Membaca Epitaph, Terasa Burhan Piliang Hidup Kembali

Posted by penganyamkata on August 11, 2010 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Novel Epitaph | #11

Oleh Idris Pasaribu

Judul : Epitaph
Penulis : Daniel Mahendra
Cetakan : Pertama-I, Jakarta, Nopember 2009
Tebal : viii + 358 halaman
Penerbit : Kakilangit Kencana, Jakarta
Ukuran Buku : 12,5 x 20 Cm
Jenis Buku : Novel/Sastra

Dengan kening yang lebar, janggut yang tipis di dagunya yang tirus, berhidung mancung dan rambut ikal, laki-laki itu melangkah menapaki kota Medan. Dengan celana jeans bersepatu kets dan menyandang kamera merk Minolta, bergantian dengan Asahi Pentax. Kehadirannya sangat ditunggu untuk latihan teater. Teater Nasional atau sering disebut Tena. Saya sendiri bergabung di Tena bersama teman-teman.

Sekian lama bersamanya, laki-laki itu pun bergabung bersama Harian Analisa menjadi fotografer, ditarik oleh Zakria M Passe (almarhum). Ketika itu Zakaria M Passe menjadi redaktur mingguan dan aku salah seorang wartawan yang dipercaya sebagai wartawannya bersama Buoy YA Hardjo (almarhum). Laki-laki itu bernama Burhan Piliang yang kami selalu menyebutnya Bang Burpil.

Bang Burhan atau Burpil, adalah sahabatku, guruku dalam teater dan kamera. Ketika sama-sama di Harian Analisa, Bang Burpil mengajariku banyak tentang kamera, termasuk mencetaknya di kamar gelap, karena ketika itu kami masih memakai foto hitam-putih. Bang Zakaria M Passe mengajariku bagaimana mengedit berita dan tulisan.

Dalam setiap kesempatan, Bang Burpil yang enakdiajak ngomong dan kemudian tidak pelit pada ilmunya mengajariku dan memberikan banyak buku teater (stensilan) yang diterjemahkan oleh Bang Sori Siregar. Bagaimana menyutradarai, bagainmana menjadi seorang aktor dan sebagainya. Kemudian kami sama-sama bergabung di Majalah Berita (MBM) Tempo di Biro Medan yang dikepalai oleh Zakaria M Passe, saya menjadi stranger ketika itu selama hampir dua tahun. Sampai akhirnya Bang Zakaria M Passe dan Burpil pindah ke Jakarta.

Tak lama aku mendapat surat dari Bang Burpil untuk mengajakku bergabung ke majalah Prospek, sebagai wartawannya di Medan. Dengan halus aku menolaknya, karena aku hanya tertarik pada majalah Tempo dan ternyata aku tak bisa masuk ke dalamnya dan aku tetap berada di Harian Analisa.

Sering aku terkenang pada Bang Burpil. Tau-tau aku membaca sebuah sinopsi di Face Book. Aku pun langsung berkomunikasi dengan penulis buku yang berjudul Epitaph, Daniel Mahendra. Epitaph menceritakan sebuah kejadian sebenarnya, tentu dengan sedikit bumbu penyedap, membuat buku ini enak dibaca dan pelu (meminjam mottio TEMPO). Dalam Epitaph diceritakan, bagaimana Burpil Lantang yang saya yakini adalah Burhan Piliang. Bagaimana tidak? Semua apa yang ditulis dalam Epitaph adalah kejadian yang sebenarnya, kemudian nama diganti, namun tempat dan kejadian tetap.

Beberapa hari sebelum kedatangan Burpil dari Jakarta, dia menelpon saya ke kantor Harian Analisa, dia akan datang dan akan menggarap sebuah film dokumenter. Aku siap menyambutnya. Wartawan yang menggantikan Basyir Azhar (almarhum) bertugas meliput di Polonia Medan saat Basyir mengambil cuti tahunan, saya sempat mengantar Bang Burpil sampai ke pagar pembatas yello line. Saya sempat menyaksikan helikopter itu mengangkasa dan saya pun kembali duduk di kantin membaur dengan wartawan lainnya.

Dua jam kemudian, sebagai wartawan kami curiga, meliat kesibukan pasukan Pas Khas yang bergegas. Kami pun mencari tahu. Ternyata heli yang baru ditumpangi Bang Burpil, jatuh? Jatuh? Entah dimana.

