Selamat Datang di Pengadilan [01]

Posted by penganyamkata on May 6, 2011 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Selamat Datang di Pengadilan | #6

Oleh Eka Situmorang-Sir

“Sebab menulis itu soal keberanian. Ada keberanian atau tidak. Satu orang menghadapi pembaca ribuan orang. Dan masing-masing berhak mengejek, mencaci, dan juga memuji. Kalau tidak kuat, habis!”

Kutipan cantik tersebut saya baca di buku karya Daniel Mahendra berjudulSelamat Datang di Pengadilan. Judulnya bikin mengkerutkan kepala ya? Terkesan berat dan serius?  Ah, tidak. Buku setebal 107 halaman ini ringan dibaca koq. Tapi walaupun ringan, pemikiran atau harapan yang terselip di buku ini tidak bisa dibilang enteng. Ada keprihatinan akan masa depan bangsa ini, akan proses belajar mengajar di kampus hingga kasus-kasus yang mendadak dingin dipeti-eskan.

Selamat Datang di Pengadilan merupakan sebuah buku kumpulan cerpen yang banyak mengambilsetting cerita sekitar tahun 1996 hingga 2000. Jadi jangan heran ya, ketika menemukan cerpen yang menyisipkan surat cinta (bukan email lho) atau telepon yang dilakukan di wartel. Ya sesuai zaman waktu itulah!  Semacam jadi teringat masa waktu es em a atau kuliah dulu. Hihihi. Buku ini bukan buku humor, tapi situasi-situasi yang disodorkan kadang membuat kita tersenyum sendiri karena gemas.

Selamat Datang di Pengadilan berisi 11 cerita pendek, namun yang saya sukai adalah cerpen berjudulKemudian, Jadilah Ia Wartawan. Topiknya tentang kecemburuan seorang perempuan yang dalam kapasitasnya sebagai wartawan mampu berbuat yang… ya begitu deh. Silakan mengambil kesimpulan sendiri, ada banyak sisi yang membuat saya tidak bisa menghakimi. Tapi yang pasti,ending cerpennya bikin pengen njewer yang nulis deh. Ah, cerpen-cerpen Daniel Mahendra memang bukan sembarang cerpen sih. Ia mampu membungkus sebuah topik berat menjadi mudah dicerna. Ia menuliskan realita gaya berpacaran masa kini tanpa melupakan kritik. Cerpen-cerpen di sini banyak yang dibalut kisah cinta. Jadi walau topiknya gak populer tapi tetap terasa gimana gitu. Hihi. Ya, seorang Daniel Mahendra menuliskan pemikiran di kepalanya tanpa meninggalkan style centilnya yang khas ketika berhadapan dengan perempuan. Sssst, jangan bilang-bilang yah… Sebenarnya saya curiga bahwa cerpen-cerpen yang ada disini terinspirasi dari kisah-kisah cinta pribadinya. *melarikan diri ke Mall*

_________________________________

* Pembaca, tinggal di Jakarta.

Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dari tulisan ini ada di ceritaeka.com [Jumat, 6 Mei 2011].

Comments are closed.