Anjangsana

Banyak email yang masuk ke dalam inbox dan bertanya: ‘mengapa sekarang jarang menulis di blog?’ Atau tak jarang para pengirim email itu kerap mengisahkan: ‘kalau datang ke blog penganyakata dan mendapati tidak ada tulisan baru, rasanya seperti pulang dengan tangan hampa’. Ada lagi pengirim email yang berkata: ‘begitu rutinnya saya ke blog penganyamkata, hingga saya harus meng-copy tulisan yang ada di sana dari warnet, untuk saya baca di rumah. Tetapi kalau tak ada tulisan baru, suka kecewa juga’.

Mendapati email-email semacam itu tak pelak membuatku sedikit gusar, tersudut, dan merasa serba salah. Tapi mereka sepenuhnya tak salah. Maka sebisa mungkin aku menyodorkan argumen yang memang sesuai dengan kondisi yang sedang terjadi sebagai balasan.

Sesungguhnya hampir tak ada yang tak bisa ditulis. Setiap gerak inci dalam kehidupan kita bisa kita tulis bukan? Bahkan selembar daun gugur dari pohon sekalipun, dengan berbagai makna serta metafora, tetap bisa menjadi bahan tulisan yang menarik dan ciamik kalau kita mau mengolahnya.

Hal paling utama yang membuatku kendur menulis di blog sebetulnya hanya satu: aku kerap tak sempat berkunjung ke blog kawan-kawan yang sudah menorehkan komen di blog penganyamkata. Bisa dibayangkan, setiap ada tulisan baru, mereka selalu komen. Tetapi aku selalu saja absen untuk melakukan kunjungan balik. Memang betul, tak satu pun yang dengan terang-terangan melakukan protes akan hal itu. Buktinya, setiap aku mem-posting tulisan baru, mereka tetap saja komen meski aku belum lagi berkunjung dan memberikan komen di sana.

Sejatinya hanya itulah yang membuatku macet menulis di blog. Bisa dibayangkan: belum lagi aku melakukan balas kunjungan, masa’ aku sudah mem-posting tulisan lagi. Betapa tidak tahu dirinya bukan… Sehingga, atau ujung-ujungnya, aku baru berani mem-posting tulisan baru bilamana aku sudah melakukan kunjungan balik.

Apa boleh buat, etika tetaplah etika. Dalam sebuah pergaulan di ranah kehidupan ini, kerap kali ada hukum tak tertulis. Dan suka atau tidak suka, terkadang kita mesti mengakui serta mengikuti hukum tak tertulis tersebut. Dalam hal ini: membalas kunjungan dan menorehkan komen pada orang yang telah mengunjungi dan mengomeni (bahasa apa itu mengomeni?) blog kita.

Komen memang tidak sekadar komen. Komen pun bukan semata bentuk perhatian kita terhadap si pemilik blog. Bisa jadi, komen pun adalah keterlibatan kita pada apa yang sedang di-posting oleh si pemilik blog. Lebih dari itu: menjaga hubungan secara emosional antara blogger yang sudah terjalin dengan apik.

Sejujurnya aku masih kerap menyambangi blog teman-teman yang rutin menulis komen di sini. Namun karena aku melongoknya melalui hp, ada semacam ketidak leluasaan dalam menorehkan komen di sana. Aku sendiri kurang begitu suka melulu menulis, melulu dikomeni, tapi luput balik menyambangi dan menorehkan komen di sana. Seperti seorang pongah yang merasa diri ingin selalu dianggap pusat semesta tanpa mau menoleh kiri-kanan. Maka, jalan tengah yang paling menyesatkan adalah: libur menulis di blog, dengan perasaan yang sangat tidak enak tentu saja.

Bertahun-tahun nge-blog, aku sendiri masih belum lagi tahu formula paling tepat dalam hal seperti ini. Setiap individu tentu memiliki selera, dan insiatif, dan sikap dalam menyelesaikan setiap masalah (kalau itu tepat disebut masalah). Maka dari masukan-masukan yang ada, bolehlah dapat kusimpulkan secara gegabah bahwa: jujur dan jadilah diri sendiri.

Menuliskan bukan akibat tekanan harus menulis blog karena merasa tidak enak. Menulis seperti itu rasanya takkan menghasilkan apa-apa. Menulis dengan hati jauh lebih bermakna, baik itu bermanfaat bagi diri sendiri maupun berguna bagi pembacanya.

Melakukan kunjungan balasan pun bukan karena merasa tidak enak bahwa si penulis komen sudah menyambangi blog kita. Apa jadinya kalau kita menorehkan komen di blog teman kita, lantas teman kita balik membalas kunjungan serta menorehkan komen alakadarnya di blog kita hanya karena merasa tidak enak pada kita bukan? Hanya komen basa-basi saja jadinya. Maka menyambangi dan menorehkan komen kurasa perlu dengan hati juga.

