Membaca Pola
Published February 11, 2011
Seseorang tidak dapat memastikan hukum kausalitas karena alam penuh dengan misteri. [Imam Al Ghazali]
Sejak awal tahun 2009, jika melihat jam di handphone maupun jam di laptop, aku selalu, betul-betul selalu, mendapati angka dengan pola pengulangan. Misalnya jam 22:22, jam 09:09, atau jam 13:31. Selalu seperti itu. Entah kenapa.
Terkadang aku mengacuhkannya. Meski aku kerap tak percaya pada kebetulan tanpa alasan, kuanggap hal-hal semacam itu semata kebetulan saja. Dan soal jam yang berpola pengulangan, sampai saat ini pun aku belum mendapatkan penjelasan logikanya. Maka: kubiarkan saja kejadian itu terus berlangsung.
Hari ini, 11 Februari 2011, sepulang mengantar teman-teman ke stasiun dan shuttle travel di pagi hari, tiba-tiba masuk sepucuk SMS dari seseorang berisi angka: 11022011. Aku tersenyum melihat pola angka yang menarik. Lalu masih sembari nyetir, kukirimkan angka tersebut ke BBM seorang kawan lain yang dengannya aku memiliki sebuah rencana besar di tahun 2011 ini. Maka terjadilah obrolan BBM seperti di bawah ini:
“11022011.”
“Ya, aku sempat memikirkan tanggal itu sejak tengah malam tadi. Cause’ I like number 11.”
“Aha!” balasku.
“Kemarin waktu kita ketemu nggak sempat merhatiin jam tanganku? Itu swatch limited edition. Cuma dibikin 11,111 buah di dunia.”
“Wow! Dan kamu suka angka 11?”
“Ya. Temenku sampai nanya kok bisa nemu. Kira-kira jawabannya apa?”
“Karena sering traveling ke berbagai negara?”
“Bukaaannn…”
“Lalu?”
“Law of Attraction!”
“Haha!”
“Aku suka banget modelnya. Pas udah beli, baru diterangin kalo itu limited edition. Jadi nggak sengaja nyari. 11,111.”
“Keren!!!”
“Ya tentunya. Hahaha.”
Selama pembicaraan di BBM itu, aku masih saja terus menyetir. Kebiasaan buruk memang. Sungguh jangan ditiru. Tak lama kemudian aku memasuki halaman sebuah SPBU. Begitu selesai mengisi bensin, aku kembali mengontak kawanku tadi melalui BBM:
“Aku baru aja ngisi bensin. Premium. Rp50.000.”
*ia membalas berupa tanda tanya*
“Berapa liter yang kudapat dengan uang Rp50.000?
“Berapa?”
“11,111 liter.”
“Waaaah??? Seriously?! You got that number???”
“Yup! Kita baru saja bicara soal angka 11,111 kan?”
“Iya. Speechless.”
“Dan aku mendapatkan angka yang sama ketika meteran berhenti di nominal Rp50.000 = 11,111.”
“Asli kaget! Asli!”
“Aku berdiri speechless di depan petugas SPBU.”
“Aku bisa bayangin. Kalau aku pasti menganga.”
“Kita sedang bahas jam itu. Pada saat yang sama aku isi bensin yang entah kenapa kuisi Rp50.000 saja, karena di tangki masih ada. Sekadar nambah saja. Aku perhatikan: dengan nominal Rp50.000 untuk premium, berapa liter bensin yang bakal kudapat. Dan meteran berhenti di angka 11,111.”
“Wah, ini harus ditulis. Karena kejadiannya di tanggal ini pula. 11022011.”
“Yup!”
“Gila!”
“Adakah ini pola kebetulan?”
“Faktor kebetulan yang sangat nggak masuk akal.”
“Apa pun namanya.”
“Hmm, ini harus ditulis!”
“Aku pun sudah nggak sabar untuk menuliskannya. Aku merasa ini semacam sebuah pesan. Rencana kita di tahun ini tampaknya bakal jadi kenyataan.”
“Amin.”
“Amin.”
Demikian kurang lebih pembicaraan di BBM tersebut. Apakah kejadian barusan semata pola kebetulan? Aku tidak tahu. Dan tidak ingin merepotkan diri untuk mencari tahu. Yang aku percaya: semua yang berlangsung di dunia ini terjadi bukan tanpa alasan. Bahkan selembar daun yang jatuh dari sepucuk pohon sekalipun memiliki penjelasan. Seperti halnya kita bertemu dan mengenal seseorang. Seperti halnya tiba-tiba turun hujan ketika kita baru saja hendak pergi. Seperti mengapa gunung meletus. Seperti mengapa seseorang mati dengan cara mengenaskan. Atau mengapa Anda membaca tulisan ini. Semua ada alasannya, kebetulan atau bukan kebetulan.
Maka bahwa pada hari ini, 11 Februari 2011, seseorang mengirimkan SMS ‘11022011’, lalu SMS tersebut kukirimkan lagi pada kawan lain yang tanpa sepengetahuanku menyukai angka 11, dan ia bercerita tentang jam tangannya yang hanya diproduksi sebanyak 11,111 biji saja di dunia. Lantas pada saat yang bersamaan aku mengisi bensin dengan nominal Rp50.000 dan mendapatkan 11,111 liter, apakah semua ini kebetulan?
Seperti kataku tadi: Aku tidak tahu. Dan tidak ingin merepotkan diri untuk mencari tahu. Namun satu hal: tetap ada pesan di balik semua kejadian. Soal bagaimana kita menangkap pesan tersebut, tergantung cara kita menanggapi kejadian-kejadian yang terjadi.
Tabik!
11 Februari 2011
