Perjalanan yang Pulang

Posted by penganyamkata on September 5, 2013 under Ulasan | Be the First to Comment

Ulasan Niskala| #4

Fatih Zam
Novelis, tinggal di Jatinangor, Kab. Sumedang

Setelah itu, di Pokhara, Nepal, seorang lelaki penjaga warung kopi bernama Barista berpesan kepada Daniel Mahendra (selanjutnya disingkat DM).

Pergilah ke mana kakimu melangkah. Itu akan menempamu. Memperkaya pengalaman batinmu. Tetapi pada saatnya tiba, jadilah laki-laki yang merasa cukup dengan keluarga di rumah.”

Kata-kata Barista barangkali menancap dengan begitu kuat di benak DM. Di sana, di tengah perjalanannya ke Tibet, DM mencoba memaknai perjalanan yang ditempuhnya sejauh ini. Bagaimanapun, perjalanan ke Tibet adalah mimpi yang menjadi kenyataan bagi DM. Nama Tibet serupa hantu menyeramkan sekaligus membikin penasaran. Nama Tibet telah sejak lama menghuni ruang benaknya. Tibet menghampiri dan berkenalan dengannya kala dia duduk di bangku SD, sekira tahun 1985, melalui sebuah komik karya Herge, Tintin di Tibet (Perjalanan ke Atap Dunia, 2012).

Pada 2013, DM mempersembahkan novel berjudul Niskala. Lewat tokoh utama bernama Galang, DM hendak menampilkan kembali hero-romantisme perjalanannya ke Tibet yang sebelumnya telah dengan apik tersaji dalam Perjalanan ke Atap Dunia. Bolehlah dikatakan, Niskala adalah versi novel dari Perjalanan ke Atap Dunia.

Galang adalah seorang petualang dan juga penulis (pejalan) perjalanan (travel writer). Bagi Galang, melakukan serangkaian perjalanan serupa mengisi tangki bensin agar roda produktivitas menulisnya terus berputar. Tanpa melakukan perjalanan, tulisan-tulisannya seperti tak bernyawa. Lewat profesi ini—menulis dan melakukan perjalanan—Galang bertemu dengan Sanggita, seorang penyiar radio, aktivis LSM, dan dosen di University of Stutgart, Jerman. Galang jatuh hati kepada Sanggita, pula sebaliknya.

Usai menjalin hubungan sekian lama, Galang berniat menikahi Sanggita. Namun sesuatu lantas terjadi. Sanggita mengalami amnesia parsial akibat sebuah kecelakaan. Akibat amnesia parsial itu, Sanggita lupa dengan segalanya, termasuk dengan Galang. Saat itulah, Galang mengambil keputusan untuk melakukan perjalanan demi memenuhi janjinya kepada Sanggita. Sebelum kecelakaan dan segenap peristiwa yang diakibatkannya itu, Galang pernah berjanji kepada Sanggita untuk mengajaknya berkeliling dunia.

Perjalanan pun dimulai…

Galibnya perjalanan, di sinilah karakter asli bermunculan. Dengan apik DM memunculkan kapan waktu yang tepat dan adegan yang pas ketika karakter asli itu menampakan rupa. Galang terserangAccute Mountain Sickness di Everest Basecamp. Kawan-kawan seperjalanannya bersilang pendapat; meneruskan perjalanan atau meninggalkan Galang. Akhirnya semua memilih menunggu sampai Galang pulih, meski tetap saja hal itu membuat Joshua, pejalan asal Israel, muntab. Kalimat “Kamu payah, Indonesia!” yang diucapkan Joshua menyulut api kelelakian dan nasionalisme Galang hingga hampir saja terjadi perkelahian.

Juan, pejalan asal Colombia yang mengaku tinggal di New York, adalah lelaki yang akrab dengan Galang selama dalam perjalanan. Kepada Juanlah Galang menceritakan semuanya. Bahkan dari keakraban Galang dan Juan inilah keseluruhan cerita dalam novel ini mengalir. Juan pula yang telah menyadarkan Galang bahwa perjalanan yang ditempuhnya tak lain adalah pelarian dari kenyataan.

“… Petualang sejati adalah ia yang bisa berkata cukup kepada diri sendiri dan menyadari bahwa pulang adalah tempat paling indah yang menjadi tujuan hidupnya. Karena perjalanan mengajarkan begitu.” (hal; 378)

Lewat jalinan kisah para tokohnya, sebenarnya DM tengah mendedah dua tema besar, sebagaimana yang dikatakan tokoh Barista di muka, “perjalanan” dan “pulang”. Perjalanan (pergi) dan pulang adalah dua sisi koin, saling melengkapi, tak terpisahkan. Lewat perkataan Juan yang menampar kesadaran Galang, kata “pulang” menemukan maknanya yang sakral. Pulang bukan sekadar kembali dari tanah rantau. Pulang adalah ketika perjalanan sudah sampai ke titik cukup. Pulang adalah perjalanan lanjutan dari perjalanan yang sebelumnya telah dilakukan.

Kalau pada akhirnya sebuah perjalanan berakhir pada pulang, lantas untuk apakah segala perjalanan yang melelahkan itu?

Teringatlah saya dengan legenda Kera Sakti ketika Biksu Suci harus melakukan perjalanan ke Barat dalam mencari Kitab Suci. Ditemani Sun Go Kong dan dua kawannya, perjalanan itu tidak berlangsung dengan damai. Ada banyak gangguan yang merongrong perjalanan, meski akhirnya mereka sampai ke tujuan. Sesampai di Barat—di India—Biksu Suci menerima kitab dari Sang Budha. Akan tetapi, begitu kitab itu dibuka, takada satu huruf pun yang tertulis di kertasnya. Kitab yang diterimanya, hanya kitab yang berisi lembaran-lembaran kosong. Tak perlu ada lagi penjelasan, Biksu Suci telah diurapi kepahaman bahwa kebijaksanaan kitab suci itu telah dia baca, telah dia alami di sepanjang perjalanan.

Kiranya itulah makna pulang yang diurai DM. Pulang adalah rangkuman dari rangkaian perjalanan yang telah dilakukan. Pulang adalah satu-satunya jawaban ketika takada lagi jawaban yang bisa diberikan atas pertanyaan seperti yang diberikan Barista kepada DM waktu di Nepal: “Apa yang kamu cari, Daniel?

________________________________

Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Selain dimuat di Harian Pikiran Rakyat [Kamis, 5 September 2013, hal 22], versi asli dari tulisan ini ada di fatihzam.com [Kamis, 5 September 2013].

Comments are closed.