EPITAPH; Kejujuran yang Tanggung

oleh Cok Sawitri*

Membaca novel Epitaph, karya Daniel Mahendra, terbitan Kaki Langit Kencana, November 2009, adalah pembacaan fragmen-fragmen yang diutuhkan menjadi kesatuan kisah. Fragmen terbesar adalah kisah Laras Sarasvati, mahasiswi IKJ yang hilang saat melakukan shouting film dokumenter di Gunung Sibayak, Medan. Fragmen kedua adalah Kisah Haikal, kekasih Laras, yang menjadi ‘pencerita’ mengenai tokoh-tokoh yang ikut hilang dalam musibah yang dialami Laras dan menjadi ‘penganalisa’ adanya kejanggalan dalam pencarian korban dalam musibah itu. Fragmen lain, adalah tokoh Langi, teman Haikal yang difungsikan sebagai penulis dari kejadian musibah helikopter itu.

Kecanggungan sejak awal telah alamiah terjadi pada Daniel Mahendra ketika menuliskan kisah yang realitas memang terjadi, penyebutan IKJ, instansi militer di Medan, kutipan berbagai berita Koran, serta ‘rasa takut’ yang menyertai apabila menggunakan ‘dugaan’ haikal dan Yudin, salah satu crew film yang dipimpin Birhi, bahwa ada pihak yang hendak menutupi soal sewa menyewa helicopter itu untuk kepentingan komersial membuat Daniel terhenti pada gaya tutur yang canggung, ragu untuk membiarkan diri secara utuh menuliskan apa, siapa dalam proses sublimasi. Pilihan lain sebenarnya, memfiksikan secara total keseluruhan, hingga menjadi karya total yang justru dengan kliping detail akan menghadirkan runutan kisah yang menggetarkan hati.

Kecanggungan kedua, gemuruh tekanan yang dialami haikal kehilangan kekasihnya, mewakili kegumuruh duka seluruh keluarga yang juga kehilangan ayah, adik mereka, tidak terungkap, hampir tidak terasa, menjadi barisan dialog; andai Daniel sabar mengeksploarasi, memasuki posisi haikal disaat menanti kepastian ketemu ataukah tidak Laras, atau ketika rasa kehilangan yang membuat Haikal dalam fase menunggu, hingga TPI menyiarkan adanya penemuan kerangka pesawat itu; akan memberi tanjakan, detak dalam novel ini, sayangnya, Daniel memilih jalan datar, jalan beku, kaku seperti judul novelnya: Tulisan di nisan (Epitahp), yang jelas terkecoh dengan cover novel yang menggunakan simbol jalan dalam temaram, mengesankan seakan ada misteri di ujungnya.

Dari awal cerita telah jelas, tidak ada yang berkelok-kelok seperti memasuki misteri. Daniel, hanyut dengan pengetahuan informasinya, telah memastikan dugaannya sebagai realitas sehingga ketika hendak menempatkannya sebagai prosesi misteri, menjadi tanggung dan canggung. Berawal dari tumpukan catatan yang diberikan Haikal, lalu pembangunan tokoh Laras yang berpuluh-puluh halaman diberi porsi mengenai ‘kegilaannya’ akan film, menjadi pemicu gadis itu memilih IKJ, kemudian ingatan masa kecil Laras akan kota masa kecilnya, melompat sesekali kepada fungsi Langi sebagai penutur, yang sejak awal telah tahu kisah utuhnya, tidak masuk dalam proses pencarian pengungkapan misteri, ‘penyebab musibah itu, mengapa militer menutup-nutupi ikutnya crew film itu’ dijelaskan dalam verbal; mengaburkan posisi Langi dan Haikal, ada kejanggalan yang canggung dalam proses penuturannya. Kisah yang datar, militer tidak akan mengakui kalau ada crew film dalam pesawat itu sejak awal tidak menjanjikan akan menjadi bahan perenungan bagi pembaca, bahwa Daniel akan membawa pada kisah pengungkapan, minimal ketegangan pengungkapan ‘misteri’ yang menjadi sebab adanya ‘tidak tahu menahunya pemilik pesawat ada penumpang dalam musibah itu’. Sebab alasannya, akhirnya: tidak ada misteri, sudah jelas: penyewaan helikopter untuk kegiatan komersial akan menimbulkan masalah dalam prosedur tata krama kemiliteran. Begitu pula ketika Haikal ketemu Yadin membahas potret bukti: kisah misteri tidak sampai kegelisahan Yudin yang merasa dikuntit, plotnya menjadi lemah pada bagian ini. Kedataran alur, tidak membawa pembacaan untuk berpikir, yang ada dalam fragmen yang telah disusun, datar, tanpa tanjakan, yang ada adalah kerepotan untuk memberi tempat kepada berbagai tokoh dalam percakapan yang tidak mengesankan arah kegalauan, kerisauan, tekanan rasa kehilangan, kehampaan, rasa kalah ketika menghadapi orang-orang yang tercinta. Judul Epitaph: harfiah, tulisan pada Nisan, hanya muncul menjelang akhir, rasa gigir, penuh tanya dalam narator (Langi) ketika berada di depan nisan Laras Sarasvati, memperhatikan dompet milik gadis itu, tidak memberi tanjakan baru, menjadi luncuran kedataran, tidak menyentak, tanpa kejutan.

