Archive for the 'Ceritera' Category

Mbak Pos yang Manis Itu…

Kalian tentu sudah tak asing dengan istilah ‘Pak Pos’. Seorang lelaki yang mengendarai motor berwarna oranye dengan dua buah kantung di sisi kanan dan kirinya. Mendatangi rumah demi rumah bertugas mengatarkan surat. Terkadang berteriak: “Pooosss…!!” di depan pagar. Sebuah profesi yang terhitung cukup tua di bumi ini.

Dulu aku selalu menunggu kedatangan si ‘Pak Pos’ itu. Karena hobiku memang berkoresponden. Entah dengan kawan, sahabat, atau pacar. Tapi begitu tekhnologi e-mail lahir, maka berguguran pulalah hobiku itu. Dunia serasa makin dilipat dengan perkembangan internet dan telepon selular dengan segala fasilitasnya.

Tapi ‘Mbak Pos’? Pernahkah kalian mendengar istilah itu? Tentu belum. Karena istilah ‘Mbak Pos’ memang karanganku belaka. Itu pun semata keisenganku karena bingung mesti menyebut dirinya dengan sebutan apa. Dirinya? Siapa? Baik. Begini ceritanya…

Continue Reading »

Wilwatikta

(The Waiting Is Almost Over: 28)

Tembok batu merah tebal lagi tinggi mengitari keraton. Itulah benteng keraton Majapahit. Pintu besar di sebelah barat yang disebut purawaktra menghadap ke lapangan luas. Di tengah lapangan itu mengalir parit yang mengelilingi lapangan. Di tepi benteng ditanami brahmastana, berderet-deret memanjang dan berbagai-bagai bentuknya. Di situlah tempat tunggu para perwira yang sedang meronda menjaga paseban (Prapanca, Nagarakretagama)

Katanya, menjadi seorang petualang mesti siap dengan kondisi apa pun yang ditemui di jalanan. Tak kalah penting, ia pun mesti bisa luwes terhadap keadaan. Bisa jadi di saku kemejanya terselip setumpuk peta perjalanan. Namun jika sesuatu berbelok dari rencana semula, ia pun dituntut tanggap serta bisa berdamai dengan kenyataan.

Ketika kereta mampir di Stasiun Mojokerto pada pukul 07.35 pagi, tiba-tiba seperti ada yang memanggil-manggil diriku untuk turun di kota ini. Padahal aku masih harus menempuh sekitar 55 kilometer menuju kota Surabaya. Sementara Mojokerto tidak termasuk ke dalam peta perjalananku. Akhirnya aku berpikir keras: mengapa aku merasa harus turun di kota ini?

Tiba-tiba terngiang sebuah sajak dalam film Cinta dalam Sepotong Roti yang sudah kutonton ratusan kali itu. Kalimat itu selalu berkelebatan di kepalaku kemana pun aku pergi: tunduklah kepada Salmah, pergilah kemana ia pergi, dan ikuti angin takdir, bergeraklah kemana angin ini bergerak *. Tanpa pikir panjang lagi kuseret ranselku dari rak gerbong, permisi pada gadis yang sejak dari Jogja duduk di sebelahku, dan bergegas meninggalkan kereta. Si gadis hanya kaget dan berseru:

Continue Reading »

Angkringan

(The Waiting Is Almost Over: 27)

Persembahkan yang terindah demi persahabatan. Jika ia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula musim pasangmu (Kahlil Gibran, Sang Nabi)

Bagaimana kalian menemukan sahabat? Pasti ada banyak cara. Entah itu kualitas pertemanan yang gemilang, jalinan kuantitas yang terus bersemayam, bertemu sekelebatan di jalan, atau bahkan dari sebatang rokok kita bisa tetap menciptakan sebuah persahabatan.

Setelah beristirahat dan menikmati udara pegunungan di Gunung Kelir selama beberapa hari, hari ini aku memutuskan untuk turun. Ya, aku harus turun. Kondisi tubuhku memang belum sehat benar. Tapi perjalanan mesti terus dilanjutkan.

Boleh percaya atau tidak, dalam perjalanan kali ini aku betul-betul banyak ditolong oleh kawan-kawan baru yang usia pertemanannya belum lagi satu tahun. Tak ada teman lama, dan mereka adalah: blogger! Mereka betul-betul kukenal melalui blog. Lain tidak.

Aku memutuskan akan terus ke timur menggunakan kereta. Aku cek jadwal perjalanan kereta di website PT. KAI. Rupanya aku telah kehilangan jam keberangkatan kereta Argowilis dari stasiun Jogjakarta pada siang hari. Tapi aku sudah meniatkan untuk turun dari Gunung Kelir siang ini. Kulihat jadwal kereta lagi.

Continue Reading »

Time Was

You may give them your love but not your thoughts. For they have their own thoughts. You may house their bodies but not their souls, For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams (The Prophet, Children, Kahlil Gibran)

 

Tulisan ini menyempal dari seri cerita The Waiting Is Almost Over. Dalam sebuah perjalanan, aku berkunjung ke rumah seorang sahabat lama. Seorang sahabat yang tahu betul bagaimana pendalaman seorang Daniel Mahendra. Seorang sahabat yang pernah sama-sama merasakan manis getirnya kehidupan. Ibaratnya, kalau dia lapar, aku pun lapar. Kalau dia kenyang, sialnya aku tetap lapar. He-he-he.

 

Ia lebih tua lima tahun di atasku. Sudah tahunan lamanya kami tak saling bertemu. Dari mulai ia masih lagi bujangan, beristri, hingga beranak tiga. Terakhir bertemu, anaknya masih kecil-kecil. Bahkan anak ketiganya masih merah bayi. Namun ketika kembali bertemu, aku sontak terhenyak kaget bukan kepalang.

 

Bagaimana tidak; kini Rafi anak pertamanya sudah kelas 3 SMP. Tyas si anak tengah sudah kelas 5 SD. Sementara si bungsu Rayhan malah sudah kelas 1 SD. MasyaAllah. Dan lebih gila lagi, keponakannya yang dulu kuingat masih lagi SMP, kini sudah lulus kuliah dan menikah dengan satu anak. God! Aku terhenyak sekaligus ngakak. Terhenyak karena kaget, dan ngakak karena ternyata orang-orang di sekitarku terus tumbuh. Hi-hi-hi.

 

Senang sekali ketika baru saja turun dari kendaraan, bocah-bocah itu loncat-loncat kegirangan. “Om Daniel!! Om Daniel!! Om Daniel!!” seru mereka. Aku hanya cengar-cengir. Tapi begitu melihat mereka dari jarak dekat, giliran aku yang terhenyak, “Kalian sudah sebesar ini?!!!” mereka hanya tertawa-tawa ngakak melihat kekagetanku.

 

Continue Reading »

Next Page »