima kiriman berwarna kuning, dan aku membayar total yang harus kubayar.
“Jangan lupa ya, Mas…”
“He-eh…” jawabku sembari ngeloyor meninggalkan senyum manisnya.

Keesokan harinya, masih di sore hari, kembali aku mendatangi loketnya.
“Sore, Mbak…” ujarku tersenyum sembari mengeluarkan bertumpuk paket. Ia tampak girang.
“Sore, Mas. Nggak lupa pesananku kemarin?”
“Ada…”
“Mana?”
“Mbak selesaikan pekerjaan Mbak dulu deh… Baru nanti saya keluarkan.”
“Oke…” geligi rapinya mulai tertawa terbuka.
Setelah semua paket ia selesaikan dan kubayar total ongkos pengiriman, ia mulai menagih titipannya.
“Beres! Sekarang, mana?” tagihnya manja.
“Nggak sabaran banget sih.”
“Hehehe. Kan saya udah beres…” senyumnya mengembang.
“Iya-iya…”
Lantas kukeluarkan novel pesanannya itu, dan kusodorkan padanya. “Tuh, lengkap dengan tanda tangan kan. Ada tulisannya: ‘Buat Mahadewi, terima kasih karena sudi menulis namaku di setiap senja sembari tersenyum’. Setengah mati lho saya menghubungi pengarangnya.”
“Waaahhh…” ia tampak girang sekali. “Epitaph, Daniel Mahendra.” gumamnya membaca cover buku itu. “Makasih ya, Mas. Jadi berapa saya harus bayar?”
“Kan kemarin sudah saya sebutkan harganya.”
“Oh iya.” ia cengar-cengir sembari mengambil dompet dari balik laci meja. Tapi matanya tetap tertuju pada cover depan novel itu.
“Udah… ntar aja mbacanya di rumah.” godaku norak. Ia hanya nyengir.
“Aku kok seperti familiar dengan nama ini ya…”
“Ah, kebetulan aja kali. Nama gitu kan emang pasaran.”
“Iya sih, tapi kok seperti sering denger…”
“Namanya juga nama pasaran.” aku menerima uang yang ia sodorkan.
“Tapi,”
“Nah, udah ya, Mbak. Saya pulang dulu. Udah Maghrib nih.”
“Oh, iya deh. Makasih ya, Mas…” tukasnya seperti masih berpikir.
“Sama-sama, Mbak… Sampai besok.” ujarku nyengir dan berlalu dari loketnya.

Esoknya aku masih juga datang ke loketnya memboyong setumpuk paket. Ia masih sigap menyelesaikan paket demi paket itu. Menimbangnya, mengetiknya, menempelnya dengan bukti kiriman berwarna putih di atas sampulnya.
“Gimana? Udah mulai dibaca novelnya?” tanyaku basa-basi.
“Wih udah, Mas. Langsung saya baca semaleman. Betul-betul nggak nyangka ceritanya. Sampai nangis lho, Mas, saya.”
Aku hanya senyum-senyum saja.
“Itu kisah nyata, Mas?”
“Wah, mana saya tau, Mbak. Saya kan cuma ngirim paket.”
“Pengarangnya tinggal di Bandung ya?”
“Lha, tiap sore Mbak kan ngetik namanya di alamat pengirim.”
“Ouw?!! Oh iya ya!! Ya ampuuunnn… Jadi itu maksud dari tulisan dia: terima kasih karena sudi menulis namaku di setiap senja sembari tersenyum. Pantesan kok aku ngerasa familiar banget dengan nama itu.” ujarnya sambil matanya mencari sampul cokelat paketku yang sudah tertumpuk rapi di sampingnya.
Aku tersenyum geli.

Tapi tiba-tiba, ada yang menyapa dan mengagetkanku dari belakang:
“Cieee… Yang novelnya baru terbit. Tiap hari ngirim paket terus. Laris maniiisss…”
Aku terkesiap! Rupanya ia kawan lamaku. Aku tergeragap. Tidak tahu mesti berkata apa. Bingung antara hendak senyum atau terbata-bata mengucapkan terima kasih.
“Epitaph! Fiufh, judulnya aja udah serem gitu. Selamat ya, Dan…” ujar temanku lagi dengan artikulasi yang jelas.
“Hah?!” tiba-tiba kulihat Mahadewi, si ‘Mbak Pos’ itu, terpekik tak kalah kagetnya. Matanya terbelalak. Ia menutupi mulutnya dengan jari-jemarinya yang lentik. “Jadi?!!” pekiknya masih terkaget.
Aku ngeloyor pergi. Meninggalkan teman yang baru menyapaku tadi dengan hati masygul…

Bandung, 31 Desember 2009 | 01.58 wib

Cerita di atas hanyalah fiksi belaka, jika terdapat kesamaan nama/kejadian/peristiwa, ya salah sendiri, kenapa nyama-nyamain. Kan udah dibilang itu fiksi belaka. Hehehe.