Niskala; Teman Perjalanan yang Seru

Posted by penganyamkata on March 21, 2014 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Novel Niskala | #9

Oleh Hardi Vizon

“A man travels the world in search of what he needs and returns home to find it”
(Goerge Edward Moore)

Selepas pertemuanku dengan Daniel Mahendra dalam diskusi novel terbarunya, Niskala, di Toga Mas Yogyakarta pada 8 Maret 2014 yang lalu, aku kembali disibukkan dengan beberapa pekerjaan, sehingga keinginan untuk membaca novel tersebut nyaris tak tertunaikan. Sekali waktu sempat kucoba untuk membacanya. Tapi, aku tidak bisa menikmatinya, karena fokusku berlarian kesana kemari.

Sampai akhirnya pada Selasa, 18 Maret 2014 kemarin, aku melakukan perjalanan Jogja-Bengkulu. Ketika hendak memasukkan laptop ke dalam ransel, pandangan mataku terserobok dengan novel tersebut yang tergeletak pasrah di atas meja. Segera kusambar dan memasukkannya ke dalam ransel, bergabung dengan laptop uzur-ku. “Semoga dapat kutuntaskan membaca novel ini nanti”, batinku.

Pukul 08.00 wib, aku sudah berada di ruang tunggu bandara Adi Sutjipto Yogyakarta. Kulirikboarding pass, tertera di atasnya bahwa waktu boarding, pukul 09.25 wib. Hmm.. Masih lama ternyata. Segera kurogoh kantung ransel untuk mengambil komputer tablet. Tak dinyana, tanganku justru menyentuh novel yang tadi kubawa. Aha! Ini barangkali waktu yang tepat untuk membacanya.

“Niskala: Kisah Tentang Cinta, Keyakinan, dan Perjalanan Keliling Dunia”. Aku tersenyum demi membaca judulnya. Rasanya pas waktuku untuk membacanya. Membaca novel berlatar belakang perjalanan, dalam perjalanan…

Aku mulai membaca dari halaman pertama.

Daniel membuka novelnya dengan kisah si tokoh utama, Galang, yang terserang acute mountain sickness (AMS) di Everest Base Camp, Tibet. Teman-teman seperjalanan Galang jadi tertahan di sana dan terjadilah keributan kecil yang nyaris menyulut perkelahian. Joshua, seorang pejalan asal Israel bersikeras untuk meninggalkan Galang di situ dan memutuskan untuk meneruskan perjalanan. Tapi, teman-temannya yang lain tidak setuju, terutama Juan, pemuda Kolombia yang berdomisili di New York. Mereka semua memutuskan untuk tetap tinggal.

Merasa kalah suara, Joshua terpaksa menerima keputusan. Dengan emosi yang memenuhi otaknya, dia pun berlalu sambil mengumpat ke arah Galang, “Kamu payah, Indonesia!!”. Tak pelak, Galang pun tersulut emosinya. Begitu juga dengan aku yang membaca novel tersebut. Entah kenapa, aku merasa geram dengan si Joshua.

Di sini hebatnya DM, dia mampu membangun suasana di awal cerita. Sebagai pembaca, aku ikut tersulut untuk terus mengikuti kisah demi kisah dalam novel tersebut. Selanjutnya, aku pun larut dalam bacaanku sampai pengumuman boarding terdengar melalui pengeras suara. Buru-buru kututup buku tersebut. Aku ingin segera berada di dalam pesawat untuk melanjutkan bacaanku yang lagi seru-serunya.

Aku sudah sampai di bab kelima, Rencaka. Dalam bab-bab ini, Galang mulai menceritakan kepada Juan tentang alasannya melakukan travelling ke Tibet. Perjalanannya ini adalah janji yang coba ia tepati kepada kekasihnya, Sanggita. Dengannya, ia berencana keliling Eropa dan Amerika Selatan.

Sanggita adalah seorang dosen peneliti yang mengajar di University of Stuttgart, Jerman dan beberapa negara di Asia, termasuk Indonesia. Pertemuan pertama mereka dalam sebuah diskusi buku, meninggalkan kesan yang mendalam di hati Galang. Dan bak air mengalir, hubungan mereka pun kemudian semakin akrab. Bunga-bunga cinta di hati mereka mulai merekah, namun tidakcemen kayak anak abege. Email-email cinta yang mereka saling kirimkan, tidak berisikan kalimat-kalimat puitis melankolis, namun diskusi bernas penuh informasi yang bermanfaat buat pembacanya.

Begitu mendapatkan tempat duduk di pesawat, aku pun segera melanjutkan bacaan yang terputus tadi. Dalam waktu singkat, aku kembali larut. Nyaris tak kuketahui lagi apa yang terjadi di sekililingku, termasuk dengan teguran pramugari yang entah telah berapa lama memanggilku, gara-gara belum memasang sabuk pengaman. Ampun deh.. DM benar-benar telah membiusku melalui novelnya itu..

