Melihat (dunia) dari Atap Dunia

Posted by penganyamkata on October 27, 2015 under Ulasan | Be the First to Comment

Ulasan Perjalanan ke Atap Dunia| #55

Budy Sumtraa
Pembaca, pernah kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang

Menarik! Itu kata yang bisa saya gambarkan ketika sekali saya membaca tentang buku yang berjudul Perjalanan Ke Atap Dunia, awalnya saya pikir buku ini seperti buku perjalanan biasa, tetapi setelah mencoba untuk membacanya, saya tak henti membaca lembar demi lembar,karena seolah saya sedang membaca novel fiksi imajinatif, yang ternyata ini kisah nyata. Memang buku karangan Daniel Mahendra dikemas sebagai cerita perjalanan. Namun, berbeda dengan buku perjalanan lain yang cenderung seperti celotehan promosi dari biro perjalanan, di buku ini justru menawarkan sudut pandang lain dalam seorang traveller yakni meraih sebuah mimpi, cita-cita,dan goal demi goal yang dikemas apik dalam esensi sebuah perjalanan.

Bab awal dalam buku menyuguhi mimpi seorang Daniel yang ingin sekali pergi ke dataran tertinggi di dunia: Tibet.  Seperti ditarik kembali  kembali ke tiap mimpi-mimpi pembaca ketika kanak-kanak, ketika kecil ia juga bermimpi  untuk datang ke Tibet dari sebuah komik terbitan tahun 80an yang berjudul Tintin in Tibet. Dalam bagian ini Daniel percaya apa yang dikatakan Coelho bahwa “when you want something all the universe conspires in helping you to achieve it”. Di awal kita akan diajak bermain di mimpi seorang Daniel dalam menggapai mimpinya, terlepas dari itu memang di buku ini akan banyak di temui quotes-quotes yang menginspirasi (terutama bagi mereka yamg memiliki keinginan kuat) dalam meraih impian.

Untuk mewujudkan cita-cita masa kecilnya, Daniel  bersikeras untuk tetap pergi ke Tibet, dengan berbagai upayanya, yang terkadang membuat pembaca berkelakar gemas perihal masalah-masalah yang datang bertubi-tubi kepadanya. Seperti ketika Daniel dihadapi dengan dilema bahwa temannya Ijul yang menginspirasinya untuk pergi ke Tibet tidak jadi ikut, dan ketika Daniel malah mengurungkan niat pergi karena Tibet (yang pada saat itu) ditutup, karena memang negara tersebut sedang diinvansi oleh Cina, hingga keraguan Daniel kepada biro travel yang didasari oleh asas saling percaya, seperti yang mungkin dirasakan traveler lain ketika hendak menggunakan jasa agen perjalanan, hehehe…  Hingga akhirnya Daniel pun mantap untuk pergi menuju Tibet.

Banyak nilai yang bisa diambil dalam buku ini, misal sudut pandang Daniel tentang sebuah kepercayaan, ketika dalam sebuah vihara ada banyak monk yang sedang melakukan ibadah, namun justru itu merupakan sebuah suguhan yang harus turis-turis (termasuk Daniel) nikmati, di situ Daniel merasa bahwa ibadah adalah hal pribadi yang tidak boleh diusik, namun bagi para turis lain (termasuk Juan teman seperjalanan Daniel) itu merupakan hal yang wajar, di situ bukan hanya sebuah  perbedaan dalam menyikapi agama yang merupakan ranah personal, tapi penulis juga berusaha menyentuh ranah  politis yang kadang merusak nilai sebuah kebudayaan, namun digambarkan secara manusiawi oleh penulis.

Dalam buku ini terasa sekali “rasa” dari seorang traveler yakni, mencari sebuah esensi dari perjalanan seperti yang Daniel sering katakan bahwa perjalanan merupakan pencarian jati diri, maka Daniel merupakan sosok yang sangat ingin merasakan denyut nadi sebuah kehidupan di tiap daerah dan kota yang ia kunjungi, hanya untuk sekadar memperhatikan orang-orang di sekitarnya dan merefleksikannya dalam diri. Dari buku setebal 345 halaman ini salah satu bagian yang menarik bagi saya adalah ketika Daniel bertemu dengan penjaga warung kopi di terminal bus daerah pokhara yang bertanya tentang, “apa yang ia cari”, selama ini Daniel mencari apa? Itu merupakan sebuah pertanyaan besar bagi orang yang telah mewujudkan mimpinya, bahwa mimpi-mimpi ini bukan hanya sampai di sini, tetapi akan terus berlanjut dengan goal-goal berikutnya, sejatinya perdebatan batin Daniel mungkin bisa pembaca rasakan di sini (terlebih bila laki-laki) sang penjaga warung berkata secara tidak langsung bahwa laki-laki tidak akan pernah puas dalam mencari hal baru, untuk itu merasa cukuplah. Lagi- dengan quotes “ Jadilah laki-laki yang merasa cukup dengan keluarga di rumah” . “kelak anak dan istri dirumah adalah harta sebesar-besarnya yang kamu miliki”.

Terlepas dari beberapa pengulangan kalimat yang di utarakan dalam buku ini, salah satunya “Aku seperti Tom Hanks dalam film The Terminal” yang diulang beberapa kali (hal 68,71,75,83)  Namun, bagian terpenting dalam buku ini adalah bukan hanya tentang sosok Daniel yang merupakan seorang pemimpi yang mewujudkan mimpinya semata, tetapi proses Daniel dalam menjalankan ide- mewujudkannya, dan berproses lagi kemudian. Terlebih buku ini sangat menginspirasi  terutama bagi mereka yang merasa bahwa dunia ini tidak sesempit mata dan pengetahuannya.

________________________________

Tulisan ini dimuat di sini tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dari tulisan ini ada di budysumitra.blogspot.co.id [30 Maret 2015].

Comments are closed.