Perjalanan ke Atap Dunia [02]

Posted by penganyamkata on April 24, 2012 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Perjalanan ke Atap Dunia | #7

Oleh Felicia Lasmana

Mungkin ada ngomong ini spoiler atau apeu? Ini cuma sepenggal catatan pinggir dan pertanyaan waktu baca Perjalanan ke Atap Dunia | Daniel Mahendra

Hal 22: Hai, apa kabarmu, Ta? – siapa Ta ini? Tapi akhirnya tahu juga (kayaknya) lewat Twitter @penganyam kata

Hal. 32: Fokus dalam mewujudkan impian itu sangat diperlukan. Bekerja tanpa tujuan atau impian itu tidaklah cukup

Hal 90: Perjalanan adalah pelajaran mengenal diri sendiri

Hal 114 & 159: Ketika perjalanan telah tercapai dan kita telah berada di sana, semua menjadi selesai dan berhenti seketika. Terkadang proses untuk mencapai sesuatu acap kali jauh lebih bermakna ketimbang tujuan itu sendiri

Hal 146: Perjalanan adalah kelahiran kembali dalam bentuk yang paling sederhana

Hal 153: Kebahagiaan adalah keputusan dalam pikiran.

Hal 177: Kalau lebih banyak gambar lagi mungkin akan lebih menarik dan posisinya ngga hanya di tengah saja

Hal 223: Tidak ada orang yang memanjat gunung dengan alasan scientific. Imu hanya digunakan untuk menggalang dana untuk ekspedisi, tapi kita tetap mendaki gunung pada akhirnya .. teringat All elevations Unknown: An Adventure in the Heart of Borneo by Sam Lightner, JR.

Hal 300: Bekerjalah! Karena itu pertanda gairah hidup

Hal 306: Tentang sekolah –> dengan belajar kita (mungkin) dapat menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang belum terjawab (yang mungkin dapat menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru yang lebih rumit lagi)

Hal 319: “Kalau kamu sudah berkeluarga, kamu akan berpikir dua tiga kali untuk traveling seperti ini. … Maka jadilah laki-laki yang cukup dengan keluarga di rumah.” (kalau cewek gimana nih? Kayaknya tergantung masing-masing persepsi)

Hal 324: Hukum Traveler –> ”Kita bertemu, berpisah, dan bertemu lagi dengan teman perjalanan di bumi bagian mana pun. … Jangan pernah berbohong atau berbuat curang. Karena nanti bisa jadi kita akan bertemu lagi. Entah di bumi bagian mana”

Hal 338: Pesan moral –> Jangan biarkan pikiran nakal dan usil bersama kita di kala perjalanan. Apa yang kita pikirkan sangat mungkin terjadi dimanapun Anda berpijak dan ini tidak hanya berlaku di Mekah atau Vatikan saja.

Hal 340: Bagian terpenting dalam catatan perjalanan ini.
- Perjalanan dapat mengubah cara pandang dan pikir kita
- Perjalanan membuat kita lebih berani dalam menetapkan tujuan
- Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini bila kita betul-betul memperjuangkannya
- Perjalanan adalah perjalanan batin dan pelajaran untuk berani bermimpi

_________________________

* Biologist. Terkadang tinggal di Bandung, namun lebih sering berada di hutan.

Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dari tulisan ini ada di goodreadas [April 2012].

Comments are closed.