Hati-hati dengan Apa yang Kau Tulis!

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it
[Paulo Coelho, The Alchemist]

Bagi sebagian pembaca blog ‘Penganyam Kata’, mungkin masih lagi ada yang mengingat tulisan dengan judul ‘Who Are You?’ dalam serial ‘The Waiting Is Almost Over’. Tulisan itu di-posting pada 3 Mei 2009 jam 20.00 malam.

Tulisan ‘Who Are You?‘ berkisah tentang seorang lelaki bernama Dan yang datang ke almamater SMA-nya dan memberikan pelatihan penulisan kreatif pada siswa-siswa di sana. Kisah itu tentu saja fiksi belaka. Semata hasil karanganku saja. Membayangkan pada suatu hari aku ingin kembali ke SMA dan menularkan pengalaman tentang dunia tulis menulis.

Siapa nyana, nyaris setahun kemudian hal itu betul-betul terjadi persis seperti apa yang kutulis. Memang tidak di SMA-ku, melainkan di SMA Terpadu Krida Nusantara – Boarding School, Bandung. Ceritanya, pada acara bincang novel di Pesta Buku Bandung 23 Februari 2010 lalu, seorang lelaki bernama Pak Wildan menawariku dan Lisa Febriyanti (penulis novel Iluminasi) untuk memberikan pelatihan menulis kreatif seputar pengalaman menulis novel di SMA-nya. Setelah beberapa kali kontak, gayung pun bersambut.

Awalnya Pak Wildan, guru Bahasa Indonesia di SMAT Krida Nusantara, menginformasikan peserta pelatihaan sebanyak 150 siswa. Sontak aku membayangkan, akan betapa sulitnya membagi pengalaman tentang penulisan kepada 150 siswa dengan waktu yang hanya beberapa jam. Mungkin, sekali lagi mungkin, akan menjadi tidak efektif nantinya. Akhirnya Pak Wildan kembali menginformasikan bahwa peserta dibatasi hanya 60 siswa saja. 60 siswa yang betul-betul berminat pada dunia penulisan. Bukan siswa yang tiba-tiba diwajibkan untuk ikut acara pelatihan. Tentu saja ini jauh lebih menarik!

Akhinya aku dan Lisa Febriyanti menuju Desa Cipadung, di seputaran Cibiru Bandung pada Rabu 17 Maret 2010. Desa? Ya. Rupanya untuk menuju ke SMAT Krida Nusantara mesti melewati jalan desa yang berkelok-kelok penuh perumahan dan olala, meski di desa, begitu mobil kami hendak memasuki gerbang sekolah, kami terbelalak demi melihat bangunan gedung nan megah serta mengagumkan. Maklum, boarding school!

Pelatihan diadakan di aula besar. Guru-guru berbatik coklat menyambut dengan senyum mengembang. Kepala Sekolah berseri-seri, dan puluhan siswa sudah duduk rapi. Ada dua screen LCD berdiri gagah di kanan kiri. Ini betul-betul membuat kami bersemangat serta bersenang hati, karena pelatihan ini dipersiapkan sangat serius sekali.

Okelah, aku tidak hendak menceritakan jalannya pelatihan penulisan kreatif yang ditimpa hujan sepanjang siang dan sore itu. Semua nyaris persis dengan apa yang sudah kuceritakan dalam kisah ‘Who Are You?‘ yang sempat kusinggung di atas. Yang hendak kusentil dalam tulisan ini adalah: hati-hati dengan apa yang kita tulis!

Pada seri yang sama (The Waiting Is Almost Over) ada tulisan dengan judul ‘Agar Naskah Dilirik Penerbit’. Jujur, lagi-lagi apa yang kurawi pada tulisan itu sepenuhnya fiksi belaka. Pada saat aku menuliskan kisah itu, naskah novel Epitaph sama sekali belum dilirik penerbit. Apalagi hendak diterbitkan. Tapi setahun kemudian naskah tersebut betul-betul sampai di tangan penerbit dan diterbitkan sebagai novel trilogi.

Begitu pun dengan cerita ‘Who Are You?‘. Semua menjadi kenyataan. Tak sedikit memang apa yang kutulis dalam serial ‘The Waiting Is Almost Over’, pada akhirnya menjadi kenyataan di dunia nyata. Aku jadi makin mengamini dengan kalimat sakti milik Paulo Coelho dalam novel The Alchemist: “When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it“. Ketika engkau menginginkan sesuatu, seluruh semesta raya akan bahu-membahu membantumu untuk meraihnya.

