Jangan Hanya Bermimpi

Posted by penganyamkata on June 25, 2012 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Perjalanan ke Atap Dunia | #27

Oleh Imae

Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukkan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya

Laskar Pelangi by Nidji

Perjalanan ke Atap Dunia, sebuah buku travelling karya Daniel Mahendra menemani perjalanan mudikku ke kampung. Buku yang ditulis dengan model novel ini cukup menarik. Saya seakan-akan merasakan detail sudut-sudut Chengdu, tempat yang pernah saya datangi beberapa tahun lalu. Ya dalam perjalanan ini Daniel menceritakan perjalanannya ke Tibet lewat Chengdu, RRC. Namun bukan itu inti sari buku ini. Yang dapat kupetik adalah kekuatan impian masa kecil yang kemudian berhasil diwujudkan lewat lika-liku perjalanan yang memukau.

Janganlah takut untuk bermimpi dan kemudian mewujudkannya. Karena seperti law of attraction, semesta akan mendukung mimpi dan keinginan kita yang selalu kita bayangkan dan upayakan untuk meraihnya. Dalam buku ini diceritakan Daniel kecil yang memimpikan untuk menapaki Tibet, negeri atap dunia, gara-gara membaca buku Tintin. Keinginan itu terus dia serukan dalam blognya, dalam percakapan dengan teman-temannya dan dalam berbagai kesempatan. Dan kemudian tiba juga akhirnya ketika semua mimpi itu menjadi kenyataan.

Mimpi tetaplah menjadi mimpi bila tak ada aktivitas dan kemauan kita untuk mewujudkannya jadi nyata. Secara apik Daniel menceritakan bagaimana upaya yang ia lakukan untuk itu. Dari bekerja mengumpulkan rupiah demi rupiah dari kerja tulisnya, memburu tiket, mengurus visa, entry permitdan berbagai persiapan lain di tanah air. Juga kenyataan ia harus berangkat sendiri karena teman seperjalanan, yang awalnya memacu agar mimpinya diwujudkan tak bisa berangkat bersama. Upaya kerasnya itu juga tak lepas dari dramatisasi saat-saat kritis ketika beberapa upayanya nyaris gagal. Dan di titik itu tanpa terduga pertolongan dan kabar baik tanpa dinyana datang mewujudkan apa yang sudah di ambang tak bisa. Ya campur tangan Tuhan kadang hadir di saat kita benar-benar pasrah dan tak berdaya.

Banyak sisi human interest ditampilkan dalam buku itu. Dan ini yang membuat tulisannya jadi lebih indah dan bermakna. Ada pengalaman sholat di masjid Tibet yang menggetarkan jiwa karena menjadi sholat di masjid tertinggi di dunia. Invasi China ke Tibet yang membuat masyarakat ketat diawasi bahkan di pintu masuk masjid. Invasi yang membuat warga Tibet sepert warga kelas dua kalah dari suku Han, penduduk mayoritas RRC. Yang menyesakkan komersialisasi kuil, hingga  biksu yang tengah khusyuk beribadah pun dijadikan tontotnan wisata. Tak kalah menariknya ada  bumbu persahabatan dan percintaan yang memperindah cerita. Juga deskripsi keindahan Tibet yang membuat kita serasa melihat dan berada di sana. Daniel nampaknya perlu diacungi jempol untuk deskripsi dan pengamatan hal-hal kecil yang kadang luput dari pengamatan para pejalan.

Begitu saya tuntaskan lembar terakhir buku yang dikata pengantari oleh Gol A Gong ini, saya seperti mendapatkan energi baru. Energi untuk kembali belajar menulis. Energi untuk bertualang lagi. Dan energi untuk tak takut mewujudkan mimpi. Hmmm, banyak sekali mimpi yang masih di angan dan belum saya wujudkan. Nampaknya saya mesti memilah dan membuat skala prioritas  untuk mimpi-mimpi itu.

Entah kebetulan, beberapa jam berselang setelah kutuntaskan buku ini, datang sms dari Wawa. Teman penyuka touring sepeda jarak jauh. Ia menanyakan apakah saya sempat mebuat plotingjalur terkait mimpi saya untuk pulang ke kampung dengan mengayuh sepeda. Aaah, saya seperti tertampar secara halus. Diingatkan bahwa mimpi tak akan menjelma jadi kenyataan bila kita tidak mempersiapkan dengan kesungguhan tahapan-tahapan untuk meraihnya. Untuk mimpi bersepeda mudik itu telah sekian tahun kurencanakan tanpa ada kemajuan untuk mewujudkannya. Dari yang dulu  berencana barengan hingga kini tinggal aku sendiri yang memiliki mimpi itu. Tetap masih di angan saja. Aaah, bodohnya aku, hehe. Malu rasanya pernah mengucap mimpi itu  tapi tak ada  upaya sama sekali. Sementara Wawa yang ingin touring ke Asia Tenggara, jauh hari sudah muali bertanya soal visa dan sebagiamanya pada teman yang lebih pengalaman. Bahkan sudah mulai membuat ploting jalur, walau untuk waktu keberangkatan ia belum menetapkan.

Dan kemudian aku pun terlecuti kesadaran. Aah, mimpi engkau harus kupecah dalam tahapan-tahapan untuk mewujudkanmu menjadi nyata. Begitulah. Mimpi, doa, dan aksilah yang akan membuat mimpi menjadi nyata.

________________

* blogger, tinggal di Surabaya.

Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dari tulisan ini ada di imae-jejakrasa.blogspot.com [Juni 2012].

Comments are closed.