Archive for the 'Catatan Harian' Category

Anjangsana

Banyak email yang masuk ke dalam inbox dan bertanya: ‘mengapa sekarang jarang menulis di blog?’ Atau tak jarang para pengirim email itu kerap mengisahkan: ‘kalau datang ke blog penganyakata dan mendapati tidak ada tulisan baru, rasanya seperti pulang dengan tangan hampa’. Ada lagi pengirim email yang berkata: ‘begitu rutinnya saya ke blog penganyamkata, hingga saya harus meng-copy tulisan yang ada di sana dari warnet, untuk saya baca di rumah. Tetapi kalau tak ada tulisan baru, suka kecewa juga’.

Mendapati email-email semacam itu tak pelak membuatku sedikit gusar, tersudut, dan merasa serba salah. Tapi mereka sepenuhnya tak salah. Maka sebisa mungkin aku menyodorkan argumen yang memang sesuai dengan kondisi yang sedang terjadi sebagai balasan.

Sesungguhnya hampir tak ada yang tak bisa ditulis. Setiap gerak inci dalam kehidupan kita bisa kita tulis bukan? Bahkan selembar daun gugur dari pohon sekalipun, dengan berbagai makna serta metafora, tetap bisa menjadi bahan tulisan yang menarik dan ciamik kalau kita mau mengolahnya.

Hal paling utama yang membuatku kendur menulis di blog sebetulnya hanya satu: aku kerap tak sempat berkunjung ke blog kawan-kawan yang sudah menorehkan komen di blog penganyamkata. Bisa dibayangkan, setiap ada tulisan baru, mereka selalu komen. Tetapi aku selalu saja absen untuk melakukan kunjungan balik. Memang betul, tak satu pun yang dengan terang-terangan melakukan protes akan hal itu. Buktinya, setiap aku mem-posting tulisan baru, mereka tetap saja komen meski aku belum lagi berkunjung dan memberikan komen di sana.

Continue Reading »

Menunggu Purnama di Pagi Hari

Jiwa yang tersiksa, itulah neraka. Jiwa yang bahagia, itulah surga
[Cok Sawitri, Sutasoma]

Sudah lama tak berkunjung ke Bandung. Sekali ada kesempatan ke Bandung yang pertama-tama dituju malah sebuah warung kopi di Jalan Alketeri dekat Kantor Pos Besar Asia Afrika. Turun dari kereta langsung melesat ke sana. Jaraknya tak begitu jauh dari stasiun kota.

Hari masih jam tujuh pagi. Seperti kebanyakan kota, pagi selalu ramai sebagai permulaan hari. Orang-orang berkendara menuju tempat kerja. Pedagang membuka tokonya. Dan anak-anak berangkat ke sekolah. Mobil, motor, bus, angkot, dan sepeda saling berebut tempat. Semua memiliki satu tujuan: rutinitas! Maka ketika aku melihat diriku, aku jadi geli sendiri. Seorang lelaki dengan ransel di punggung. Menyibak pagi mencari secangkir kopi. Apa yang hendak dicari?

Kumasuki warung kopi itu. Warung Kopi Purnama namanya. Berada di deretan bangunan tua. Dulu, ketika Jalan Asia Afrika masih terkenal sebagai De Groote Postweg atau Jalan Raya Pos, jalur itu memang digunakan sebagai pembatas antara daerah inlander di selatan dengan irlander di utara. Itulah mengapa, hingga kini kalau diperhatikan betul, bangunan-bangunan di selatan Jalan Asia Afrika di kota Bandung akan tampak sangat pribumi sekali. Sementara di bagian utara masih begitu banyak gedung-gedung perkantoran atau hunian bercorak Eropa peninggalan pemerintah Hindia Belanda.

Continue Reading »

The Epitaph Trilogy

Dear Teman-teman,

Untuk selanjutnya, setiap ulasan novel Epitaph akan disimpan di The Epitaph Trilogy secara khusus. Hal ini dimaksud agar usaha pendokumentasian dapat dilakukan lebih cermat serta rapi, dan tak tercampur dengan tulisan-tulisan lain.

Tak lupa kuucapkan ribuan terima kasih pada teman-teman, baik yang telah mengulas maupun yang mengikuti tulisan-tulisan tersebut. Dukungan teman-teman adalah energi yang tak terhingga bagiku secara pribadi.

Selepas ulasan dari Pak Idris Pasaribu kemarin ini, tiga pucuk ulasan sudah termuat di The Epitaph Trilogy sebagai kelanjutan:

1. Menyusuri Misteri “Eptaph” oleh Rara Ajeng Dewantari Radesya,
2. Novel, Berita, dan Sastra oleh Ipon Bae, dan
3. Epitaph oleh Amang Suramang.

Hingga saat ini sudah 14 ulasan yang berkenaan dengan novel Epitaph. Tentu saja aku berharap ini tak berhenti hingga di sini semata. Sehingga dari sana pula aku dapat belajar dan bercermin melalui sudut pandang pemikiran yang berbeda.

Continue Reading »

Voorrijder 2

Berapa harga menggunakan voorrijder? Tenyata murah saja. Dengan 1 juta perak Anda bisa mendapatkan pengawalan berupa kendaraan polisi sebagai pembuka jalan. Itu untuk satu kali jalan. Kalau bolak-balik, bisa sampai 1,5 juta perak.

Mengenai tarif memang tergantung jenis pengawalan. Bisa dua motor plus satu mobil, atau cukup dua motor saja. Teknisnya pun tidak terlalu sulit, cukup angkat telpon atau bisa datang langsung ke kantor polisi.

Lantas siapa saja yang berhak menggunakan voorrijder? Dalam prakteknya, bisa siapa saja, asal Anda punya duit. Meski Kepala Satuan Polisi Lalu Lintas Polres Bogor, Jawa Barat, Ajun Komisaris D.H., membantah kalau polisi bisa menyewakan voorrijder untuk kepentingan pribadi (Majalah Tempo, Edisi 21-27 Mei 2007).

Maraknya penggunaan voorrijder untuk kepentingan pribadi (baca: tak jelas) memang sempat membuat Presiden memerintahkan Departemen Perhubungan menertibkan voorrijder untuk kepentingan tak jelas. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan, pengawalan voorrijder memang tidak bisa dilakukan sembarangan.

Voorrijder hanya untuk kendaraan kepala negara, tamu negara, pemadam kebakaran, ambulans, kendaraan pertolongan pada kecelakaan, pengantar jenazah, konvoi pawai, kendaraan orang cacat, dan pengangkut barang khusus.

Continue Reading »

Next Page »