Setengah mampu mencari informasi. Tak sedikit pun yang tersisa dari informasi yang kami kumpulkan dengan cepat saya kembali ke kantor membuat beritanya. Apa yang terjadi? Besok pagi berita itu tak muncul. Di sebuah papa pengumuman di kantor, saya membaca ada nota telepon dari Dinas Penerangan Kodam Bukit Barisan, kalau berita itu tidak dimuat. Ingin saya menjerit sekuat-kuatnya. Berita yang sudah payah saya kumpulkan tak bisa dimuat. Bahkan atasan mengingatkan saya, untuk menyudahi liputannya.

Dua kali novel Epitaph saya baca. Kisah antara Haikal dan Laras, aku anggap sebuah pemicu untuk menghadirkan karya ini, walau tanpa membaca kisah Haikal dan Laras, sebenarnya Epitaph tak pernah hadir.

Dalam novel juga diceritakan seniman berkumpul di sanggar tari Taman Budaya mengenang Burpil. Saya juga hadir di sana. seniman menyampaikan kesan-kesannya tentang Burpil. Saya tak berani bicara. Saya melihat seseorang sedang asyik mengikuti acra dan memantau. Seseorang itu adalah aparat berpakaian sipil dengan memakai wig. Mungkin dia ingin mengetahui apa yang dibicarakan.

Mengenang, atau membicarakan sebuah heli milik siapa. Bila saya bicara saya takut akan membicarakan tentang heli itu, sementara hal itu sudah diwanti-wanti. Saya pun diam dan meninggalkan tempat itu, karena saya tak mampu mengikutinya.

Ketika membuat fotostrip (bukan foto arsip seperti yang ditulis dalam Epitaph), setuiap malam aku ikut mengeditnya bersama bang Burpil. Fotostrip berjudul Ramon dan Julia. Yang lain aku tidak ikut karena kesibuan lain.

Saat opementasan Tok… Tok… Tok, saya diajak oleh Bang Burpil, tapi saya tak bisa, karena saya juga sedang menggarap pementasan lain. Benar seperti apa yang dikatakan oleh Gerson Poyk dalam endorsmen-nya pada Novel ini: ”Tragis! Memainkan emosi pembaca. Kita mereka-reka, mana fiksi dan mana fakta.”

Setelah heli ditemukan beberapa tahun kemudian, terjadia perdebatan. Ada yang membantah, kalau itu heli milik TNI-AD. Para crew pembuatan film dokumenter berfoto ria sebelum penerbangan. Foto-foto ini akan menjadi saksi, kalau benar itu adalah heli milik TNI-AD. Saat membaca pada bagian ini, aku kembali terkesima dan menyesal sekali. Ketika perpindahan kantor Harian Analisa dari yang lama ke Jalan Balaikota, banyak sejkali film-film hitam putih yang saya buang karena sudah berdebu. Saya yakin, sekali dalam beberapa rol film hitam putih itu, pasti ada foto pesawat itu. Oh… maafkan aku!

Orang yang hanya mengetahui nama Burhan Pilian sebagai seniman di Medan pasti terbangun emosinya membaca novel ini. Apalagi saya dan teman-teman ang demikian dekat dengan Burhan Piliang, pasti tak mampu membendung rasa haru.

Kenangan terakhir bersamanya, saat dia di Majalah Tempo dan saya menjadi koresponden Majalah Kartini merangkap di Harian Analisa. kami pernah sama-sama melakukan liputan. Gempa di Tarutung dan berbagai peristiwa. Aku menguntitnya.

Aku selalu berada di sisinya. Ketika dia membidik kameranya aku juga dan sama-sama cret. Hasilnya, foto saya dan foto Burhan Pilian memliki sudut yang sama dan dimuat di majalah Tempo dan Kartini bersamaan pula terbitnya. Orang pun susah membedakan mana foto Burhan Piliang dan mana Foto Idris Pasaribu, karena sudutnya sama dan objeknya sama. Oleh Poltak Pangabean di Majalah Kartini di oleh Maza Yudha, aku tersebut fotografer Kartini yang handal walau aku di daerah, mampu mengalahkan fotografer Kartini yang sebenarnya ada di Jakarta.

Epitaph, sebuah novel yang sangat menarik untuk dibaca, bagaimanan kisah seorang Burhan Piliang seniman Medan yang punya prinsip, sederhana dan dekat dengan siapa saja. Daniel Mahendra mampu membangkitkan sebuah kisah sebenarnya dalam garapan fiksi yang menarik dan bagus. Rugi rasanya untuk tidak membaca Epitaph dengan teliti. Bagaimana Haikal dan Laras, sebuah kisah yang menarik juga untuk disimak dalam novel ini. Jan, 2010

__________________

* Wartawan, Sastrawan, Penulis novel “Acek Botak“, tinggal di Medan.

Comments are closed.