Diskusi dalam Akikah Novel “Epitaph” di Newseum Café
oleh Enny Dyah Ratnawati

Saya mendapat undangan dari FB-nya Daniel Mahendra (atau lebih dikenal dengan nama singkatan DM), penulis Epitaph sebagai berikut:

Bincang Publik:
“Fakta di balik Novel Trilogi Epitaph”
bersama Taufik Rahzen, Sihar Ramses Simatupang, dan Daniel Mahendra.
Selasa, 12 Januari 2010
19.30 wib
Newseum Indonesia
Jalan Veteran I No.31
Jakarta Pusat

Saya mengenal DM dari ngeblog, yang berkelanjutan kopdar saat Imelda pulang kampung ke Jakarta. Dari mengobrol inilah saya mengetahui bahwa DM seorang penulis, editor, dan banyak karya lainnya. DM menulis sejak masih SMP, dan tulisannya dimuat di media di kota tempatnya sekolah, di ujung timur pulau Jawa.

Tentu saja, saya berusaha untuk menghadirinya, apalagi teman-teman blogger yang lain, seperti Uda Vizon (dari Yogya), Nungki (dari Surabaya), beserta blogger Jakarta (Eka, Yoga) banyak yang hadir. Juga ketemu Koelit Ketjil, yang baru saya tahu setelah melihat dia komentar pada hasil foto acara di Newseum. Jadi ceritanya acara tersebut menjadi acara diskusi buku dan kumpul blogger dalam skala kecil, siapa yang ingin ikutan?

Saya mencoba menuliskan dari sisi pandang saya, acara di Newseum hari Selasa malam tersebut, namun ternyata konsepnya saja sudah menghabiskan 5 (lima) lembar, jadi mau tak mau harus terdiri dari dua artikel. Apalagi, yang menarik, justru acara bincang-bincang yang dipandu oleh Taufik Rahzen dan Sihar Ramses Simatupang, yang mencoba mencari fakta apa dibalik penulisan novel ini.

Taufik mengawali dengan menanyakan latar belakang mengapa DM menulis novel ini, setelah sepuluh tahun berlalu. DM menjawab bahwa pada saat kejadian, umur DM baru sekitar 18 tahun menjelang 19 tahun, masih sangat muda, emosinya juga belum tertata. Media saat itu tak bisa mempublish secara terbuka, bagaimana kejadian yang sebenarnya. Dia merasakan kesedihan, ada rasa ingin memberontak, saat melihat kerangka kakaknya yang hanya dimasukkan dalam tas kecil hitam, di dalam kabin pesawat, seolah-olah hanya sebuah barang, tak boleh disemayamkan di IKJ dan harus langsung dibawa pulang ke rumah duka untuk dimakamkan. DM berjanji pada diri sendiri, suatu ketika ingin dituliskan.

Mengapa 10 tahun kemudian? Karena memerlukan pengendapan, dan riset, karena DM tak mengenal dekat bagaimana kampus IKJ, bagaimana kota Medan, walau saat kecil pernah tinggal di sana. Dia mulai mengumpulkan semua tulisan yang berkaitan dengan kejadian tersebut dan menyimpannya. Mengapa akhirnya menuliskannya? Karena ingin mengungkapkan sesuatu yang dulunya pernah di coba untuk ditutupi, hal yang sangat biasa terjadi dimasa lalu. menimbulkan berbagai pertanyaan yang tak kunjung ada jawaban.

Sihar mengungkapkan, bahwa inilah sebuah pembocoran paling kuat yang terjadi dalam suatu karya sastra. Dalam jurnalisme, pengungkapan sering tak bertahan lama, karena kemudian tertutup oleh berita lainnya yang lebih layak menjadi berita. Kekuatan buku sastra, adalah bisa menuliskan sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan kejadian atau sejarah yang ada pada saat itu. Di dalam karya sastra, kekuatan emosi sulit dilepaskan. Jika Martin Aleyda mengatakan, bahwa dahulu, dalam setiap novel mengandung unsur sejarah, menggambarkan bagaimana situasi pada saat itu, pada saat ini novel sastra seperti ini bisa dikemas dari kisah nyata.

Dalam novel sastra, penulis bisa menyalurkan emosi yang membetot perasaan, tak sekedar nama, dan di novel ini DM bisa menahan suspense sampai akhir cerita. Seringkali seorang novelis tak bisa menahan diri, misalnya dengan memperpanjang atau mengeksplore cerita Laras, sampai panjang sekali. Namun DM justru menceritakan kembali ke cerita masa lalu Haikal-Laras sehingga mampu menahan pembaca tetap membaca sampai akhir cerita. DM mampu menahan emosi, walau novel ini seperti mosaik kejadian-kejadian, namun DM berani membawa cerita dengan setiap kali membalik dari depan kebelakang dan balik lagi ke depan, tanpa kehilangan arah. Bagaimana Haikal bisa tahu cerita Laras yang merangkak di bawah helikopter, Sihar sempat bertanya melalui chatting, menanyakan apakah tokoh Langi adalah gambaran dari seorang Daniel? Kemampuan membuat suspense Daniel, membuat pembaca mau membaca sampai akhir.

