Epitaph: Memoar Batu Nisan

Posted by penganyamkata on March 26, 2011 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Novel Epitaph | #26

Oleh Evi Yuniati

Siapa pernah merasakan kehilangan orang yang dikasihi? Baik itu orang tua, sahabat, saudara, suami/istri, atau pacar. Apa yang dirasakan? Pertanyaan seperti ini pastinya tidak penting untuk ditanyakan. Rasa sedih, kehilangan pasti yang dirasakan.

Aku pernah merasakan kehilangan. Kehilangan seorang ibu, yang begitu berarti buatku begitu menyedihkan. Sakit kencing manis yang sudah merenggut beliau dari sisiku. Rasa hancur dan kehilangan itu begitu terasa saat aku diminta untuk melihat posisi beliau saat hendak dimasukkan ke peti mati. Ketika itu aku langsung lemas, menangis meraung raung dan tak kuasa melihat ibu yang begitu ku kasihi saat itu sudah tidak lagi berbaring di ranjang kamarnya.

Itulah gambaran bagaimana kehilangan orang yang kita cintai dan kasihi. Epitaph, adalah sebuah buku yang ditulis oleh Daniel Mahendra (akun twitternya @penganyamkata) untuk melukiskan rasa kehilangan seorang pemuda, Haikal yang ditinggal mati pacarnya, Laras dalam kecelakaan helikopter.

Walaupun ini cerita fiksi, tapi menggambarkan rasa kehilangan itu adalah sama seperti yang dirasakan kebanyakan orang. Bagaimana sejak jatuhnya helikopter itu sampai berbulan-bulan bahkan 2 tahun baru diketahui jelas dimana letak bangkai helikopter bersama penumpangnya yang sudah tinggal tulang belulang.

Membaca kisahnyapun seakan seperti terbagi apakah ini fiksi atau nyata karena ada catatan-catatan surat kabar yang memuat berita jatuhnya helikopter. Ilustrasi sampul bukunya pun seperti menandakan ada kedukaan, ada memoar di dalam buku itu (gambar jembatan seperti di dalam hutan. Di sisi kiri, kanannya banyak pepohonan dan tanaman-tanaman perdu. Juga warna gambarnya yang hijau suram).

Dialog Haikal dengan bapak penjual buah, menarik sekali buatku. Bapak penjual buah itu berbicara tentang arti menunggu. “banyak orang bosan melewati penungguan itu. Bagiku di situlah seninya hidup. Ada seni tersendiri dalam penungguan itu. Ada harapan yang terus menyala. Itu terkadang yang tak semua orang mau memahami, bahwa menunggu adalah suatu kenikmatan tersendiri. Suatu seni tersendiri..” menarik bukan?

Buat aku, inti sari buku ini adalah belajar ikhlas kehilangan orang yang kita cintai dan biarkan memoar tentang orang itu tetap terpatri di hati dan juga di batu nisan mereka.

________________

* Marketing, tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dari tulisan ini dapat dilihat di miscl-vienavista.blogspot.com [Maret 2011].

Comments are closed.