Taksu
Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.
(Rumah Kaca, Pramoedya Ananta Toer)
Ketika mengikuti acara Ubud Writers and Readers Festival 2009 di Bali, mobil yang kami tumpangi beberapa kali melewati sebuah art galeri bernama Taksu. Saking seringnya melewati tempat itu membuat kami bertanya pada Pak Putu, sopir kami: apa arti taksu.
Taksu menurut Pak Putu yang asli desa Pajeng, Ubud, bisa diartikan semacam aura atau karisma yang dimiliki seseorang. Hal itu bisa mengejawantah pada diri seseorang ketika ia melakukan sesuatu. Seperti penari Bali misalnya.
Ada penari yang latihan begitu disiplin. Memeragakan gerakan tari tanpa cacat. Namun ketika tampil di atas pentas malah terasa biasa saja. Ada pula penari yang saat latihan justru biasa-biasa saja. Kedisiplinannya tak semahir penari pertama. Namun begitu tampil, penonton seperti terbius oleh gemulainya. Mata penonton seperti tersihir oleh penampilannya. Si penari kedua memancarkan aura atau karisma yang membuat penonton berdecak kagum. Menurut Pak Putu, si penari kedua bisa jadi telah memiliki taksu. Orang Bali menyebutnya telah mengalami mataksu-taksu.




