Fiksionalisasi Fakta Sibayak

Posted by penganyamkata on December 1, 2010 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Novel Epitaph | #25

Oleh Beni Setia

Suara Karya, Sabtu, 27 Nopember 2010

TIDAK jelas apa perbedan fiksi dengan fakta. Bila selama ini kita diajari dengan definisi baku yang mengatakan fikta adalah kebenaran riil dan karenanya disampaikan dalam berita atau karya ilmiah dengan memakai metoda penelitan serta validisasi data secara eksaks statistika. Sedangkan fiksi itu hanya khayalan penulis, karenanya hanya alat mengumbar lamunan serta mencari kesenangan berfantasi. Tetapi apa fungsi fiksi hanya itu?

Sementara, dalam kenyataannya, fakta tak pernah sukses menyatakan kebenaran yang diamati secara metodik, divalidisasi secara eksaks dan lalu diungkapkan secara obyektif karena kenyataan itu sangat menohok atau bahasa dan cara ungkapnya terlalu akademik-sehingga Seno Gumira Ajidarma berbicara tentang fiksi serta sastra tampil setelah fakta tak berbicara. Dengan kata lain, fiksi atau fiksionalisasi fakta adalah cara agar fakta diterima dan dihayati secara empatik, dan karenanya kebenaran tidak hanya diukur kesahihan faktanya tapi dirasakan nuansanya dengan empati.

Di titik ini, karenanya, saya tiba pada anggapan sebuah kebenaran menjadi yang bercahaya ketika diletakkan dalam pukau fiksionalisasi hasil kepekaan kreatif seorang pengarang yang bermain di antara postulat fakta-fakta. Kebenaran jadi mengharukan ketika fiksi menjadi nampan dan kendaraan untuk mengapungkan fakta. Dan itu yang dilakukan Daniel Mahendra pada novel Epitaph Kakilangit Kencana, Jakarta, (2009), dengan basis fakta tragedi musibah pesawat militer yang disewa sipil buat pemotretan udara, Sibayak 22/8/1994. Seperti yang dilakukan Boris Pasternak, dengan novel Dr Chivago, yang mengeksploitasi gebalau sosial di awal Revolusi Rusia, atau Aleksadr I Solzhenitsyn, dengan novel Gulag Archipelago, yang mengungkap borok komunis cq nasib tahanan politik Rusia di Siberia, dan Bumi Manusia Pram yang menyorot sosok bersejarah di masa perjuangan awal Indonesia.

* * *

MEMAHAMI novel Daniel Mahendra harus dimulai dengan membaca apettite kisah dalam ujud cerpen berjudul “Epitaph” yang ada dalam buku kumpulan cerpen Selamat Datang di Pengadilan (2001). Cerpen itu berkisah tentang pacar lelaki yang mengunjungi keluarga yang anaknya hilang dalam kecelakaan pesawat terbang, dan hanya dinyatakan hilang tanpa pernah benar-benar diakui telah meninggal di satu sisi dan (di sisi lainnya) tanpa pernah benar-benar diakui ada dalam pesawat yang hilang itu meski sedang ikut proyek yang melibatkan pesawat yang hilang itu.

Kebimbangan Ibu yang kehilangan, nyala harapan di tengah ketidakpastian akan nasib si anak yang menggelisahkan si Ibu, dan institusi pemilik pesawat yang disewakan oknum secara menggelap yang tak mau mengakui ada transaksi legal penyewaan pesawat yang jadi laku mengingkari adanya penumpang dalam pesawat naas itu menjadi fakta peniadaan seorang manusia secara mencolok.

Itu kebenaran, bahkan ketidakadilan institusional yang diinpentarisasi Daniel Mahendra, yang kemudian dipecahnya menjadi beberapa fakta riil. Lantas fakta itu dipecah menjadi beberapa postulat fakta-fakta, di mana sayap fiksi dimainkan untuk mengapungkan kebenaran, untuk mengapungkan nuansa emosional yang dirasakan keluarga ketika si korban dianonimkan atau dieliminasi demi nama dan kehormatan institusi. Karena itu tokoh-tokoh dalam Epitaph hanya alat dari si pengarang untuk mengekspresikan rasa kehilangan dan resah gelisah yang dalam akan nasib anggota keluarga yang tercangkul di dalam pesawat naas itu tapi tak pernah diakui ada dalam pesawat itu. Karenanya timbul pertanyaan, kenapa harus diingkari?

