Niskala; Ketika Seorang Travel-Writer Jatuh Cinta

Posted by penganyamkata on August 15, 2013 under Ulasan | Be the First to Comment

Ulasan Niskala| #1

Anas Al Lubab
Relawan di Rumah Dunia, Serang

Judul        : Niskala: Kisah tentang Cinta, Keyakinan, dan Perjalanan Keliling Dunia
Penulis     : Daniel Mahendra
Penerbit   : Qanita
Cetakan   : Cet-1 2013
Tebal        : 388 Halaman

Pepatah mengatakan pengalaman adalah guru terbaik. Pun begitu dalam dunia kreatif menganyam kata, dengan melakukan perjalanan menangkap dan menghikmahi lintasan peristiwa yang kita jumpai di perjalanan membuat ruh tulisan yang kita buat menjadi lebih bernyawa dan berdaya gugah. Itulah mengapa guru kami di Rumah Dunia—Gol A Gong—selalu menggerakkan kami yang ingin lincah menulis untuk keluar rumah melakukan perjalanan menemukan pengalaman.

Menurutnya, dengan melakukan perjalanan kita akan memeroleh banyak sekali manfaat, diantaranya; melatih kepekaan, memperkaya ceruk jiwa, bisa menulis catatan perjalanan, sekaligus mengubahnya menjadi karya kreatif semisal puisi, cerpen, bahkan novel.

Itulah rupanya yang coba dilakukan Daniel Mahendra (selanjutnya saya singkat DM) selaku sahabat Gol A Gong. Setelah berhasil melakukan perjalanan menyusuri Tibet dan Nepal dan melahirkan buku catatan perjalanan berjudul Perjalanan ke Atap Dunia (2012), rupanya ada serpihan peristiwa yang menggelitik daya kreatifnya untuk diubahnya ke dalam bentuk novel yang secara spesial ia persembahkan untuk mahar pernikahan kepada istrinya Lita Soerjadinata yang ia nikahi pada 2 Desember 2012 lalu.

Bagi yang mengenal sedikit kehidupan persahabatan pribadi DM, kita seolah tengah membaca semiautobiografinya DM, terutama saat ia sengaja melibatkan nama-nama dan karakter tokoh yang diambil dari nama-nama sahabatnya; Heri Hendrayana alias Gol A Gong, Goenoeng alias Goenoeng Moelyo, dan Aliyth atau Koelit Ketjil, yang ia selipkan di novel Niskala ini.

Novel ini dibuka dengan adegan keributan kecil antar para pendaki di Everest Base Camp, lantaran Galang tokoh utama novel ini terserang AMS (Acute Mountain Sickness). Kawan seperjalanan Galang berdebat diantara dua pilihan dilematis; bersabar menunggui Galang hingga pulih, atau tega turun meninggalkannya di ketinggian ribuan meter. Galang yang meringkuk di dalam tenda mendengar hal itu membuatnya terusik, ia tak mau membebani kawan-kawannya. Ia menguatkan diri untuk bangkit ke luar tenda. Ia katakan bahwa kawan-kawannya bebas menentukan keputusan; menemaninya atau pergi melanjutkan perjalanan.

Hampir semua sepakat untuk menunggui Galang, terkecuali Joshua, pendaki asal Israel yang menyulut emosi Galang lantaran mengejeknya dengan mengatakan bahwa orang Indonesia payah. Hampir saja terjadi baku hantam kalau tidak dilerai kawan-kawan yang lain terutama Juan pendaki asal Kolombia yang mengaku tinggal di New York, Amerika Serikat (hal; 19).

Hubungan baik antara Galang dan Juan selama di perjalanan inilah yang kemudian mengalirkan keseluruhan cerita dalam novel ini. Tanpa sungkan, Galang membuka helai demi helai kisah perjalanan hidup yang pernah dialaminya kepada Juan. Tentang keterpesonaannya kepada perempuan sederhana bernama Sanggita yang ia jumpai pertamakali saat launching bukunya di Jakarta. Perkenalan dengan Sanggita inilah yang mengantarkan Galang mencicipi manis getir kehidupan. Sanggita sebagai pegiat LSM, pembawa acara talkshow buku di radio, editor, penerjemah, sekaligus dosen di University of Stuttgart, Jerman tetap tampil rendah hati dan apa adanya. Sehingga berkali-kali Galang tanpa sadar menggumamkan kata-kata Leonardo Da Vinci “Simplicity is the ultimate sophistication…,”

Setelah rentang waktu yang cukup panjang dan hanya bertukar informasi via internet, akhirnya Galang dan Sanggita dipertemukan saat Sanggita meminta Galang mengantarnya ke Kawah Putih, Bandung. Dari sana intensitas kedekatan keduanya semakin kerap nan rapat. Dari mulai diskusi buku, membahas rencana rute traveling, bermain piano bareng, hingga sama-sama memilih perabotan rumah yang ditempati Sanggita.

