Epitaph: Cahaya Indah dari Serpihan Luka

Posted by penganyamkata on August 11, 2010 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Novel Epitaph | #9

Oleh Sugiarno

Sebuah Oleh-oleh dari Malam Akikah di Newseum Indonesia

Bagaimana cara manusia memperlakukan mimpi? Tentu, tak akan ada satu jawab yang pasti. Ada orang yang langsung membuang impian itu, bahkan beberapa saat saja setelah mimpi itu melintas. Ada yang mengangankan mimpi itu untuk beberapa waktu, tetapi, dengan alasan pemenuhan hasrat atau kebutuhan lain, mimpi satu segera tergusur oleh mimpi berikutnya. Dan, ada juga, kumpulan orang ini biasanya berjumlah sedikit, yang tetap menggendong mimpi yang datang, memberinya asupan gizi ‘materi’ tiap hari, dan tetap menjaga stamina, hasrat, gelora jiwa untuk berikhtiar melahirkan mimpi tersebut ke dunia nyata. Kemarin malam, di antara berderet bingkai kaca tergantung penuh di sepanjang dinding Newseum Indonesia, aku berkesempatan menjadi saksi transformasi indah ‘akikah’ kelahiran sebuah mimpi ke dalam dunia fana ini.

Daniel Mahendra. Dua tahun lalu aku mengenalnya. Bukan jenis perkenalan biasa dimana saling berbentur di jalan lalu berjabat tangan. Bukan juga perkenalan dengan penuh protokoler yang segera melahap pribadi baru dengan berondongan pertanyaan seputar ‘sensus kependudukan’. Atas nama urusan profesional pekerjaan kami bertemu. Beberapa jam negosiasi, hingga diakhiri dengan makan siang di warung sebelah kantornya, cukup bagiku untuk menangkap kilatan mata ‘sastrawan berbakat’ menggelegak dalam teduh sorot maskulinnya.

Dunia Daniel adalah dunia menulis. Tak usah ditanya apa golongan darah dia. Andai ia tersayat, darah yang muncrat pasti jua darah kepenulisan. Beberapa saat ngobrol dengannya, sudah cukup mengetahui luas cakupan pengetahuannya seputar dunia perbukuan. Persoalan teknis kepenulisan hingga paket besar tata kelola penerbitan dan marketing perbukuan, tuntas ia kuasai. Hanya, yang terlewat olehku dari pertemuan itu, rupanya saat itu, tengah ‘bertempur’ dendam dan mimpi besar di nurani Daniel.

Lelaki ini dibesarkan oleh dendam. Demikian kelebatan Daniel kemudian mewujud dalam pikiranku. Bukan jenis dendam yang kemudian menggerakkan berjuta pasukan menghancurkan. Bukan juga jenis dendam yang lalu tersesat dalam kubangan hitam kotor pikiran dan tindakan. Daniel mampu mentransformasi dendam yang sekian lama mengendap dalam kalbu menjadi sebuah energi positif dalam wujud karya sastra. Dendam yang demikian luruh mengalir dalam laju darah Daniel, dendam yang menemaninya sekian puluh tahun berkelana mencari kebenaran, dendam yang (mungkin juga) menghalanginya menenggak kenikmatan ‘palapa dunia’ sebelum ia tuntas terselesaikan, sekarang telah terbayarkan, meski memang baru sebagian.

Epitaph, seri pertama dari Trilogi Epitaph, yang malam itu di-akikah-kan di Newseum Jakarta, adalah perwujudan anak dendam Daniel Mahendra. Staminanya yang luar biasa untuk tetap menyimpan bara dendam itu menyala akhirnya melahirkan purnama yang menerangi jalan sesama. Epitaph adalah sebuah jeritan. Ketika semua pintu dibungkam, ketika matahari kebenaran redup oleh gerhana kekuasaan, Epitaph lahir menawarkan terang nyala sebuah lilin. Dan memang, malam itu, Epitaph baru mewujud menjadi lilin. Ia hadir dalam balut binar terang sebuah cahaya. Meski, bulatan cahaya itu masih kecil melingkar. Tidak mustahil, asuhan waktu dan didikan promosi yang tepat, akan membuat lingkar lilin itu membesar. Hingga kemudian, terang kebenaran yang disuluhnya, melahirkan sebuah kekuatan baru menjadi awal jalan kebenaran.

Epitaph bercerita tentang luka. Tentang sebentuk kehilangan. Tentang cinta yang direnggut menghilang tanpa kejelasan pertanggung jawaban. Bersama 2 teman, Haikal, terbang ke Medan menumpang helikopter sewaan milik Angkatan Darat Republik Indonesia. Naas. Kecelakaan terjadi. Helikopter dinyatakan hilang. Lebih buruk lagi, otoritas Angkatan Darat tidak mengakui keberadaan Haikal dan kedua temannya dalam pesawat tersebut. Penyangkalan Angkatan Darat membuat proses evakuasi helikopter menjadi suram. Kabut yang penuh menyelimuti medan kecelakaan, makin lamat saja akibat pengingkaran Angkatan Darat tersebut.

Saat kejadian, tahun 1994, Daniel masih terbilang muda. Tak ada yang dapat ia lakukan selain berdoa, menyimak berita demi berita untuk mengetahui kabar keberadaan Haikal, tak lain adalah perwujudan kakak kandungnya. SAR dan relawan IKJ diterjunkan. Tapi tetap saja semua masih berselimut gelap. Dua tahun kemudian, tahun 1996, bangkai helikopter ditemukan. Dengan negosisasi panjang yang teramat alot, kerangka jenazah sang kakak dapat dibawa pulang dan disemayamkan.

Kesewenangan kekuasaan itulah yang kemudian mengeruk ceruk luka di hati Daniel. Ia pun tumbuh dengan menyemai dendam. Hari-harinya diisi dengan melata mengumpulkan segala kliping berita yang mewartakan peristiwa kecelakaan di Gunung Sibayak tersebut. Semakin tebal kliping berita yang terkumpul, semakin dalam juga lara yang tergali di hatinya. Hingga akhirnya, Daniel tak kuasa mengelak. Dendam membesarkan bakat sastrawan yang memang telah berdiam di hatinya. 16 tahun kemudian, di antara redup lampu yang lamat menggurat bayang-bayang pengunjung Newseum Jakarta, Dendam Daniel terbayarkan jua. Monolog magis Lisa Febriyanti, diantara denting piano Da’an Danang Setiawan, mengawali prosesi resmi kelahiran Epitaph ke dunia.

Semua orang mempunyai mimpi, dan juga dendam. Malam itu, diantara matanya yang tetap mengkilat, rambut yang tetap jua dibiarkan gondrong, dan tetap saja kesetiaan yang terjaga terhadap sepatu gunung, Daniel Mahendra menunjukkan cara terbaik mengelola mimpi dan dendam. Tak perlu ada kucur darah. Tak perlu jua ada lingkaran dendam tiada berkesudahan. Dengan kearifan dan kesabaran, dendam, ternyata, dapat menghadirkan sebuah pencerahan yang bermanfaat untuk perbaikan diri dan kehidupan umat manusia.
_______________

* Penikmat sastra, staf ahli DPR RI.

Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dan lengkap dari tulisan ada di blog kalengbiru.blogspot.com.

Comments are closed.