Akhir-akhir ini aku sedang mengikuti dengan rutin sebuah blog seorang raja media di Indonesia. Begitu besar kerajaan bisnisnya hingga aku membayangkan bagaimana ia mengatur waktunya. Yang menarik, ia masih lagi rajin menulis di blog. Bahkan pada hal-hal sepele sekalipun. Memang, aku berani bertaruh: bisa jadi ia tidak lantas berkunjung ke blog orang sana-sini dan menebarkan komen di sana sini pula. Tetapi satu hal yang bisa kupetik adalah: ia tetap menjaga produktivitas menulis. Meski tidak tiap hari, tetapi ia cukup rajin menuliskan apa-apa yang menurutnya menarik sebagai pengalaman untuk dibagi pada orang lain. Well, rasanya boleh juga untuk dicoba.

Nah, tulisan ini kurawi tak lebih dari sepuluh menit tanpa memikirkan apa pun. Ditulis mengalir begitu saja, dengan hati. Tentang apa yang kurasakan. Meski jangan-jangan ada yang menuduh: “Ah, jangan-jangan ini apologi kamu aja karena absen nge-blog!” Hahaha… Bisa jadi.

28 April 2010 | 22.31 wib

This entry was posted in Catatan Harian. Bookmark the permalink.

22 Responses to Anjangsana

  1. ikkyu_san says:

    Yah… memang ini apologi kamu karena absen nge-blog …hahahaha

    Danny, JUST BE YOURSELF.

    Aku? Tetap menulis karena aku yakin banyak yang seperti kamu, membaca tanpa memberi komentar. Dan ada suatu titik tertentu aku bisa yakin bahwa yang tetap berkomentar di TE adalah pembaca sejati, yang mengerti keadaanku meskipun aku tidak berkomentar di tempatnya. Ikatan seperti itu malah lebih kuat dari sekedar menyambangi blog :) , selayaknya persaudaraan.

    EM

    DM: Iya, hal-hal seperti itu pula yang membuatku selalu rindu untuk tetap menulis di PK. Menyadari, tak semua selalu komen. Dan selalu saja ada pengunjung-pengunjung setia. Membuatku menginsafi untuk menjaga produktivitas, layaknya kawan-kawan…

  2. vizon says:

    Maaf Tuan, ini bukan komen basa-basi, ini adalah komen penuh kemarahan. Takkah kau lihat mataku memerah, gerahamku gemeretuk, keningku berkerut dan tanganku mengepal? Mau tahu kenapa? Karena dengan sombongnya kau katakan bahwa tulisan ini tak butuh lebih dari sepuluh menit untuk menyelesaikannya. SEPULUH MENIT! Lantas, mengapa tak kau lakukan itu setiap hari? Bukankah kau punya beratus-ratus menit setiap hari…? **sesekali marah bolehkan?** ;)

    DM: Huahahahaha… Ada yang marah-marah rupanya. Wakakakakkk! Uda, kan sudah kukisahkan alasannya. Persoalannya bukan aku tidak bisa menulis setiap hari. Soal mudah saja itu. Tapi ini kan soal bagaimana aku menjaga hubungan apik dengan tetap berbalas kunjungan juga. Hehehe.

  3. ikkyu_san says:

    aku menyoraki komentar Uda Vizon

    asyiiik ada yang marahin DM \:d/

    EM

    DM: Huahuahua…

  4. ria says:

    menulis ya tetap menulis mas, jangan sampai berhenti hanya karena suatu “keharusan” yang rasanya juga bukan keharusan. aku juga menulis tidak terlalu sering. bahkan aku mendatangi blog orang2 kadang hampir tidak pernah meninggalkan komentar.

    kalau aku menulis ya karena aku ingin, kalau orang lain berkomentar ya silahkan dan kalo aku sempat berkomentar di tulisan mereka bagus tapi kalau tidak sempat toh bukan suatu keharusan juga. yang penting membaca dengan hati atau sekedar basa basi untuk comment? kalau aku sih lebih memilih pembacaku tidak berkomentar daripada mereka basa basi aja :D

  5. edratna says:

    Niel. saya pernah mendapat komen dari mas Iman Brotoseno (ketua PB2009), bahwa bagi blogger yang penting adalah menulis dan membuat artikel baru di blognya, untuk sharing. Jadi sejak itu, saya berusaha terus menulis..walau kadang berjarak lama, jika acara betul-betul padat. Atau jika ada ide untuk menulis, saya simpan tulisan itu..yang bisa dipostkan jika pas sibuk banget.

