Epitaph; Kejujuran yang Tanggung

Posted by penganyamkata on August 11, 2010 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Novel Epitaph | #10

Oleh Cok Sawitri

Membaca novel Epitaph, karya Daniel Mahendra, terbitan Kaki Langit Kencana, November 2009, adalah pembacaan fragmen-fragmen yang diutuhkan menjadi kesatuan kisah. Fragmen terbesar adalah kisah Laras Sarasvati, mahasiswi IKJ yang hilang saat melakukan shouting film dokumenter di Gunung Sibayak, Medan. Fragmen kedua adalah Kisah Haikal, kekasih Laras, yang menjadi ‘pencerita’ mengenai tokoh-tokoh yang ikut hilang dalam musibah yang dialami Laras dan menjadi ‘penganalisa’ adanya kejanggalan dalam pencarian korban dalam musibah itu. Fragmen lain, adalah tokoh Langi, teman Haikal yang difungsikan sebagai penulis dari kejadian musibah helikopter itu.

Kecanggungan sejak awal telah alamiah terjadi pada Daniel Mahendra ketika menuliskan kisah yang realitas memang terjadi, penyebutan IKJ, instansi militer di Medan, kutipan berbagai berita Koran, serta ‘rasa takut’ yang menyertai apabila menggunakan ‘dugaan’ haikal dan Yudin, salah satu crew film yang dipimpin Birhi, bahwa ada pihak yang hendak menutupi soal sewa menyewa helicopter itu untuk kepentingan komersial membuat Daniel terhenti pada gaya tutur yang canggung, ragu untuk membiarkan diri secara utuh menuliskan apa, siapa dalam proses sublimasi. Pilihan lain sebenarnya, memfiksikan secara total keseluruhan, hingga menjadi karya total yang justru dengan kliping detail akan menghadirkan runutan kisah yang menggetarkan hati.

Kecanggungan kedua, gemuruh tekanan yang dialami haikal kehilangan kekasihnya, mewakili kegumuruh duka seluruh keluarga yang juga kehilangan ayah, adik mereka, tidak terungkap, hampir tidak terasa, menjadi barisan dialog; andai Daniel sabar mengeksploarasi, memasuki posisi haikal disaat menanti kepastian ketemu ataukah tidak Laras, atau ketika rasa kehilangan yang membuat Haikal dalam fase menunggu, hingga TPI menyiarkan adanya penemuan kerangka pesawat itu; akan memberi tanjakan, detak dalam novel ini, sayangnya, Daniel memilih jalan datar, jalan beku, kaku seperti judul novelnya: Tulisan di nisan (Epitahp), yang jelas terkecoh dengan cover novel yang menggunakan simbol jalan dalam temaram, mengesankan seakan ada misteri di ujungnya.

Dari awal cerita telah jelas, tidak ada yang berkelok-kelok seperti memasuki misteri. Daniel, hanyut dengan pengetahuan informasinya, telah memastikan dugaannya sebagai realitas sehingga ketika hendak menempatkannya sebagai prosesi misteri, menjadi tanggung dan canggung. Berawal dari tumpukan catatan yang diberikan Haikal, lalu pembangunan tokoh Laras yang berpuluh-puluh halaman diberi porsi mengenai ‘kegilaannya’ akan film, menjadi pemicu gadis itu memilih IKJ, kemudian ingatan masa kecil Laras akan kota masa kecilnya, melompat sesekali kepada fungsi Langi sebagai penutur, yang sejak awal telah tahu kisah utuhnya, tidak masuk dalam proses pencarian pengungkapan misteri, ‘penyebab musibah itu, mengapa militer menutup-nutupi ikutnya crew film itu’ dijelaskan dalam verbal; mengaburkan posisi Langi dan Haikal, ada kejanggalan yang canggung dalam proses penuturannya. Kisah yang datar, militer tidak akan mengakui kalau ada crew film dalam pesawat itu sejak awal tidak menjanjikan akan menjadi bahan perenungan bagi pembaca, bahwa Daniel akan membawa pada kisah pengungkapan, minimal ketegangan pengungkapan ‘misteri’ yang menjadi sebab adanya ‘tidak tahu menahunya pemilik pesawat ada penumpang dalam musibah itu’. Sebab alasannya, akhirnya: tidak ada misteri, sudah jelas: penyewaan helikopter untuk kegiatan komersial akan menimbulkan masalah dalam prosedur tata krama kemiliteran. Begitu pula ketika Haikal ketemu Yadin membahas potret bukti: kisah misteri tidak sampai kegelisahan Yudin yang merasa dikuntit, plotnya menjadi lemah pada bagian ini. Kedataran alur, tidak membawa pembacaan untuk berpikir, yang ada dalam fragmen yang telah disusun, datar, tanpa tanjakan, yang ada adalah kerepotan untuk memberi tempat kepada berbagai tokoh dalam percakapan yang tidak mengesankan arah kegalauan, kerisauan, tekanan rasa kehilangan, kehampaan, rasa kalah ketika menghadapi orang-orang yang tercinta. Judul Epitaph: harfiah, tulisan pada Nisan, hanya muncul menjelang akhir, rasa gigir, penuh tanya dalam narator (Langi) ketika berada di depan nisan Laras Sarasvati, memperhatikan dompet milik gadis itu, tidak memberi tanjakan baru, menjadi luncuran kedataran, tidak menyentak, tanpa kejutan.

