Man Jadda Wajada

Posted by penganyamkata on May 17, 2012 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Perjalanan ke Atap Dunia | #16

Oleh Ni CampereniQue

Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil!

Tadi malam, dalam perjalanan ke bioskop entah bagaimana di benak saya muncul dua nama blogger yang sudah berhasil menggapai impiannya. Merekalah Daniel Mahendra dan Bibi Titi Teliti. Man jadda wajada! Dan Daniel pun sudah menjejakkan kakinya di Tibet, begitupun Bibi sebentar lagi berangkat menuju negeri impiannya, negeri yang selama ini cuma dilihatnya lewat layar kaca. Luar biasa!

Penulis yang juga blogger ini, baru saja merilis buku PERJALANAN KE ATAP DUNIA. Buku ini berkisah tentang perjuangannya mewujudkan impiannya yang telah tersimpan selama 25tahun, yang akhirnya bisa diwujudkannya April 2011 yang lalu. Membaca setiap lembaran dari kisah perjalanannya memberi motivasi tersendiri. Tak jarang saya tersenyum lucu, terkadang deg-degan juga. Aneh sebetulnya, kenapa saya deg-degan ketika dia berkisah saat bimbang apakah tetap pergi seorang diri, sementara sahabatnya Ijul malah batal karena harus berangkat ke Itali. Untuk apa saya deg-degan coba? Padahal, Daniel ‘kan sudah pergi sehingga berkisah. Itulah, saking pandainya dia menganyam kata, maka saya pun jadi ikut teraduk-aduk perasaannya.

Begitu piawainya dia menggambarkan setiap adegan, sampai-sampai semua bisa tergambar jelas dalam benak saya. Aneh lagi! Kok bisa segitunya coba? Xixixi … terutama ketika merasakan dag dig dug nya melewati petugas berseragam menuju pintu mesjid di Lhasa. Juga saya bisa merasakan bagaimana perasaannya berkecamuk protes dan tidak bisa menerima kenyataan, turis-turis yang menontoni para biksu yang sedang khusyuk berdoa. Lantas saya pun teringat ketika berkunjung ke Ulun Danu, Bedugul bulan lalu. Keadaannya kok hampir sama ya? Masyarakat sekitar yang sedang khusyuk berdoa menghadap Danau Ulun Danu menjadi tontonan tapi mereka ya tetap khusyuk berdoa. Bahkan, ketika mereka berpindah ke sebuah tempat yang agak tertutup, sehingga harus berdiri di depan pintu untuk melihat mereka yang berdoa dengan jelas, pun masih dijabani, bahkan dipotret pula. Apa yang dirasakan Daniel saat itu, persis seperti yang saya rasakan. Kok rasanya tidak nyaman yah kalau diperhatikan dengan seksama, difotoin pula, di saat sedang berkomunikasi dengan Sang Khalik?!

Membaca buku PERJALANAN KE ATAP DUNIA sungguh mengasyikkan. Tak seperti membaca buku perjalanan lainnya, sangat berbeda. Buku ini sangat tepat jadi buku panduan bagi siapapun yang berkeinginan plesir ke Tibet, dan yang jelas, saya begitu terprovokasi dan ingin sekali satu hari nanti bisa datang ke Pokhara. Tempat yang romantis katanya, dan saya percaya itu, wong dia bisa ketemu si cantik Jeanette di sana hahaha … Mau tau kisah romantis Daniel dan Jeanette yang mengayuh sampan berdua saja di Pokhara? Sok atuh dibeli bukunya hahaha … pokoknya mah hmm … rugi kalau gak baca xixixi.

_________________________

* Blogger, tinggal di Jakarta.

Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dari tulisan ini ada di nicamperenique.me [Mei 2012].

Comments are closed.