Jiwa yang tersiksa, itulah neraka. Jiwa yang bahagia, itulah surga
[Cok Sawitri, Sutasoma]

Sudah lama tak berkunjung ke Bandung. Sekali ada kesempatan ke Bandung yang pertama-tama dituju malah sebuah warung kopi di Jalan Alketeri dekat Kantor Pos Besar Asia Afrika. Turun dari kereta langsung melesat ke sana. Jaraknya tak begitu jauh dari stasiun kota.

Hari masih jam tujuh pagi. Seperti kebanyakan kota, pagi selalu ramai sebagai permulaan hari. Orang-orang berkendara menuju tempat kerja. Pedagang membuka tokonya. Dan anak-anak berangkat ke sekolah. Mobil, motor, bus, angkot, dan sepeda saling berebut tempat. Semua memiliki satu tujuan: rutinitas! Maka ketika aku melihat diriku, aku jadi geli sendiri. Seorang lelaki dengan ransel di punggung. Menyibak pagi mencari secangkir kopi. Apa yang hendak dicari?

Kumasuki warung kopi itu. Warung Kopi Purnama namanya. Berada di deretan bangunan tua. Dulu, ketika Jalan Asia Afrika masih terkenal sebagai De Groote Postweg atau Jalan Raya Pos, jalur itu memang digunakan sebagai pembatas antara daerah inlander di selatan dengan irlander di utara. Itulah mengapa, hingga kini kalau diperhatikan betul, bangunan-bangunan di selatan Jalan Asia Afrika di kota Bandung akan tampak sangat pribumi sekali. Sementara di bagian utara masih begitu banyak gedung-gedung perkantoran atau hunian bercorak Eropa peninggalan pemerintah Hindia Belanda.

Lalu siapa di tengah-tengahnya? Pemerintah Hindia Belanda sengaja menempatkan hunian Cina di sepanjang Jalan Raya Pos. Mengapa Cina? Karena bangsa Cina-lah yang bisa dengan luwes berhubungan baik dengan pribumi di selatan maupun dengan Eropa di utara. Maka tak aneh bila sepanjang Jalan Raya Pos terkenal sebagai tempat bertemunya bisnis dan perdagangan. Hingga kini.

Warung Kopi Purnama berada di sana. Bangunannya tua. Arsitekturnya biasa saja. Tapi interiornya cukup menarik. Dengan hiasan-hiasan dinding khas Cina serta lampu gantung kuno, membuat kesan zaman dulu masih terasa di dalamnya. Ruangannya tak begitu besar, tapi hangat. Meja-meja kayu berdiri di berbagai jarak, dipeluk kursi berwarna cokelat. Lampu warung masih menyala pada jam tujuh pagi. Menambah suasana akrab bagi pengunjung.

Aku menebar pandang. Mengangguk pada beberapa tamu. Mereka membalas dengan senyuman. Orang-orang di sini terlihat begitu akrab. Yang awalnya tak saling kenal, namun karena rutin meluangkan waktu sarapan pagi di warung ini, menjadi mudah dikenali. Lihatlah, di meja pojok sana empat bapak keturunan Cina sedang asyik berdiam-diam sembari menyeruput teh hangat. Usianya ada kalau kutaksir delapan puluhan. Meraka pelanggan tetap di sini. Setiap pagi dengan pakaian tersetrika, rambut tersisir rapi, dan bersepatu kulit. Tampak sedap dipandang.

Di meja sebelahnya, masih keturunan Cina, lima orang lelaki tampak sedang berkelakar. Sebagian mengisap rokok. Di meja mereka tersaji bubur ayam, bihun goreng, dan roti bermentega. Ditemani cangkir-cangkir kopi dengan harum semerbak. Percakapan mereka menggunakan Bahasa Sunda. Bahasa Sunda para keturuan Cina di Bandung memang halus-halus. Nu Lemes, kata orang Sunda (kromo dalam Bahasa Jawa). Maklum, nenek moyang mereka sudah berabad-abad tinggal di Tatar Parahyangan. Bagiku sudah sulit untuk dibedakan mereka Cina atau bukan. Karena itu tak penting. Di mataku mereka layaknya pribumi pada umumnya. Menggunakan Bahasa Sunda yang halus dan bergaul secara egaliter.

Di meja tengah tampak sejoli muda lelaki dan perempuan. Dari pakaiannya sepertinya baru pulang olahraga pagi. Bahasa tubuh mereka tampak mesra. Sembari menyeruput kopi susu, tangan si lelaki sudah siap menyendok mangkuk kembang tahu. Sementara si perempuan mengunyah ketan hangat mengepul. Tak jauh dari sana kulihat seorang lelaki melipat koran. Menyantap telur setengah matang, meneguk teh tubruk dan beringsut pergi ke kasir. Dari cara jalan dan pakaiannya, mudah ditebak: rasanya ia mesti segera bergegas ke tempat kerja. Hal seperti itu hampir dapat ditemui di Warung Kopi Purnama setiap pagi.

