Perjalananan: Menempa dan Memperkaya Pengalaman Batin

Posted by penganyamkata on April 26, 2012 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Perjalanan ke Atap Dunia | #9

Oleh Icha Planifolia

Konon buku ini dipersembahkan “Untuk orang-orang yang berani memperjuangkan mimpi masa kecilnya.” (pada halaman persembahan). Kalimat tersebut kiranya adalah kalimat persembahan yang cukup “menyengat” bagi sesiapa yang masih menggantungkan impian di langit-langit kamar dan hanya memandanginya menjelang tidur.

Setiap kita mungkin pernah bermimpi. Seperti halnya Daniel Mahendra bermimpi. Nyatanya buku ini ada (baca : terbit) berawal dari sebuah mimpi masa kecil, diilhami oleh Komik Tintin di Tibet. Siapa sangka kalimat “Aku ingin ke Tibet.” itu tersimpan apik dalam memori otak bawah sadar seorang Daniel Mahendra. Dalam buku ini kita akan menjumpai kenyataan bahwa kebanyakan kita –begitu juga awalnya Daniel Mahendra- hanya bermimpi tanpa sungguh-sungguh “memutuskan” dan “mewujudkan”.

Buku ini pun menyajikan sebuah realita : akan banyak tantangan dalam proses perwujudan impian. Begitulah yang dialami Daniel Mahendra. Semua tantangan sebelum keberangkatan, ketika sedang dalam perjalanan, hingga kembali pulang dijalin apik oleh penulis. Ditulis dengan bahasa yang mengalir, ringan, hingga menyelesaikan membacanya sampai halaman terakhir menjadi –seolah- hanya sekejap mata.

Kiranya penulis pun mampu mendeskripsikan setiap kejadian yang dialaminya dengan apik. Toh, meskipun saya belum pernah menjejakkan kaki di tempat-tempat yang disebutkan dalam buku ini, tapi imajinasi saya sudah terlebih dahulu menemui Daniel Mahendra tertidur di bangku bandara Bangkok, membersamainya mengelilingi bandara Bangkok –yang konon luas itu-, bertolak ke Chengdu, menempuh perjalanan berhari-hari dalam kereta menuju Lhasa, dan seterusnya. Seolah sungguh berada disana dalam tiap liku cerita.

Begitu pun ketika penulis merasa gulana ketika menginjakkan kaki di Istana Potala yang kini dieksploitasi untuk turis, di sudut kamar saya turut gulana. Atau saat ketakjuban melihat gugusan Himalaya yang dibalur salju, kiranya ketakjuban itu pun melingkupi saya. Dikali lain melaksanakan sholat maghrib di kota Lhasa adalah pengalaman langka, pun saat harus merasa dirongrong maut tersebab mengalami Acute Mountain Sickness saat di Everest Basecamp…begitu detil  dan mengalir penulis bercerita, hingga saya sungguh-sungguh menikmati “trip” ini.

Kisah manis pun membumbui buku ini. Menggambarkan keindahan Danau Phewa bersama pesona Jeanette si gadis Prancis. Juga mengisahkan persahabatan asyik dengan dua pemuda Malaysia, Tan dan Chen. Atau betapa Juan yang Amerika memiliki banyak cinta bagi sesama. Semua terjalin sangat manis dalam buku ini.

Sedikit saja yang saya sesalkan, secara pribadi saya memiliki ekspektasi lebih pada adegan penulis bertemu dengan seorang pemuda Nepal yang nyatanya bisa berbahasa Jawa. Saya kira jika diceritakan lebih dramatis tentu perut ini akan sempurna dipelintir tawa, yang akan membuat semakin “manis” rasa buku ini. Sekali lagi ini ekspektasi pribadi saya.

Bagi para pejalan (baca : traveler) kiranya ada baiknya membaca buku ini sebelum memulai perjalanan. Memampukan diri kita menjawab pertanyaan yang diajukan lelaki penjual kopi di Kota Pokhara:
“Apa yang kamu cari, Daniel?”
“Masa muda, Daniel. Masa muda. Memang seharusnya begitu. Pergilah ke mana pun kakimu melangkah. Itu akan menempamu. Memperkaya pengalaman batinmu.”
Nyatanya buku ini menyajikan filosofi dari sebuah perjalanan. Untuk mendapatkan filosofi itu dan menyimpannya rapat-rapat dalam ingatan tentulah mesti membaca buku ini secara keseluruhan. Jadi, ayo segera baca!

Terlebih bagi anda yang mencintai debu jalan, buku ini kiranya dapat memperteguh keberanian anda untuk menggenggam impian, menyambangi tempat-tempat –yang mungkin- selama ini hanya dibiarkan menghuni ruang ingatan. Bagi yang bermimpi untuk menjadi pejalan (baca : traveler) dan tak pernah mewujudkannya (entah dengan alasan apa), kiranya buku ini dapat memuaskan dahaga anda yang selalu rindu dengan baluran debu jalan. Dan bagi anda yang akan atau sedang melakukan perjalanan, kiranya buku ini akan menjadi teman yang sangat mengasyikan, membersamai anda dalam perjalanan yang sarat pegalaman batin.

Sesungguhnya ini tidak cukup, namun saya harap yang sedikit ini cukup mewakili. Selamat menikmati Perjalanan ke Atap Dunia : Tibet, Nepal, dan Cina dalam Potret Jurnalisme. Happy reading!

_________________________

* Mahasiswi Jurusan Farmasi, Universitas Jenderal Achmad Yani. Bermimpi menjelajah dunia sembari menulis. Tinggal di Cimahi.

Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dari tulisan ini ada di goodreadas, di icha-planifolia.blogspot.com [April 2012], dan di travenia.wordpress.com [Februari 2013]

Comments are closed.