Aku kembali membaca lembar demi lembar novel itu. Tak kusadari waktu yang telah berlalu hingga tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah getaran yang lumayan keras pada badan pesawat. Segera kutengok apa yang tengah terjadi. Ah.. ternyata pesawat telah mendarat di Soekarno-Hatta dan itu berarti telah satu setengah jam aku lewati tanpa sadar dengan keadaan di sekelillingku. Dan aku pun telah sampai pada bab kesembilan, Arkamaya.

Dalam bab-bab ini, konflik utamanya mulai terjadi. Galang dihadapkan dengan dilema yang luar biasa. Taklama setelah ia mengajak Sanggita untuk menikah dan Sanggita pun menyetujuinya, ia menemukan kenyataan bahwa ternyata Sanggita berasal dari keluarga beragama Islam beraliran Sahitya fanatik yang hanya memperbolehkan anggota keluarganya menikah dengan sesama Sahitya (kalau anda membaca novelnya, pasti akan paham golongan apa yang dimaksud). Tidak hanya itu. Sanggita pun ternyata menganut paham agnostik.

Apa itu agnostik? Dengan rancak DM menjelaskannya melalui petualangan Galang mencari tahu tentang paham tersebut ke berbagai pakar. Melalui dialog-dialog yang hidup, pembaca akan dengan mudah memahami latar belakang pemikiran paham tersebut dan mengapa kemudian Sanggita memutuskan untuk berpaham seperti itu.

Keluar dari perut pesawat, aku segera menghambur menuju terminal kedatangan, melapor ke meja transit dan duduk manis di ruang tunggu B4, menunggu penerbangan berikutnya ke Bengkulu. Dan tentu saja yang kulakukan adalah melanjutkan bacaan yang tadi terputus. Dan lagi-lagi aku larut dalam anyaman kata-kata DM yang gurih terasa.

Pada bagian akhir ini, diceritakan tentang pergulatan emosi Galang menghadapi berbagai tantangan untuk mewujudkan niatnya mempersunting Sanggita. Ada dua tantangan besar yang dia hadapai. Pertama, permintaan Sanggita untuk menjadikan naskah novel yang sudah disetujui penerbit sebagai mahar pernikahan mereka, dan kedua ketidaksetujuan orangtua Sanggita atas rencana pernikahan mereka.

Namun, ketika semua halangan itu hampir dapat mereka lalui, sebuah peristiwa dahsyat menghancurkan semua harapan. Sanggita mengalami kecelakaan yang mengakibatkannya terkena abses otak. Efek dari hal tersebut adalah, ia mengalami amnesia parsial, lupa akan segala hal, termasuk lupa akan rasa cintanya kepada Galang.

Galang benar-benar galau. Namun sayang, ia yang petualang, ternyata tak setangguh petualang itu sendiri dalam menata emosi jiwa. Bukannya berusaha membantu Sanggita untuk sembuh, tapi malah pergi melakukan perjalanan ke berbagai tempat, hingga akhirnya terdampar di Tibet.

Hal inilah yang dilihat oleh sahabat seperjalanannya, Juan. Dengan semangat berapi-api, ia memberi nasehat kepada Galang. Nasehat ini kemudian menyadarkan Galang dan membuatnya sampai pada sebuah kesimpulan, “Pulang adalah kata paling indah yang dimiliki seorang petualang ketika ia tahu jalan menuju pulang..”

Akhirnya… Khatam juga novel itu kubaca. Ada banyak rasa yang muncul di hati dan pikiranku setelahnya. Salah satunya adalah, agak sulit bagiku untuk tidak membayangkan sosok DM dalam diri Galang. Membaca karakter dan kisah Galang, seolah aku tengah membaca karakter DM dan kisah hidupnya. Apalagi kemudian DM menghadirkan nama-nama tokoh dalam novelnya itu yang terambil dari nama-nama sahabatnya yang juga cukup kukenal. Bahkan, aku tidak habis pikir, bagaimana dia bisa memberi nama tokoh seorang pastur (romo) yang membuatku ngakak habis-habisan karenanya.. Siapa saja mereka…? Baca sendiri novelnya ya..

Kulirik arloji, sudah pukul 13.00 wib ternyata. Kusadari kalau aku belum shalat Zuhur dan makan siang. Lumayan lapar juga perutku. Tapi, demi melihat jadwal boarding berikutnya, waktu tersisa hanya 30 menit, sepertinya tidak cukup bagiku untuk melakukan shalat zuhur ditambah makan siang. Akupun putuskan untuk shalat Zuhur saja. Ketika hendak melangkahkan kaki ke mushalla, tiba-tiba ada pengumuman dari petugas maskapai.  Penerbanganku ditunda 1 jam…!

Aha..! Baru kali ini aku senang sekali mendengar pengumuman penerbangan delay..

_________________________________

* Dosen, tinggal di Jogjakarta.

Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dari tulisan ini ada di Surau Inyiak [Maret 2014].

Comments are closed.