Perjalanan ke Atap Dunia [01]

Posted by penganyamkata on April 17, 2012 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Perjalanan ke Atap Dunia | #5

Oleh Aveline Agrippina

Hai Om Daniel,

Entah mengapa baru kusadari aku memanggilmu dengan sebutan ‘om’ setelah beberapa kawanku bertanya,”kok lo manggilnya ‘om’?” Kujawab saja pertanyaan itu dengan seloroh asal,”lupa ceritanya” untuk menghindari jawaban yang harus kubuat-buat. Sesungguhnya memang aku tidak tahu jawabannya. Tapi, izinkanlah aku memanggilmu dengan sebutan itu.

Akhirnya, setelah sekian lama ditunggu, Perjalanan ke Atap Dunia ini pun terbit. Kuhabiskan dalam waktu tiga hari di mana saja. Di kamar, di kampus, di kedai kopi, sampai di tempatmu meresmikan kelahiran anakmu ini. Lantas, ketika aku menutup buku ini di sebuah kedai kopi, aku tetiba teringat dengan pernah kulakukan dan ingin kulakukan.

Menjelang akhir tahun 2009, selepas turun dari Gunung Bundar, aku dan beberapa kawan seperjalanan lain langsung disambut hujan lebat. Memang benar, Desember begitu kelabu dan sendu sendiri. Alhasil pakaian kami basah kuyup ditangisi oleh langit. Tetapi aku tidak pernah bisa memungkiri rasa gembira yang selalu ada di dalam hatiku ketika bisa naik pula bisa kembali turun dari gunung. Di bawah kaki gunung tersebut, basecamp kami berada. Lekaslah aku dan kawan seperjalananku memasuki tenda.

“Gunung Bundar sudah! What’s next?” tanya seorang kawanku.
“Gunung Semeru! Cartenz Pyramid! Atau kita langsung berangkat ke Everest?” jawabku asal.
“Hueh! Ongkosin sih boleh.”
“Kalau ke Cartenz, gue gak mau pulang,” ujarku sembari tertawa.

Beberapa kawanku tahu apa yang selalu kucita-citakan. Aku ingin ke Papua. Ingin kudaki seluruh puncak yang ada di Pegunungan Jaya. Ingin kudaki Puncak Sudirman, Puncak Sukarno, Puncak Cartenz Pyramid.

Siapa nyana, sampai kini, Gunung Bundar itulah pendakian terakhirku. Kesibukan yang melanda di daratan lebih mendominasi. Bahkan di waktu liburku, aku harus mengerjakan apa yang tertunda. Tak ada lagi waktu yang cukup bagiku untuk mendaki gunung. Kerinduan itu selalu menggebu ketika aku melihat foto-foto pendakian atau tetiba teringat dengan deru tronton atau bertemu dengan backpack-ku yang selalu menanti di rumah untuk kuajak berkelana.

Tapi percayalah, mimpiku untuk menginjakkan kaki ke Cartenz masih begitu liar. Buas! Aku masih ingin ke sana. Kalau perlu menghabiskan sisa hidup di sana pun, bukanlah masalah besar bagiku. Sebuah kebahagiaan adalah ketika apa yang kita inginkan tercapai.

Om Daniel,

Perjalanan ke Tibet tentu pernah pula menjadi impianku dan sampai kini masih menjadi harapanku. Suatu ketika, aku pun akan menginjakkan kakiku ke sana. Meninggalkan bekas sepatuku di setiap jalannya. Mungkin pula ketika aku pulang, aku sudah membawa setumpuk rekaman perjalananku untuk didokumentasikan dalam bentuk apa. Bisa sama sepertimu, bisa juga tidak.

Petualangan adalah candu, begitu kata Bubin Lantang. Sesungguhnya aku sangat bahagia menjadi insan muda yang pernah berkeliling Pulau Jawa sampai Bali. Aku pernah merasakan bagaimana duduk di kursi pesawat, menghabiskan malam di dalam bus, merasakan getar gerbong kereta yang membawaku, digoncang ombak ketika menaiki perahu. Aveline muda pernah merasakan itu.

Maka, dari banyaknya orang yang pernah menginjakkan kakinya di Tibet, mereka semua pun tentu pasti pernah bermimpi suatu ketika akan berada di Potala, hinggap di kaki Gunung Everest, atau pula akan mendaratkan dirinya sampai ke puncak yang akan membuatnya menjadi manusia tertinggi di dunia. Kau pernah memimpikannya bukan? Aku pun demikian. Mungkin, di luar sana akan ada seribu atau sejuta atau lebih umat manusia yang menginginkannya mendaratkan di Tibet. Kau adalah salah satu yang beruntung.

Perjalanan dimulai ketika mendarat di Thailand, kemudian sampai ke Chengdu, dan pada akhirnya Rooftop of The World. Mengelilingi Nepal sebagai bonusnya dan bertemu dengan teman-teman seperjalanan tanpa pernah diduga.

Ah, aku pernah merasakannya seperti itu meski di tempat yang berbeda, Om. Bertemu dengan orang-orang yang tak pernah kuduga, apa yang akan terjadi di perjalanan, sampai kepada kehabisan uang di tengah jalan. Ha! Kehidupan sesungguhnya memang ada ketika kita berani keluar dari rumah dan mengeksplorasi diri kita seluas-luasnya.

Om Daniel,

Perjalanan adalah sebuah skenario film yang bisa berubah kapan saja tanpa pernah kita kehendaki. Tapi di sanalah letak serunya untuk menjalani hidup seluas-luasnya. Akanlah sangat memalukan bila aku hanya pandai secara intelektual semata, tetapi kepekaanku terhadap dunia sekitar sungguh mati. Perjalanan adalah sekolah yang paling dekat kepada kenyataan hidup. Di sana, kita diajarkan menjadi manusia sejati. Manusia yang tidak manja, manusia yang tidak cengeng, dan manusia yang bisa tersentuh dengan panasnya aspal, dinginnya malam, atau penuh tamparan debu di sepanjang perjalanan.

Ketika keinginan telah tercapai dan kita telah berada di sana, semua menjadi selesai dan berhenti seketika. Terkadang proses untuk mencapai sesuatu acap kali jauh lebih bermakna ketimbang tujuan itu sendiri. – hal 114

Setiap orang harus berani bermimpi karena mimpi itulah yang akan membawanya kepada hari-hari yang lebih diharapkan pada masa lalu. Aku selalu berani untuk tetap bermimpi dan selalu berjuang untuk mewujudkan mimpi-mimpiku dengan berbagai macam caranya tersebut. Benar apa yang dikatakan oleh kakekku, orang-orang muda harus berani bermimpi dan berani juga untuk merealisasikannya. Modal kehidupan nomor wahid adalah bermimpi sebagai tujuan ke mana kelak kita akan melangkah ke depannya.

Om Daniel,

Jangan pernah berhenti bermimpi. Jangan pernah berhenti berbagi. Jangan pernah merasa lelah untuk tetap mengejawantahkan segala mimpi-mimpimu. Dari sanalah, kehidupan selalu bermuara dengan caranya yang dahsyat dan tidak pernah terduga.

Jabat erat selalu,

Bandung, 17 April 2012 | 20.59
A.A. – dalam sebuah inisial

PS: Kalau bukunya cetak ulang, mau ah melamar jadi penyelaras aksaranya. :p

_________________________

* Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dari tulisan ini ada di goodreads dan di smallnote.multiply.com [April 2012].

Comments are closed.