Kejujuran yang tanggung, sebenarnya mulai nampak ketika muncul nama ‘Karin Nugraha’, pembantu Rektor III tiga IKJ, dalam footnote, jelas IKJ yang dimaksud adalah Institute Kesenian Jakarta-artinya, siapapun tahu siapa “Karin nugraha itu’, bandingkan kemudian dengan hal 192 : Kompas misalnya, pada 26 Agustus 1994 menurunkan berita bahwa Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat Brigjen TNI A.T mengakui, sejak senin lalu (22/08) TNI AD telah ‘kehilangan’ satu peswat helicopter. Peswat HS 7060….dst”- yang tidak menjelaskan adanya tiga orang crew yang menumpang dalam pesawat itu. Secara konsisten kutipan-kutipan Koran yang disusun Daniel memaparkan ‘kekonsistenan’ sikap dari pihak pemilik pesawat bahwa tidak ada penumpang dalam pesawat yang hilang, namun beberapa Koran dengan bijak pula menyatakan, bersamaan dengan itu, tiga orang crew film telah hilang di pegunungan sibayak, yang kelak ketika Haikal ketemu Yudin; yang sempat memotret teman-temannya sebelum berangkat, menjadi pemilik barang bukti, yang telah dicetak dan sepanjang proses pencarian oleh Tim gabungan setelah pencarian resmi dihentikan, menyembunyikan potret itu (bukti crew itu adalah penumpang heli) dan potret itu tetap tak berfungsi menjelaskan apapun ketika ketiga kerangka itu ditemukan: hal 305, “dari harian pembaharuan yang terbit 2 April 1996 dapat diikuti sebuah berita bahwa:….dst”

Fragmen yang tersusun dalam Novel Epitaph; penyusunan ulang kliping yang tanggung, walau menghadirkan figur-figur yang terlibat secara emosional dalam kisah nyatanya, namun Daniel tanggung membawa ke wilayah proses pencarian kebenaran, dalam kerangka sastra sebagai proses pengungkapan kebenaran sekalipun diungkapkan secara imaji. Kejujuran pada perasaan ‘bersalah’, tak berdaya, tak puas, terhadap bias informasi apakah crew itu diakui ataukah tidak diakui ada dalam pesawat itu, kemudian kliping yang lain toh mengakui akan adanya data pribadi dari dompet; termuat dalam epilog yang hampir mubazir. Agaknya, peran editor dan teman diskusi yang ‘tega’ diperlukan Daniel disaat proses finishing novel ini, namun tidak dilakukan, nyaris terlupakan.

Namun novel sepanjang 358 halaman, dengan 66 catatan kaki ini, sebenarnya menjanjikan menjadi novel yang luar biasa, sebab menggunakan informasi dari fakta jurnalistik, tetap dapat menjadi bahan bandingan bacaan yang mengugah. Selayaknya, dibaca untuk kemudian menemukan tantangan, bagaimana bila kelak menuliskan ‘masa lampau’ ke dalam kekinian dengan memakai penutur, tokoh yang difungsikan sebagai narator ‘masa lampau’ itu. Bahwa fiksi sesungguhnya adalah ‘kisah nyata’ yang diproses oleh kreatornya, bukanlah imaji yang kosong tanpa fakta.

_______________

* Nama lengkapnya Cokorda Sawitri, tinggal di Denpasar, Bali. Selain aktivis teater, Cok juga menulis artikel, puisi, cerita pendek serta aktif dalam berbagai aktivitas sosial budaya. Selain Janda dari Jirah, novel teranyarnya adalah Sutasoma.

Comments are closed.