Selamat Datang di Pengadilan [02]

Posted by penganyamkata on May 20, 2013 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Selamat Datang di Pengadilan | #7

Goodreads. 20 Mei 2013
Oleh Indri Juwono

Aku memilih membaca buku ini di tanggal 20 Mei 2013, 15 tahun sejak peristiwa turunnya rezim Suharto yang menguasai Indonesia selama 32 tahun. Cerpen-cerpen yang ditulis sekitar tahun 1999 ini padat dan memberontak, melayangkan lagi pikiran ke tahun-tahun sebelumnya, ketika pemikiran idealis dikekang atas nama kepentingan, dan banyak tuduhan dijatuhkan tanpa bukti.

Banyak cerita dengan latar dunia kemahasiswaan yang harus sering mengalah terhadap kepentingan penguasa pendidikan ini, membuat mahasiswa tidak bisa lugas menyuarakan pikirannya, mengingatkan kembali masa-masa bersitegang dengan dekan, ketika kegiatan-kegiatan mahasiswa seringkali dihentikan tanpa ada alasan jelas, ataupun ‘diarahkan’ apa yang diminta oleh ‘atas’.

Namun tak hanya itu, di cerpen-cerpen ini juga disisipi berbagai cerita asmara yang lucu dengan judul yang genit, Pacarku seorang Penyair atau Pacarku seorang Asisten Dosen tentang kisah kekasih yang mencintai apa yang dikerjakannya. Juga lewat Dan Jadilah ia Wartawanbelingsatannya seorang gadis dalam menunaikan tugas liputan sementara pacarnya kencan dengan gadis lain. Namanya juga mahasiswa, pasti banyak pasang surut cinta.

Di cerpen Epitaph atau Suatu Malam di Gelap Timur, dijumpai juga gadis-gadis yang kuat dan tak mudah menyerah memperjuangkan apa yang dicita-citakan. Hingga nasib mempertemukan lain, menggugat rasa ketidakadilan yang terpaksa diterima. Laki-laki, pendamping mereka berusaha untuk menghadapi kenyataan yang ada.

Selamat Datang di Pengadilan adalah gugatan perjuangan anak muda yang gelisah pada keadaan di sekeliling yang berupaya mengikatnya, untuk melepaskan diri dari kebenaran kolektif yang dianggap normal.

“Tapi pers berperan besar, Pak. Di sinilah public opinion terbentuk. Itu mengapa saya tertarik mengambil ini,” ujarku bertahan.

“Ingat, Dan. Sudah berapa tahun kamu kuliah. Kamu mau terus idealis atau realistis?”

Mati aku.Aku tak mengerti dengan dosen-dosen di fakultas. Begitu ada mahasiswa yang menelurkan ide nyeleneh, justru ditantang dengan realitas.

“Ini masalah sensitif, Dan!”

Huh!

[h.61~ Generasiku, Generasi Borjuis]

Comments are closed.