Epitaph [03]

Posted by penganyamkata on November 24, 2010 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Novel Epitaph | #22

Oleh Aveline Agrippina

Pernah merasakan kehilangan? Saya pernah. Kehilangan bukanlah hal yang mudah ditaklukkan apalagi dengan kedatangannya yang begitu mendadak.

Telepon pagi itu benar-benar mengejutkan saya. Tak ada firasat apa pun yang dapat meyakinkan bahwa memang benar beliau sudah tiada. Empat tahun saya menjadi anak angkatnya secara tidak langsung. Saya dan beliau mengasihinya sebagai anak dan ayah. Walaupun beliau bukanlah ayah biologis saya, saya merasakan cintanya sebagai anaknya sendiri.

Pagi itu, saya hendak berangkat ke sekolah. Saya baru saja bangun dari tempat tidur dan bergegas mandi. Namun telepon genggam saya tiba-tiba bunyi. Saya angkat dan benar-benar tersontak kaget. Lelaki yang setiap pagi mengantarkan dan menjemput saya ke sekolah telah tiada. Ya, beliau pergi. Padahal saya yang sering tertawa dan berbincang dengannya sepanjang perjalanan melihatnya kemarin dalam keadaan sehat walafiat. Kemarin itu pula beliau yang mengantarkan saya menuju sekolah.

“Hidup itu singkat seperti lilin, meleleh dan mati akhirnya.”

Saya masih ingat kata-katanya beberapa bulan sebelum kepergiannya. Saya belum percaya beliau sudah tiada begitu saja. Saya tidak percaya beliau memiliki penyakit jantung. Beliau tidak pernah bercerita apa pun kepada saya. Setiap kali saya hendak bercerita tentangnya, saya merasa begitu sesak.

Mungkin begitu juga dengan apa yang dialami oleh Daniel Mahendra (DM). Kehilangan seorang kakak secara mendadak dan parahnya helikopter yang kakaknya dan kru film tumpangi hilang dan tidak diketemukan. Sampai suatu ketika, helikopter tesebut diketemukan dan prosedur pengambilan jenazah yang begitu menyakitkan pihak keluarga.

Mengambil sudut pandang Laras, DM bercerita mengenai peristiwa demi peristiwa. Dibalut dengan cerita romantis antara Haikal dan Laras yang saling mencintai, Laras yang harus pergi ke Medan untuk pengambilan gambar film dokumenter, dan cerita masa lalu Haikal dan Laras.

Cerita dibuka dengan pertemuan Haikal dan Langi, sahabat Haikal yang adalah seorang penulis. Haikal memberikan setumpuk catatan yang harus dibaca oleh Langi untuk menuliskan novel pesanan Haikal. Awalnya Langi menolak, tetapi gencaran dari Haikal membuat Langi pada akhirnya memutuskan untuk membacanya.

Cerita berlanjut kepada jatuhnya pesawat Laras di Gunung Sibayak. Dua kru dan dua orang pilot TNI AD tewas begitu saja. Laras yang setengah mati mulai menceritakan keadaan yang sesungguhnya terjadi atas mereka. Pendeskripsian dari DM yang begitu kuat membuat cerita ini semakin bernyawa dan menggebu-gebu dalam memainkan emosi pembaca.

Sayangnya, ini semua tidaklah berlangsung lama. Flash back cerita ini membuat goyang jalan cerita yang ada. Cerita mendayu-dayu dan bertempo lambat. Menjadi memaksa pembaca untuk didongengkan sejarah perfilman yang sebenarnya mayoritas orang Indonesia sudah tahu. Ditambah pula dengan catatan kaki yang sebenarnya adalah kosakata umum membuat cerita menjadi malas.

Sebenarnya kalau dilihat lebih jeli, dua cerpen yang disisipkan DM dalam cerita seperti pemaksaan agar novel terlihat lebih tebal. Juga dengan sejarah perfilman yang panjangnya tidak diperlukan sampai sebanyak itu. Rasanya, membacanya melewati beberapa halaman bahkan dua sampai tiga bab kita tetap bisa mengikuti alur ceritanya.

Sesungguhnya cerita dua insan muda yang jatuh cinta ini nikmat untuk diikuti jika beberapa bagian cerita yang dipaksa harus ada di dalam novel ini terhapuskan. DM sudah bercerita seperti apa yang harus dilakukan. Tidak perlu ditambahkan cerita-cerita apa lagi yang semakin menyimpangkan jalan cerita.

DM yang kita ketahui sebagai seorang Pramuis (sebutan saya untuk mereka yang mencintai Pramoedya), memiliki gaya menulis yang nyaris menyamai Pramoedya.

Tetapi DM tetaplah DM, tak dapat disamakan dengan Pramoedya. Dia akan memiliki ciri khasnya sendiri dalam menulis. Seperti banyaknya kalimat yang berbau filosofis seperti “Kau boleh saja merasa kesepian, namun setelah kau ungkapkan kesepian itu, itu bukan lagi kesepian namanya. Seperti halnya rahasia, jika ia telah lagi diceritakan, ia tak lagi pantas disebut rahasia.” (hal. 291 – Sibayak).

Esensi-esensi yang ada cukup memuaskan dahaga pembaca akan rasa penasaran hendak menjadi apa riwayat Laras pasca heikopter itu ditemukan, apa yang terjadi dengan Haikal setelah mengetahui bahwa Laras harus diperlakukan seperti itu untuk mengembalikannya kepada pihak keluarga dan sayangnya cerita yang harusnya menguras air mata menjadi datar. Sangat datar.

________________

* Pelajar SMA, tinggal di Jakarta.

Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dari tulisan ini di-posting di goodreads dan di blog smallnote.multiply.com [Juli 2010].

Comments are closed.