Sebuah Kisah Menggapai Mimpi

Posted by penganyamkata on April 26, 2012 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Perjalanan ke Atap Dunia | #10

Oleh Arlangga S. Moeharam

Setiap orang pasti pernah bermimpi. Entah itu mimpi disaat tertidur, atau bermimpi untuk mencapai sebuah tujuan. Tapi akan sangat percuma jika mimpi-mimpi itu hanya jadi wacana belaka. Bukankah hidup kita akan terasa lebih berarti ketika kita bisa menggapai mimpi-mimpi kita?

Tidak banyak orang yang mengisi setiap detik hidupnya dengan kegiatan yang bertujuan untuk meraih mimpi masa kecilnya. Kadang ketika seseorang beranjak dewasa dan dihadapkan pada kenyataan dunia, mereka mulai memaafkan diri mereka untuk mulai melupakan mimpi-mimpi masa kecilnya. Padahal mereka belum pernah mencoba untuk merealisasikannya.

Daniel Mahendra mungkin salah satu orang yang intens dan konsisten dalam menggapai mimpi masa kecilnya. Ketika kelas 5 SD, dia mendapatkan sebuah buku komik eropa dengan judul “Tintin di Tibet” karya Herge. Komik yang menceritakan kisah Tintin dan anjingnya Snowy dalam misi menyelamatkan sahabatnya yang mengalami musibah kecelakaan pesawat di Tibet, membuat seorang Daniel terpacu untuk pergi ke Tibet.

Dalam buku ini, Daniel mengisahkan kembali pertualangan hidupnya selama ia berusaha mewujudkan mimpi masa kecilnya. Dikisahkan juga problem dan kendala sebelum dia akhirnya memutuskan, “Ya, saya harus ke Tibet!” dan sampai akhirnya dia berhasil menginjakkan kaki di Everest Base Camp dengan ketinggian 5200 mdpl.

Buku ini juga bisa menjadi sumber inspirasi bagi siapapun yang berani menyisihkan waktu hidupnya untuk fokus pada mimpi masa kecilnya. Dikemas dalam bentuk catatan perjalanan, pembaca pun diajak serta merasakan apa yang dirasakan Daniel paa saat itu. Dengan teknik penulisan fiksi, Daniel mengajak kita ikut serta larut dalam kisah-kisahnya. Pembaca akan merasa kesepian, ketika Daniel kesepian. Saat Daniel mengalami cinta lokasi, pembaca pun pasti akan tersenyum-senyum.

Lewat buku ini, Daniel turut membantu menggugah pikiran dan hati para pemimpi yang tidak rela mimpi-mimpinya hanya menjadi sebuah wacana belaka. Seperti yang dikatakan Paulo Coelho, “When you want something, all the universe conspire in helping you to achieve it.”***

_________________________

* Mahasiswa Jurusan Teknik Arsitektur, Institut Teknologi Nasional. Tinggal di Bandung.

Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dari tulisan ini ada di dodoberkoar.wordpress.com [April 2012].

Comments are closed.