Aku mengambil tempat di sebuah meja bulat dilapisi marmer putih yang memojok dekat dinding ruangan. Tempat paling strategis untuk melihat ke seluruh isi warung. Berbagai aktivitas, berbagai tamu, dan berbagai pesanan, dapat kutangkap dari mejaku. Seorang perempuan muda mendatangi mejaku. Menyodorkan daftar menu. Aku memesan kopi hitam dan roti dengan selai srikaya kesukaanku. Kukeluarkan bungkus rokok dan selembar koran pagi. Tapi tak segera kubaca. Sajak pagi di depan mataku terlalu sayang untuk kulewatkan dengan membaca koran terburu-buru. Aku sedang menikmati sajak pagiku.

Kubakar sebatang rokok. Tak lama pesanan pun datang mengepul. Seperti kucing yang mendapat binatang buruan, aku menggeram demi menghadapi menu sarapan kali ini. Aroma pahit kopi dan manisnya selai srikaya di atas roti menimbulkan kesedapan tersendiri. Aku merokok lagi…

Jarum panjang pada jam di dinding makin bergeser. Matahari mulai tak lagi malu-malu unjuk kebolehan. Orang datang silih berganti. Kalau aku tergoda membaca salah sebuah berita di koran, begitu selesai, orang di meja tertentu sudah ganti pemain. Begitu membaca lagi, lantas kemudian mendongak lagi, di meja lain sudah beda lagi yang menempati. Terus seperti itu. Seperti tak ada yang berlama-lama di warung ini. Mereka sekadar sarapan, bertemu teman, dan pergi ke tempat rutinitas. Terus seperti itu. Hanya orang sableng seperti aku yang (tak tahu diri) berlama-lama tanpa aktivitas yang berarti di warung ini.

Apa sebetulnya yang sedang kulakukan? Aku menunggu seseorang. Ya, seseorang. Pukul tujuh ia janji menemuiku di sini. Di warung kopi ini. Tapi jarum panjang sudah bergeser makin menukik, tak kunjung jua ia datang. Aku masih sabar menanti. Meja sudah gonta-ganti pemain berkali-kali. Makanan sudah keluar masuk tanpa henti. Orang yang kutunggu tak juga datang.

Sudah beberapa orang pamit padaku. “Yuk, duluan.” tukas mereka sembari tersenyum ramah. Aku hanya menganggukan kepala. Meski kami tak saling kenal, namun beginilah keakraban di warung kopi ini. Guyub dan bersahabat. Membuat orang kerasan untuk mampir dan mampir lagi ke mari. Kubaca lagi koranku. Headline-headline-nya sungguh memuakkan. Orang masih saja ribut soal politik, dan uang, dan kekuasaan. Semua masih sibuk soal bagaimana membuat hidup menjadi lebih baik lagi dengan segala macam ragam versinya. Tipikal manusia dalam seribu tahun terakhir ini.

Hari mulai menginjak pukul sembilan. Matahari mulai terasa hangat menyelinap kisi-kisi warung. Seperti angin yang kedatangannya mengerjap-ngerjap tanpa permisi. Kendaraan di jalan makin berseliweran ramai. Tukang makanan keliling mulai unjuk gigi. Aku lirik jam tanganku. Seseorang yang kutunggu belum juga muncul. Apakah betul hidup ini memang semata penungguan?

Bangun pagi, bergegas ke tempat rutinitas, menunggu pulang, kembali ke rumah, kembali menunggu keesokan harinya lagi. Menunggu hari libur. Menunggu gaji bulanan. Menunggu jatah cuti. Menunggu mati. Terus seperti itu. Apa yang dilakukan manusia dalam seribu tahun terakhir ini sebetulnya? Menunggu? Atau bergerak dalam penungguan itu sendiri? Sembari di antaranya diisi dengan halte-halte di sisi jalan sebagai tempat pemberhentian sementara dalam kosmos kehidupan? Seperti warung kopi ini.

Orang datang dan pergi. Makan, menyeruput kopi, bertemu teman, untuk lantas pergi lagi. Mereka menghentikan sejenak penungguan atas hidup dengan diselingi aktivitas yang bersifat manusiawi. Masuk ke dalam habitat sosial, sejenak mengangkat mata, melihat sekeliling area dan dalam hati berkata: bahwa sebagai manusia aku ada. Pernahkah memikirkan apa hakekat sesungguhnya manusia hidup di dunia? Seperti di warung kopi ini.

Hidup memang sebuah penungguan. Tetapi kita bergerak dalam penungguan tersebut. Tidak pasif. Tidak statis. Ada yang kita lakukan. Seperti aku yang sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang di warung kopi ini. Haruskah aku menunggunya terus? Atau mulai bergerak dan mengisi hari dengan sesuatu yang lebih berarti? Untuk kemudian kembali mengatur janji untuk bertemu di warung kopi ini lagi?

Selamat pagi. Mari menyeruput kopi…

3 February 2010 | 05.30 wib