Tibet dalam Trilogi

Posted by penganyamkata on February 25, 2015 under Ulasan | Be the First to Comment

Ulasan 3360 | #6

Gita Ayu Pratiwi
Pembaca, tinggal di Jakarta

3360. Apakah itu? 3360 adalah satu judul buku novel perjalanan. Penulisnya adalah Daniel Mahendra, biasa dikenal dengan sebutan DM. Novel 3360 ini adalah buku DM yang ketiga yang saya lalap. Sebelumnya saya sudah membaca Perjalanan Ke Atap Dunia dan Niskala.

3360 berkisah tentang Namara, perempuan muda yang mengelilingi dunia lewat jalur darat, tepatnya dengan kereta api. Namara yang digambarkan sebagai seorang perempuan mandiri, memutuskan pergi melanglang karena galau akan kepergian kekasihnya yang entah kemana. Di tengah perjalanannya menuju Tibet, Ra, begitu tokoh disebutkan dalam narasi, menghadapi kejadian yang ganjil. Salah satu penumpang di gerbong yang sama dengannya tiba-tiba saja  meninggal. Tak ayal, Namara ikut menjadi tersangka. Nasib baik, ia bebas dan pada akhirnya bisa melanjutkan perjalanannya kembali demi menjelajahi Tibet.

Menariknya, buku ini isinya sama dengan 2 buku DM yang saya sudah sebut sebelumnya. Tema besarnya adalah perjalanan ke Tibet. Di buku Perjalanan Ke Atap Dunia, DM menjabarkan panjang lebar tentang pengalamannya pribadi saat ke Tibet, Cina. Ia telah merangkum seluruh Indonesia lewat jalur kereta api, dan pengalamannya ke Tibet sungguh berbeda dengan perjalanannya yang lain. Kita sebagai pembaca dibawa sebagai saksi perjalanannya saat membacabuku ini. Bahasa bertutur DM menyentuh panca indera. Saya pribadi, merasa ikut mual saat ia menceritakan betapa sakitnya menderita AMS (Acute Mountain Sickness). Juga merasa lapar saat ia menggambarkan tentang apakah itu, semangkuk mie hangat dengan daging yak, khas Lhasa.

Lain halnya di buku Niskala, DM hadir dengan gaya lain. Novel setebal 386 halaman ini menceritakan kisah cinta Galang dan Sanggita. Galang yang penulis, dan Sanggita yang sibuk mengajar hingga ke luar negeri. Keduanya dipertemukan dalam kecintaan akan literasi. Galang jatuh cinta akan pribadi Sanggita yang bebas dan idealis. Keduanya menemukan kendala saat merencanakan pernikahan. Tentang agama. Tapi mereka berhasil melewatinya. Tak cukup di situ, cobaan datang lagi merintangi. Sanggita mengalami abses otak dan tak bisa mengenali siapa Galang. Sebut saja semacam amnesia. Keluarganya menjauhkannya dari Galang. Galang pun seperti melayang hilang. Ia seakan tak bertujuan. Dengan gaya backpack-nya, ia bertualang. Mencoba mengisi kehampaan hatinya hingga ke puncak Gunung Everest di Tibet.

Ibarat hidangan, Tibet adalah nasi, bahan utama, pokok. Bila engkau menambahkan bumbu ulek ke dalamnya, ikan teri yang gurih, irisan cabai yang pedas menggelorakan, lalu engkau bungkus dalam daun pisang untuk kemudian engkau bakar, maka jadilah nasi bakar. Kemudian bila nasimu engkau jerang bersama pasta tomat, sari tomat segar, rempah harum semacam thyme, protein dari seafood, maka jadilah risotto. Tapi bila nasimu kau sajikan di piring, lalu sesendok oreg tempe dan sejumput sambal terasi, juga rendang (hanya kuahnya saja) kau tambahkan di sana, maka jadilah nasi warteg. Nasi itu menjadi multirasa, begitulah tangan DM mengolahnya.

Lalu alasan saya jadi demam musikal dengan buku 3360, adalah karena di setiap babnya DM menambahkan lirik lagu yang menjadi inspirasi dalam babitu. Beberapa lagu favorit saya pun ikut ditulis di sana. Sebut saja That I Would Be Good oleh Alanis Morisette, Everybody Hurts yang dibawakan R.E.M., dan banyak nomor lagi. Bila kelak engkau membacanya dan tiba di akhir halaman pada tiap bab, pastilah memorimu akan meraba bagaimana lirik lagu yang tertera di sana, engkau nyanyikan. Musik itu tak terdengar sama sekali di sekitar, namun ia megah di kalbumu. Bergema-gema layaknya orkestra. Dan engkau terhanyut bersenandung sambil memeluk bukumu. (GAP)

________________________________

Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dari tulisan ini ada di halaman facebook penulis dalam bentuk catatan [24 Februari 2014].

Comments are closed.