Cinta, Impian dan Perjalanan

Posted by penganyamkata on November 10, 2014 under Ulasan | Be the First to Comment

Ulasan 3360 | #1

Rina Susanti
Istri dan ibu dua anak, penulis lepas, penikmat buku, tinggal di Tangerang Selatan

Hidup adalah rangkaian perjalanan yang akan mempertemukan dengan banyak orang, beragam karakter dan membawa banyak cerita pada setiap tempat yang disinggahi. Ada saatnya pergi dan ada saatnya pulang. Seperti sebuah rangkaian kereta api dan stasiun. Itulah filosofi hidup bagi Namara yang jatuh cinta pada kereta api sampai terobsesi untuk mengelilingi dunia dengan menyusuri jalur kereta api. Pakde adalah orang pertama yang membuat Namara jatuh cinta pada kereta api. Sejak kecil ia kerap diajak jalan-jalan ke stasiun dan berkereta, menyusuri jalur kereta api dari Banyuwangi hingga Merak.

Jika awalnya Namara  berharap impiannya itu terwujud bersama orang yang dicintai, yang terjadi justru sebaliknya. Kepergian Damar, lelaki yang dicintainya selama 7 tahun, tanpa pamit atau meninggalkan jejak, membuat Namara nekat mewujudkan mimpi itu.

Ide mengelilingi jalur kereta api di dunia, terdengar gila oleh sebagian orang terlebih jika untuk mewujudkannya harus meninggalkan pekerjaan. Alasan itulah yang ditentang Ibu angkat Namara yang tak lain adalah Budenya. Mimpi memang kerap kali mengangkat manusia terbang tinggi meninggalkan logika di bumi. Tapi bukankah mimpi pula yang membuat manusia mampu menyibak isi langit, mengarungi semesta, serta melintasi ribuan tahun cahaya? (hal 116). Restu Pakde meyakinkan Namara untuk mewujudkan impiannya.

Kini, ia berada dalam salah satu bilik kereta api jurusan Chengdu-Lhasa, yang akan membawanya menuju Tibet, melintasi jalur kereta api sepanjang 3360 km. Melintasi kota, desa, savana dan barisan gunung Himalaya.

Namun nyatanya perjalanan itu tidak benar-benar menghilangkan ingatan Namara akan Damar. Kilasan peristiwa dalam bersama Damar, ibu kandungnya dan teman-temannya mewarnai perjalanan Namara.

Dalam perjalanannya menuju Tibet, Namara satu bilik dengan 5 turis lain, sepasang kakek nenek dari China, Emir turis asal Malaysia, Chen turis asal Hongkong dan Fabio turis asal Italia. Lamanya perjalanan yang di tempuh membuat akhirnya mereka akrab satu sama lain, kecuali Chen yang selalu menyendiri dan berperingai kasar. Satu persatu mereka saling membuka diri. Alasan Fabiotravelling ke Tibet untuk menguji keberanian, terkait dengan adat kebiasaan orang Italia selatan yang begitu teringat dengan keluarga dan ketidakmampuannya berbahasa Inggris membuat mereka enggan pergi keluar Italia. ‘Bukan soal menunjukkan pada dunia. Tapi minimal untuk diriku sendiri. membuka cara pandangku sendiri’(Fabio, hal 45).

Lain dengan Fabio, kunjungan Emir ke Tibet berawal dari sebuah kalimat di buku yang ia baca, mengenai mimpi masa kecil yang kerap terlupakan. Buku itu mengingatkan impian masa kecilnya, yaitu mengunjungi Tibet.

Si Kakek dan nenek bercerita mengenai putrinya yang tertembak saat Demontrasi  Tiananmen berjadi.’Ia seorang aktivitis yang melakukan orasi, menuntut pemerintah memperbaiki sikap mereka yang represif terhadap oposan. Dan itu memang layak diperjuangkan. Ya, kami bangga. Karena begitulah seharusnya anak muda.’ (hal 190).

Semua percakapan itu membuat Namara menginsafi dirinya, bertanya-tanya pada diri sendiri apa sebetulnya tujuan hidupnya sendiri dan proses apa yang tengah ia tempuh.

Jalur kereta China-Tibet ternyata bukan yang terpanjang di dunia. Jalur kereta terpanjang di dunia adalah sepanjang sembilan kali pulau jawa, yaitu jalur kereta yang melintasi perbatasan Rusia, Cina dan Korea Utara. Penjelasan dari si kakek membuat Namara merasa tertantang untuk melanjutkan perjalanannya menyusuri jalur kereta api di dunia. Tapi keadaan berkata lain, di tengah perjalanan tiba-tiba si kakek meninggal, seluruh penghuni bilik jadi tersangka. Namara, Fabio, Emir dan Chen diturunkan  di stasiun Delingha Provinci Qinghai dan mengalami berkali-kali introgasi untuk memastikan ada tidaknya keterlibatan salah satu dari mereka dengan kematian si kakek.

Cerita yang membawa pembaca pada imajinasi pengenai Tibet sebagai negeri atap dunia, yang kini menjadi salah satu destinasi pariwisata yang paling di minati.  Dan bagaimana memukaunya melintasi China menuju Tibet dengan kereta api. Karena jalur kereta menuju Tibet tidak biasa, melintasi pegunungan Himalaya dengan ketinggian ribuan meter, dan membelah pegunungan dengan panjang terowongan ratusan meter, agar jalur kereta tidak menanjak terlalu tinggi.

Beberapa kalimat di sisipi kata yang terdengar asing, bukan karena kata itu berasal dari bahasa asing tapi bahasa Indonesia yang jarang sekali digunakan baik dalam ungkapan lisan maupun tulisan seperti; melantas, membidas, sipongang, membisu gagu dan lain kata ‘unik’ lainnya. Namun di tempatkan dengan tepat sehingga tetap nyaman dibaca dan tidak mengganggu. Yang pasti keberadaan kata-kata ini memperkaya pengetahuan pembaca akan kosakata Indonesia.

Buku fiksi yang memaknai arti sebuah sebuah perjalanan dan bagaimana sebuah perjalanan mampu merubah sudut pandang menjadi lebih terbuka dan menghargai perbedaan. Layak di baca karena semestinya rangkaian perjalanan atau travelling yang dilakukan bukan sebagai rentetan kebanggaan tapi proses pembelajaran dalam kehidupan.

Hampir setiap sub judul salam buku ini di tutup dengan teks lagu, yang menurut saya tidak perlu karena membuat novel ini kurang special karena mengingatkan pembaca pada sebuah novel lain yang juga terdapat banyak kutipan teks lagu. Tapi itu hanya menurut pendapat saya.

Secara keseluruhan novel ini apik; deskriptif, pilihan katanya juga tepat dan banyak bertebaran kalimat yang maknanya cukup dalam .

Ini adalah buku kesekian dari  penulis, Daniel Mahendra, 2 buku lain yang terbit tahun lalu oleh penerbit Mizan berjudul Niskala dan Perjalanan ke Atap Dunia.

________________________________

Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dari tulisan ini ada di momsbooksclub.blogspot.com [November 2014].

Comments are closed.