Surat yang Tak Kunjung Usai

Posted by penganyamkata on January 31, 2012 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Novel Epitaph | #27

Oleh Indri Juwono

Dan,
Sudah banyak yang memperingatkan bahwa novel ini adalah memoar kematian, yang menceritakan kenangan-kenangan akan ditinggalkan seseorang yang amat disayangi. Tapi tetap saja terbit rasa ingin tahuku, karena kematian selalu menimpulkan tanya kenapa, dan pengungkapan misteri di baliknya. Bukan satu perkara mudah untuk menggambarkan kisah di balik jatuhnya helikopter dan hilang berbulan-bulan, jika tidak pernah berada dalam situasi yang mirip. Dan misteri bisa terpecahkan atau tidak terpecahkan. Memoar kehilangan seseorang yang dikasihi dalam kecelakaan helikopter, yang peristiwanya pun dihilangkan oleh yang berkepentingan.

Dan,
Membaca kisah cinta Laras dan Haikal, alih-alih terharu, aku tertawa, melihat karakter Laras yang begitu hidup, bersemangat dan selalu ceria. Haikal, penulis sok cuek dengan gayanya yang cool, sudah pasti diidamkan oleh tipe perempuan seperti Laras, yang bisa menenangkan ambisinya yang meledak-ledak. Pasangan yang sepertinya akan cocok mengisi satu sama lain. Cara berkenalan antar mereka yang biasa saja namun berkesan. Aku seperti berada di sana menyaksikan mereka berkenalan.

“Hei, kamu bahkan belum tahu siapa namaku!” seruku kesal.
Ia berhenti, menoleh kemudian tersenyum :
“Laras Sarasvati!”

Dan,
Aku banyak tergagap-gagap ketika membaca buku ini, menerka-nerka siapa yang sedang bercerita dalam bab ini. Kadang Laras, kadang Haikal, kadang Langi, yang porsinya sedikit. Mungkin banyak karya yang dituliskan lebih dari satu tokoh ‘aku’, dengan beberapa orang penutur kisah, namun aku sering merasa hilang di dalamnya, bingung apakah penceritaan dalam helaan nafas Langi atau catatan Laras yang hidup dalam penggambaran dialog tokoh-tokohnya. Laras hidup bagai cerita dalam lembaran buku harian, atau udara yang melayang menceritakan tentang kisah hidupnya, ambisi dan mimpi-mimpinya. Lalu aku berpikir, apa yang kau lakukan Langi? Apa yang membuatmu harus ada di sana? Cinta Haikal dan kemampuannya menulis membuat ia seharusnya bisa menjadi penutur utama, dengan emosi dalam dirinya yang tergambar lewat kenangan akan diri Laras. Haikallah orang yang tepat untuk menceritakan ini, bukan Langi, yang tidak kenal, tidak memiliki keterkaitan emosi apa pun dengan keduanya, hanya sebagai pembaca catatan Laras. Tindak Haikal yang hanya sebagai pengantar catatan, dan menelepon hanya untuk mengingatkan Langi, menjadikan karakternya datar, tak lebih seperti bayang-bayang, padahal ia adalah tokoh utama di sini, tokoh yang banyak dihidupkan lewat tulisan-tulisan Laras. Mungkin Haikal bukan tipe orang yang bisa curhat berjam-jam pada Langi, dia akan memendam erat-erat kenangannya. Tapi aku yang membaca, merasa seandainya Haikal yang menulis cerita ini, emosi duka yang terjadi akan lebih kuat, seperti mendengarkan cerita dari orangnya langsung, bukan Langi sebagai penutur kedua.