Apa itu ada kaitannya dengan praktek oknum yang menyewakan pesawat milik Angkatan Darat itu? Hingga pesawat yang biasanya hanya terbang untuk latihan rutin itu ada di dalam kriteria dikaryakan secara personal untuk keuntungan pribadi? Siapa si pilot itu? Atau siapa oknum instansi yang mengkaryakan pesawat itu, yang identitas serta kariernya harus diamankan sehingga semua manifes penerbangan disterilkan jadi cuma penerbangan latihan?

Dan demi sterilisasi manifes itu pula dilakukan evakuasi dengan syarat-mengutip Epitah: jangan ada pers yang meliput pemberangkatan tidak boleh ada penyambutan di bandara atau upacara di kampus kerangka tidak dibawa dengan peti dibungkus dan dimasukkan ke dalam tas.

Sebuah eliminasi total,bahkan atas harkat kemanusiaan di momen paling akhir dari kebereadaannya, yang melukai persaan, karenanya semua kesedihan itu diungkap dengan empatik di atas nampan fiksionalisasi kreatif oleh Daniel Mahendra. Satu laku fiksionalisasi sejarah yang memaksa kita membacanya secara lain.

* * *

ADA tiga tokoh utama dalam novel itu, Langi sebagai novelis yang teman kecil Haikal, Haikal sebagai novelis remaja yang produktif dan berpacaran dengan Laras, dan Laras pacar Haikal yang bercita-cita jadi cineast dengan belajar di IKJ. Tapi ada kerancuan sesaat setelah Laras mati, melayang sebagai si roh yang mengembara dan meninggalkan cerita itu di dalam catatan yang untuk dalam reruntuk pesawat, yang kemudian diketemukan oleh Haikal, yang selama ini menjadi novelis. Setidaknya saat catatan roh Laras ditambah catatan Haikal sebagai novelis menjadi bahan novel ketika diserahkan kepada Langi agar ia menjadi novelis. Ini sebuah rangkaian yang bermaknakan: bila Laras jadi novelis, Haikal dan Langi tidak jadi novelis, sekaligus kalau Haikal jadi novelis Laras tak jadi novelis dan Langi hanya jadi pembaca kritis-baca editor. Dan di ujung Laras dan Haikal tak jadi dan tak mau jadi novelis karena kini Langi yang harus jadi novelis.

Apa makna semua itu? Bagi saya itu sederhana sekali: ketiga tokoh itu bukanlah tokoh yang diciptakan pengarang untuk mengongkritkan cerita, ketiga tokoh itu hanya jalan yang membawa pengarang dan semua pembaca yang dipandunya di sebuah arah ke sejumlah fakta dengan perjalanan fiksionalisasi yang empatik. Dengan Laras kita akan dibawa ke mana, dengan Haikal kita akan dibawa ke mana lagi, dan kedua jalan itu berkelindan membangun realitas fiksi yang menggelayut di antara postulat fakta-fakta. Dan semua realitas fiksional itu ditertibkan serta disusun ulang oleh pembacaan Langi yang pada dasarnya hanya seorang editor kritis. Dengan kata lain, ketiga orang itu adalah pengarang, dan ketiganya diciptakan agar kita bersentuhan dengan banyak fakta dengan kendaraan fiksi.

Itu tehnik bercerita yang khas Daniel Mahendra. Pola strategi mendirikan mercu suar (postulat) fakta yang tak terbantahkan dengan nampan dan kendaraan fiksi yang membuat kita merasakan semuanya secara empatik, bersimpati, dan ikut bersedih hati. Masgul atas kekeraskepalaan oknum institusi yang memanpaatkan tradisi dan displin institusi untuk menyelamatkan karier tanpa menimbang persaan dan kesedihan orang lain. Mungkin juga marah dalam tanpa berdaya, energi yang tampaknya akan dipakai Daniel Mahendra untuk menggenapkan Epitaph dengan novel lainnya. Mungkin.

* * *

________________

Lahir di Bandung, 1954. Menulis cerpen, puisi, serta esai sosial-budaya baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda. Kini ia tinggal di Caruban, Madiun, Jawa Timur.

Comments are closed.