Epitaph: Mantan Wartawan Tempo Itu Hilang di Sibayak

Posted by penganyamkata on August 11, 2010 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Novel Epitaph | #4

Oleh Tandi Skober

Kematian seperti halnya sebuah lukisan selalu melepaskan pesan-pesan misteri yang auraris. Sebut saja sahabat saya seniman, sineas, juru potret sekaligus wartawan Tempo dan Prospek ini: Burhan Piliang. Saya menyebutnya Bang Burpil. Ia tewas di lereng Gunung Sibayak, Deli Serdang Sumatera Utara, 22 Agustus 1994. Heli Bolcow HS 7060 milik TNI AD yang ditumpanginya jatuh. Bang Burpil dan teman-temannya dinyatakan hilang. TNI AD ogah terlibat dalam kejadian ini. Dan? Bang Burpil telah mendesain batu nisannya dalam ruang-ruang kontroversi.

Subuh tadi, Rabu 6 Januari 2010, usai saya baca Epitaph karya Daniel Mahendra dan tentu saja usai shalat Subuh, saya alirkan doa lirih untuk Bang Burpil. Dari setiap tetes air mata yang saya alirkan ada banyak gambar Bang Burpil melintas-lintas. Adalah kerinduan yang dalam. Rindu rupa rindu suara dramawan senior yang selalu risau mendesain kesenian di Medan. Rindu pria hangat penggagas serial komik berfoto di media cetak Analisa Medan. Rindu pria berwajah seni rupa yang anggun. Hasil olah artistiknya selalu menghasilan gambar-gambar bernuansa humanism kinasih. Nasihat-nasihatnya adalah kontemplasi transcendental dari ruang imajiner yang futuris. Rindu pria yang pernah memegang pundakku di teras Tapian Daya Medan usai nonton pagelaran teater ‘Kotak Sampah’ “Jangan kau jadi pegawai negeri, Tandi. Lebih merdeka jadi seniman! Naskah teater Kotak Sampah kau itu bukan sampah, tapi pembangkangan HAM”.

Membaca Epitaph, membaca wajah Burhan Piliang yang hilang dalam bayang-bayang kabut involusi birokrasi tentara. Dan memang, sejarah tidak hanya album hari kemarin yang ikut terkubur di ruang 2×2 meter berbatas batu nisan. Sejarah akan selalu diziarahi entah oleh siapa dan entah dengan cara bagaimana. Di sini, novelis kondang yang konon banyak dipuja wanita bernama Daniel Mahendra itu merekam ulang jejak hilangnya Burhan Piliang. Karya yang sangat luar biasa! Daniel melalui ilusi-ilusi memikat yang terukur menulisnya dalam novel trilogi Epitaph, Epigraf dan Epilog yang diterbitkan KakiLangit Kencana.

Daniel bertutur seputar Laras Sarasvati, mahasiswi IKJ yang memiliki cita-cita panjang, terlibat dalam sebuah proyek pembuatan film dokumenter yang disponsori oleh sebuah BUMN. Masalah timbul saat helikopter yang disewa oleh kru film dari TNI AD jatuh di lereng Gunung Sibayak Sumatera Utara dan dinyatakan hilang, sedangkan TNI AD kemudian menampik keterlibatan mereka dalam kejadian ini sehingga menimbulkan kontroversi.

Memang, tak jelas, Daniel dalam memilah mana fiksi mana pula ilusi. Tapi di sini pula letak kepiawaian Daniel dalam menerjemahkan alam absurd pikir yang rumit. Ia berusaha memanfaatkan sumber dari berbagai media cetak, terutama berkaitan dengan hilangnya pesawat TNI-AD itu. Daniel juga mencoba menenun rangkaian benang kusut itu menjadi asumsi-asumsi yang mengejutkan. Ada narasi Indah yang dijalin dari kolbu yang cerdas dan menyentuh. Ada ruh Pramoedya Ananta Toer dalam diri Daniel. Ada hal yang menyentak, “Tragis! Memainkan emosi pembaca. Membuat kita mereka-reka: mana fiksi dan mana fakta,” komentar Geson Poyk.

Maka benar apa kata Gola Gong, “Hidup terdiri dari banyak kisah. Anggapan hidup adalah realitas jadi bias, karena setiap hari terhampar di hadapan kita kisah-kisah manusia luar biasa yang seolah fiksi, mampu menerobos batas akal manusia. Seperti halnya “Epitaph”; menyodorkan antara realitas dan fiksi. Membaca “Epitaph” kita bertanya-tanya, apakah ini berdasarkan realitas ataukah fiksi. Bahkan di akhir cerita, justru kita memiliki fantasi sendiri, jangan-jangan tulisan di batu nisan itu adalah diri kita!

Membaca Epitaph, menelusuri dinding sejarah berbatu nisan adalah kearifan sekaligus keharuan yang jauh. Di ruang yang tak ada batas, Insya Allah, Bang Burpil barangkali sedang memotret alam barzah. Tentu, tidak sendiri. Bisa jadi seraya membuka lembar demi lembar Epitaph ia agungkan kebesaran Allah SWT.

Lantas dari setiap halaman Epitaph yang terbuka, wartawan Tempo itu berbisik, “Di lembar mana kebenaran jatuhnya pesawat Bolcow HS 7060 milik TNI AD engkau tulis, Daniel Mahendra?”

* * *

Daniel… sempat dari pkl.07.00 s/d 11.00 jadi headline di kompasiana. Banyak yang upload. Menjadi resensi terpopuler. Juga banyak dirating inspiratif. Tentu saja dengan banyak komen. Banyak yang nanya tuh soal novel itu. Sekarang masuk yang terpopuler kok. Bila berkenan bisa dijelasin soal novel itu… Selamat ya Daniel… Moga laris manis. Maaf andai resensi saya ini kurang bagus. Maklum dah tuwa tuwir-tuwir, hehehe. Juga saya kirim ke beberapa situs sastra Medan.

____________

* Penulis cerpen, novel, esai, tinggal di Bandung.

Ulasan di atas dimuat pula di:

Comments are closed.