Kepada Ersis Warmansyah Abbas

Aku yakin sebelum ada media bernama blog, Pak Ersis Warmansyah Abbas sudah menjadi penulis dengan banyak buku. Tetapi dosen di FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin yang sedang mengambil program doktor di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung ini memang kukenal melalui blog.

Sejak kali pertama (kira-kira tahun 2008) berkunjung ke blognya, aku sudah bisa menduga: tulisan-tulisan Pak EWA, begitu biasa ia disapa, selalu punya kans untuk terbit sebagai buku. Dan ketika ia mulai rajin mengirimiku buku-buku karyanya (sudah enam buku yang kuterima), tak syak lagi: tulisan-tulisan di dalam buku tersebut memang banyak yang berupa materi dari blog-nya (www.webersis.com)

Apakah Pak EWA menulis blog untuk bisa diterbitkan sebagai buku, atau menulis buku yang untuk sementara di-share melalui blog terlebih dahulu, sudah tak penting lagi. Karena prinsip Pak EWA sudah jelas: menulis, menulis, dan menulis!

Sulit dibantah, Pak EWA memang motivator penulisan yang tangguh. Begitu banyak kutemui penulis maupun orang penerbitan di Indonesia ini, tapi belum pernah kujumpai seseorang yang tanpa lelah mendengungkan untuk terus menulis, menulis, dan menulis pada orang lain. Bahkan, di status-status facebook-nya, tak jarang kujumpai ia sekadar menuliskan satu kalimat: Selamat malam jama’ah fesbukiyah. Menulis apa malam ini? Setiap hari!

Maka meski tulisan-tulisan di blog-nya kerap tak taat pakem bahasa maupun tanda baca, hal itu tetap sulit untuk menggugurkan kenyataan bahwa Pak EWA memang seorang motivator penulisan yang dapat menggedor hasrat banyak orang untuk bergerak menulis.

Kemarin pagi (22 Januari 2010) datang dua pucuk bukunya ke alamatku: Menulis Tanpa Berguru dan Menulis Membangun Peradaban. Keduanya terbitan Penerbit Gama Media, Jogjakarta. Baru malam tadi tersempat membuka kedua buku tersebut. Dan isinya? Ya, seperti sudah kuduga: tulisan-tulisan yang pernah ia posting di blog-nya. Namun ada yang menarik!

Pada buku Menulis Tanpa Berguru, di halaman penghargaan ia menyebutkan bahwa buku ini memang produk blog. Di sana ia mencantumkan 34 nama blogger lengkap beserta url-nya. Asyiknya lagi, tulisan-tulisan di dalamnya merupakan jawaban dari apa yang ditanyakan para blogger untuk kemudian dikembangkan menjadi satu tulisan yang padat berisi.

Buku menulis tanpa berguru, setitel pampangan www.webersis.com, bermula dari postingan tulisan Mengapa Menulis? 1 Januari 2009. Tulisan tersebut dikomentari teman-teman blogger. Dari komentar tersebut ditulis tulisan tentang menulis sesuai muatan komentar. Dikomentari lagi, ditulis lagi. Tanpa dikira terkumpul sekitar 40 tulisan, dan jadilah buku ini.

Sudah barang tentu nama-nama seperti Imelda Coutrier Miyashita, Sawali Tuhusetya, Enny Dyah Ratnawati, Hemma Yulfi, Donny Verdian, Yari NK, atau Kristanti Parisihni, berseliweran di dalamnya (Hei, kalian mesti punya bukunya. Siapa tahu ada nama kalian juga toh?). Lucunya, ketika aku baru saja menuliskan beberapa nama di atas dalam tulisan ini, aku baru ngeh, di halaman 93 ternyata ada juga namaku dibahas. Hehe.

Di sana Pak EWA menulis: …Begitu penggalan komentar Daniel Mahendra. Maknanya dalam. Sahabat dunia maya satu ini, sungguh saya gemari tulisannya. Saya pengunjung tetap www.danielmahendra.com (sekarang penganyamkata.net). Eih, bolehlah GR barang sedikit. Dalam skala kecil tak dosa-dosa amat toh? Huehehe.

Apa yang hendak kusampaikan dalam tulisan ini? Tak diragukan lagi: Pak EWA memang motivator penulisan yang jempolan. Terlepas ada tidaknya namaku di sana, tak menggugurkanku untuk mengakui hal tersebut. Aku membayangkan: sepertinya yang ada dalam pikiran Pak EWA tak lepas dari bagaimana memotivasi orang untuk terus menulis. Tak henti-hentinya. Tak ada letihnya. Apa saja bisa jadi tulisan olehnya. Bahkan komentar dari pada blogger atas tulisannya pun menjelma tulisan tersendiri. Terbit sebagai buku pula. Sudah puluhan buku tercatat.

Semula, ditargetkan pada akhir Januari 2009 menjadi buku dengan satu postingan setiap hari. Rupanya, pengunjung www.webersis.com semakin membanjir, sehingga semakin bersemangat menulis. Dalam dua minggu materi buku dianggap cukup. Tulisan dipilah sesuai kelompok, disiapkan sampulnya sampai daftar isi, dan jadilah. Menulis buku sangat mudah. Buku ini buktinya.

Memang, tak ada aturan tertulis bahwa menjadi seorang blogger yang menulis di blog, tulisannya mesti terbit sebagai buku. Tetapi bagi individu yang memang berhasrat ingin menjadi penulis, produktif pula, rasanya tak salah jika kuanjurkan mengikuti tulisan-tulisan Pak EWA baik di blog-nya maupun di facebook. EWT (Ersis Writing Teory) memang cespleng! Tak percaya? Coba saja…

23 Januari 2010 | 02.40 wib