Berbagai pertanyaan yang muncul saya rangkum seperti di bawah ini, mohon maaf jika tak bisa menuliskannya satu per satu, karena terkadang saya lupa menulis, karena sibuk mengambil foto, atau larut mendengarkan pembicaraan. Namun semoga tulisan ini tetap masih dapat menggambarkan apa yang terjadi pada diskusi akikah novel Epitapth di Newseum Café, Selasa Malam tanggal 12 Januari 2009.

Titi dari Tangerang, menanyakan karena peristiwa ini ada kaitan dengan kakak penulis, mengapa ditulis sebagai novel dan bukan non fiksi. Lisa, yang baru menyelesaikan membaca novel Selasa pagi, menanyakan tentang benda yang ditemukan di dekat kerangka…yang kemudian benda tsb diserahkan kembali pada DM, sebelumnya selama pembacaan monolog rupanya dipakai oleh Lisa. Lisa juga mengatakan bahwa novel ini menyuguhkan hal-hal lain, ada rasa-rasa lain, rasa manis, yang terhanyut pada kisah cinta Laras dan Haikal. Mengapa Daniel menulis yang menjadi korban adalah Laras Sarasvati, tokohnya seorang cewek, padahal kisah aslinya seorang cowok? Apakah ada pertimbangan tertentu?

Fani Poyk (putri Gerson Poyk) menanyakan, jika ada keterikatan, biasanya unsur subyektivitas dan obyektivitas sangat mempengaruhi penulisan. Apa unsur subyektivitas dan obyektivitas dalam novel ini telah sesuai dengan kondisi saat itu? Apa behind the scene, dibelakang kejadian itu? Karena efeknya bisa luas.

Tria Arifin, mengucapkan selamat, mengatakan belum membaca buku tersebut. Kenapa pengungkapan tak dilakukan secara fair saja, misalkan tulisan dengan judul “in memoriam hilangnya pesawat”. Kisah yang dibuat dalam bentuk in memoriam ini contohnya banyak, seperti Sum Kuning, dan di Padang pernah ada kisah kapal yang hilang. Mungkin juga dalam epitaph ini Daniel dekat dengan korban, sehingga punya kemampuan dan keinginan untuk menulis serta mengungkapkan fakta yang ada, sehingga berguna bagi masa yang akan datang.

Hardi Vizon mengatakan mendapat surprise dalam dua hal: a) Kenyataan bahwa tokoh Laras terinspirasi dari kakak kandungnya DM. b) Hardi Vizon mulai merasakan ada unsur spiritualitas. Perjalanan dari Yogya ke Jakarta, Hardi Vizon mengulang lagi membaca novel Epitaph. Pas di udara, saat baca episode pesawat meledak…saat itu pula pesawat yang di tumpanginya melalui turbulensi dan terjadi lonjakan-lonjakan. Buku langsung ditutup, ternyata Lisa juga mengalami hal yang sama. Dan saat diminta membaca doa, setelah tahu bahwa novel ini mendapat inspirasi dari kakaknya Daniel, Hardi Vizon merasakan nyaris tak sanggup lagi membacakan doa. Buku ini menambah pengetahuan Hardi Vizon, banyak yang kemudian menempel di otak , ada permenungan-permenungan dari masing-masing kisah, yang banyak memberikan pembelajaran. Para penggiat pena, telah mengajarkan pada manusia dalam banyak hal, melalui penanya.

Nungki merasakan kesedihan si penulis dari awal sampai akhir saat membaca novel ini. Ada rasa kesedihan penulis saat menggoreskan penanya. Ada beban penulis, konflik yang terjadi…Nungki memang mengenal keluarga DM dari dekat, karena pernah menjadi tetangganya saat tinggal di kota kecil di ujung timur pulau Jawa. Bagaimana tanggapan keluarga saat novel epitaph di buat?

Lia Christie menanyakan apakah ada kemungkinan nanti novel ini bakal difilmkan? Kenapa trilogi? Kenapa tak diselesaikan dalam satu buku?

Ada endorsement Sihar tentang hegemoni Negara pada novel ini. Sandika dari majalah Gatra, mengungkapkan pendapat Sihar yang mengemukakan bahwa Epitaph adalah tentang sebuah cerita yang berbingkai. Yang membutuhkan waktu untuk menelaahnya. Bagaimana perasaan DM setelah menuliskannya, apa ada rasa “plong”, rasa bahagia setelah menuliskannya?