Kejujuran yang tanggung, sebenarnya mulai nampak ketika muncul nama ‘Karin Nugraha’, pembantu Rektor III tiga IKJ, dalam footnote, jelas IKJ yang dimaksud adalah Institute Kesenian Jakarta-artinya, siapapun tahu siapa “Karin nugraha itu’, bandingkan kemudian dengan hal 192 : Kompas misalnya, pada 26 Agustus 1994 menurunkan berita bahwa Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat Brigjen TNI A.T mengakui, sejak senin lalu (22/08) TNI AD telah ‘kehilangan’ satu peswat helicopter. Peswat HS 7060….dst”- yang tidak menjelaskan adanya tiga orang crew yang menumpang dalam pesawat itu. Secara konsisten kutipan-kutipan Koran yang disusun Daniel memaparkan ‘kekonsistenan’ sikap dari pihak pemilik pesawat bahwa tidak ada penumpang dalam pesawat yang hilang, namun beberapa Koran dengan bijak pula menyatakan, bersamaan dengan itu, tiga orang crew film telah hilang di pegunungan sibayak, yang kelak ketika Haikal ketemu Yudin; yang sempat memotret teman-temannya sebelum berangkat, menjadi pemilik barang bukti, yang telah dicetak dan sepanjang proses pencarian oleh Tim gabungan setelah pencarian resmi dihentikan, menyembunyikan potret itu (bukti crew itu adalah penumpang heli) dan potret itu tetap tak berfungsi menjelaskan apapun ketika ketiga kerangka itu ditemukan: hal 305, “dari harian pembaharuan yang terbit 2 April 1996 dapat diikuti sebuah berita bahwa:….dst”

Fragmen yang tersusun dalam Novel Epitaph; penyusunan ulang kliping yang tanggung, walau menghadirkan figur-figur yang terlibat secara emosional dalam kisah nyatanya, namun Daniel tanggung membawa ke wilayah proses pencarian kebenaran, dalam kerangka sastra sebagai proses pengungkapan kebenaran sekalipun diungkapkan secara imaji. Kejujuran pada perasaan ‘bersalah’, tak berdaya, tak puas, terhadap bias informasi apakah crew itu diakui ataukah tidak diakui ada dalam pesawat itu, kemudian kliping yang lain toh mengakui akan adanya data pribadi dari dompet; termuat dalam epilog yang hampir mubazir. Agaknya, peran editor dan teman diskusi yang ‘tega’ diperlukan Daniel disaat proses finishing novel ini, namun tidak dilakukan, nyaris terlupakan.

Namun novel sepanjang 358 halaman, dengan 66 catatan kaki ini, sebenarnya menjanjikan menjadi novel yang luar biasa, sebab menggunakan informasi dari fakta jurnalistik, tetap dapat menjadi bahan bandingan bacaan yang mengugah. Selayaknya, dibaca untuk kemudian menemukan tantangan, bagaimana bila kelak menuliskan ‘masa lampau’ ke dalam kekinian dengan memakai penutur, tokoh yang difungsikan sebagai narator ‘masa lampau’ itu. Bahwa fiksi sesungguhnya adalah ‘kisah nyata’ yang diproses oleh kreatornya, bukanlah imaji yang kosong tanpa fakta.

