Epitaph, Novel Sarat Pesan

Posted by penganyamkata on August 11, 2010 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Novel Epitaph | #5

Oleh Antok Suryaden

Karya seni penulisan berbalut data non fiksi ‘Epitaph’ karya Daniel Mahendra, disamping memukau karena anyaman kata maupun alur yang dirobek-robeknya menjadi semacam puzzle yang jika dibaca harus urut menunjukkan nuansa tersendiri selain seni menulis yang handal. Nikmatnya membaca novel ini adalah seperti ketika anda mendaki gunung atau melakukan perjalanan pulang ke rumah dimana memang arahnya jelas dan tidak boleh sesobek waktupun terbuang percuma, seakan ada penantian disana dan tidak boleh tidak memang harus sampai. Entah setan apa yang merasukinya bisa membuat kalimat-kalimat yang sederhana namun bisa menyayat perasaan pembacanya, tidak bertele-tele, namun bisa mewakili dengan kuat peristiwa yang terjadi pada detik itu.

Novel Trilogi Epitaph yang terdiri dari Epitaph, Epigraph dan Epilog, ketika semuanya dibaca mungkin akan memberikan sesuatu yang lebih kaya lagi, karena memang pada Epitaph masih banyak hal yang menjadi lobang sehingga pembaca harus rela untuk menunggu kelanjutannya, masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang otomatis dan seketika masuk ke alam bawah sadar, disamping karena penguatan-penguatan peristiwa yang dengan nakalnya sengaja di buat pengulangannya. Repetisi-repetisi yang mencengangkan jika kita bisa menyambungkan keadaan yang dialami warga di negara ini.

Daniel Mahendra, secara gamblang dan menusuk perasaan menggambarkan bagaimana rasanya menjadi korban yang tidak berdaya. Melawan institusi kecil namun bersenjata dan angkuh yang dibuat bukan karena asas kemanusiaan, mengharamkan kata maaf demi menutupi boroknya sendiri. Hmm.. memang begitulah kondisi bangsa kepala batu tersebut. Bahwa nyawa seseorang tidak ada artinya dibandingkan dengan harga dirinya yang memang memiliki karakter menginjak. Terlepas dari apapun perspektif memandang kehidupan dari ranah korban sangatlah penting untuk selalu disimak, sehubungan dengan trah kepala batu yang semakin lama dan semakin parah saja menghiasi perjalanan kemerdekaan.

Masih lebih banyak lagi nilai-nilai yang dibangun dalam novel Epitaph, semoga saja bisa menyemaikan dan mengurangi kebiasaan kepala batu atas banyaknya tindakan keserakahan, yang menular dan banyak insan tidak bisa menghindarinya namun menikmatinya. Sekali lagi semoga saja pesan-pesan yang terangkum dalam novel Epitaph yang indah ini bisa tersampaikan kepada para pembaca secara sadar, bukan hanya masalah penulisan maupun yang bagaimanapun itu adalah hak sang penulis dalam menorehkan pesan dan gayanya dalam novel setebal viii + 358 halaman, terbitan Kaki Langit Kencana, tahun 2009.

______________

* Aktivis LSM, tinggal di Jogjakarta.

Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dan lengkap dari tulisan ini tetap mesti dilihat di blog The Suryaden.

Comments are closed.