Saat cinta di hati keduanya mulai bermekaran, Sanggita mendapat tawaran menjadi dosen tetap di Jerman. Galang yang resah khawatir ditinggal pergi ke Jerman oleh Sanggita dinasehati mas Hendra sahabatnya agar Galang segera mengajak Sanggita menikah. Menurut mas Hendra, Sanggita hanya butuh kepastian, jika di Indonesia mendapat kepastian, tentu ia tak akan memilih tawaran mengajar dan menetap selamanya di Jerman.

Benar saja apa yang disarankan mas Hendra, ternyata Sanggita memilih tinggal di Indonesia setelah diajak menikah oleh Galang. Namun sayang rintangan untuk Galang kembali datang. Saat melakukan pendakian di Gunung Padang bersama Sanggita, tanpa sengaja dari pertanyaan temannya kepada Sanggita, Galang mengetahui bahwa Sanggita ternyata seorang agnostik (memercayai Tuhan tapi tidak menjalankan ritual keagamaan tertentu) disini cinta Galang kepada Sanggita terbentur perbedaan. Selanjutnya anda bisa membaca secara cukup lengkap tentang apa itu agnostik melalui dialog Galang dengan sahabatnya bernama Faul (hal; 159-162).

Setelah keduanya sempat bersidiam sekembalinya dari Gunung Padang, akhirnya Galang mengetahui dari mulut Sanggita sendiri bahwa Sanggita dan keluarganya merupakan penganut Islam Sahitya yang sempat mendapatkan perlakukan tidak baik di Indonesia. Yang membuat Sanggita terpicu untuk mempelajari dan mendalami ajaran dan filosofi hampir semua agama. Bagi saya cerita tentang Sahitya dan Agnostik ini merupakan kritik konstruktif yang dilancarkan DM selaku penulis cerdas untuk menyindir situasi dan kondisi sistem keberagamaan di Indonesia yang akhir-akhir ini didominasi oleh wajah kaku dan menyeramkan alih-alih mendamaikan dan memberi ketentraman.

Misalnya kita simak pernyataan kritis Sanggita kepada Galang berikut ini “Kita bisa saja rajin ke masjid, tak pernah absen ke gereja, selalu ke pura dan wihara, tetapi siapa yang bisa mengukur kekhidmatan kita terhadap Tuhan, selain Tuhan sendiri? Aku memilih caraku. Memilih beribadah dengan caraku, yang tidak menyakiti orang lain, tidak disakiti orang lain” (hal; 144). Meski begitu apa yang DM tulis mengenai Sahitya dan agnostik mesti kita pahami sebagai laku kritis semata, sebab jika tidak, pembaca awam bisa terpeleset langsung melompat mendaki ranah hakikat dan menginjak-nginjak wilayah syariat (mengesampingkan ranah ritual dengan alasan mementingkan aspek spiritual).

Mengetahui kekasihnya berlainan paham dan orangtua Sanggita hanya merestui lelaki sesama penganut Sahitya yang diizinkan menikahi putrinya, membuat Galang sempat frustasi dengan melakukan traveling ke Gunung Rinjani kebetulan majalah tempatnya biasa mengirim tulisan menugasinya meliput acara ritual Mulang Pekelem (ritual yang rutin dilakukan pemeluk Hindu di Danau Segara Anak, Gunung Rinjani, Lombok, NTT). Di sini kesetiaan Galang kepada Sanggita diuji oleh kehadiran sosok Blendine pelancong cantik asal Prancis yang jatuh hati padanya (Lih; 218)

Hubungan Galang dan Sanggita yang dihambat perbedaan dan mendapat pertentangan dari kedua orangtua Sanggita sempat merenggang. Beruntung om Goenoeng adik ayah Sanggita berbaik hati bersedia menjadi wali nikah mewakili ayahnya. Rencana acara resepsi pun ditentukan, dan Sanggita meminta Galang menulis novel sebagai mahar.

Saat novel yang ditulis Galang bak kesetanan hampir rampung dan telah mendapat persetujuan penerbit untuk diterbitkan. Tiba-tiba rencana mulia pernikahan tersebut harus kandas, lantaran Sanggita kecelakaan jatuh dari sepeda motor yang mengakibatkannya mengalami amnesia parsial akibat abses otak yang sulit disembuhkan. Secara singkat itulah cerita yang disampaikan Galang kepada Juan. Galang mengaku bahwa perjalanannya menyusuri Singapura, Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos, Myanmar, Cina, hingga bertemu Juan di Tibet adalah sebagai upaya memenuhi janjinya yang akan berkeliling dunia bersama Sanggita terutama ke Machu Picchu, Peru.

