penganyamkata.net
current   |   rss

Anjangsana

Published April 29, 2010

Banyak email yang masuk ke dalam inbox dan bertanya: ‘mengapa sekarang jarang menulis di blog?’ Atau tak jarang para pengirim email itu kerap mengisahkan: ‘kalau datang ke blog penganyakata dan mendapati tidak ada tulisan baru, rasanya seperti pulang dengan tangan hampa’. Ada lagi pengirim email yang berkata: ‘begitu rutinnya saya ke blog penganyamkata, hingga saya harus meng-copy tulisan yang ada di sana dari warnet, untuk saya baca di rumah. Tetapi kalau tak ada tulisan baru, suka kecewa juga’.

Mendapati email-email semacam itu tak pelak membuatku sedikit gusar, tersudut, dan merasa serba salah. Tapi mereka sepenuhnya tak salah. Maka sebisa mungkin aku menyodorkan argumen yang memang sesuai dengan kondisi yang sedang terjadi sebagai balasan.

Sesungguhnya hampir tak ada yang tak bisa ditulis. Setiap gerak inci dalam kehidupan kita bisa kita tulis bukan? Bahkan selembar daun gugur dari pohon sekalipun, dengan berbagai makna serta metafora, tetap bisa menjadi bahan tulisan yang menarik dan ciamik kalau kita mau mengolahnya.

Hal paling utama yang membuatku kendur menulis di blog sebetulnya hanya satu: aku kerap tak sempat berkunjung ke blog kawan-kawan yang sudah menorehkan komen di blog penganyamkata. Bisa dibayangkan, setiap ada tulisan baru, mereka selalu komen. Tetapi aku selalu saja absen untuk melakukan kunjungan balik. Memang betul, tak satu pun yang dengan terang-terangan melakukan protes akan hal itu. Buktinya, setiap aku mem-posting tulisan baru, mereka tetap saja komen meski aku belum lagi berkunjung dan memberikan komen di sana.

Sejatinya hanya itulah yang membuatku macet menulis di blog. Bisa dibayangkan: belum lagi aku melakukan balas kunjungan, masa’ aku sudah mem-posting tulisan lagi. Betapa tidak tahu dirinya bukan… Sehingga, atau ujung-ujungnya, aku baru berani mem-posting tulisan baru bilamana aku sudah melakukan kunjungan balik.

Apa boleh buat, etika tetaplah etika. Dalam sebuah pergaulan di ranah kehidupan ini, kerap kali ada hukum tak tertulis. Dan suka atau tidak suka, terkadang kita mesti mengakui serta mengikuti hukum tak tertulis tersebut. Dalam hal ini: membalas kunjungan dan menorehkan komen pada orang yang telah mengunjungi dan mengomeni (bahasa apa itu mengomeni?) blog kita.

Komen memang tidak sekadar komen. Komen pun bukan semata bentuk perhatian kita terhadap si pemilik blog. Bisa jadi, komen pun adalah keterlibatan kita pada apa yang sedang di-posting oleh si pemilik blog. Lebih dari itu: menjaga hubungan secara emosional antara blogger yang sudah terjalin dengan apik.

Sejujurnya aku masih kerap menyambangi blog teman-teman yang rutin menulis komen di sini. Namun karena aku melongoknya melalui hp, ada semacam ketidak leluasaan dalam menorehkan komen di sana. Aku sendiri kurang begitu suka melulu menulis, melulu dikomeni, tapi luput balik menyambangi dan menorehkan komen di sana. Seperti seorang pongah yang merasa diri ingin selalu dianggap pusat semesta tanpa mau menoleh kiri-kanan. Maka, jalan tengah yang paling menyesatkan adalah: libur menulis di blog, dengan perasaan yang sangat tidak enak tentu saja.

Bertahun-tahun nge-blog, aku sendiri masih belum lagi tahu formula paling tepat dalam hal seperti ini. Setiap individu tentu memiliki selera, dan insiatif, dan sikap dalam menyelesaikan setiap masalah (kalau itu tepat disebut masalah). Maka dari masukan-masukan yang ada, bolehlah dapat kusimpulkan secara gegabah bahwa: jujur dan jadilah diri sendiri.

Menuliskan bukan akibat tekanan harus menulis blog karena merasa tidak enak. Menulis seperti itu rasanya takkan menghasilkan apa-apa. Menulis dengan hati jauh lebih bermakna, baik itu bermanfaat bagi diri sendiri maupun berguna bagi pembacanya.

Melakukan kunjungan balasan pun bukan karena merasa tidak enak bahwa si penulis komen sudah menyambangi blog kita. Apa jadinya kalau kita menorehkan komen di blog teman kita, lantas teman kita balik membalas kunjungan serta menorehkan komen alakadarnya di blog kita hanya karena merasa tidak enak pada kita bukan? Hanya komen basa-basi saja jadinya. Maka menyambangi dan menorehkan komen kurasa perlu dengan hati juga.

Akhir-akhir ini aku sedang mengikuti dengan rutin sebuah blog seorang raja media di Indonesia. Begitu besar kerajaan bisnisnya hingga aku membayangkan bagaimana ia mengatur waktunya. Yang menarik, ia masih lagi rajin menulis di blog. Bahkan pada hal-hal sepele sekalipun. Memang, aku berani bertaruh: bisa jadi ia tidak lantas berkunjung ke blog orang sana-sini dan menebarkan komen di sana sini pula. Tetapi satu hal yang bisa kupetik adalah: ia tetap menjaga produktivitas menulis. Meski tidak tiap hari, tetapi ia cukup rajin menuliskan apa-apa yang menurutnya menarik sebagai pengalaman untuk dibagi pada orang lain. Well, rasanya boleh juga untuk dicoba.

Nah, tulisan ini kurawi tak lebih dari sepuluh menit tanpa memikirkan apa pun. Ditulis mengalir begitu saja, dengan hati. Tentang apa yang kurasakan. Meski jangan-jangan ada yang menuduh: “Ah, jangan-jangan ini apologi kamu aja karena absen nge-blog!” Hahaha… Bisa jadi.

28 April 2010 | 22.31 wib