    Blogwalking? Tanya EM..saya jarang BW, sekalinya sempat langsung rapel, bisa langsung memberi komentar di 5 atau lebih tulisan..dan EM tahu, berarti saat itu saya lagi punya waktu…hehehe..
    Tulisanku jarang pakai draft, jadi jika ada masalah, ya hilang semua. Udah ada niat untuk mem back up tulisan, tapi kok ya susah waktunya.
    Jadi, menulislah jika sempat, dan BW lah jika hanya sempat.

  6. radesya says:

    aku juga suka kangen komen di sini :)
    kangen seperti dulu lagi gt, saling balas komen kakak, lha kakak sih dah jarang nulis, padahal kan tiap hari juga nulis kan? :p

  7. achoey says:

    Lama gak berkunjung kesini
    Kangen2an ah :)

    Nulis mengalir indah
    Dan jadilah

  8. nh18 says:

    “Ah, jangan-jangan ini apologi kamu aja karena absen nge-blog!”

    ya …. Bisa jadi … !
    but …
    ini cara nge-les … yang eiylekhan .. !!!

    hahahaha

  9. NRifa says:

    Iya memang ditunggu tulisan barunya, dan sebenarnya sih komentar yg di posting bukan basi basi kok, silaturahmi di blog aja sebelum bisa silaturahmi di dunia nyata, dan tidak apa apa jika sudah mampir membaca dan tidak berkomentar sekalipun.

    Tapi tetep menulis ditunggu karyanya, Uda Vizon pinjem kata kataya yaaa.. SEPULUH MENIT! Lantas, mengapa tak kau lakukan itu setiap hari? Bukankah kau punya beratus-ratus menit setiap hari…?

    Salam,… :)

  10. Afdhal says:

    preetttttttttttttttttttttttttttt

    tossss, buat sesama silent reader, silent commentator, silent silent deh

  11. AL says:

    @Om NH
    Komen pun tetep elekhan, ya, gak?

    @Pak Daniel
    Mengenai komentar basa basi, mungkin saya termasuk yang ribet banget gitugituan. Yah, pertama ngeblog, gak kepikiran sih mo saling sapa. Kalo mo koment ya koment gak pake dipoles segala. Gak setuju ya gak setuju. Pahit ya pahit. Ngeledek ya ngeledek. Dan gak ngarap juga yang saya komentarin komentar balik. Bukan berarti punya rasa sebel juga sama penulisnya kalo suatu kali saya komentar rada pahit. Itu kan tulisan, bukan pribadinya dia yang malah saya gak tau apa-apa sesungguhnya.

    Tapi saya kangen loh waktu komentator saling komentar disini tempo hari itu.

  12. hanya ada satu kata:

    let`s go-blogg-ing!!!

  13. marshmallow says:

    penyakitku sama nih, udah lebih sebulan gak nulis di blog. jangankan nulis, membukanya saja pun tak sempat. termasuk aktivitas blogging yang dulu sempat sangat kugandrungi itu. apa boleh buat, waktu untuk mengambil napas lega sehari-hari saja hampir tak tersedia lagi.

    apologi? entahlah… tapi aku sekarang jadi mengerti apa yang kau alami, gon.

    we’re in the same boat, as well as many other bloggers i know. hopefully we can recover soon from this so-called “disease”. sumpah aku kangen dengan aktivitas ini. waktunya saja yang begitu menjepit.

  14. edratna says:

    @Marsmallow…iya nih kemana aja….
    Udah lama kangen tulisanmu, bahasanya lucu…atau orang awak memang pinter nulis….
    Tak lebih 10 menit kan? Tanpa konsep?

    @ DM..kalau paklik (Ikut panggilan si bungsu) yang satu ini rajin komentar di FB..memang lagi jadi seleb fesbooker

  15. DV says:

    Beuh.. 10 menit merawi aja udah nyamleng tenan…
    gimana kalau berpuluh-puluh menit ya?

    Pakabs, Bung?!

  16. anakilang says:

    hhmm… ketika berkunjung tak ada tulisan terbaru saat itu aku berfikir positif mungkin sedang menunggu wangsit yang tepat untuk melanjutkan Novel Epitaph…

  17. imoe says:

    AYO semua semangatttttt lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

  18. Goenoeng says:

    Tulisan April? padahal ini sudah Juli…

  19. nh18 says:

    OOT …
    Just Wanna Say …
    Saya menyesal sekali tidak bisa bertemu Mas Dan … 2 Agustus kemarin …
    Pekerjaan membuat saya harus kembali ke Kantor siang harinya …

    Sayang sekali ya Mas Dan …

    Salam saya Mas Dan …

    BTW ….
    Ndak nulis Blog lagi Mas Dan ?
    :)

  20. genthokelir says:

    anda harus menyadari bahwa tulisan anda banyak yang rindu

  21. julie says:

    nyasar ke rumah akang juri :D
    salam kenal

  22. kanvasmaya says:

    hmm.. baru pertama kali nengok disini.. wah wah.. bener2 ketinggalan aku..
    salam..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>