Dan,
Mungkin seperti pembaca lainnya, aku terganggu dengan catatan kaki yang banyak menjelaskan singkatan-singkatan yang sebenarnya sudah umum di masyarakat. Aku juga terganggu dengan sejarah perfilman yang diceritakan amat panjang. Seharusnya bisa dipersingkat.
Pun juga dengan cerpen yang diselipkan di dalam cerita. Apa ini? Layout cerpen ini menghilangkan garis besar kisah yang hendak kau ceritakan. Seandainya cerpen ini diletakkan dalam bab sendiri, atau dicetak dalam garis miring, mungkin akan membuat pembaca sepertiku tidak kehilangan fokusnya. Ya, mungkin cerpen ini menguatkan karakter Haikal yang cenderung tampak kuat dan tangguh di luar, namun di dalam hati punya hal-hal yang dipendam yang tidak dibaginya ke orang lain, namun cukup mengusik pikirannya. Karakter khas pejalan, pendaki gunung. Ya, aku banyak mengenal karakter itu di sekitarku, lelaki yang tenang, melakukan perjalanan tanpa banyak omong, memilah mana yang perlu atau tidak perlu dibahas, dan bisa mencurahkan isi pikirannya yang berkecamuk dalam tulisan. Mungkin karena itu kamu merasa perlu menyisipkan cerpen di dalam cerita ini, tidak hanya sekedar menunjukkan bahwa Haikal adalah seorang penulis.
Tetapi, apabila kamu memutuskan untuk tidak menuliskan cerpen ini, mungkin akan lebih fokus. Karakter Haikal yang pemikir tampak di saat kunjungannya ke rupah bapak tua di tepi pantai itu, ketika di sana ia dipertanyakan kesepian.

“Kebahagiaan itu bukan dicari, tapi diciptakan.”
“Kau boleh saja merasa kesepian, namun setelah kau ungkapkan kesepian itu, itu bukan kesepian lagi namanya. Seperti halnya rahasia, jika ia telah lagi diceritakan, ia tak lagi pantas disebut rahasia.”

Dan,
Benar, buku ini membangkitkan kenangan akan kematian orang yang amat kita sayang. Ketika sehari-hari bertegur sapa, lalu tiba-tiba tak ada. Apalagi menjadi orang yang terakhir melihatnya dalam keadaan hidup. Rasanya seperti aku terlempar lagi ke lorong waktu 23 tahun yang lalu, ketika kehilangan satu-satunya adik perempuanku. Dan membuat kami meninggalkan kota Bandung dengan duka, dan baru bertahun-tahun kemudian kembali untuk bertinggal lagi. Jembatan dalam sampul bukumu mengingatkanku pada jembatan di Cikutra, yang kulewati setiap aku mengunjungi makamnya.

Dan,
Pegunungan itu, selalu memberikan rasa debar ketika melintas di atasnya. Gerakan naik turun pesawat, dan guncangan-guncangan kecil yang terjadi memberi tanda kita untuk berdoa memohon keselamatan. Membaca lembar-lembar yang mengisahkan pencarian Laras diceritakan dengan rinci dan detail, membuat aku membayangkan lembah tersembunyi yang tidak tersapu oleh tim SAR. Deretan pegunungan yang membentang di sisi barat Sumatera hingga Sumatera Utara, hembusan turbulensi udara yang amat mungkin karena kontur pegunungan dan perbedaan tekanan. Pencarian untuk memberikan penghormatan terakhir dan selayaknya pada mereka.

Dan,
Membaca novel ini, awalnya seperti membaca sebuah monumen kesedihan sebuah kematian, namun lama kelamaan ternyata ini adalah monumen kehidupan, kenangan seorang Laras, seorang gadis yang amat teguh dengan cita-cita, yang tidak pernah beralih sedikitpun. Yang tahu ke mana ia harus melompat, ke mana kakinya harus didaratkan. Menyusun semua langkah yang diambilnya, dengan segala resikonya. Seorang gadis dengan gairahnya yang menggebu-gebu di tengah lesunya perfilman, masih memiliki impian bahwa keadaan akan berubah. Lepas dari stereotipe cita-cita anak kecil. Seseorang yang punya keyakinan akan impiannya. Dan tahu bagaimana mewujudkan mimpinya.

Dan,
Mungkin ceritaku akan lain apabila aku bertemu Haikal terlebih dahulu daripada denganmu. Mungkin akan lebih banyak kukorek tentang sosok melankolis kolerik ini. Atau cerita tentang Laras kekasihnya. Namun waktu mengatakan lain. Aku bertemu denganmu lebih dulu daripada Haikal. Sehingga kita memang tidak bercerita soal laki-laki ini, tetapi tentang hal-hal lain di luar sana. Tapi aku mengaku, Dan. Aku jatuh cinta pada Haikal.

***

setelah merayu setahun penuh, akhirnya aku mendapatkan buku ini dari penulisnya. buat agenda tutup tahun 2011.

buat Indri Juwono,
terima kasih untuk persahabatan yang manis!

Daniel Mahendra
Bandung, 24 Desember
Malam Natal 2011

________________

* Arsitek, tinggal di Depok.

Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dari tulisan ini ada di matabukuindri.blogspot.com [Januari 2012].

Comments are closed.