Epitaph [01]

Posted by penganyamkata on August 11, 2010 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Novel Epitaph | #7

Oleh Ita Siregar

[Tengah hari di Formule 1 Cikini. Bersama Dessy Sekar, Olin Monteiro, sebelum Kurnia Effendy tiba di lokasi: dengan gembira Syafruddin ‘Prudin’ Azhar memberiku buku ini. Aku tertarik mendengar ringkasan cerita. Dan, inilah resume setelah kubaca di liburan akhir tahun 2009]

Menurut KBBI epitaf adalah 1) tulisan singkat pada batu nisan untuk mengenal orang yang dikubur di situ dan 2) pernyataan singkat pada sebuah monumen. Entah mengapa penulis dan penerbit memutuskan menulis epitaf dengan -ph.

Inti novel adalah hilangnya pesawat helicopter HS 7060 jenis BO 105 milik TNI AD tanggal 22 Agustus 1994 dan baru dua tahun kemudian bangkai pesawat berikut korban ditemukan di hutan Lau Ucim, kaki Gunung Sibayak, Kabupeten Karo (123 selatan Medan), Sumatera Utara.

Kepada publik TNI AD memberitakan bahwa itu adalah penerbangan legal dengan mengabaikan kenyataan tiga warga sipil ikut hilang bersama pesawat. Militer berkepentingan menepis teori adanya oknum yang menyewakan pesawat milik mereka kepada orang yang tak berkepentingan.

Berdasar fakta itulah novel ini ditulis. Untuk sampai ke inti cerita penulis memutuskan mengambil jalan menyamping. Mungkin penulis berniat mengaburkan batasan fakta dan fiksi dalam cerita yang berlapis. Entahlah.

Sedikitnya ada tiga kisah diceritakan di sini. Pertama, tentang tokoh ‘aku’ [penulis dengan plang di depan rumahnya: Langi, Pengarang, Bisa ditunggu] dan Haikal [kekasih Laras, salah satu korban yang hilang bersama pesawat]. Kedua, kisah asmara Haikal dan Laras. Terakhir, tentu saja, tentang hilang dan ditemukannya pesawat dengan mendompleng kisah kasih antara Haikal dan Laras. Kemampuan menulis membingkai cerita di dalam cerita ini bagi saya adalah sebuah keterampilan.

Sebuah teknik yang tidak biasa. Penulis memulai cerita dengan plot serba longgar dan dialog-dialog populer dan menurut saya sangat santai. Panjang sekali introduksi, agak memadat di pertengahan buku, lalu informasi detail tentang lokasi hilangnya pesawat dan pengetahuan yang memadai soal medan lokasi.

Tadinya saya berpikir bahwa cerita akan dimulai dari peristiwa klimaks. Ternyata saya salah. Penulis tidak tertarik dengan teori klimaks di awal cerita untuk menarik perhatian membaca, sebaliknya ia mempersiapkan emosi pembaca, melihat-lihat keadaan, sebelum masuk ke bagian yang utama. Ini keputusan yang berani karena spekulasi bahwa pembaca akan meneruskan membaca sangat dipertaruhkan di sini. Seandainya pembaca melompat ke bagian tengah dari depan mungkin akan tersesat. Sebaliknya bila beberapa bagian dalam buku ini dipangkas pun, mungkin tidak akan mempengaruhi kekuatan cerita.

Bila diumpamakan perjalanan naik ke puncak gunung, maka konsentrasi saya berpetualang membaca beberapa kali dibuyarkan karena ajakan penulis untuk bersantai, melihat pemandangan indah di lereng-lerengnya, bernostalgia ke sejarah masa lalu, bahkan kadang agak menyimpang, sehingga untuk mulai berjalan lagi, saya perlu diingatkan lagi tip-tip mendaki hingga tiba di puncak.

Untunglah penulis tidak mengkhianati pembacanya, main tabrak lari seenaknya. Dengan setia ia memberi rambu-rambu yang diperlukan untuk sampai tiba ke puncak. Ia tidak meninggalkan pembacanya tersesat di sisi jalan. Namun saya merasa penulis telah tergoda untuk menulis kesimpulan sendiri, misalnya ‘mama tampak gelisah’ (hal 145) atau ‘berhari-hari Yudin dilanda kebingungan’ (hal 191), daripada menuliskan apa yang dimaksud dengan gelisah dan bingung di sana. Beberapa kali pula penulis sempat berkotbah, ‘manusia terkadang kerap menafikan (hal 200), manusia pada dasarnya begitu atau begitulah hidup.

Saya mengagumi penulis dengan upaya riset dan mengumpulkan dokumentasi cukup tebal untuk menyelesaikan buku ini. Saya bisa membayangkan sulitnya medan, memahami emosi keluarga dan klimaks yang mengharukan atas sebuah penungguan. Saya menikmati bagian-bagian terakhir dari buku. Dan di satu bagiannya penulis berhasil membuat dada saya terasa sesak dan kelopak mata panas lalu menitikkan gerimis air mata karena sangat tersentuh.

Selesai membaca buku ini mana fakta mana fiksi tak lagi menjadi masalah. Btw, kavernya aku suka. [Bravo, Icha]. Simbol jalanan tanpa ujung itu sangat pas dengan isi buku.

10 Januari 2010

________________

* Pembaca, tinggal di Jakarta.

Comments are closed.