Archive for the 'Catatan Harian' Category

Menunggu Purnama di Pagi Hari

Jiwa yang tersiksa, itulah neraka. Jiwa yang bahagia, itulah surga
[Cok Sawitri, Sutasoma]

Sudah lama tak berkunjung ke Bandung. Sekali ada kesempatan ke Bandung yang pertama-tama dituju malah sebuah warung kopi di Jalan Alketeri dekat Kantor Pos Besar Asia Afrika. Turun dari kereta langsung melesat ke sana. Jaraknya tak begitu jauh dari stasiun kota.

Hari masih jam tujuh pagi. Seperti kebanyakan kota, pagi selalu ramai sebagai permulaan hari. Orang-orang berkendara menuju tempat kerja. Pedagang membuka tokonya. Dan anak-anak berangkat ke sekolah. Mobil, motor, bus, angkot, dan sepeda saling berebut tempat. Semua memiliki satu tujuan: rutinitas! Maka ketika aku melihat diriku, aku jadi geli sendiri. Seorang lelaki dengan ransel di punggung. Menyibak pagi mencari secangkir kopi. Apa yang hendak dicari?

Kumasuki warung kopi itu. Warung Kopi Purnama namanya. Berada di deretan bangunan tua. Dulu, ketika Jalan Asia Afrika masih terkenal sebagai De Groote Postweg atau Jalan Raya Pos, jalur itu memang digunakan sebagai pembatas antara daerah inlander di selatan dengan irlander di utara. Itulah mengapa, hingga kini kalau diperhatikan betul, bangunan-bangunan di selatan Jalan Asia Afrika di kota Bandung akan tampak sangat pribumi sekali. Sementara di bagian utara masih begitu banyak gedung-gedung perkantoran atau hunian bercorak Eropa peninggalan pemerintah Hindia Belanda.

Continue Reading »

The Epitaph Trilogy

Dear Teman-teman,

Untuk selanjutnya, setiap ulasan novel Epitaph akan disimpan di The Epitaph Trilogy secara khusus. Hal ini dimaksud agar usaha pendokumentasian dapat dilakukan lebih cermat serta rapi, dan tak tercampur dengan tulisan-tulisan lain.

Tak lupa kuucapkan ribuan terima kasih pada teman-teman, baik yang telah mengulas maupun yang mengikuti tulisan-tulisan tersebut. Dukungan teman-teman adalah energi yang tak terhingga bagiku secara pribadi.

Selepas ulasan dari Pak Idris Pasaribu kemarin ini, tiga pucuk ulasan sudah termuat di The Epitaph Trilogy sebagai kelanjutan:

1. Menyusuri Misteri “Eptaph” oleh Rara Ajeng Dewantari Radesya,
2. Novel, Berita, dan Sastra oleh Ipon Bae, dan
3. Epitaph oleh Amang Suramang.

Hingga saat ini sudah 14 ulasan yang berkenaan dengan novel Epitaph. Tentu saja aku berharap ini tak berhenti hingga di sini semata. Sehingga dari sana pula aku dapat belajar dan bercermin melalui sudut pandang pemikiran yang berbeda.

Continue Reading »

Voorrijder 2

Berapa harga menggunakan voorrijder? Tenyata murah saja. Dengan 1 juta perak Anda bisa mendapatkan pengawalan berupa kendaraan polisi sebagai pembuka jalan. Itu untuk satu kali jalan. Kalau bolak-balik, bisa sampai 1,5 juta perak.

Mengenai tarif memang tergantung jenis pengawalan. Bisa dua motor plus satu mobil, atau cukup dua motor saja. Teknisnya pun tidak terlalu sulit, cukup angkat telpon atau bisa datang langsung ke kantor polisi.

Lantas siapa saja yang berhak menggunakan voorrijder? Dalam prakteknya, bisa siapa saja, asal Anda punya duit. Meski Kepala Satuan Polisi Lalu Lintas Polres Bogor, Jawa Barat, Ajun Komisaris D.H., membantah kalau polisi bisa menyewakan voorrijder untuk kepentingan pribadi (Majalah Tempo, Edisi 21-27 Mei 2007).

Maraknya penggunaan voorrijder untuk kepentingan pribadi (baca: tak jelas) memang sempat membuat Presiden memerintahkan Departemen Perhubungan menertibkan voorrijder untuk kepentingan tak jelas. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan, pengawalan voorrijder memang tidak bisa dilakukan sembarangan.

Voorrijder hanya untuk kendaraan kepala negara, tamu negara, pemadam kebakaran, ambulans, kendaraan pertolongan pada kecelakaan, pengantar jenazah, konvoi pawai, kendaraan orang cacat, dan pengangkut barang khusus.

Continue Reading »

P.K.I.

Jika kalian terhenyak atau sedikit mengerutkan dahi ketika membaca judul di atas, berarti kita sama. Ini membuktikan secara umum bahwa pikiran kita masih kental dengan brainwashing atas sesuatu yang terlanjur dikesankan secara langgeng.

Apa boleh buat, PKI memang identik dengan Partai Komunis Indonesia. Sebuah partai besar yang sejak Orde Baru berdiri dilarang keberadaannya. Sebuah partai besar yang (sudah barang tentu) memiliki fraksi di DPR pada zaman Orde Lama. Sebuah partai komunis paling besar di dunia. Namun menjadi sebuah faham yang amat dibendung penyebarannya oleh Amerika Serikat. Sebuah organisasi politik yang dijadikan bahaya menakutkan selama pemerintahan Orde Baru dan dijadikan momok untuk mengancam sertai mengintimidasi seseorang yang tak disukai pemerintah saat itu.

Apa boleh buat, frame semacam itu telah melekat di pikiran kita. Bahkan dengan apa yang kututurkan di paragraf kedua saja sudah menunjukkan betapa pikiran sehat ini telah tercerabut serta melulu bermuara pada hal-hal yang terlanjur dikesankan. Bagaikan pikiran anak kecil yang masih polos, namun bisa menjadi takut setengah mati hanya kerena mendapatkan gambaran yang salah bahwa kuburuan itu mengerikan atau tempat berkumpulnya para setan.

Mestikah kita terus seperti itu? Idealnya memang tidak. Padahal judul P.K.I. di atas tak ada korelasinya sama sekali dengan partai, apalagi komunis. P.K.I. di atas adalah kependekan dari Penulis Kesepian Independen. Penulis Kesepian Independen? Ya. Lalu mengapa kesepian? Mengapa independen? This is it! Inilah saatnya aku mulai kembali nge-blog secara aktif. Lantas hubungannya dengan P.K.I.? Baik. Begini.

Continue Reading »

Tentang Bulan yang Hilang

Setelah tulisan Wilwatikta, blog danielmahendra semaput. Ada sekira 18 postingan yang kemudian mesti dimuat di penganyamkata.wordpress.com selama bulan April dan Mei 2009.

Kedelapan belas postingan itu meliputi:

  1. Mengapa Aku Memilih Golput
  2. Bursa Calon (Istri) Presiden
  3. Forgiven Not Forgotten
  4. So Red The Rose
  5. Ardhanareswari
  6. Seandainya Kartini Bukan Seorang Priayi
  7. Surat
  8. Kuldesak
  9. Lyn
  10. Dongeng Masa Kecil 1
  11. Dongeng Masa Kecil 2
  12. Dongeng Masa Kecil 3
  13. Buku Ini Aku Pinjam
  14. Who Are U?
  15. Harga Sebuah Kewarganegaraan
  16. Haruskah Pergi?
  17. Niskala
  18. Epilog

Continue Reading »

Next Page »