Diposting: Sabtu, 16 Januari 2010 / 05:09:51 | Oleh: annida | Kategori: Berita Penulis
Annida-Online—Ada banyak cara seseorang memaknai sebuah kematian. Daniel Mahendra, penulis novel trilogy Epitaph, memilih menorehkan perspektifnya mengenai kematian lewat sebuah karya. Bermula dari rasa rindunya pula, DM, begitu ia biasa disapa, selalu mengingat proses kematian.
“Epitaph berbicara mengenai kematian. Tapi jauh di balik itu, makna yang ingin saya hadirkan dari sebuah kematian bukan sekadar kematian, tapi juga kehidupan, pemanusiaan, dan cinta. Epitaph mewakili itu semua, juga mewakili rasa rindu adik, kepada kakaknya yang hilang,” ungkap DM.
Novel pertama dari trilogi Epitaph ini memang diangkat dari kejadian nyata. Sang kakak, Diaz, adalah sumber inspirasi penulisnya. Novel yang penuh dengan nuansa kematian ini bertutur tentang kisah cinta Laras, mahasiswi IKJ, dan Haikal yang harus dipisahkan oleh sebuah kecelakaan helikopter. Romansa percintaan ini dikemas dalam liku misteri karena kecelakaan helikopter yang dialami oleh sang tokoh utama dalam sebuah pengambilan gambar film dokumenter di Pegunungan Sibayak, Medan, pada pertengahan 1994 lalu, ditutup-tutupi dari pemberitaan media.

“Tokoh Laras adalah kakak saya tercinta; Diaz. Ada kejadian lain yang selalu membangkitkan saya untuk menyelesaikan novel ini saat mengenang kepergian kakak saya tersebut,” jelas DM.
Menurut DM, hal yang selalu menyisakan kesedihan adalah perlakuan tak semena-mena dari petugas militer setempat yang diterima oleh keluarganya saat membawa pulang jenazah sang kakak yang ditemukan dua tahun pascakecelakaan. Tak banyak yang tahu tentang peristiwa tersebut karena salah satu syarat yang diajukan oleh petugas adalah dengan menyimpan rapat-rapat peristiwa tersebut dari media.
“Ini yang saya tuangkan pula dalam Epitaph, sehingga Epitaph juga tengah menyajikan cerita tentang kemanusiaan,” imbuh DM.
Meskipun diilhami oleh kisah nyata yang dialami oleh sang penulisnya, DM mengakui bahwa karyanya ini hanyalah sebuah novel, yang artinya tak semua bagian dalam novel ini benar nyata adanya. Ada bagian-bagian di mana ia menggunakan imajinasinya sebagai seorang penulis. “Bagian mana yang fiktif dan fakta, silahkan menilai dan membacanya sendiri,” ujar DM penuh teka-teki.
Namun yang terpenting, kombinasi antara imajinasi dan fakta yang dirasakan oleh DM sendiri telah menghadirkan Epitaph sebagai novel yang bukan sekadar humanis, tapi juga turut menggugah emosi setiap pembacanya. [nyimas]

Catatan DM: Ini wawancaranya kapan ya… Hehehe. But thanx.
Foto: Dokumentasi Lisa Febriyanti dan Enny Dyah Ratnawati.




bagaimanapun imajinasi itu tentu dikemas dengan pesan yang secara imaji memang indah dibaca…
Kombinasi antara realitas dan fiksi, itu salah satu yang membuat novel ini menarik memang….
Pembaca seakan terseret ke keadaan yang sebenarnya terjadi dengan tak meninggalkan ruang khayalnya yang imajiner…..
dan humanis? tergambar dari penulisnya…..hehehe
luar biasa!!! pokoknya luar biasa!!!
Setelah mengetahui latar belakang cerita aslinya, aku semakin mendapatkan “ruh” novel ini. Sangat tepat jika kisah nyata di balik novel ini diungkapkan. Karena, dengan demikian, imajinasi pembaca semakin bergelora, merasakan gemuruh yang luar biasa…
Sukses buatmu Dan…
Ketika ia telah menjadi novel, maka ia adalah fiksi. Tak ada yang boleh menggugatnya. Seperti Nidah Kirani, ia adalah fiksi, maka Unmuh pun tak kuasa memaksa penulisnya mengaku karena keukeuh mengatakan:INI FIKSI
dengan menuliskan ini sebagai fiksi, penulis jadi terantisipasi dari berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan akibat diangkatnya kisah kontroversial ini di hadapan publik, yang notebene sangat beresiko.
sukses, cibe!
Salam kenal. Saya banyak mendengar tentang Epitaph ini dari blog rekan-rekan yg relatif sering saya kunjungi, juga ketika bertemu dengan Bu Enny beberapa waktu yg lalu. Pertama kali dengar kata Epitaph langsung ingat bahwa dulu sekali pernah ada lagu dengan judul itu, kalau nggak salah oleh King Crimson. Lagunya sendiri seperti apa saya sudah lupa … hanya entah mengapa kata itu demikian terpatri …
Semoga sukses dengan buku / novel-nya.
Salam.
saya suka di sebagian besar bahasa tuturnya, lebih manusiawi dan mengalir lancar. bukan bagian teori film dan sejarahnya di bagian depan novel yg versiku sedikit menggangu, menggurui.Dan, dan-jreng jreng.fikom jurnalistik unisba di buku selanjutnya harus disanjung jg ya bung, he2.smoga bagian itu di epitaph ini masuk fiksi ya. sukses, kutunggu buku berikutnya, penasaran orang bijak di pantai itu,terakhir, saya masuk kategori dimasukin jd karakter ngga?
Niel..sudahkah dilihat di majalah Gatra (wartawannya wawancara kan saat itu)? Juga di PR….
Kayaknya pak Hendra mesti termasuk yang diundang Niel…aku udah bilang suami, lemparkan undanganmu ke rumah..ntar biar Minah yang mengantarkannya. Hmm teman-teman suami (beberapa dosen teater, dan juga para penulis di Bandung) ikut berminat mau datang acara di Gedung “Indonesia Menggugat”
Bu Enny, tidak perlu repot-repot … soalnya rumah saya “jauh” dan terkenal sebagai jalur macet … yg penting waktu dan tempatnya jelas saya insya Allah akan usahakan datang (kalau tempatnya saya sudah tahu karena pernah ada acara di sana). Sekali lagi terima kasih …
mas Daniel
Aku belum baca bukunya, tapi sama dengan mas Oemar Bakri, Epitaph adalah judul yang aku kenal dari lagu King Crimson long time ago. Lagu itu sangat bagus secara musikalitas dan liriknya sangat indah dan dengan dahsyat mendobrak relung hati. Lirik itu seolah ramalan keadaan dunia sekarang: betapa, apa yang ditulis oleh Peter Senfield adalah gambaran yang terjadi saat ini:
Knowledge is a deadly friend…..if no one sets the rules.
atau yang ini:
The fate of all mankind I see Is in the hands of fools.
Ketika mendengar lagu ini…sering saya meneteskan air mata……..
Apa yang nanti ditulis diatas batu nisan (Epitaph)……..(meski kita tidak punya tradisi untuk menulis sesuatu di batu nisan)…..kalau tidak ada kebaikan dan kedamaian di dunia ini.
Saya akan cari buku itu dan membacanya
Salam.
(Maaf saya membuat link untuk lagu Epitaph) –> http://www.youtube.com/watch?v=zhuG2hCJtsk