_____________

Cok Sawitri bernama lengkap Cokorda Sawitri, tinggal di Denpasar, Bali. Selain aktivis teater, Cok juga menulis artikel, puisi, cerita pendek serta aktif dalam berbagai aktivitas sosial budaya. Selain Janda dari Jirah, novel teranyarnya adalah Sutasoma.

Foto: Dokumentasi Cok Sawatri / fb.

Catatan DM: Mbok Cok, matur suksma. Inilah dedahan paling detail dan rinci atas Epitaph. Ribuan terima kasih, Mbok. Segala penilaian tetap merupakan masukan yang berharga bagiku. Bersaluir aku…

This entry was posted in Epitaph Review. Bookmark the permalink.

10 Responses to EPITAPH; Kejujuran yang Tanggung

  1. mantan kyai says:

    waduh… lha kok diomeli sampean mas.. :D

  2. senoaji says:

    wedew.. dadi luweh penasaran!

  3. edratna says:

    Menurutku kritik ini justru akan menggugah DM dalam menyiapkan novel selanjutnya. Bukankah suatu karya sastra memang membutuhkan kritik, agar pengarang akan bisa terus mengarang dengan lebih baik.,dan lebih baik lagi?
    Semangat Niel….karyamu yang lain ditunggu

  4. Ria says:

    mas…mempunyai seseorang yang bisa mengkriik kita juga penting loh biat kita tetep napak di bumi :D Semoga kritiknya bisa membangun dan membuat dirimu tambah semangat menulis ;)

    DM: Betul, Ri. Ini memang yang kutunggu-tunggu. Apalagi dari praktisinya langsung. Menulis memang soal keberanian. Berani dipuji juga mesti berani dikritik. Namun tetap, semua apresasi tersebut sudah di luar teritoriku. Sudah menjadi hak pembaca, kritikus sastra, atau siapa pun itu. Makasih, Ri…

  5. vizon says:

    Dan… kau mendapatkan asupan vitamin yang luar biasa. Ini sungguh sangat penting. Bagaikan sebuah masakan yang dinilai oleh koki ternama, novelmu mendapatkan itu sekarang…

    Sebagaimana keyakinan beliau, akupun yakin, novelmu akan menjadi dahsyat setelah ini… Semangat terus saudaraku :)

  6. Larasati says:

    Membaca yang ini, bikin manggut-manggut… dan makin yakinlah aku, berkomentar atau menanggapi tulisanpun harus dengan jujur.
    apakah tanggapan yang ada akan menjadi sebuah masukan atau tidak, semata pilihan :)

    Ayo, bersemangat menuliskan Epigraf… :)

  7. De-eN says:

    Reviewnya lebih cenderung ke arah kritikan ya…..
    tapi selain puja puji buat novel mas, yang begini ini memang perlu untuk kematangan mas dalam menulis dan mungkin bisa jadi menjadi suatu pemikiran yang membangun.

    Mas De-eM, sepertinya benar jika temen diskusi sangat diperlukan dalam finishing naskah mas ( terutama selanjutnya), sesering mungkin, dan terutama pada ahlinya. Pasti naskah mas kian yahud.Sering-sering tuh diskusi ma mas Din juga, sambil makan nasi goreng pas dini hari juga oke,,,,hehehe

  8. De-eN says:

    @ Larasati : Kejujuran itu memang perlu Ra…..

  9. mas melo says:

    ulasan ini menarik sekali, mbak cok. dan sangat persuasif sehingga saya manggut-manggut untuk hampir semuanya.

    membaca epitaph memang tak seperti membaca karya-karya john grisham yang “berani” menempatkan tokoh-tokoh penting sebagai culprit. bisa jadi karena pengaruh liberalisme di negaranya yang memungkinkan itu bisa terjadi, sehingga presiden pun bisa saja menjadi pesakitan dalam sebuah fiksi. menurut hemat saya, penulis epitaph masih “terbelenggu” untuk menulis secara gamblang mengenai carut-marut negeri ini. padahal bila penulis lebih berani, semua fakta yang dipaparkan akan lebih engaging bagi pembaca.

    well done! semoga buku-buku berikutnya bisa lebih tuntas dan tidak nanggung lagi!

  10. Larasati says:

    @ De-En: salam kenal, Ibu… :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>