Perjalanan ke Atap Dunia: Sebuah Resensi [02]

Posted by penganyamkata on February 13, 2014 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Perjalanan ke Atap Dunia | #48

Oleh Didik Ismawanto

“Ketika kita berani memutuskan untuk menggapai mimpi kita, alam bawah sadar kita justru bekerja membantu kemungkinan-kemungkinan mimpi tersebut menjadi kenyataan. Dengan dan lewat cara yang tak pernah kita duga sebelumnya.”

Adalah Daniel Mahendra, seorang travel writer yang bermimpi melakukan perjalanan ke negeri atap dunia karena terinspirasi oleh komik Tintin di Tibet dan film Seven Years in Tibet.

Lantas apakah yang harus dilakukan Daniel agar impiannya tersebut menjadi nyata? Apakah impian itu hanya akan menjadi angan dan kemudian hilang?

Perjalanan ke Atap Dunia, sebuah buku yang menceritakan perjalanan Daniel Mahendra menuju negeri yang bernama Tibet. Perjalanan ini bukan hanya perjalanan memanjakan panca indera semata. Lebih dari itu. Karena pada hakikatnya perjalanan adalah mencari makna dari setiap yang kita alami, setiap yang kita rasa.

Dan, perjalanan ini membawa Daniel pada sebuah kesimpulan, bahwa manusia harus berani bermimpi. Berani menetapkan tujuan, berusaha merealisasikannya, dan menafikan bayangan kemungkinan-kemungkinan buruk di depan. Ya, itulah inti dari semua ini, berani mengalahkan diri sendiri.

Ini adalah buku kedua dari Daniel Mahendra yang sudah kubaca. Dibanding novel Niskala yang telah kubaca sebelumnya, buku ini menggunakan bahasa lebih santai. Mungkin karena sejatinya buku ini adalah sebuah catatan perjalanan, jadi tak begitu banyak menyisipkan unsur-unsur yang kerap ditemui dalam novel.

Membaca buku ini memberiku banyak inspirasi. Aku juga ingin menjadi seorang travel writer. Mengunjungi banyak tempat untuk mengambil pelajaran dari setiap perjalanan. Menemukan pemahaman baik dari setiap kejadian. Karena untuk menjadi penulis tak cukup hanya bisa menulis dengan baik.

Tetapi pada akhirnya, apakah kita seorang pejalan atau bukan, seorangbackpacker atau bukan, seorang penulis atau bukan, kita tetap akan melakukan perjalanan dan menuliskannya dalam sebuah catatan. Perjalanan itu dalam bentuk mengarungi kehidupan sehari-hari, dan catatan itu berupa catatan amal yang akan kita pertanggungjawabkan kelak.

“Hidup memang sebuah perjalanan. Seperti setiap orang menjalani hidupnya. Yang membedakan hanyalah bagaimana kita memaknai setiap perjalanan yang kita tempuh.”

_________________________________

* Mahasiwa Jurusan Teknik Informatika – Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, tinggal di Surabaya, Jawa Timur.

Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dari tulisan ini ada di didikstuff.tumblr.com [Minggu, 22 Desember 2013] dan di sebuahresensi.wordpress.com [Jumat, 28 Maret 2014].

Comments are closed.