Di ending kisah, kita bisa membaca bagaimana Galang menyadari kekeliruannya setelah mendapat nasehat dari Juan, Juanlah yang mengingatkan Galang bahwa perjalanannya keliling dunia demi Sanggita ternyata hanyalah pelarian, justru Galang mesti pulang dan ada disisi Sanggita membantu memulihkan ingatannya. Juan menegaskan kepada Galang “… Petualang sejati adalah ia yang bisa berkata cukup kepada diri sendiri dan menyadari bahwa pulang adalah tempat paling indah yang menjadi tujuan hidupnya. Karena perjalanan mengajarkan begitu.” (hal; 378)

Satu pelajaran penting yang bisa kita teladani dari watak tokoh Galang adalah kerendahhatiannya yang meski telah melakukan banyak perjalanan dan mengecap banyak pengalaman keliling pelbagai Negara, tidak lantas membuatnya tinggi hati, ia dengan mudah mengambil pelajaran hidup dari sahabat-sahabatnya dan orang-orang yang ditemuinya di perjalanan. Serpihan pengalaman hidup yang ia kumpulkan dari orang-orang yang berbagi kisah kepadanya inilah yang menguatkannya menjalani manis getir roda kehidupan dengan menggenggam sikap sabar syukur (sabar atas dera musibah, syukur atas limpahan anugerah).

Galang dengan mudah meminta masukan sabahat-sahabatnya saat dirinya terbentur masalah (misalnya saat Galang terpukul mendapati Sanggita mengalami Amnesia ia mendapat penguatan setelah mendengarkan kisah mas Hendra saat pernah kehilangan ibu kandungnya yang meninggal di perjalanan saat hendak menemuinya untuk menyaksikan kelahiran anak keduanya, saat ia sendiri tengah diliputi kecemasan menghadapi persalinan kritis istrinya yang mengalami pendarahan) (hal; 370-372), dan dengan mudah terenyuh Galang bersedia meringankan beban oranglain yang membutuhkannya (Saat ia memberikan sepatunya kepada porter bernama Yudi yang sepatunya jebol yang tengah menabung untuk persiapan biaya persalinan istrinya yang akan melahirkan anak kedua) (lih;265-266).

Cerita yang diusung DM terbilang sederhana dan mudah dicerna namun di dalamnya terdapat muatan kritik untuk Indonesia. Tentang kekayaan dan eksotisme objek wisata alam Indonesia (yang tak kalah hebat dari negera lain) yang tak kunjung mendapat perhatian serius dari pemerintah, tentang dunia perpustakaan atau perbukuan yang kondisinya masih memprihatinkan (sementara di negara lain semisal Jerman penulis buku mendapat royalti dari buku yang dipinjam oleh pengunjung di perpustakaan), kehidupan berbangsa dan beragama yang belum menunjukkan sikap kedewasaan (didominasi seremonial ritual dan mengenyahkan dimensi spiritual).

Teknik bercerita gaya dialog seperti yang coba dilakukan oleh DM memang tidak mudah dan mengandung resiko. Kadang membuat penulis kehilangan fokus sehingga Juan sebagai representasi pembaca atau pendengar setia cerita yang dituturkan Galang hilang begitu saja. Pada tiga bab awal, kita masih menemukan interaksi antara Juan dan Galang ditengah-tengah jalinan cerita yang Galang sampaikan kepada Juan. Namun setelah itu, seolah kita hanya membaca monolog panjang seorang Galang yang asyik berkisah sendirian dan Juan baru muncul belakangan di akhir bab.

Selain itu, banyak kesalahan ketik dan kalimat rancu yang mungkin luput dari amatan editor dan pemeriksa aksara novel ini. Seperti; Betukah (hal; 20, 149), becermin (hal; 25), sepertinya halnya… (hal; 51, 203), berbicang (hal; 80, 252, 256), ketikdapercayaan (hal; 156), mamandangi (hal; 180), bukit penyelasan (hal; 231), pepohanan (hal; 256), kutinggakan (hal; 259), dilirknya (hal; 279), tebersit (hal; 310,314), mengujiku argumenku (hal; 310), lemau (hal; 326), dinggap (hal; 349).

Walau begitu novel ini sangat direkomendasikan bagi mereka penggila buku perjalanan. Meski dinapasi oleh tema cinta dan dikemas dalam bentuk novel, tidak membuat buku ini menjadi roman picisan yang melulu mengumbar romantisme percintaan dua insan. Akan tetapi didalamnya terselip khazanah penting pengetahuan terutama mengenai riwayat tempat-tempat bersejarah di dunia berikut tokoh-tokoh penting didalamnya, perkembangan keyakinan dan pola pikir manusia terhadap agama, dan psikologi sosial dunia para petualang. Kini, giliran anda yang membaca dan membuktikan sensasi petualangan penuh kebijaksanaan yang ditawarkan DM. Wallahu a’lam.

________________________________

Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dari tulisan ini ada di alineatv.com [Kamis, 8 Agustus 2013], di anasallubab.blogspot.com dan di facebook.com/anas.lubab [Kamis, 15 Agustus 2013].

Comments are closed.