Penanya dari Bandung (?), mengatakan bahwa saat Laskar Pelangi “booming”, dia menanyakan kepada DM, kenapa DM hanya selalu ingin di balik layar, kenapa tak menulis novel sendiri? a). Jika dia dalam posisi DM, akan menulis novel karena ada ceruk yang lebih banyak dibanding jika karya non fiksi. b) Kenapa Trilogi? Karena jika yang pertama tak sukses, ada risiko akan sulit memasarkan buku ke 2 dan selanjutnya.

Karena pertanyaan sudah banyak, dan buku yang dihadiahkan pada penanya juga sudah habis, panitia memutuskan menghentikan pertanyaan. Sihar mengemukakan bahasa yang digunakan DM cair, enak dibaca dan perlu….ini istilah yang tepat jika digunakan untuk mengomentari novel ini. Dibalik suspense, antar peristiwa yang dirangkum dalam novel ini, memperlihatkan sampai dimana kedalaman DM dalam membangun suspense dan untuk ini diperlukan suatu kontemplasi.

DM memberikan jawaban secara garis besar atas semua pertanyaan, karena sulit jika dijawab satu per satu, apalagi banyak pertanyaan yang senada. Pertanyaan dapat dikategorikan dalam beberapa hal.

a). Kenapa novel? Puluhan media, saat itu sudah menulis. Namun siapa yang masih ingat? Pram juga menulis sebuah novel, dan mengapa kok menulis novel? Kenapa bukan sejarah? Jika sejarah, siapa yang mau baca? Novel, usia berapapun bisa mengkonsumsi novel, dapat disimpan dan dikenang sampai kapanpun. Tulisan jurnalis akan terlupakan karena tertumpuk oleh berita-berita baru yang lebih layak untuk diberitakan.

b) Mengapa nama tokohnya Laras? Ini dimaksudkan agar tak lebay…istilah anak muda sekarang. Bukan merupakan cerita asli, namun dikembangkan menjadi sesuatu yang baru. Justru karena bukan orang lain, DM dapat merasakan emosi yang ada. Bayangkan mendapatkan kehilangan yang tak jelas, kalau mati, matinya dimana, caranya bagaimana, emosi ini yang diusahakan untuk dapat ditangkap. Bagaimana perasaan ayah, ibu, yang ditonjolkan ada rasa kehilangan, bukan subyektivitasnya. Pembaca diajak untuk membayangkan bagaimana kejadian ini menimpa keluarganya.

c). Mengapa trilogi? Pada tahun 2007 ditemukan lagi puing-puing helikopter, dan masih ditemukan tulang-tulang berserakan. Pada tahun 1996, ditemukan dot tag, dan pada tahun 2007 selain tulang belulang, masih ditemukan lempengan (DM menunjukkan lempengan yang tadi digunakan sebagai kalung oleh Lisa saat pembacaan monolog). Siapa yang menjamin bahwa tulang belulang yang ada, adalah milik kakak DM, dan bukan milik pak Burhan Piliang (salah satu korban). Dan kenapa trilogi, karena ingin menggali emosi yang ada. Bagaimana emosi keluarga pak Burhan alm, kel Temmy alm, dan keluarga DM sendiri. Novel ini bukan berniat mendobrak atau menuju agar dicapai tatanan baru, hanya menceritakan apa yang terjadi, apa yang ada dan apa yang menjadi kenyataan. DM memerlukan riset, karena sejak tahun 1979 telah meninggalkan Medan. Pada saat itu, komunikasi hanya bisa lewat telepon rumah karena belum ada Hape. Sejak kejadian mulai mengumpulkan semua media yang menuliskan artikel berkaitan dengan kejadian tsb, serta mencoba membayangkan dan merangkaikannya.

d). Menjawab pertanyaan, apa daya tarik pasar bagi novel ini? Hal ini tentunya sulit dijawab oleh DM sendiri. Sebelum ditelepon Kaki Langit Kencana, DM mendapat desakan dari berbagai pihak, agar menuliskan cerita tersebut dalam bentuk kisah nyata. Karena kebenaran sesulit apapun, jika bisa kita ungkap, kenapa tidak dilempar keluar?

Taufik Rahzen menutup diskusi pada pukul 21.35 wib dengan memberikan tanggapan, bahwa “DM adalah seorang penulis yang berbakat. Mengingatkan nya pada Pram saat awal-awal menulis, walau pada akhirnya DM telah bisa terlepas dari pengaruh itu. Dan karena tahu masalahnya, saya sekarang menunggu buku ke-2…, “kata Taufik sambil menutup acara dikusi.

Catatan Enny Dyah Ratnawati: Mohon maaf jika masih ada kekurangan, saya mencoba menuliskannya diskusi yang terjadi pada malam itu.

Catatan DM: Catatan ini dimuat di blog Penganyam Kata tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dan lengkap dari catatan ini tetap mesti dilihat di blog Ibu Enny Diah Ratnawati.

Ribuan terima kasih Bu Enny, atas catatannya yang lengkap dan kronologis.

________________
Foto: Dokumentasi Enny Dyah Ratnawati, Nike Rifa Sofania, dan Lisa Febriyanti.