Apa yang kita tulis, bisa jadi sebetulnya adalah juga keinginan kita. Impian kita. Sesuatu yang kita angan-angankan namun belum mewujud menjadi kenyataan. Alam sadar kita bisa saja mengatakan bahwa itu sekadar tulisan. Namun siapa nyana, alam bawah sadar kita justru menuntun kita pada apa yang kita pikirkan. Di sanalah sebuah kekuatan pikiran berjalan. Tentu saja semua itu tidak lantas tanpa dibarengi kerja keras serta kerja cerdas untuk mewujudkannya.

So, masih adakah keinginanmu di dunia ini? Segera tuliskan. Visualkan. Dan biarkan kekuatan pikiran menuntun kita agar menjadi kenyataan.

22 Maret 2010 | 05.55 wib

This entry was posted in Penulisan, Renungan. Bookmark the permalink.

19 Responses to Hati-hati dengan Apa yang Kau Tulis!

  1. Lala says:

    Setuju, Mas.
    Makanya aku menulis semua mimpi-mimpiku, dan beberapa di antaranya sudah terwujud.
    Becareful what you’ve wished for…
    Or what you’ve written… hehehehe

    Selamat ya, Mas.
    Epitaphnya membuat Mas Dan keliling mulu… :)

    DM: Yup! Jangan takut untuk bermimpi! Namun hati-hati, bahkan bisa-bisa ia melebihi apa yang kau impikan…

  2. denisa says:

    Ok jika hal yang kita rawi itu positif. Lalu, bagaimana jadinya jika yang kita tulis itu bukan keinginan kita, lantas berwujud nyata, Mas? Oh, god! kita seakan menulis takdir kita sendiri. hehe, jadi nggak berani nulis yg sedih2 niiiih…… :D . Btw selamat y mas, acaranya sukses besar2an..

    DM: Mengapa kita harus menuliskan sesuatu yang tidak kita inginkan?

  3. vizon says:

    Sama seperti penyanyi… hampir semua lagu yang dilantunkannya menjadi kenyataan dalam hidupnya. Ambil contoh yang terbaru, kasus Krisdayanti. Sang diva sering sekali menyanyikan lagu putus cinta. Kenyataannya sekarang, doi benar-benar “say goodbye” pada suaminya… Dan masih banyak lagi contoh yang lainnya.

    Aku sangat setuju dengan hal ini. Oleh karenanya, tulislah dengan segera sebuah cerita tentang kau berhenti pada sebuah pelabuhan, insya Allah akan jadi kenyataan… hahaha… :D

    DM: Nah-nah… Sepertinya karena aku tak pernah sekalipun menuliskannya, Da. Hihihi.

  4. NRifa says:

    Hmmm begitukah, aku tau apapun yg ada dalam hati dan pikiran kita terutama dari bawah alam sadar muncul suatu hal yg ingin kita sampaikan, tidak hanya bisa menjadi suatu karya penulisan dari buah pikiran kita tetapi berbicarapun bisa menjadi hal kenyataan entah dalam waktu berapa lama, disini justru aku ingin memvisualisasikan pesan pesan itu menjadi hal yg kadang susah untuk di mengerti tetapi pasti akan terjadi..dan ternyata belajar dari DM berhasil menumpahkanya menjadi suatu novel Epitaph…yang menurutku pesan muncul seiring dendam serta kerinduan thd seseorang yg teramat sangat di kasihinya.
    Sukses untuk Daniel Mahendra.

    DM: Aku belum lagi tau, Nik. Tapi paling tidak, ‘Epitaph’ adalah hasil manifestasi terdalamku dari emosi bawah sadar yang selama ini terendap dalam. Kukeluarkan emosi tersebut. Berhasil atau tidak usaha tersebut, itu sudah urusan pembaca. Bagiku pribadi, sesuatu yang baik tetap layak untuk diperjuangkan.

  5. nh18 says:

    Betul Sekali Mas Dan …

    Bisa jadi angan-angan kita itu menjadi kenyataan …
    So …. kalau punya angan-angan …
    Berangan-anganlah yang bagus …
    karena (bisa jadi) itu akan menjadi kenyataan …

    Salam saya

    DM: Kalau begitu marilah kita berangan-angan hal yang menyenangkan, Om. Terima kasih. Salam saya untuk Om NH. Sehat selalu…

  6. lilliperry says:

    kata2 terakhir di postingan sangat inspiratif mas..

    thank udah mau dibagi tulisannya :)

    DM: Terima kasih. Semoga bermanfaat ya…

  7. ijul says:

    jadi makin gondrong ya :) *sengaja bikin komentar ga nyambung* :p

    DM: Hahaha! Iya nih, Jul. Semakin menggondrongkan diri. Hihihi.

