Atap Dunia dan Perjuangan Atas Mimpi

Posted by penganyamkata on September 10, 2012 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Perjalanan ke Atap Dunia | #32

Oleh Ardyansah

Mimpi adalah gagasan paling pribadi bagi setiap orang, masing-masing membangun mimpinya dalam ruang yang seringkali hanya bisa didiami oleh dirinya sendiri. Tak terkecuali bagi seorang Daniel Mahendra, penulis luar biasa yang telah banyak aku kacaukan hidupnya demi proyek yang tak selesai itu. :D

Salah satu mimpinya adalah tentang Tibet. Negeri tua itu entah bagaimana telah memberikan pengaruh yang sedemikian rupa bagi penulis yang gemar merawi kisah perjalanan ini. Aku menduga ada unsur spiritualitas yang mendorongnya mengunjungi tempat yang dalam sekian kurun telah menjadi sumber pengetahuan tentang alam dan jiwa manusia tersebut. Bukankah Daniel adalah sosok yang sangat religius? Eh?

Kekuatan mimpi akhirnya benar-benar membawa Daniel pada kenyataan yang membuatku sirik. Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja dia kembali dari sebuah perjalanan sambil membawa catatan pengembaraannya di Tibet, Nepal, dan China.

Buku berjudul: “Perjalanan ke Atap Dunia” itu aku terima di tengah sesi seminar yang membosankan di Bandung. Sang penulis sendiri yang memberikannya langsung kepadaku tepat disaat aku memang ingin meninggalkan ruangan berisi retorika para penjabat dan birokrat.

Buku bersampul biru itu kubaca tandas malam harinya, sambil terus berpikir: enak betul menjadi Daniel Mahendra! Hidupnya adalah tentang perjalanan ke perjalanan, dari satu tempat ke tempat berikutnya, dari kisah yang satu pada yang selanjutnya. Hidupnya pasti kaya. Setidaknya kebahagiaan dalam jiwanya pasti melimpah dan semarak menyaksikan berbagai apa. Dia tidak menulis dari menyadur, tetapi mengalami sendiri. Dan untuk yang ini, aku pantas iri.

Tidak seperti kebanyakan buku perjalanan yang mengandalkan narasi deskriptif yang kaku, buku ini dikemas dalam format fiksi populer sehingga lebih menyerupai sebuah novel. Gaya bahasanya cair, ringan, tetapi mempertahankan substansi. Cara yang sama ketika Daniel membuatku terpukau pada seri tulisannya: “The Waiting is Almost Over”.

Meskipun dikemas dalam format fiksi, tetapi detail materi aktual tetap terjaga. Susahnya masuk Tibet, ketatnya pemerintah China, budaya masyarakat yang dijumpainya, tempat-tempat yang disinggahi bersama suasananya dan lain-lain digambarkan gamblang tanpa bermaksud melebih-lebihkan. Buku ini informatif sekaligus menghibur.

Buku yang seluruh royaltinya didedikasikan penulis untuk kegiatan Rumah Dunia (komunitas sosial yang diprakarsai Gol A Gong – penulis seri petualangan “Balada Si Roy”) ini, membuat kita berpikir kembali mengenai makna mimpi. Sudahkah kita melakukan sesuatu untuk mewujudkan mimpi kita? Ataukah kita mendiamkannya dan tetap membiarkannya menjadi mimpi?

Mimpi tak selalu tentang perjalanan. Mimpi tak harus tunggal dan kadang bisa berubah. Mimpi boleh jadi sesuatu yang paling sederhana, tetapi mimpi adalah tentang memperjuangkannya.

Aku tidak bermaksud menggarami samudera. Tetapi “Perjalanan ke Atap Dunia” sungguh adalah buku yang kaya. Di dalamnya terdapat semangat dan keteguhan pribadi, resistensi atas komersialisasi spiritualitas, paradoks kemajuan pembangunan dan moralitas, sambil tetap menikmati indahnya telaga dengan latar belakang gunung Himalaya bersama gadis Perancis yang menggoda. :D

Akhirnya, kita hanya bisa mengungkap makna dalam baca. Aku menafsirkan buku ini dalam kapasitas yang sangat terbatas yang bisa jadi sangat berbeda dengan maksud penulis maupun pemahaman pembaca lainnya. Apapun itu, sewajarnya kita pandai-pandai mengambil hikmah.

Aku ucapkan selamat atas terbitnya bukumu yang ke sekian belas ini, Mas Daniel. Mohon maaf atas review yang terlalu lama (meski kau tak pernah minta). Itu agar kau percaya akupun orang sibuk. Dan namaku di akhir buku ini kuanggap sebagai provokasi yang semoga kau restui. Selamat juga untuk rencanamu di akhir tahun ini. Seperti kata Barista di terminal Pokhara, Nepal, “Tetapi pada saatnya tiba, jadilah laki-laki yang merasa cukup dengan keluarga di rumah.”

Terimakasih untuk persahabatan yang apik selama ini.

_________________________________

* Animator, Staf Pengajar Animasi di Binus University, tinggal di Tangerang Selatan.

Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dari tulisan ini ada di halaman facebook-nya dalam catatan, juga di jurusmabok.wordpress.com serta prasasti.com [September 2012].

Comments are closed.