  8. Afdhal says:

    wah bisa dijadiin materi training tuh “menulis kreatif”
    *ngelirik om NH*… gimana om, kita ajak penulis tenar ini jadi pembicara ditraining kita

    DM: Wooo… Mau! Mau! Mau! *kedip-kedip dengan muka manis ke Om NH* :p

  9. marshmallow says:

    Konon apa yang kita tuliskan adalah ekspresi dari apa yang bergejolak di alam bawah sadar kita. Syukurlah bila apa yang dituliskan itu menjadi kenyataan. Aku sendiri beberapa waktu belakangan kerap memikirkan tentang konsep LoA karena sangat menginginkan sesuatu. Di kala belum tercapai, memang sedih dan mengecewakan, namun tulisanmu ini mengingatkanku bahwa segala sesuatu akan indah pada waktunya.

    Terima kasih untuk tulisan yang mencerahkan ini, Goniel. Seperti janjimu, aku memang jadi lebih terhibur sekarang.

    DM: Sedih tak jadi S3 ke Seattle? Urung presentari ke KL? Sudahlah… Semua akan jauh lebih indah pada waktunya. Segala sesuatu kalau memang memungkinkan, tak bakal ada yang menghalangi bukan? Keep on dreamin’!

  10. ikkyu_san says:

    Tentu saja mimpi (baca cita-cita) tidak boleh hanya berada dalam kepala. Begitu dia keluar menjadi bentuk dalam tulisan saja, sudah merupakan satu langkah menuju realisasi. Belum lagi kalau ditambah bumbu-bumbu lain, seperti usaha, kerja-keras, lirikan orang lain, bantuan orang lain….

    Dan sebaliknya aku pribadi merasa, jika kita terlalu banyak menulis (untuk umum) tentang kesengsaraan, penyesalan , yang negatif-negatif saja tanpa ada unsur semangat hidup, maka dalam kenyataan hidup kita juga akan menjadi suram terus.

    Hmmm apa ya mimpiku?
    tidak usah menulis dalam bentuk fiksi kan pak guru?
    Karena aku tidak bisa menulis fiksi nih hihihihi (ajarin dong pak guru!)

    EM

  11. kalau begitu besok aku mau menulis tentang impianku menjadi Presiden!
    :D

  12. edratna says:

    Mimpi, angan-angan harus terus mencari jalan untuk menjadi kenyataan. Dan mimpi itu sebetulnya kan merupakan vision kita (bahasa strateginya), dan bagaimana dapat mencapai mimpi itu harus ada rangkaian misi…dan langkah-langkah untuk terus sampai ke tujuan.
    Seperti kalau saya menyemangati anak-anak…..kejarlah mimpimu nak, biarpun sampai jungkir balik, karena hasilnya akan indah dan menyenangkan…bukan dari sisi materi namun dari kepuasan batin…..

  13. jingga says:

    Jadi menelusuri ulang nih … apa saja yang sudah kutulis selama ini :p

  14. Radesya says:

    Aku sering menuliskan mimpi, dan memang sebagian sudah terwujud, jadi ingat the secret, kakak pasti sudah pernah membacanya :)
    eh maksud aku kak guru Daniel :p

    apakah mimpiku menjadi penulis besar seperti pak Pram atau Andrea Hirata bisa terwujud?
    (nah, mimpi yg ini kayaknya sulit terwujud kak guru, masalahnya aku tidak sepandai beliau)
    hi hi hi….

  15. anakilang says:

    jadi inget ma buku the secret.. kayak nya memang bener banget apa yang kita tulis mesti hati-hati. Dulu pernah ikut seminar di suruh tulis 3 keingingan yang paling ingin di capai, hanya sekedar ikut2an gak terlalu yakin bisa tercapai tapi ternyata setelah 6 tahun berlalu tercapai dan baru teringat dengan 3 keinginan itu….

  16. firman Taqur says:

    inspiratif .. terima kasih bang … aku jadi mulai berani lagi untuk bermimpi!!!!

  17. Lia says:

    Wah tulisan ini sangat gendut dengan kandungan nilai-nilai ‘the secret’. Dan saya percaya soal menuliskan mimpi, memvisualisasikannya, meyakini atas semua mimpi-mimpi itu. Because that’s simply how the universe works, ya kan.

    Sukses terus, Bung DM!

  18. Goenoeng says:

    @KK
    heish… aku yang jadi presiden, dikau cukup jadi Menpora saja.

    *baru nulis, ‘DM ndang cepet kawin… eh, nikah*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>